Rain & Sunny

Rain & Sunny
Bagian 40



Sunny terlihat senang dengan usaha barunya ini. Ya, ternyata usahanya mendapat sambutan baik dari masyarakat sekitar.


Andy pun sesekali mampir untuk melihat usaha sang kekasih dan memberikan semangat. Hubungan mereka mulai membaik kembali. Seperti saat ini contohnya, Andy mengantar makanan untuk sang kekasih, dan juga pegawainya.


“Selamat siang Ibu Desainer, bagaimana kabar Anda hari ini, sudah makan siang?” tanya Andy.


“Andy, kau datang?!” pekik Sunny.


“Tentu, Sayang. Aku datang membawakan makan siang untuk kalian semua, karena aku yakin kau belum makan siang hari ini,” ujar Andy.


“Eh, kau selalu menebaknya dengan tepat. Aku memang belum makan siang, tadi ada klien yang memesan hendak dibuatkan baju,” jelas Sunny.


“Pria atau wanita?” tanya Andy.


“Tentu saja wanita, memangnya kenapa, sih, kau cemburu, ya?”


“Wajar jika aku cemburu, karena aku adalah kekasihmu,” jawab Andy manja.


“Uh... Beruang besarku, jangan marah begitu, aku tetap menyayangimu, kok, tidak akan berpaling pada lelaki lain,” ujar Sunny.


“Kau memang tak kuizinkan berpaling pada yang lain. Tetap tidak boleh!” peringat Andy.


“Iya, aku janji,” jawab Sunny, sambil mengusap kepala Andy dengan sayang.


“Ini, bekalmu.” ujar Andy sambil menyodorkan kotak bekal untuk Sunny.


Sunny menerimanya dengan senang hati dan antusias dengan bekal yang dibawakan oleh kekasihnya.


Saat membukanya, ia merasa senang sekali dengan bekal yang dibawakan Andy. Andy yang melihatnya pun hanya tersenyum lembut.


“Terima kasih sudah membawakan bekal untukku, kelihatannya enak sekali,” ujar Sunny.


“Aku juga membawa bekalku. Ayo kita makan bersama!” kata Andy.


“Kalau begitu suapi aku!” pinta Sunny.


“Lalu aku bagaimana?” tanya Andy.


“Kita bergantian saja bagaimana? Aku akan menyuapimu dan kau menyuapiku,” saran Sunny.


“Baiklah,” jawab Andy.


Mereka pun makan bersama sambil saling menyuapi dan menikmati makan siang bersama. Para pegawai yang melihatnya hanya bisa gigit jari saja.


“Makanannya enak!” pekik Sunny.


“Kau menyukainya?” tanya Andy, Sunny hanya mengangguk antusias seperti anak kecil.


“Lain kali akan kubawakan lagi jika kau ingin,” ujar Andy.


“Baik sekali sih, kekasihku,” puji Sunny pada Andy, membuat Andy tersenyum mendengarnya.


“Manis sekali sih, kekasihku,” balas Andy.


Sunny hanya merona mendengar perkataan Andy, ya ampun Andy-nya itu manis sekali.


“Kau blushing ya?” goda Andy.


Sunny gelagapan, ia malu ketahuan blushing di depan Andy, “Ini karena cuacanya sedang panas saja.”


“Masa?” goda Andy lagi sambil terkekeh.


“Ih!” pekik Sunny kesal lalu menarik rambut Andy.


“Auch.. lepas, Sayang. Rambutku bisa rontok jika kau tak melepaskan tanganmu!” ujar Andy sambil memohon dan memekik kesakitan.


“Salah siapa kau menggodaku, huh?!” jawab Sunny.


“Kau tega dengan kekasihmu sendiri,” ujar Andy memelas.


Sunny diam tak menjawab, melihat wajah memelas Andy membuatnya merasa bersalah.


“Eh, maaf. Sakit sekali, ya. Kau, sih selalu menggodaku?!” tanya Sunny sambil mengusap kepala Andy dengan sayang, agar rasa sakitnya hilang.


“Lain kali jangan begitu, kalau aku mengalami kebotakan bagaimana?” tanya Andy memelas.


“Maafkan aku, sungguh,” ujar Sunny tiba-tiba saja—


CUP


—Sunny mengecup kepala Andy, membuat Andy tersenyum tidak jelas.


“Kata Mamaku, jika sudah dikecup rasa sakitnya, akan hilang,” ucapnya pada Andy.


“Ya, dan aku pun merasakannya. Sekarang sudah merasa lebih baik,” jawab Andy.


“Ah, syukurlah. Nah, sekarang kau bisa kembali, karena waktu istirahat akan segera habis. Jangan memberi contoh yang tidak baik pada pegawaimu, Sayang, kau sendiri yang bilang begitu, kan?” ujar Sunny.


“Kalau begitu, aku pulang dulu, nanti mau bersepeda bersama?” tawar Andy.


“Kau ingin mengajakku ke mana?”


“Kencan.”


“Jemput aku di rumah, nanti!”


“Baiklah.” jawab Andy kemudian berpamitan dan kembali ke restoran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Triton sedang berada di rumah, menikmati hari liburnya. Dia sedang berperan menjadi Ayah yang baik yang sedang menimang pangeran kecilnya.


“Oek... Oek... Oek...” tangis sang anak pecah.


“Prince Daddy, jangan menangis, kau pipis ya, Sayang?” ujar Triton penuh perhatian.


“Sini kita lihat dulu popokmu terlebih dahulu.” ujar Triton sambil memeriksa popok bayinya.


