Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 42



Hari ini Sunny sangat antusias, akhirnya ia mendapatkan kesempatan, desain rancangannya akan tampil di pameran peragaan busana.


Ini baru kali pertama untuk Sunny tampil di ajang seperti ini. Perasaan gugup pasti ada di dalam hati Sunny, tapi ia berusaha percaya diri, dan bisa melewati hari ini dengan baik.


Para model sudah bersiap di belakang catwalk. Menunggu giliran mereka untuk tampil.


Sunny meremat tangannya yang saling bertautan untuk menghilangkan rasa gugup di hatinya.


Tiba saatnya para model yang mengenakan rancangannya tampil di atas catwalk.


Banyak tamu yang berdecak kagum saat busana rancangan Sunny ditampilkan. Ada yang bertanya di mana Andy?


Tentu saja ia datang untuk memberikan dukungan, tetapi ia memilih mengenakan jaket bertudung dan topi, serta kacamata hitam, tak lupa masker turut menjadi atribut yang wajib digunakan kala ia sedang berada di keramaian seperti ini.


Ia turut bangga dengan pencapaian yang diperoleh kekasihnya. Ia bisa melihat dari bangku penonton kala rancangan kekasihnya diperagakan di atas catwalk.


Andy mengakui jika Sunny memang memiliki selera yang sangat baik dalam dunia fashion. Jadi, dia tidak heran dengan rancangan kekasihnya, sudah pasti bagus.


Setelah peragaan busana selesai, tiba saatnya pengumuman, dan baju rancangan milik Sunny-lah yang jadi pemenangnya. Ya, rancangannya paling banyak diminati oleh para hadirin yang menyaksikan.


Sunny naik ke atas catwalk ia membungkukkan badannya berkali-kali tanda mengucapkan terima kasih.


Saat semuanya telah selesai dan kembali di belakang panggung, Sunny mengucapkan terima kasih pada, para model dan tim.


Andy menghampiri Sunny yang berjalan menuju ke arahnya. “Selamat ya, Sayang. Kau luar biasa!”


“Ini semua juga dukungan darimu, Honey. Terima kasih sudah selalu berada di sampingku,” ujar Sunny.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seiring berjalannya waktu, nama Sunny semakin melonjak setelah peragaan busana, itu. Bahkan namanya masuk di salah satu majalah fashion. Butiknya pun semakin berkembang, dan semakin ramai saja.


Ariel yang melihat Sunny di salah satu majalah fashion, merasa terkejut, sekaligus merasa bangga, sahabatnya bisa sukses tanpa nama besar Sullivan. Ia segera memberikan kabar pada Tania tentang hal besar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain seorang pria sedang berada di sebuah ruangan, bersama seorang wanita yang berada di pangkuannya.


“Honey, aku baru saja membeli majalah fashion baru, dan kau harus melihat berita ini,” ujar seorang wanita yang berada dalam pangkuannya.


Si pria menurut saja, ia membaca majalah fashion milik kekasih yang baru saja dibelinya, kemudian membaca berita itu. Tangannya mengepal seketika.


“Tidakkah kau merasa kesal, kau menderita di sini sedangkan dia malah bersenang-senang?” ujar wanita itu. Tangannya sembari bermain melukis garis abstrak di dada sang pria.


“Kau benar, aku harus segera memberinya sebuah kejutan,” jawab pria tersebut.


“Itu bagus, jangan biarkan ia bersenang-senang di luar sana, Sayang.” provokasi si wanita, si pria hanya mengangguk saja.


Wanita tersebut tersenyum menyeringai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Ariel mengajak Marcus untuk bertemu dengannya di sebuah cafe.


“Ada apa kau ingin menemuiku?” tanya Marcus.


“Bisa beritahu aku, di mana alamat rumah Sunny?”pinta Ariel.


“Untuk apa?”


“Ayolah, aku hanya belum pernah bertemu dengan sahabatku lagi setelah kejadian itu, tolong beritahu alamat tempat tinggalnya, kau tidak kasihan pada Aunty kemarin?”


“Akan tetapi, kau harus berjanji untuk menutup mulutmu, tentang masalah kemarin, jika tidak aku akan melubangi kepalamu!”


“Kau— cepat berikan saja!” pekik Ariel kesal.


