
Mereka sampai di rumah Sunny, dan selalu Andy yang menyuruh Sunny masuk lebih dahulu sebelum dirinya pulang ke rumah. Sunny pun menurutinya.
Selepas Sunny masuk ke dalam Andy pun mengayuh sepedanya hendak pulang. Saat di jalan yang sepi, ia dicegat oleh sekumpulan pemuda yang tengah mabuk.
“Hah.. mau apa sih mereka, mengganggu saja," gerutu Andy.
“Hei, bocah ingusan, turunlah!" ujar salah satu dari mereka pada Andy.
Andy tidak turun begitu saja, dia masih menunggangi sepedanya.
“Apa kau tuli, aku bilang turun, ya turun?!"
“Untuk apa aku menurutimu?" jawab Andy dengan bertanya.
Mereka memandang satu sama lain kemudian tertawa dan melihat Andy dengan pandangan meremehkan.
“Ha-ha-ha... Lihat siapa yang sombong di sini? Kau ini hanya bocah ingusan dan lihat gayanya dengan kacamata setebal pantat botol, sangat culun," ledek mereka.
Andy hanya menatap datar para pemuda itu. Baginya pemuda itu hanyalah seseorang yang tidak berguna dan sering mengacau.
“Dasar kelas rendah," batin Andy.
Ia tetap tak mau turun dari sepedanya. Menurutnya sia-sia saja.
“Kau sombong sekali, huh? Tidak mau menuruti kami," ucap salah seorang dari mereka.
“Memang siapa kau? Kau hanyalah pemabuk kelas rendah yang sok berkuasa. Minggir, aku mau pulang dan kalian menghalangi jalanku!"
“Bocah sialan, kau ingin kami hajar, huh?!"
“Kau berkata seperti itu, seperti kau bisa menghajarku saja," cibir Andy.
Mereka murka ketika di remehkan Andy, tanpa aba-aba mereka langsung menarik Andy dan meninggalkan sepedanya yang teronggok di jalan.
Beruntung Andy sigap dan ia bisa menjaga keseimbangan sehingga tidak jatuh.
“Sabarlah, tidak usah terburu-buru begitu, kalian ini tidak sabaran sekali ya?" ujar Andy.
“Kau terlalu banyak bicara, bocah ingusan. Terima ini!" teriak pemuda itu melayangkan bogem mentah ke arah Andy, yang langsung ditangkis dengan mudah. Sebaliknya Andy malah memelintir tangan pemuda itu kemudian mengangkat dan membanting pemuda tersebut.
Pemuda itu pun jatuh ke tanah dengan merintih kesakitan. Ia tidak menyangka pemuda culun di depannya ini mampu membantingnya dengan mudah. Bahkan badannya sampai berputar tadi.
Sementara para rekannya melongo tak percaya, mereka sangat terkejut melihat Andy si pemuda culun bisa dengan mudah membanting bosnya.
“Kurang ajar, beraninya kau membanting Bos kami?!" teriak mereka.
“Kenapa kalian iri ya, atau kalian ingin juga? Tenang saja, aku akan kabulkan tak perlu iri begitu, iri hati itu tidak baik," jawab Andy.
Mereka langsung menyerang Andy, dilihat dari mana pun perkelahian ini berat sebelah. Mungkin jika dari jumlah mereka menang karena mereka berlima, tetapi jika dilihat dari kemampuan bertarung, jelas mereka kalah telak dari Andy.
Andy menguasai kemampuan beladiri, tidak hanya satu jenis, tapi banyak. Seperti taekwondo, hapkido, karate, dan judo. Dan semuanya sudah meraih sabuk hitam. Tak heran jika ia bisa dengan mudah menumbangkan para pemuda itu.
“Apa hanya ini kemampuan kalian?" tanya Andy remeh.
Para pemuda yang sudah babak belur karena menerima bogem mentah dan tendangan dari Andy pun hanya menatap ketakutan.
“Si-siapa kau sebenarnya?" tanya salah satu di antara mereka.
“Aku Andy. Tenang saja aku masih manusia biasa, aku bukanlah makhluk asing atau pun Kamen rider—," jawab Andy terjeda.
“—sudahlah, minggir kalian semua, aku mau lewat, ah kalian pulanglah segera. Jangan lupa basuh tangan dan kaki serta gosok gigi sebelum tidur!" lanjutnya lagi.
Andy yang hendak mengayuh sepedanya harus terhenti karena seruan mereka.
”Guru, ajarilah kamu ilmu beladiri, dan angkatlah kami semua menjadi muridmu, Guru," ujar pemimpin kelompok mereka.
“Itu benar Guru. Angkatlah kami menjadi muridmu, kami mohon," timpal yang lain.
“Huh?" bingung Andy. Ya dia merasa blank selama 5 menit kala mendengar permintaan mereka.
“Mereka pikir aku sedang dalam perjalanan ke barat untuk mencari kitab suci, apa?" batin Andy seraya menggerutu.
“Maaf, Nak, tapi aku bukanlah seorang pertapa, jadi aku tidak butuh murid, sekarang minggir, Nak, karena aku harus pulang. Besok aku harus bekerja." kata Andy, kemudian mengayuh sepedanya.
“Benar-benar hari yang melelahkan," batin Andy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di kediaman Stevenson Noe sedang merengek pada daddy-nya.
“Dad, memang Daddy tidak bisa menyuruh Kelinci gemas pulang ya? Noe pusing," rengeknya.