Sekarang bayinya sudah terlihat tenang, dan tidak rewel seperti tadi.


“Nah, Sayang. Saatnya kita makan siang dulu, ya? Daddy sudah menyiapkan susu untukmu,” ujar Triton.


Triton juga sudah menyiapkan susu untuk sang bayi. Ya Cleo sedang istirahat terkadang Cleo akan menyiapkan asi di botolnya atau si bayi langsung menyusu dari sumbernya.


Triton tak pernah keberatan membantu mengasuh bayi mereka, dia justru dengan senang hati membantu istrinya. Sungguh sosok suami idaman para istri.


Alasannya adalah karena kesibukannya bekerja ia takut jika tak memiliki waktu bersama buah hatinya, maka jika ada waktu luang ia akan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk memiliki momen bersama buah hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore telah menyapa, sesuai janjinya Andy mengajak kencan kekasih hatinya, tak perlu mewah, sederhana saja yang penting berkesan.


Ia sudah menjemput Sunny hari ini, Sunny pun sudah bersiap, ya mereka mulai bersepeda dan mulai berkeliling.


Seperti biasa jika sudah bersepeda mereka tidak akan jauh-jauh dari stan yang menjajakan makanan kaki lima. Sudah beberapa kali mereka membeli hidangan kaki lima, karena Andy yang memintanya.


Sunny, sih senang-senang saja jika sang kekasih mengajaknya makan makanan kaki lima. Ia mulai bersyukur karena Andy tak sekaku dahulu.


Lama mereka berkeliling sambil menikmati pemandangan, akhirnya mereka berhenti di kedai yang menjual takoyaki.


Mereka makan di kedai itu sembari saling menyuapi satu sama lain. Banyak orang yang melihat mereka ada yang mencibir, namun tak sedikit pula dari mereka yang merasa gemas.


“Takoyaki-nya sangat lezat, aku menyukainya, sangat lembut sekali,” komentar Andy.


“Ternyata kau pintar memilih, ya, Honey?”


“Kan, kau tahu sendiri kalau lidahku pemilih. Aku tidak bisa sembarangan makan masakan orang lain, selama ini hanya masakanmu saja dan masakan koki restoranku,” jelas Andy.


“Dasar pemilih!” cibir Sunny.


“Biarkan saja, yang penting kau tetap mencintaiku, bukan?” jawab Andy.


“Tidak, aku tidak mencintaimu, kok,” jawab Sunny pura-pura.


“Baiklah, jika begitu aku akan mencari wanita lain saja,” ujar Andy.


Sunny mendelik seketika, yang benar saja Andy hendak mencari wanita lain. Dia itu hanya bercanda tahu, tidak serius?!


Usai makan takoyaki, mereka melanjutkan perjalanan mereka, sampailah mereka di taman bermain.


Sunny sangat antusias masuk ke taman bermain dan mencoba beberapa wahana. Andy pun tak kalah senangnya dengan sang kekasih. Baginya jika kekasihnya merasa senang ia juga turut merasa senang.


Sampai malam hari tiba, puncaknya mereka menaiki bianglala.


Sunny dan Andy melihat pemandangan kota yang mereka lihat dari atas, sungguh indah.


Jemari mereka saling bertautan hingga tiba-tiba wajah Andy mendekat pada Sunny, Sunny yang memahami isyarat Andy pun dengan menyambut dengan senang hati.


Mereka bercumbu dengan lembut, ya pemandangan sekitar menjadi saksi bisu betapa dalamnya cinta mereka berdua.


Cukup lama mereka saling mencumbu satu sama lain, sampai Sunny menepuk pundak Andy tanda ia kehabisan nafas, di saat yang bersamaan ternyata mereka sudah sampai di bawah dan bianglala terhenti.


Andy menyudahi cumbuannya, dan menatap kekasihnya dengan lembut, sambil tersenyum.


Selesai menaiki bianglala, mereka menuju stan mesin capit boneka.


“Mau coba?” tanya Andy.


“Memang kau bisa?” tanya Sunny balik.


“Kita belum tahu jika belum mencoba, Sayang.”


“Baiklah. Aku ingin kau mengambil boneka beruang cokelat itu. Boneka itu seperti dirimu, aku ingin boneka itu!”


“Baiklah.” Andy mulai memasukan koin dan menjalankan mesinnya.


“Ya, iya ambil yang itu, yang itu sedikit lagi, Sayang!” ujar Sunny dengan semangat.


Andy terus berkonsentrasi, capitnya sudah menjepit boneka yang diinginkan Sunny, segera saja ia membawanya ke sebuah lubang agar bonekanya bisa ia ambil dan—berhasil!


“Yeay, kau berhasil mendapat bonekanya, Sayang!” pekik Sunny.


Sunny yang kegirangan pun segera mengambil boneka tersebut dari mesin, ia lantas memeluk boneka tersebut.


“Kau senang?” tanya Andy.


“Tentu saja, terima kasih sudah mengabulkan keinginanku,” ujar Sunny tulus.


Kemudian—


CUP


—Sunny mengecup pipi Andy, tanda ia berterima kasih dan tanda bahwa ia mencintai kekasihnya.


Seketika senyum Andy terbit sangat lebar dari biasanya untuk ukuran seseorang yang tidak pernah tersenyum.


Semoga bibirmu tidak robek karena tersenyum terlalu lebar ya, Andy.


TBC


Visualisasi


Bekal



Takoyaki



Boneka Beruang