“Sabar dong, dasar Bibi-bibi!” ujar Marcus lalu menuliskan alamat rumah Sunny, menurut informasi yang ia dapatkan dari Jupiter.


“Ini alamatnya, awas saja jika kau tak memegang janji, aku akan merobek mulutmu!” ujar Marcus. Ariel pun menerima sodoran kertas dan menyimpan setelah membaca alamat rumah Sunny.


Ariel segera menemui Tania yang menunggu di meja lain. Masih satu Cafe tempat Ariel dan Marcus bertemu.


“Aunty, aku sudah mendapatkan alamat rumah Sunny, Besok kita bisa pergi bersama ya?!” ujar Ariel.


“Sungguh?!”


“Itu benar, Aunty. Besok kita bisa mengunjunginya,” jawab Ariel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


.


Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Saat sedang memasuki weekend, Ariel dan Tania mengunjungi kediaman Sunny.


“Kau yakin ini rumah Sunny?” tanya Tania.


“Iya aku yakin, Aunty, tapi rumahnya sepi sekali, mungkin dia sudah berangkat kerja, atau sedang berbelanja,” jawab Ariel.


Mereka coba menanyakan tentang Sunny kepada orang-orang yang kebetulan lewat. Beruntung mereka bertemu seorang wanita paruh baya yang memberitahu lokasi butik milik Sunny dan memberitahu jika Sunny berada di butik.


Mereka berdua lantas bergegas menuju alamat yang dituju, dan benar saja saat mereka sudah sampai di butik, mereka melihat Sunny sedang melayani pelanggan.


“Sun—ny,” panggil Tania.


Sunny yang sedang fokus dengan pekerjaannya menoleh sebentar kala ia mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya itu memanggilnya.


“Mama.”


Tania berlari memeluk putrinya. Sungguh ibu mana yang tak rindu, setelah dipisahkan dari anaknya sekian lama.


Sunny pun juga memeluk mamanya sambil menangis, ia sudah teramat rindu dengan sang mama.


Melihat Mamanya sejenak seperti nampak lebih kurus dari yang terakhir ia lihat.


“Aku juga merindukan Mama, mengapa Mama tampak lebih kurus sekarang, apa Mama hidup dengan baik?” tanya Sunny.


“Mama tidak baik-baik saja tanpamu. Bagaimana bisa Mama bisa hidup dengan baik sementara Mama hanya memikirkan dirimu, Sunny?” ujar Tania.


“Kau melupakanku?” tanya Ariel dengan nada merajuk.


“Bagaimana kabarmu, Ariel?” tanya Sunny sambil memeluk Ariel. Ia juga rindu dengan sahabatnya itu.


“Sepi sekali semenjak kau tidak ada,” jawabnya.


“Ayo masuk ke ruanganku, kita mengobrol di sana!” ajak Sunny.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di ruangan Sunny, mereka duduk dan mengobrol santai, ditemani segelas teh aroma melati dan beberapa camilan.


“Bagaimana kabarmu, Sayang. Apa kau baik-baik, saja?” tanya Tania memulai pembicaraan.


“Puji Tuhan, aku baik, Mama. Seperti yang Mama lihat. Ya, walaupun aku merasa kesepian karena tak ada Mama di sampingku. Aku ingin sekali mengunjungi Mama, tapi aku tak memiliki keberanian untuk menemui Mama.”


“Maafkan Mama yang tak bisa berbuat banyak untuk membelamu. Mama sangat menyesal.”


“Semua ini bukan salah Mama. Tidak perlu meminta maaf. Aku sendiri mengerti bagaimana kerasnya Papa, justru aku khawatir, Papa akan berbuat yang melebihi batas, jika Mama terlalu membelaku,” jawab Sunny.


Mereka semua menghela nafas. Ya Kendrick memang sosok yang keras.


“Lalu bagaimana kau menjalani hidupmu selama ini?” tanya Ariel.


