
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
Selamat membaca!
---
“Siapa?” tanya Sera seraya membuka pintu utama. Sera terkejut, lagi.
“Surprise!” ucap Tio, lagi. Sudah 3 hari ini mereka bertemu setiap hari. Sepertinya Sera akan segera terbiasa dengan ini.
Masih pagi, masih jam 7 pagi. Sera baru saja turun dari tempat tidur setelah tidur panjangnya. Badannya masih terasa pegal disana sini. Dia tidak ingin pergi kemana-mana hari ini, tetapi muncul sekali lagi Tio di hadapannya? Ada apa lagi?
“Sera aku mau pamit. Aku balik ke Samarinda siang ini pesawat jam 11”
Sera tertegun, dia baru ingat kalau Tio bekerja diluar pulau, itu berarti dia hanya sebentar di Surabaya.
“Oh, oke hati-hati Yo”, jawab Sera yang masih bingung.
“Sudah pamit sama Octa sama Chandra juga?”
“Sudah, lewat chat. Ayah dan ibumu ada di rumah? Sekalian aku mau pamit juga” Tio menjawab sambil tersenyum.
“Ga ada Yo, sudah berangkat kerja dari jam 6 tadi. Ibu ada pasien mendadak, kalau ayah memang berangkat jam segitu tiap pagi, takut macet. Nanti aku pamitin ya” jawab Sera.
“Oh gitu, oke deh.. Oh ya, aku mau minta tolong boleh?”, Sera mengangguk. “Bisa antar aku ke bandara ga?”
“Kalau kamu bersiap-siap sekarang masih ada waktu untuk sarapan bersama juga sepertinya”.
Sera mengiyakan dengan segera dan menyuruh Tio untuk duduk menunggunya. Dalam waktu 30 menit Sera selesai mandi dan bersiap-siap. Sera memakai kaos putih sebagai dalaman dan dress tali selutut berwarna merah marun, membawa tas selempang kecil, dengan rambut tergerai dan make up natural. Tio memperhatikan Sera yang sedang memakai sepatu di terasnya, kemudian menghela nafas. Sebenarnya aku masih ingin lebih lama di Surabaya, ucap Tio dalam hati.
“Tio kamu kan ga bawa mobil, tadi kesini naik apa?” tanya Sera.
“Taksi online. Sebentar lagi juga kita naik taksi online saja, biar kamu ga perlu nyetir”. Tio berlanjut memesan taksi online dari handphonenya, yang kemudian datang hanya dalam waktu 5 menit. Mereka pun berpamitan pada bibi.
Mereka tiba di bandara pukul setengah 9, Tio mengajak Sera untuk makan di salah satu restauran yang ada di bandara.
“Sera, kamu gapapa kan aku tinggal ke Samarinda?” Tio iseng bertanya.
“Ya gapapa donk, kamu tanya kaya gitu kaya bapak mau ninggal anaknya aja” jawab Sera terkekeh sambil mengunyah nasi dan lauknya.
“Iya juga, kamu gapapa, aku yang kenapa-kenapa. Aku belum tahu kapan bisa pulang lagi loh” Tio kali ini menatap Sera dengan wajah serius dan bibir terkatup, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tertahan, membuat Sera menjadi merasa agak jengah.
“Bisa ga kamu janji sesuatu sama aku?” lanjut Tio.
“Janji apa?”
“Banyak. Janji jangan berkenalan dengan orang lain, janji selalu balas chatku, janji nanti akan jemput aku ke bandara kalau aku balik ke Surabaya lagi. Nanti aku pikir lagi janji apa yang mau aku minta ke kamu ya, sekarang belum kepikiran” jawab Tio.
“Ha? Permintaan macam apa itu? Aduh maaf ya Tio, kita baru bertemu berapa hari, mending kita bicara hal-hal yang sewajarnya deh. Ucapanmu itu bagiku.. Terlalu jauh”, sergah Sera. Tio diam, kecewa. Sera enggan melihat wajah kecewa Tio, dan melemparkan pandangannya ke arah lain. Bagi Sera prinsip adalah prinsip, dia tidak akan semudah itu mengiyakan permintaan Tio apalagi itu tentang hati. Sera memang suka dengan Tio, tapi masih sebatas suka, belum sayang apalagi cinta. Sedangkan permintaan Tio bagi Sera seperti permintaan kekasih untuk pasangannya.
“Iya juga ya, aku banyak mintanya” kali ini Tio tertawa.
“Kalau aku ada di Surabaya, di kota yang sama dengan kamu, aku juga mungkin ga akan posesif begini, Sera. Baru tiga hari kan? Kamu butuh berapa hari buat merasa cukup dekat denganku? Kamu tahu jarak kita jauh sekali kan?” tanya Tio.
