
Seraphina
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Sera mengemas semua barang-barangnya yang akan ia butuhkan untuk kegiatannya hari ini. Sera berpakaian rapi, ia mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam ungu, celana jeans navy, dan mengikat rambutnya ke atas membentuk sebuah cepol yang imut. Hari itu ia memutuskan untuk menggunakan make up tipis dengan pemulas bibir warna orange muda, ia ingin terlhat cerah dan ceria.
Mario sudah menunggunya di depan rumah lima menit yang lalu, dan Bibi sedang menemani tamunya itu, agar tak bosan menunggu, kata Bibi sambil tersenyum genit melirik Mario. Saat melihat Sera keluar dari kamar Bibi merengut kecut karena waktunya untuk mengobrol dengan Mario telah habis.
“Sudah siap?” Tanya Mario antusias. Sera mengangguk tak kalah semangat dengan Mario.
Mereka berdua pergi bersama hari itu, menuju sebuah tempat di pinggir Kota Surabaya untuk mengikuti sebuah program kelas mengajar untuk anak-anak yang diadakan oleh teman sejawat Mario.
Sera mengisi waktunya dengan aktif di kelas mengajar, setelah tugas akhirnya selesai dan kini ia hanya menunggu waktu wisudanya tiba satu bulan lagi. Sebisa mungkin Sera menyibukkan dirinya di siang hari agar tubuhnya lelah dan ia bisa tidur dengan nyenyak setelahnya. Dengan begini ia bisa melupakan kenangan buruk tentang Tio dan Adina.
Mario menyerahkan dua buah minuman kemasan kepada Sera, “Mau yang mana Nona?” Ucap Mario sambil tersenyum manis. Sera membalas senyumnya dan mengambil salah satu dari minuman yang ditawarkan Mario.
“Terima kasih Mario.” Sera tak lagi memanggil Mario dengan panggilan ‘Kakak’ sejak peristiwa sore itu.
Mereka baru saja selesai dengan kegiatan mereka hari itu. Sera sangat senang berada di sekitar anak-anak kecil yang antusias dengan apa yang mereka ceritakan tentang pekerjaan-pekerjaan yang mereka lakukan. Tak sedikit anak yang bercita-cita menjadi arsitek setelah melihat gambar-gambar yang ditunjukkan oleh Sera.
Kini mereka sedang duduk bersantai melepas penat di rerumputan yang ada di depan rumah sakit tempat Mario praktik.
“Kamu sudah terlihat lebih baik sekarang, lebih banyak tersenyum.” Ucap Mario sambil menatap lurus ke depan.
“Memangnya kemarin aku seperti apa?” Sera melirik kepada Mario, bersiap-siap dengan ledekan yang akan diluncurkan oleh Mario sebentar lagi.
“Eeeng, zombie” Mario tertawa melihat lirikan mata Sera. “Zombie yang cantik kok!” Segera ia meralat ucapannya karena Sera sudah melayangkan kepalan tangannya ke arah Mario, hendak menghantam pundaknya. Mereka berdua tertawa bersama.
Sejenak Sera melamun, seperti memikirkan sesuatu sebelum mengucapkannya. “Kalau maksudmu tentang Tio, aku memang sudah merasa lebih baik sekarang. Toh peristiwa itu sudah berlalu, sudah satu bulan yang lalu..” Sera menjawab rasa penasaran Mario. “Hanya saja, aku belum bisa terlalu lama sendirian..” Lanjut Sera.
“Aku tahu, karena itu kamu ikut banyak kegiatan seperti ini kan? Untuk menghindari waktu sendirian.” Ucap Mario sambil meminum kopi miliknya.
“Iya.. Kamu sendiri tahu kan? Kadang yang sulit kita lepaskan itu bukan orangnya, tetapi kenangannya..”
Mario mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Sera. Kenangan, itu juga menjadi salah satu penghalang utamanya untuk mendekati Sera saat ini. Kenangan Sera bersama Tio.
---
“Bibi, apa sudah siap sarapannya? Aku lapar Bi..” Sera berteriak dari taman depan rumah sambil berjongkok dan menggulung selang yang baru saja ia pakai untuk menyiram tanaman.
