
Rain pulang ke kediaman Jonathan. Hal itu membuat Antonio menggerutu tak suka, karena sekali lagi ia pasti akan kalah dengan bayi besarnya.
“Mommy!" pekik Rain senang kala mendapati mommy-nya di ruang bersantai.
“Honey, kau datang?" tanya Vincentia.
“Yes, Mommy, Rain rindu Mommy." jawab Rain sambil memeluk Vincentia. Vincentia pun membalas pelukan sang putra seraya mengelus surai Rain.
“Ada yang ingin kau sampaikan pada kami, Prince?" tanya Vincentia.
Inilah yang Rain sukai dari sang ibu, tanpa perlu bercerita pun ibunya akan mengerti apa yang sedang ia rasakan dan ia alami.
“Aku ingin mengatakannya, tapi aku takut jika Daddy dan Mommy marah padaku," jawab Rain.
“Apa kau membuat kesalahan?" kali ini Antonio angkat bicara. Rain hanya mengangguk dalam dekapan hangat Vincentia.
“Seberapa fatal kesalahan yang kau perbuat kali ini?"
“Sangat fatal, Dad."
“Coba jelaskan pelan-pelan dengan jujur. Kami akan dengarkan," ujar Vincentia dengan lembut.
“Aku mengacaukan hidup seseorang, membuat hidupnya berantakan dan sekarang menderita."
“Kenapa?"
“Karena aku memfitnahnya, menggelapkan uang perusahaan orang tuanya sendiri, hingga akhirnya dia dipecat oleh daddy-nya dan juga ia diusir dari rumah."
Antonio mendelik sesaat namun ia bisa mengontrol ekspresi wajahnya kembali.
“Selain itu aku juga memasukan dia ke-blacklist ke berbagai perusahaan agar dia tak bisa bekerja, dan aku selalu memantau keadaannya. Saat ini dia sudah bekerja, tapi dia hanya menjadi buruh cuci piring di salah satu rumah makan yang tidak terlalu besar," jelas Rain.
“Mengapa kau bisa melakukan hal itu, apa ada alasannya?" tanya Antonio.
“Karena... dia menolak lamaran dariku, Dad. Aku mencintainya dan pernah melamarnya tapi dia menolak." jelas Rain dengan kepala tertunduk.
“Kapan kau melamarnya?" tanya Antonio bingung, pasalnya ia benar-benar tidak tahu tentang lamaran yang dikatakan putranya itu.
“Beberapa waktu lalu saat Daddy dan Mommy ada perjalanan bisnis, saat itu aku juga dalam perjalanan bisnis ke Rusia," jelas Rain lagi.
“Lalu siapa yang datang ke kediaman wanita pilihanmu, Honey?" tanya Vincentia.
“Johhny dan Casey, Mom," jawab Rain.
Ingin rasanya Antonio membenturkan kepala putranya ke tembok dengan keras supaya otak anaknya berada di tempat yang benar dan bisa berfungsi dengan baik.
Sementara Vincentia hanya menghela nafas, dan mengelus dadanya.
“Kau benar-benar luar biasa, Putraku!" sindir Antonio.
“Sayang, kenapa kau tak bicara dahulu pada kami, jika ingin melamar seseorang?" tanya Vincentia.
“Aku tahu jika Mommy dan Daddy sedang sibuk juga," jawab Rain.
”Akan tetapi itu adalah peristiwa penting tak bisa sembarangan, Nak," ujar Vincentia lagi memberi pengertian pada Rain.
“Kau ingin melamar wanita, tapi kau menyuruh orang lain untuk melamar wanita incaranmu, di mana otakmu, anak muda, memang yang akan menikah dengan wanita incaranmu itu Johnny dan Casey?!" kesal Antonio.
“Maaf," jawab Rain lagi.
“Siapa wanita yang kau hancurkan hidupnya?"
“Putri tunggal keluarga Sullivan."
“Sullivan, perusahaan yang berada di bawah naungan perusahaan kita?" tanya Antonio memastikan dan Rain pun hanya mengangguk pelan.
Vincentia hanya bisa menghela nafas dia sangat kecewa perilaku putranya yang merugikan orang lain.
“Kau mengerti jika kesalahan yang kau lakukan itu sangat fatal, anak muda?" tanya Antonio.
“Aku paham, Dad. Maka dari itu aku meminta izin untuk cuti dari perusahaan, untuk menebus kesalahanku," jelas Rain.
“Dengan cara?" tanya Antonio.
Rain mendekat kearah sang daddy dan membisikkan sesuatu pada sang daddy.
Antonio terlihat mengangguk namun merasa kurang yakin apakah putranya itu mampu bertahan atau tidak.
“Kau yakin?" tanya Antonio.
“Daddy meragukanku?" tanya balik Rain merasa tak terima.
“Kau itu belum pernah merasakan hidup susah, wajar saja jika Daddy meragukanmu," ujar Antonio sinis.
“Jadi bagaimana?" tanya Rain memastikan.
“Kalian membicarakan apa?" tanya Vincentia.
“Hal yang akan dilakukan putra kita yang bengal ini sebagai bentuk penebusan dosa," jelas Antonio.
