
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Pengunjung kafe malam itu saling berpandangan, menduga-duga siapakah Sera yang dimaksud oleh penyanyi di atas panggung.
“Dimana ya pengunjung kita hari ini yang bernama Sera? Apakah bisa naik ke panggung sekarang?” Pria itu masih terus saja memanggil Sera. Seseorang terlihat mendatanginya dan berbisik kepadanya, setelahnya pria yang ada di panggung itu menatap Sera yang duduk di kursi bersama Tio. Pria yang berbisik tadi memberitahu dimana Sera duduk.
Tio menyenggol tangan Sera, “Kamu dipanggil ke panggung tuh. Jangan-jangan ada sainganku yang lain lagi nih!” Ucap Tio meledek Sera.
“Eeng kayaknya salah orang deh ini penyanyinya Yo, aku ga kenal sama mereka tuh!” ucap Sera yang tidak mau beranjak dari tempat duduknya. Tetapi Sera melihat penyanyi kafe itu kekeuh memanggil namanya dan menunjuk dirinya.
Melihat Sera tak kunjung datang, penyanyi kafe itu turun dari panggungnya dan berjaalan menghampiri Sera, membuat Sera agak panik. Siapa yang sedang mengerjai dirinya? Tio tidak beranjak dari tempat duduknya dari tadi, jadi tidak mungkin Tio yang berulah. Sedangkan Chandra dan Octa, dia melihat mereka benar-benar berjalan ke arah parkiran, tidak bercakap-cakap dengan tim panggung sama sekali.
Penyanyi laki-laki yang menghampiri Sera tadi menghampiri Sera, “Permisi, dengan Sera? Ada seseorang yang mengenal kamu, Sera. Dia ingin mengatakan sesuatu di atas panggung katanya..” ucap lelaki itu. Sera tidak punya pilihan lain selain naik ke atas panggung. Penonton sudah mulai bertepuk tangan meminta Sera segera menuruti panggilan untuknya. Tio hanya tersenyum dari tempat duduknya kepada Sera, tidak mengucapkan apapun.
“Jadi begini ya Sera, saya ucapkan sekali lagi disini agar pengunjung lainnya juga tahu. Tadi saya mendapatkan pesan dari seseorang, yang katanya ingin mengucapkan sesuatu untuk kamu..” ucap pria penyanyi setelah Sera naik ke panggung bersamanya. Penonton bersorak ramai seakan tahu apa yang akan terjadi.
“Sebelum saya memberi tahu siapa yang memintanya, orang tersebut telah memberikan request sebuah lagu. Jadi kamu tolong berdiri dulu disini di samping saya, kami akan mulai menyanyikan lagu untukmu, sesuai request.”
Sebuah musik mulai mengalun pelan, Sera segera menyadari lagu yang sekarang sedang dia dengar. Sera menutup wajahnya karena malu, Sera sudah menduga siapa yang meminta dia naik ke atas panggung. Lagu yang mereka nyanyikan tak lain adalah, Always Be My Baby – David Cook. Lagu yang berulang kali diputar Tio di dalam mobil hanya untuk Sera.
Di pertengahan lagu Sera melihat Tio dan Octa naik ke atas panggung membawa sesuatu. Sesampainya di panggung, Tio menyalakan sebuah lilin di atas kue tart dan mendatangi Sera.
Lagu pertama sudah selesai dinyanyikan, kali ini band akustik yang ada di panggung menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun, untuk Sera.
“Selamat ulang tahun ya hun..” ucap Tio. Penonton berteriak histeris melihat acara ulang tahun dadakan yang ada disana. Sera mengalihkan pandangannya dari Tio, takut jika wajah merahnya terlihat oleh Tio. “Selamat ulang tahun Sera! Ayo make a wish dan tiup lilinnya!” Ucap Octa.
Sera menutup matanya, untuk sekian detik dia berdoa di dalam hatinya. Semoga dia bisa berbahagia dalam kehidupannya kini dan nanti, semoga orang tuanya selalu diberi kesehatan, dan.. semoga Tio segera menyatakan perasaannya untuk Sera. “Fuuhhh..” Sera meniup lilin yang ada di atas kue tart miliknya. Octa memeluk Sera dan mengucapkan selamat sekali lagi.
