
Sunny harus kembali menelan kekecewaan, lagi-lagi lamarannya ditolak oleh perusahaan. Kenapa, apa yang salah dengan dirinya?
Sunny merasa frustasi, ia sudah mulai putus asa dan mulai mempertanyakan apa yang salah dengan dirinya? Ia juga berpendidikan, memiliki pengalaman kerja, dengan posisi yang tidak main-main, tapi kenapa semua perusahaan yang ia tuju, justru menolaknya?
“Apakah Papa yang menutup aksesku untuk mendaftar di perusahaan?" gumam Sunny bertanya-tanya.
Hati Sunny merasa sedih, jika seperti ini bagaimana dia bisa bertahan. Uang tabungannya juga pasti akan cepat habis bila ia tak bekerja.
Lelah dengan segala permasalahan yang datang padanya, Sunny memutuskan untuk keluar rumah sebentar, mungkin saja ada sebuah cafe kecil yang membutuhkan karyawan, ia rela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rain terus memantau kegiatan Sunny, hal ini sudah sebulan lebih ia lakukan. Ia mengetahui semuanya tentang Sunny termasuk di mana Sunny tinggal, bahkan ia juga mengetahui jika Sunny belum mendapatkan pekerjaan.
“Apa aku sudah keterlaluan, mengapa aku sekarang jadi iba melihatnya?" pikir Rain.
Ia tidak mengerti perasaannya akhir-akhir ini. Dia sendiri yang menginginkan balas dendam ini, tetapi mengapa ia merasa bersalah begini?
Sepertinya ia butuh istirahat sebentar untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kacau itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lain dengan Rain, lain juga dengan suasana di kediaman Sullivan, tak ada lagi keriuhan yang selalu menghiasi rumah tersebut.
Tania sudah seperti boneka hidup tanpa nyawa, tak ada lagi sapaan hangat untuk sang suami meski, ia masih mempersiapkan kebutuhan suaminya layaknya istri pada umumnya.
“Sampai kapan sikapmu seperti ini?"
“Sampai kau mampu mengembalikan anakku," jawab Tania lalu pergi ke kamarnya, atau lebih tepatnya kamar Sunny. Ya, semenjak Sunny pergi Tania dan Kendrick tidur terpisah. Ia tidak lagi tidur di kamar utama bersama suaminya.
Para pelayan juga merasa sedih melihat Nyonya besar mereka terus murung sepanjang hari.
Mereka masih berharap kebahagiaan akan datang pada keluarga ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurora sedang berada di pantry, untuk santai sebentar, tiba-tiba ia melihat Office Boy sedang meracik sebuah kopi, karena penasaran ia bertanya pada Office Boy tersebut.
“Kopi itu untuk siapa?"
“Ini untuk Pak Rain, Nona."
“Berikan padaku, biar aku yang mengantar ke ruangannya."
“Ya? Tapi saya yang mendapat perintah untuk membuat dan mengantar minuman ini, Nona."
“Kau tuli jika aku bilang, aku yang akan mengantarnya berarti harus aku yang mengantarkannya, aku ini kekasihnya?!" bentak Aurora pada Office Boy tersebut.
Ia segera beranjak dari kursi dan mengambil nampan beserta segelas kopi, kemudian pergi dari pantry.
Meninggalkan Office Boy yang bersungut-sungut karena perlakuan tak sopan Aurora, “Ya ampun, dasar nenek sihir. Seenaknya saja, lagi pula kapan, Pak Rain meresmikan hubungan dengannya? Terlalu banyak mengkhayal."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurora tiba di depan ruangan Rain, sebelumnya ia meletakkan nampan tersebut ke meja Galaksi untuk memperbaiki penampilannya.
Ia memakai kemeja atasan dengan kancing yang dibiarkan terbuka hingga mempertontonkan asetnya dipadukan dengan rok mini warna hitam serta rambutnya yang berwarna cokelat dibiarkan tergerai, tak lupa ia memoles bibirnya dengan lipstik merah menyala.
“Perfect!" batinnya.
Setelah memperbaiki penampilannya yang menurut ia dapat menarik perhatian Rain itu, ia segera mengetuk pintu sambil membawa nampan tersebut.
“Masuk!" kata Rain.