Andrew hanya menghela nafas, “Berapa umurmu, Noe? Kau sudah bisa mengambil tanggung jawab itu."
“Akan tetapi itu merepotkan, Daddy tidak tahu jika kepalaku terasa ingin pecah saat ini?"
“Triton masih memimpin organisasi dunia bawah, atau kau ingin bertukar tempat dengannya?" tawar Andrew. .
“Tidak, terima kasih. Walaupun aku bisa bela diri, aku masih cukup waras, untuk tidak membuat wajahku babak belur karena bogem mentah dari si Kelinci itu," jawab Noe. Andrew hanya terkekeh.
Bukan tanpa alasan Noe bilang seperti itu karena keluarga Stevenson menerapkan aturan peperangan antar saudara dan siapa mampu bertahan dialah yang berhak memimpin organisasi gelap keluarga Stevenson.
“Maka kau tidak boleh protes, Noe. Titan sudah memilih agensinya sendiri dan, ya aku tidak menyangka bahwa ia sukses juga ternyata," ujar Andrew.
“Akan tetapi aku juga punya agensi, Daddy tidak lupa, kan?" tanya Noe.
“Aku mengetahuinya, kau juga membuatku bangga," puji Andrew pada Noe.
“Dad, Kakak Kelinci akan kembali ke perusahaan setelah sukses menangani pasien terakhirnya, itu yang dia katakan padaku," kata Noe.
“Dia akan meninggalkan profesinya sebagai dokter?" tanya Andrew. Noe mengangguk.
“Kenapa tiba-tiba?"
“Dia bilang karena memang sudah saatnya, Daddy."
“Dia akan memimpin perusahaan dan organisasi gelap?"
“Itu benar. Ah, akhirnya kakakku kembali, aku senang."
“Ya itu benar, tetapi kau tetap harus berada di perusahaan, karena kau menjadi tangan kanan kakakmu," ucap Andrew mutlak.
“Ah, Daddy," rengek Noe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari telah berganti, Pagi ini Andy dibuat terkejut dengan kehadiran Sunny di rumahnya, dengan dalih ingin mengajarinya memasak.
Maka di sinilah mereka sekarang. Tepatnya di dapur rumah Andy. Ya Andy sedang belajar memotong bawang merah. Sesekali terdengar isakan.
“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, kau tak perlu menangisinya begitu," ujar Sunny.
“Aku tidak sedih. Mataku hanya pedas. Kenapa bawang-bawang ini menyiksaku." gerutu Andy sambil terus belajar memotong walaupun tangannya masih kaku.
Wajahnya nampak berantakan saat ini, dengan air mata yang berderai tak lupa juga ingus turut menghiasi wajah tampannya.
“Ha-ha-ha... Kau ini lucu sekali. Hei, itu bukanlah masalah besar. Suatu saat nanti kau juga akan terbiasa," ujar Sunny.
“Ini sungguh sangat menyiksa, lebih menyiksa dari pada dihukum guru saat masa sekolah," ujar Andy.
“Kau sering dihukum guru, ya?" tanya Sunny penuh selidik.
“Beberapa kali. Oh, ayolah kenakalan anak sekolah itu kan hal yang wajar dan sangat biasa," jawab Andy. Sunny hanya memutar bola matanya.
“Sudahlah kerjakan saja tugasmu, kita masih ada tugas selanjutnya yang harus di selesaikan."
“Apa itu?"
“Menggoreng ayam, menumis bumbu dan masih banyak lagi Andy!"
“Huh?"
Setelah selesai dengan tugas memotong bawang, Andy lalu mengerjakan tugas berikutnya yaitu membumbui ayam sebelum digoreng. Tadi ia sudah membersihkan ayam sebelum dimasak.
“Setelah diberi bumbu, lalu diapakan?"
“Kita tunggu, hingga bumbu meresap ke dalam daging ayam," jawab Sunny.
Setelah sudah dirasa bumbunya meresap pada daging ayam, Andy langsung menggoreng.
“I-ini yakin tidak akan meledak?"
“Kau pikir ini sebuah bom?"
“Ya siapa tahu ini bisa meledak."
“Tidak akan meledak, jika kita lumuri tepung yang sudah diberi bumbu."
“Kau yakin?" tanya Andy ragu-ragu.
“Iya. Percayalah padaku."
Mereka melumuri ayam tersebut dengan tepung sebelum menggoreng, Sebelumnya Sunny sudah menyiapkan panci berisi minyak.
“Nah, karena minyaknya sudah panas, kau tinggal masukan ayamnya, ingat jangan dilempar dan masukan pelan-pelan!" peringat Sunny.
Andy pun menurut pada instruksi Sunny walaupun ia takut setengah mati karena terkena cipratan minyak.
Ia memasukan ayamnya ke dalam minyak panas. Waktu seakan berjalan lambat baginya. Perlahan tapi pasti, ia berhasil memasukan ayam tersebut ke dalam panci meski ia sempat menjerit karena merasakan panas di tangannya.
Sunny sudah mengatur nyala kompor dengan api kecil, agar tidak cepat gosong nantinya.
“Lihat itu, tidak meletus, kan?" tanya Sunny.
“Eh, benar juga. Kenapa bisa, ya?" wah, hebat sekali!" ujar Andy sambil berdecak kagum.
Mereka pun melanjutkan acara memasak hingga selesai dan akhirnya sarapan bersama dengan tenang setelah semua hidangan sudah siap.
TBC