---
Sera masih tidak percaya dengan kejutan yang diberikan Tio, Octa dan Chandra semalam. Kini dia baru saja terbangun dari tidurnya dan semua benar-benar terasa seperti mimpi. Sera memandang sebuah kotak hadiah dari Tio, dia belum ingin membukanya. Semua kejadian semalam membuat Sera sangat senang, tetapi masih ada yang kurang. Sera dan Tio telah dekat selama 6 bulan dan Tio masih belum mengakui perasaannya kepada Sera. Padahal sikapnya sangat posesif dan mudah cemburu kepadanya, layaknya seorang pacar.
Kling! Sebuah pesan masuk ke handpone Sera. Pesan dari Tio.
“Hun, sudah bangun?”
“Sudah, baru saja. Apakah kamu juga baru saja bangun?”
“Hmm iya.. Masih ngantuk banget. Chandra menginap di rumahku.”
“Yasudah lanjutkan tidur kalau masih mengantuk.”
“Oke aku tunggu di rumah ya..”
“Iya.. Aku antar Chandra pulang dulu. See you hun.”
Sera bangun dari tempat tidurnya, dia ingin segera mandi dan sedikit berdandan karena Tio akan datang pagi itu.
---
“Sejujurnya aku sendiri ga ingat kalau aku ulang tahun hari ini..” ucap Sera kepada Tio sambil tertawa. “Aku mengira ulang tahunku masih besok. Sepertinya aku salah melihat tanggal di kalender.”
“Iya untung Octa sigap kasih tahu aku. Kalau enggak bisa-bisa cowok lain yang merayakannya sama kamu.” Balas Tio sambil tertawa. Sera meninju tangan Tio kuat-kuat untuk melampiaskan kekesalannya.
“Aku jarang merayakan ulang tahun dengan teman, yang pasti merayakan hanya orang tuaku saja. Tapi karena ada kamu sepertinya tahun ini mereka ga merayakan ulang tahunku. Atau mungkin nanti malam baru mereka mengajakku pergi.”
“Aku ikut..” ucap Tio.
“Lihat nanti..” jawab Sera sambil menyeruput kuah soto miliknya. Pagi itu mereka sedang sarapan di salah satu warung soto ayam yang terkenal di Surabaya, Warung Soto Cak To.
“Kita mau kemana habis ini?” tanya Tio.
“Pulang saja yuk! Gapapa ya? Aku masih mengantuk Tio.”
“Baiklah, as you wish my dear.” (Baiklah, terserah kamu sayang).
---
Dalam perjalanan pulang handphone Sera berbunyi, ada sebuah chat yang masuk. Tetapi Sera memilih untuk membukanya nanti setiba mereka di rumah. Sera masih ingin banyak berbincang dengan Tio.
Tio dan Sera baru saja akan masuk ke dalam rumah ketika ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Sera. Seseorang keluar dari dalam mobil membawa satu ikat besar bunga mawar berwarna merah. Buket bunga itu sangat besar hingga menutupi wajah orang yang membawanya.
“Siapa itu hun?” tanya Tio.
“Aku ga tahu Tio..” jawab Sera. Dia berdiri menjinjitkan kakinya agar bisa melihat siapa yang datang. Tetapi melihat mobil yang terparkir di depan, membuat Sera tiba-tiba memiliki firasat buruk.
Oh astaga! Mario datang menghampiri Sera dengan senyum khas miliknya yang berhiaskan lesung pipit. Di depan Tio, dia dengan sengaja menyerahkan buket bunga mawar merahnya kepada Sera.
“Selamat ulang tahun Sera.. Aku baru saja tahu dari status whatsapp dokter Dwi kalau kamu ulang tahun hari ini, jadi aku mampir kesini sekalian berangkat kerja. Aku ga tahu mau kasih kamu apa, cuma ini yang terlintas di pikiranku, dan yang mudah dibeli langsung. Semoga kamu suka ya.” Ucap Mario sambil menyerahkan bunga yang dia bawa.
Sera tersenyum menerima buket bunga yang besar itu. “Terima kasih Kak Mario. Jadi bikin Kakak repot begini.” Ucap Sera. Tangannya terasa basah karena keringat dingin, suasana canggung itu sungguh membuatnya bingung akan berkata apa. Lututnya seketika lemas melihat wajah Tio yang nampak jengkel.
(Bersambung)