
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Sera baru saja sampai ke rumahnya bersama Tio ketika tiba-tiba Mario datang membawa sebuah buket bunga yang besar, sebagai hadiah ulang tahun untuk Sera. Tentu saja ini membuat Tio tidak senang. Seingat Tio kemarin Sera berkata bahwa laki-laki ini hanyalah seseorang yang tidak sengaja ditabrak oleh Sera, dan hari ini tiba-tiba dia ada di rumah Sera tanpa memberitahu, seperti telah sering bertemu sebelumnya.
“Bukannya dia yang kemarin ada di bandara hun? Kenapa dia sekarang ada disini?” Tio bertanya kepada Sera. Membuat Sera gelagapan karena bingung harus menjawab apa.
“Halo, aku Mario. Aku salah satu rekan kerja dokter Dwi, ibunya Sera” Ucap Mario sambil mengulurkan tangan mengajak Tio berkenalan. Sayangnya Tio mengacuhkannya. Mario menarik kembali tangannya. Hati Tio kecut mendengar kenyataan bahwa Mario sudah lebih dulu mengenal ibu Sera. Terasa seperti kalah satu langkah.
“Sori, aku ga ada minat berkenalan dengan laki-laki.” Ucap Tio angkuh. “Hun, kamu belum jawab pertanyaanku. Dia kan cowok yang kemarin ada di bandara? Bukannya kamu bilang kalian hanya kenal karena kamu tabrak mobil dia?”
“Iya, memang begitu.. Tapi memang dia juga rekan kerja ibuku, sesama dokter di salah satu rumah sakit tempat ibuku praktik” jawab Sera lirih. Sera merasa tak enak hati dengan Mario, tetapi juga takut melihat Tio yang sepertinya marah.
“Sera aku tadi kirim whatsapp ke kamu, tetapi kayaknya kamu tadi lagi sibuk jadi aku ga bilang kalau ke sini.” Ucap Mario.
“Mario, kamu seharusnya ga sembarang memberi bunga ke cewek, apalagi cewek yang sudah bersama orang lain!” tegas Tio.
“Oh ya? Memangnya kalian sudah berpacaran? Setahu aku, belum. Iya kan Sera?” Pertanyaan dari Mario ini membuat wajah Tio merah, entah karena marah atau karena dia baru saja sadar, selama ini dia belum pernah
benar-benar meminta Sera menjadi pacarnya.
“Apa maksudnya?” Tio meraih kerah baju Mario, hendak memukulnya.
“Tio cukup!” Sera berteriak melihat Tio semakin tidak terkendali. Kali ini Tio sungguh keterlaluan. Sera sudah berusaha menahan diri ketika Tio bersikap posesif terhadapnya karena Sera memang juga menyukai Tio. Tapi entah mengapa pertanyaan dari Mario tadi membuat dada Sera berdenyut sakit. Sudah lama Sera dan Tio bertahan dalam hubungan yang tidak jelas ini. “Kak Mario, benar hari ini adalah ulang tahunku. Terima kasih banyak untuk bunganya, tetapi mohon maaf ya Kak, aku belum bisa banyak bicara dengan Kakak hari ini.” Ucap Sera mencoba mengurai keadaan.
Mario hanya tersenyum kepada Sera. “Oke Sera, sekali lagi selamat ulang tahun ya.. Doa terbaik buat kamu. Aku pamit dulu, aku harus ke tempat praktek sekarang.” Ucap Mario. “Oh ya Sera, ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, aku sebagai lelaki menghargai perasaanmu untuk siapapun, tetapi aku juga berharap kamu menghargai aku dengan tidak melarangku juga. Aku tahu kamu tidak berpacaran dengan siapapun saat ini, Sera. Ga ada yang bisa menghalangi aku buat mendekati kamu. Aku cukup tahu diri kapan harus berhenti mendekati kamu.” Lanjut Mario. Sera tahu apa yang Mario ucapkan barusan sesungguhnya ditujukan kepada Tio, Mario menyatakan dia tidak akan mundur atas Sera selama Sera belum terikat hubungan oleh siapapun.
