
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
“Hadiah terindah yang bisa kau berikan kepada seorang wanita adalah kepastian.” – Seraphina.
Dua hari berikutnya Sera masih enggan membalas pesan dan telepon Tio, tetapi Tio sudah tidak lagi datang ke rumah Sera setelah beberapa kali Sera menolak bertemu dengannya. Sera belum tahu apa yang saat ini dia ingin katakan kepada Tio, toh apapun yang Sera katakan Tio hanya akan sekali lagi meninggalkannya ke Samarinda dan Tio akan sangat jarang menghubungi Sera. Hati Sera masih terasa sakit jika dia mengingat itu.
Pagi sekali Sera sudah berada di trotoar pinggir jalan komplek perumahan, Sera sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang sembari mengipaskan tangannya, di atas rerumputan hijau. Sera menenggak air putih dalam kemasan yang ia bawa dari rumah. Keringat bercucuran di keningnya, baju yang dia pakai juga basah, beruntung dia menggunakan jaket pagi itu, cukup untuk menutupi kaos yang telah basah. Sudah lama sekali rasanya dia tidak berkeringat seperti ini. Selama 5 menit dia beristirahat disana untuk menikmati udara pagi, sebelum memutuskan untuk melanjutkan lari paginya menuju rumah yang jaraknya hanya tersisa 200 meter dari tempatnya beristirahat. Hmm mungkin sekarang ibu dan bibi sudah selesai memasak, pikir Sera.
Langkah kaki Sera terhenti ketika dia berada di depan pagar rumahnya, Sera melihat Tio sedang berdiri di sana, menghadap pagar menanti pintunya terbuka. Sera menghela nafas berat, akhirnya datang waktunya dia harus berbicara dengan Tio. Sera tak mungkin menghindari Tio seterusnya, Sera tahu suatu saat pasti mereka akan saling berbicara entah untuk meneruskan kesepakatan untuk saling menunggu atau menyudahinya. Sambil memantapkan hati, Sera melangkah mendekati Tio, yang segera menyadari kedatangan Sera.
Tio tersenyum lebar melihat Sera, tangan kanannya mengangkat satu kantong plastik yang pasti berisi makanan untuk mereka sarapan bersama. Sera tersenyum melihatnya.
Sera dan Tio duduk di kursi santai yang ada di teras rumah sambil menikmati nasi krawu yang dibawakan oleh Tio. Sera tak banyak berbicara, hanya menanggapi sedikit segala celoteh yang diucapkan Tio. Sera sudah tidak merasakan marah di dalam hatinya, dia hanya bingung bagaimana dia akan bersikap ke depan nanti, apakah dia masih bisa menunggu Tio lebih lama? Bertahan dengan jarak dan kerenggangan komunikasi nanti setelah Tio
kembali ke Samarinda. Atau dia sudahi saja, membiarkan waktu menunjukkan apa yang terbaik untuk mereka berdua.
“Hun, aku ingin kita kembali seperti sebelumnya. Aku minta maaf atas sikapku kemarin waktu ada Mario disini. Aku akan lakukan apapun agar kamu memaafkan aku, oke?” ucap Tio meminta.
“Serius kamu mau melakukan apapun Tio?”
“Iya, aku ga bisa kalau kita ga baikan hari ini. Hun, besok aku sudah harus kembali ke Samarinda. Kesempatanku hanya tinggal hari ini, kalau pun kamu tidak mau bertemu denganku tadi, aku sudah memutuskan untuk menunggu kamu di luar rumah.”
“Tio, kalau aku meminta kamu buat berhenti cemburu seperti kemarin, bisa?” Pertanyaan Sera membuat Tio tersentak.
“Hun, kadang aku sulit mengendalikan rasa cemburuku. Apalagi jarak kita sebentar lagi jauh.. Aku bisa saja berusaha untuk tidak cemburu, asal Mario juga berhenti menemui kamu.”
“Tio, apa kita sekarang sedang terikat hubungan semacam.. pacaran?” Sera menatap tajam ke arah Tio. “Kadang aku merasa cemburumu itu tidak pada tempatnya, kamu cemburu kepadaku, seseorang yang bahkan kamu ga tahu aku ini teman atau pacarmu. Memangnya aku ini siapamu?”
Tio diam, dia selalu diam jika Sera bertanya tentang hal ini. Sera yang sudah tahu jawabannya seperti apa, tetap saja merasa nyeri di dadanya. Sera berharap ada sedikit saja kepastian di antara mereka.