Aurora masuk dengan percaya diri sambil membawa nampan berisi segelas kopi, karena Rain sedang sibuk dengan layar monitor, Rain tidak memperhatikan Aurora.
“Presdir, ini kopi untuk Anda," kata Aurora.
“Taruh di meja!" jawab Rain tanpa mengalihkan pandangan dari monitornya.
Aurora kesal karena Rain tak mengalihkan pandanganya dari layar monitor. Maka ia berbuat sesuatu untuk menarik perhatian Rain.
Ia sengaja menumpahkan sedikit kopi ke tangannya.
”Auch!" teriaknya dan berhasil Rain mengalihkan pandangannya pada Aurora, tetapi—
—“Apa kau tidak bisa menaruh kopi dengan benar? Kau lebih payah dari anak balita yang bahkan bisa menaruh gelas dengan hati-hati. Dan apa-apaan pakaianmu itu, apa kaupikir kau bekerja di tempat hiburan malam, atau kau ingin aku membakar pakaian yang kau kenakan saat ini?!" tanya Rain dengan nada meninggi.
“Ganti pakaianmu dengan pakaian yang lebih sopan, aku tidak ingin memelihara wanita yang bekerja sebagai kupu-kupu malam berkedok menjadi karyawan perusahaan, jika kau tak mau mematuhinya, tak apa, tapi tunggu surat pemecatanmu dalam 2 hari kedepan!" ujar Rain lagi.
Mendengar teguran tegas Rain membuat Aurora membelalakkan matanya. Apa katanya, dia akan dipecat. Niat hati ingin menggoda Rain dengan tubuhnya yang menurutnya sexy itu, tapi malah dapat peringatan pemecatan, yang benar saja?
“M-maafkan saya, Presdir. Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan saya, tapi mohon jangan pecat saya dari perusahaan ini, saya masih membutuhkan pekerjaan saya," ujar Aurora memohon.
“Keluar dari ruanganku!" sentak Rain.
Aurora segera undur diri dan keluar dari ruangan Rain, sebelum Rain murka lebih jauh lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aurora keluar dengan wajah memerah, ia merasa malu, kesal, dan marah. Usahanya untuk menggoda sang bos dengan tubuhnya berakhir gagal total.
“Sial, bagaimana bisa ia tak tertarik pada penampilanku?! Aku harus cari cara lain agar dia bisa terjerat dalam pesonaku," ujar Aurora sambil menyeringai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sunny mencoba mendatangi sebuah cafe ia mencoba peruntungan, dengan mendaftar menjadi pelayan cafe di sana. Sayang seribu sayang, ternyata cafe itu tidak membuka lowongan pekerjaan.
Sunny bersedih hati, mencari pekerjaan sangat sulit sekali meski ia seorang yang memiliki gelar sarjana dan pengalaman kerja yang mumpuni, tapi kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan tak pernah ada untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rain pulang ke rumahnya, ia terus memantau Sunny dari jauh, dihantui perasaan bersalah, Rain tak bisa mengenyahkan Sunny dari pikirannya.
“Argh! Kenapa aku selalu memikirkannya? Kau benar-benar hebat Sunny, kau bisa membuatku gila dan dirundung perasaan bersalah," gumam Rain.
“Aku harus melakukan sesuatu." ujar Rain sambil merebahkan diri di kasurnya.
“Halo."
“Ada apa?"
“Ada yang ingin kubicarakan padamu."
“Apa yang ingin kau bicarakan?"
“Tolong carikan aku tempat tinggal yang paling sederhana."
“Huh, apa rumahmu disita?"
“Kaupikir aku terlilit utang bank?!"
“Lantas untuk apa kau mencari rumah yang paling sederhana?"
“Besok akan aku jelaskan."
“Aku harus mencari di daerah mana?"
“Di daerah xxxx secepatnya!"
“Kaupikir mencari rumah di daerah sana itu mudah?!"
“Aku yakin masih banyak studio di sana yang bisa dijadikan tempat tinggal."
”Huh, baiklah-baiklah, tapi jangan lupa berikan aku bonus!"
“Aku akan transfer langsung ke rekeningmu."
“Baiklah. Itu baru sahabatku."
“Hem!"
Rain menutup sambungan teleponnya. Ya, dia rela melakukan ini semua. Ia akan menyusun rencananya besok.
TBC
Visualisasi kediaman pribadi Rain
Dan kamarnya