Mario berjalan menuju mobilnya, meninggalkan Sera dan Tio yang masih diliputi sisa ketegangan barusan.
---
apapun.
“Hun, kamu tahu kan kalau Mario itu lagi mendekati kamu?” tanya Tio.
“Entahlah, mungkin iya. Dia ga chat aku setiap hari.” Jawab Sera ketus.
“Kamu tahu kan? Akan sulit buat kita kalau ada banyak orang yang mendekati kamu disini, sementara aku jauh di Samarinda.”
“Apa? Banyak? Apa maksud kalimatmu barusan seolah aku disini dekat dengan siapapun yang datang padaku? Tio aku sejujurnya selalu mencoba menjaga jarak dengan siapapun selama kamu disana! Tetapi kamu juga harus ingat ya Tio, apa yang diucapkan oleh Kak Mario itu benar! Kita belum ada ikatan apapun, kamu paham? Selama ini aku terus menahan diri dari pikiran seperti itu, bahwa kita ini hanyalah teman. Aku ini cewek Tio, sangat sulit buat aku untuk lebih dulu mengambil langkah ke arahmu! Kamu paham kan maksudku? Dan akhirnya hari ini ada seseorang yang mengucapkan semua isi hatiku langsung kepadamu! Dan kamu masih berusaha untuk menahanku disini?” Untuk pertama kalinya, Sera mengutarakan semua isi hatinya. Semua kegalauannya, semua penantiannya, bahwa dirinya sangat menantikan kepastian dari Tio, dan semua perasaannya untuk Tio. Tetapi Tio tetap duduk disana tanpa berkata apapun. Tidak juga dia memuji atau berterima kasih atas keberanian Sera mengungkapkan isi hatinya. Sera sungguh kecewa melihat sikap Tio.
“Maaf hun, aku.. Aku sama sekali ga bermaksud membuat hubungan kita ga jelas seperti ini, tetapi aku benar-benar belum bisa saat ini, kamu tahu kan jarak kita berdua terlalu jauh?”
Sera seharusnya tak terlalu banyak berharap pada Tio. Dia tahu Tio akan menjawab seperti ini. Semua penantian Sera selama ini berbuah getir bahkan setelah Sera mengutarakan kegelisahannya selama ini. Mungkin dari awal memang Tio tidak ada keinginan menjalin hubungan serius dengannya, atau mungkin Tio sangat hati-hati karena luka masa lalunya.
“It’s okay! Tapi aku juga berharap kamu tahu diri dengan tidak membatasiku seperti yang kamu lakukan selama ini..” ucap Sera dengan nada sangat sedih. “Tio kalau ga ada hal lain lagi yang akan kamu bicarakan, aku ingin istirahat sekarang, aku capek.”
Tio tak banyak berbicara, dia tahu dia salah. Yang bisa dia lakukan hanyalah sekali lagi meminta maaf dan berpamitan. Berharap semoga waktu bisa mengembalikan hubungan mereka seperti sedia kala.
---
Sera meringkuk memeluk bantal di tempat tidurnya, air matanya meleleh pelan mengalir di pipi. Sera berusaha menahan suara isak tangis agar tidak ada orang lain yang tahu. Orang tua Sera dan Bibi pasti sudah tidur saat itu, Sera bisa menumpahkan tangis yang dia tahan semenjak kepulangan Tio tadi siang.
“Tidak apa-apa Sera, menangislah.. Memang begitu cara kerja hati untuk meringankan bebannya. Kamu akan merasa lebih baik nanti.” Hati kecil Sera berbisik.
Handphone Sera berkali-kali berdering, ada banyak telepon dari Tio, dan Mario. Keduanya tak akan mendengar suara Sera hari itu. Sera sungguh lelah dengan sikap mereka berdua. Berkat mereka berdua hari ulang tahun yang seharusnya jadi hari istimewa bagi Sera, malah hancur. Hari ini saja, Sera ingin sejenak berhenti memikirkan Tio. Hari ini saja, dia tidak ingin mengucapkan selamat tidur kepada siapapun, dia ingin kembali seperti semula saat dia tidak mengenal Tio maupun Mario.
(Bersambung)