Sera gusar dengan pertanyaan Tio, “Begini Tio, kita jalanin aja semuanya ya, seperti air mengalir. Aku ga bisa janji apa-apa sama kamu, selain, aku pasti usahakan selalu balas chat kamu setiap aku ada waktu” jawab Sera.
Tio dan Sera menyelesaikan sarapannya tepat pukul setengah 10, sudah waktunya Tio check in dan masuk ke dalam bandara. Tio hanya membawa satu buah tas punggung dan satu koper kecil yang bisa disimpan di dalam
kabin pesawat, berisi camilan dan makanan untuk oleh-oleh. Tio dan Sera berjalan beriringan menuju tempat keberangkatan, disana Tio berpamitan kepada Sera.
“Sera aku banyak terima kasih sama kamu” ucap Tio.
“Terutama waktu kamu mau temenin aku ke Gunung Bromo”.
“Hei harusnya aku yang makasih banyak, kalau bukan karena kamu, Octa dan Chandra, mungkin sampai sekarang aku belum pernah main ke Gunung Bromo. Ternyata tempatnya sebagus itu.. Padahal dari Surabaya ga terlalu jauh ya, kemana aja aku selama ini?” jawab Sera.
“Mau kesana lagi lain kali? Tapi berdua aja”.
“Hmm lihat nanti deh ya” Sera tersenyum mendengar pertanyaan Tio.
“Hehe iyadeh, aku sekarang masuk dulu ya.. Sekali lagi makasih ya, kamu hati-hati di jalan, kabarin kalau sudah sampai rumah”, Tio mengusap-usap rambut di atas kepala Sera dengan pelan dan lembut, berpamitan.
“Oke sama-sama Yo, kamu juga hati-hati” jawab Sera tak banyak. Sera merasa agak sesak melihat punggung Tio berjalan menjauh. Bekas usapan tangan Tio yang hangat masih terasa di kepalanya. Tio menoleh sekali lagi di pintu masuk, melambaikan tangan, dan dibalas lambaian tangan Sera.
Sera tidak langsung beranjak dari tempat dia berdiri, rasanya enggan pergi. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu, dia hanya malas untuk melangkahkan kakinya. Setelah 5 menit berdiri tanpa melakukan apa-apa, akhirnya Sera memutuskan untuk pulang. Dia naik ke salah satu taksi dan menuju ke rumahnya.
Sera baru bertemu Tio 3 hari yang lalu, tetapi Sera mengakui Tio telah membuat dirinya menyukai Tio. Tetapi bagi Sera sekedar suka saja tidak cukup, Sera tidak ingin terlalu cepat memutuskan bahwa dirinya jatuh cinta kepada Tio, baru suka, itu saja. Mungkin butuh waktu lebih lama bagi Sera untuk benar-benar jatuh cinta kepada Tio, ditambah lagi jarak mereka sangat jauh yang membuat mereka akan sangat jarang bertemu.
Selama perjalanan Sera menimang-nimang handphonenya, ada sedikit harapan Tio akan menghubunginya. Masih jam segini seharusnya Tio belum lepas landas, pikirnya. Sejujurnya Sera ingin menghubungi Tio terlebih dahulu, tapi ada rasa entah apa, yang menahan dirinya untuk melakukannya. Sebuah musik yang diputar di dalam mobil mengiringi perjalanannya ke rumah. Musik yang liriknya tepat sasaran di hati Sera, membuat semuanya terasa semakin sendu.
I see your face in my mind as i drive away
Cause none of us thought it was gonna end that way
People are people, and sometimes we change our minds
But it's killing me to see you go after all this time
Taylor Swift - Breathe
Terjemahan:
Aku melihat wajahmu di benakku saat aku pergi
Karena kita berdua tak mengira akan berakhir begitu
Manusia tetaplah manusia, dan kadang kita berubah pikiran
Tetapi aku sedih setelah melihat semua yang kau lakukan selama ini
---
Ketika Sera baru sampai di rumah, Tio mengirim sebuah chat melalui whatsapp.
“Berangkat”, dan ada sebuah gambar selfie Tio yang sedang berada di dalam pesawat, dekat jendela.
“Take care”, balas Sera singkat. Tio pasti saat ini mematikan handphonenya, jadi Sera hanya bisa menunggu kabar Tio beberapa jam kedepan.
Siang terasa agak lambat berjalan, membuat Sera mengantuk. Sambil menanti kabar dari Tio, Sera merebahkan dirinya dan tertidur pulas, melanjutkan tidurnya tadi pagi.