“Aku pernah, bekerja di restoran kecil sebagai tukang bersih-bersih. Aku tak bisa melamar di perusahaan besar, karena aku sudah di blacklist dari perusahaan, sepertinya, tapi pada akhirnya aku juga dipecat dari restoran kecil itu untuk alasan yang tidak jelas. Sampai akhirnya ada seorang pemuda yang datang dan menolongku, ia mengajakku bekerjasama membangun sebuah restoran, dan aku bekerja di sana—,”


“—sampai pada akhirnya uang tabunganku terkumpul, aku memberanikan diri untuk hengkang dari restoran tersebut dan mencoba membangun usaha sendiri, yang awalnya hanya membuka jasa menjahit dan butik kecil-kecilan, tapi Puji Tuhan, usahaku bisa berbuah manis sekarang,” jelas Sunny.


“Saat ini wajahmu sering menghiasi majalah fashion. Aku senang dan bangga padamu. Akhirnya salah satu impianmu terwujud,” ujar Ariel.


“Aku tidak sendirian membangun usaha ini. Ada seseorang yang selalu membantu dan mendampingiku. Dia sangat baik dan sangat berarti bagiku,” ujar Sunny.


“Siapa yang selalu berada di sampingmu dan setia membantumu, Sayang?” tanya Tania.


“A-ah, itu seorang pemuda yang aku ceritakan sebelumnya, Mama, t-tapi kini dia sudah menjadi kekasihku.” jawab Sunny dengan kepala tertunduk, seakan takut jika sang mama marah padanya.


Ariel dan Tania hanya saling pandang, ternyata apa yang Marcus dan Jupiter katakan itu benar.


“Apa sekarang kau bahagia?” tanya Tania lembut sembari menggenggam tangan Sunny.


“Sejauh ini Sunny bahagia, Ma,” jawab Sunny.


“Mama sangat senang, jika putri kesayangan Mama bahagia, tapi jika boleh, ada yang ingin Mama beritahukan kepadamu, Sayang,” ujar Tania.


“Apa Mama?” tanya Sunny.


Tania memberi isyarat pada Ariel, segera saja Ariel mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman suara Marcus dan Jupiter kemarin.


Mendengar rekaman suara tersebut lantas membuat mata Sunny berkaca-kaca, ia merasa shock.


“A-aku su-sudah menduganya jika aku hanya dijadikan kambing hitam, tapi yang masih tak bisa kupercayai, itu semua merupakan skenario Rain Jonathan—,”


“—katakan semua itu bohong, seseorang yang berada di sampingku saat ini bukanlah Rain?”


“Memang siapa pria yang menjadi kekasihmu saat ini, Sunny?”


“Kekasihku bernama Andy. Dia hanya pemuda biasa, ini fotonya.” ujar Sunny sambil menyodorkan foto kekasihnya.


Mereka melihat foto tersebut, hanya menghela nafas.


“Sayang, Mama tahu jika kau masih shock dengan kenyataan ini, tapi memang itulah kenyataan yang sebenarnya, Nak,” ujar Tania.


“Akan tetapi, itu tidak mungkin, Mama. Hiks,” tangis Sunny mulai pecah. Tania yang tega melihat anaknya menangis lantas memeluknya memberikan ketenangan.


“Tak apa jika kau tak percaya, ini semua hanya masalah waktu, Mama tak akan memaksamu,” ujar Tania menenangkan.


Cukup lama mereka berkunjung, Tania dan Ariel pamit pulang, Sunny mengantar mereka hingga ke depan dengan mata yang terlihat sembab.


.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah rumah terlihat seorang pria yang sedang menemui kelompok mafia untuk meminta bantuannya melancarkan sebuah rencana.


“Kau tenang saja, itu bukan perkara yang sulit, serahkan saja semua pada kami,” ujar ketua mafia itu.


“Aku mengandalkanmu,” ujar pria tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sunny pulang ke rumah dijemput oleh Andy, namun Sunny hanya diam saja hari ini. Hal itu membuat Andy curiga.


“Ada yang mengganggu pikiranmu hari ini, mengapa kau diam saja, apa ada masalah di butikmu?” tanya Andy.


“Tidak, butik baik-baik saja, aku hanya merasa lelah saja,” jawab Sunny.


“Jika memang begitu, sampai rumah nanti, kau langsung istirahat, jika ada masalah kau bisa berbagi padaku jika kau, siap,” ujar Andy, Sunny hanya mengangguk.


Selepas ia masuk ke rumahnya, Sunny segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di kasur.


“Siapa dirimu yang sebenarnya Andy?” gumam Sunny.


TBC


Bonus Foto Andy