Sera menatap Tio dengan tatapan menyerah, memangnya Sera berharap Tio menjawab apa? Berharap tiba-tiba Tio menyatakan perasaannya dan memastikan hubungan mereka? Sepertinya saat itu tak akan terjadi dalam waktu dekat. “Sudahlah Tio, aku sudah tidak ingin berdebat apapun denganmu. Aku juga tidak menuntut apapun darimu. Lebih baik kita menjalani semua seperti biasa, tetapi tolong jangan merusak usaha kita dengan cemburu yang tidak perlu.”
Sejenak Tio seperti menimbang-nimbang sesuatu sebelum mengucapkannya, “Aku benar-benar minta maaf kalau aku membuat kamu merasa tergantung hun, aku ga bisa kasih banyak penjelasan sekarang, aku cuma bisa meminta kamu untuk lebih sabar, tolong tunggu aku. Setelah aku bisa pindah dari Samarinda ke Surabaya, semuanya akan lebih mudah untuk kita.”
“Jangan janji apapun Tio, aku pun hanya meminta kita untuk menjalani semuanya seperti biasanya. Kamu fokus dengan pekerjaanmu dan aku menjalani hidupku disini. Oke?”
Tio mengangguk setuju, tidak lagi meminta apapun kepada Sera, yang penting dia bisa kembali ke Samarinda dengan tenang karena Sera tak megacuhkannya lagi. Dalam benaknya Tio hanya bisa berdoa agar Sera tidak bersama laki-laki manapun. Tidak didekati oleh siapapun. Dalam hidupnya, baru sekali ini Tio merasa sangat berat untuk mendekati seseorang yang dia sukai.
“Hun, besok bisa kan antar aku ke bandara?” Tio bertanya kepada Sera, berusaha mencari waktu bersama di sisa liburannya kali ini. Sera tersenyum dan mengiyakan permintaan Tio.
---
Sera tengah mengendarai mobilnya dengan hati-hati, dia bersama dengan ibu Tio. Mereka baru saja mengantar Tio ke bandara, kembali ke Samarinda. Ibu Tio sedang cuti hari itu khusus untuk mengantar Tio kembali. Sera tengah bingung, bagaimana dia membuka percakapan kali itu. Bagaimana jika ibu Tio bertanya tentang hubungannya dengan Tio, Sera harus menjawab apa.
“Sera sudah berapa lama kenal dengan Tio?” Ibu Tio memulai percakapan serius mereka dengan nada ramah. Sera menelan ludah sebelum menjawab, ragu-ragu.
“Kalau ga salah sekitar 7 atau 8 bulan Tante..” jawab Sera.
“Sudah lama juga yaa..” lanjut ibu Tio. “Dulu sebelum Tio berkenalan dengan Sera, Tante sempat khawatir soal Tio.”
“Khawatir bagaimana Tante?” Sera bertanya menyelidik.
“Yah Tante sih takutnya Tio dekat dan pacaran dengan cewek di kota sana.” Ibu Tio menjelaskan.
“Hmm, kalau boleh Sera tahu, memangnya cewek di kota sana kenapa Te?” Sera semakin penasaran dengan alasan ibu Tio.
“Cewek sana sih ga kenapa-kenapa, tapi kalau sama orang sana Tante takut nanti Tio jadi ga bisa nemenin Tante di Surabaya, takut Tio jadi seterusnya bekerja disana. Tante punya keinginan untuk selalu dekat dengan anak-anak Tante, karena seperti yang kamu tahu, Tante dan suami kan sudah berpisah. Hanya anak-anak yang Tante punya. Begitu..” Ibu Tio tersenyum menatap Sera sebelum melanjutkan, “Makanya Tante senang bukan main waktu Tante tahu Tio sepertinya naksir kamu.”
Sera tertunduk malu mendengar ucapan ibu Tio. Sera tidak menyangka kalau ibu Tio sudah merestui hubungan mereka, mungkin ibu Tio belum tahu kalau sebenarnya Sera dan Tio belum terikat hubungan apapun, tidak lebih dari teman dekat.
“Ooh begitu..” ucap Sera sambil termangu mendengar penjelasan dari ibu Tio. Sesaat muncul di benaknya, Sera ingin menjelaskan kepada ibu Tio bahwa di antara dirinya dan Tio belum ada ikatan seperti yang ibu Tio kira. Tetapi Sera mengurungkan niatnya, Sera tak tahu apa saja yang sudah dikatakan oleh Tio kepada ibunya.
Sera memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan setelahnya, Sera tak ingin membahas hubungannya dengan Tio yang masih belum jelas. Sepanjang perjalanan yang tersisa, ibu Tio banyak menceritakan masa kecil Tio dan Melda. Membuat Sera tersenyum-senyum membayangkan Tio kecil dengan segala tingkah lakunya, kalau saja mereka telah bertemu sejak lama, mungkin sekarang cerita di antara mereka berdua akan berbeda.
(Bersambung)