“Sarapannya sudah siap..” sebuah suara menjawab pertanyaan Sera.
Sera terperanjat mendengar suara yang baru saja ia dengar. Keningnya berkerut mengingat kembali pemilik suara itu. Perlahan Sera berdiri dan membalikkan badannya, jantungnya berdebar seperti menemukan kembali sesuatu yang telah lama ia cari. Seseorang yang sudah Sera simpan dengan rapi di sudut ingatannya, kini berdiri tegak di hadapan Sera.
“Tio..” Bibir Sera bergetar mengucapkan nama seseorang yang ada di hadapannya.
Tio tersenyum mendengar namanya disebut oleh gadis yang telah lama tak ia jumpai. Mata kecil, rambut terikat acak-acakan yang nampak cantik, dan bibir mungil yang selalu berwarna merah jambu tanpa terpoles. Semua yang Tio rindukan ada di hadapannya. Rasa ingin memeluk Sera tiba-tiba bergejolak di dadanya, tetapi sorot mata gadis itu seolah memukul nyalinya mundur. Sera menatap dengan sangat dingin. Sera membuang pandangannya dari laki-laki yang kemarin menorehkan luka pada dirinya, yang menjadikan dirinya orang ketiga tanpa sepengetahuannya.
“Sera, aku disini.. Aku datang untukmu” Ucap Tio mencoba meluluhkan Sera.
“Kamu tahu seharusnya kamu tidak disini.” Sera berucap dengan dingin. “Lebih baik kamu pergi, aku tidak ingin ada seseorang yang tiba-tiba meneleponku nanti.”
“Sera, aku kesini untuk minta maaf kepadamu..” Ucap Tio sekali lagi. “..dan ingin sarapan bersamamu hari ini.” Kali ini Tio mengangkat sebuah bungkusan berisi makanan, seperti yang selalu ia lakukan dulu.
Sera membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah, “Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan bersama.” Ucap Sera sambil menutup pintu rumahnya.
Tio menundukkan kepalanya, ia sudah tahu akan begini jadinya, Sera pasti menolak bertemu dengannya.
Sera berlari menuju kamar dan menutup pintunya. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur dan menangis sejadinya. Tangannya meremas kuat boneka beruang miliknya, melampiaskan rasa sakit yang kini datang lagi. Setelah susah payah ia bangkit berdiri dan memendam perasaannya kepada Tio, kini dengan seenak hati tiba-tiba dia datang lagi. Semua usahanya seakan sia-sia, runtuh dalam satu detik saja.
---
Dengan mata yang masih sembab Sera melangkahkan kakinya dan pergi dari rumahnya, tanpa berpamitan kepada Bibi. Sera sudah berjanji pada dirinya dia tak akan larut dalam sedih untuk kedua kali karena orang yang sama. Walaupun Tio datang dan membuat tembok pertahanannya jatuh seketika, ia akan tetap menjalani harinya seperti biasa. Tak ada waktu lagi untuk berduka.
Siang menjelang sore itu, setelah Sera selesai mencoba kebaya yang ia pesan, Sera memilih untuk menyendiri di kafe perpustakaan. Entah mengapa jika ia berada di kafe ini, ia merasa sedang berada di tempat asing, rasanya seperti tak akan ada seorang pun yang ia kenal akan berada disana. Sera bisa menghabiskan waktu berjam-jam sembari membaca buku-buku novel. Itu adalah cara termudah menyelamatkan dirinya dari rasa sedih.
Namun sepertinya kedamaian yang dirasakan Sera tak berlangsung lama. Tanpa sepengetahuannya, sebuah cangkir berisi kopi hitam disajikan di meja miliknya. Sera menatap cangkir itu dengan heran, kopi itu bukan miliknya.
“Maaf, sepertinya Anda salah meja. Saya tidak memesan ko…” Sera menghentikan ucapannya saat menyadari orang yang berdiri di hadapannya bukanlah pelayan kafe.
(Bersambung)