Keluarga ini sedang mendiskusikan rencana Rain.
“Mommy, harap kau tidak akan mengulangi kesalahanmu, Boy," ujar Vincentia.
“Iya, Mom."
“Baiklah sekarang kau istirahat, Mommy yakin kau pasti sudah makan di kantor bersama Galaksi bukan?" tanya Vincentia.
Rain mencium mommy-nya dan berpamitan dengan daddy-nya kemudian pergi ke kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Rain bersemangat di hari terakhirnya bekerja sebelum ia resmi cuti.
“Good Morning Teddy Bear, bagaimana diskusinya kemarin?" sapa Galaksi.
“Mommy dan Daddy setuju. Ya, meskipun mereka sempat kecewa terhadap yang aku lakukan, tapi mereka bisa mengerti."
“Syukurlah, bersiaplah untuk besok. Semoga berhasil!" seru Galaksi.
“Untuk perusahaan akan di handle oleh Daddy, kau bisa mendampinginya nanti," ujar Rain.
“Jadi aku akan menjadi asisten daddy-mu nanti?"
“Kurang lebih begitu," jawab Rain.
“Hmm."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny sudah mulai bekerja, saat ini ia membersihkan lantai, meja dan jendela sebelah rumah makan tersebut buka.
“Sunny, jika sudah selesai kembalilah ke dapur ya!" seru pegawai lain.
“Iya," balas Sunny.
Begitulah keseharian Sunny sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Marcus sudah mengundurkan diri dari perusahaan Sullivan, dia sudah menjalankan kehidupan aslinya, “Akhirnya, aku bisa bebas juga."
Walaupun ia mengatakan bebas, tapi dia masih dihantui perasaan bersalah, karena telah mengkambinghitamkan seseorang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Noe sudah sampai di bandara, “Selamat datang kembali diriku, ah aku sangat rindu Mommy, Daddy, dan kedua saudaraku yang unik itu. Aku tidak menyangka dia mengganggu kegiatanku menjelajah dunia," gumam pemuda itu.
Dia segera menaiki taksi dan keluar dari bandara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurora masih merasa dongkol karena kejadian kemarin malam, yang ia kira akan mendapatkan nomor dari sang bos, justru hanya meng-install aplikasi taksi online.
“Dia sangat tega, mengapa bisa-bisanya meninggalkan aku sendirian?! Tahu begini, aku akan membawa mobilku," ujarnya sambil bersungut-sungut.
Teman-temannya yang melihat tingkah Aurora hanya bergidik, karena mood Aurora yang mudah sekali berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
.
Rain sudah yakin keputusannya ini tepat. Tinggal menunggu besok ia akan menikmati hari bebasnya dari urusan perusahaan.
Tok.. Tok.
“Masuk!" jawab Rain.
Galaksi masuk ke dalam ruangan Rain.
“Ada laporan apa?"
”Salah satu anak buah kita melaporkan adanya penyusup di gudang senjata di daerah xxx. Penyusup itu hendak membakar gudang persenjataan milik kita."
“Apa penyusup tersebut sudah diamankan?"
“Bagus kalau begitu, mungkin malam nanti aku akan memberikan ucapan selamat datang pada tamu spesial kita," jawab Rain. Galaksi hanya mengangguk.
“Ada lagi?"
“Ada beberapa orang yang mendaftar di Red Sun club, mungkin ada sekitar 50 pendaftar?" ujar Galaksi tak yakin.
“Banyak sekali, mereka mendaftar sebagai apa?"
“Beberapa diantaranya menjadi bartender, tapi sebagian wanita mendaftar menjadi ya, kau tahulah," jawab Galaksi.
“Sebagai dancer atau sebagai?"
“Sebagai dancer dan sebagai kupu-kupu malam," jawab Galaksi.
“Seleksi mereka semua, dan untuk kupu-kupu malamnya, aku ingin memilih barang yang masih baru, bukan bekas," jawab Rain.
“Baik."
“Ada lagi?"
“Sesuai perkiraan Anda, Mr. Kendrick akan kemari saat jam 12.00 beliau menyetujui perjanjian kita."
“Ah, soal dana perusahaan itu, dia sudah menyetujuinya, baiklah. Aku akan menemuinya siang nanti. Pastikan jangan sampai ketahuan jika kita yang membuat kekacauan perusahaan itu!"
“Baik, Presdir," jawab Galaksi.
“Ada lagi?"
“Sudah cukup, Presdir."
“Baiklah, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu."
Galaksi segera undur diri dan kembali ke mejanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Noe sudah sampai di kediaman Stevenson.
Ketika ia datang sang kepala pelayan menyambutnya dengan penuh sukacita. Begitu pun dengan kedua orang tuanya.
“Di mana kakak dan adikku, Mom?"
“Kakakmu sedang berada di rumah sakit saat ini dan adikmu pasti sedang berada di agensi," jelas Andrew.
“Daddy tidak menyangka kau akan pulang setelah sekian lama, ternyata kau masih ingat dengan rumah," ujar Andrew dengan sedikit sindiran.
“Kakak Kelinci yang menyuruhku pulang, katanya ada sesuatu yang mendesak. Apa dia belum cerita padamu, Dad?"
“Cerita apa. Dia saja tidak pulang, apa lagi menghubungi, bagaimana ia mau cerita? Daddy rasa nomor ponsel Daddy sudah memasuki masa kadaluarsa di daftar kontaknya."
“Ha-ha-ha..." tawa pemuda itu menggema.
“Sudahlah, kakakmu memang selalu sibuk dari dulu, harap maklumi ya?" ujar Belinda.
Andrew dan Noe hanya menghela nafas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, seperti yang sudah ada di jadwal agenda, akhirnya Rain bertemu dengan Kendrick.
“Hm.. Kami bersedia memberikan dana untuk membangun kembali perusahaan Anda yang nyaris bangkrut itu," ujar Rain.
“Benarkah?" tanya Kendrick memastikan. Rain pun mengangguk.
“Terima kasih. Aku tidak tahu harus pinjam uang ke mana lagi. Bank sudah tidak bisa meminjamkan nominal sebesar itu pada kami, karena kami tidak memiliki jaminan yang cukup," jelas Kendrick.
“Tak masalah kami bersedia," jawab Rain.
“Maafkan aku harus berakting calon ayah mertua," batin Rain meringis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Triton sudah mendapat kabar jika adiknya telah kembali ke kediaman utama. Ia akan menemuinya hari ini juga setelah melakukan visit pasien.
“Kau masih sibuk, Honey?"
“Ah, Sweetie. Apa yang kau lakukan di sini?"
“Apakah aku tidak boleh menemui suamiku sendiri?"
“Tentu saja boleh, tapi tunggu dulu, tidak biasanya kau bersikap manja dan manis seperti ini, ada sesuatu?" tanya Triton pada istrinya, ia mendekati Cleo kemudian memeluk istrinya yang terkenal ketus itu.
“Entahlah aku juga merasa aneh, tidak biasanya aku semanja ini denganmu. Ini seperti bukan diriku," jawab Cleo sambil memeluk Triton manja.
“Apa karena bayi kita di dalam perutmu?"
“Aku belum hamil dan kau sangat mengetahui itu dengan baik, Tuan Muda," jawab Cleo.
“Bagaimana kalau kita cek ulang, aku juga penasaran dengan sikapmu akhir-akhir ini," ujar Triton lembut, yang dibalas gelengan oleh Cleo.
“Kenapa?"
“Aku takut membuatmu kecewa lagi, Triton. Setelah pemeriksaan yang lalu pada akhirnya aku belum juga dinyatakan hamil."
“Tak apa, mungkin Tuhan ingin kita menikmati waktu berdua, aku akan tetap setia menunggu buah hati kita," jawab Triton.
“Akan tetapi aku merasa bersalah padamu!"
“Hei, jangan menangis. Aku tidak apa-apa ini semua hanya masalah waktu saja, kita harus lebih bersabar, ya?"
“Terima kasih. Love you."
“Love you more, Sweetheart."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya Galaksi dan Rain mengunjungi markas Red Stars untuk memberikan sambutan selamat datang pada seorang penyusup.
“Wow, lihat siapa yang datang bertamu mengunjungi markas kita?!" ujar Rain.
Penyusup itu mulai ketakutan kala mendengar suara Rain menyapa indera pendengarannya.
“Siapa namamu, dan apa tujuanmu kemari, serta siapa yang menyuruhmu melakukan hal itu?" tanya Rain bertubi-tubi.
“A-aku tidak bisa memberitahukannya," jawab penyusup tersebut.
“Mengapa tidak bisa, bukankah kau hanya tinggal mengatakannya saja, mana bagian yang sulit dari mengatakan kejujuran?" tanya Rain balik.
“Kumohon bebaskan aku, aku hanya disuruh, oleh seseorang," mohon penyusup tersebut.
“Kami tahu jika kau disuruh oleh seseorang. Yang menjadi pertanyaan kami adalah siapa yang menyuruhmu?" ujar Galaksi merasa jengah.
“Dengar, kami tak suka bahwa kau berbelit-belit. Kami suka sesuatu yang simpel dan tidak membuang waktu, apa lagi mengurus orang sepertimu," jelas Rain.
“M-maafkan aku, tapi aku tetap tak bisa memberitahukannya pada kalian," ujar penyusup tersebut.
“Baiklah tidak apa-apa. Itu sudah menjadi pilihanmu. Kevin, selesaikan sekarang!" perintah Rain.
“Siap, Bos!" jawab Kevin sambil menarik pelatuk pistolnya kemudian—
DOR..
Peluru itu mendarat di dada si penyusup membuat penyusup tersebut tewas seketika.
“Kerja bagus!" puji Rain meski dengan nada datar.
“Saatnya kita pulang, aku akan memulai kehidupan baru mulai besok. Selamat bertugas, Galaksi," ujar Rain.
“Dasar manusia tak bertanggung jawab, seenaknya saja melimpahkan pekerjaan," cibir Galaksi kesal.
TBC
Visualisasi kediaman Jonathan
Kamar utama dan kamar Rain
Kediaman Stevenson
Kevin Li