
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Sera menggerak-gerakkan kakinya perlahan, ia tengah kebingungan akan menjawab apa kepada Mario. Mengapa juga tiba-tiba Mario menanyakan hubungannya dengan Tio. Dikatakan baik-baik saja tidak bisa, hendak berkata sedang renggang tetapi ia malu.
“Hmm.. Yah ga gimana-gimana Kak Mario hehe!” Sera tersenyum lebar menjawab pertanyaan Mario, sembari berharap dalam hati agar Mario tak menanyakannya lebih lanjut.
Tetapi sepertinya harapan Sera akan segera sirna, Mario malah mengangkat satu alisnya setelah mendengar jawaban Sera dan melanjutkan rasa penasarannya. “Ha? Ga gimana-gimana itu gimana?” Sera merasa tercekat, tak tahu mau bicara apa. “Apa kalian sudah benar-benar berpacaran?” tanya Mario sekali lagi.
Sepertinya Sera harus menyerah dan menjawab dengan jujur, Sera dengan lesu memiringkan kepalanya. “Enggak Kak, kami ga pacaran..” ucap Sera lirih. Mario hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Sera. Dalam hati ia tengah bersorak sorai.
Tiba-tiba Mario mendekati Sera dan mengacak-acak rambut Sera. “Oooh kalau begitu aku akan mengambil langkahku. Siapkan dirimu oke?” Wajah Mario yang sangat dekat dengan Sera membuat jantung Sera terasa akan lepas, ditambah dengan senyum yang selalu diiringi lesung pipit yang dalam. Sera mengangkat tangannya seolah sedang merapikan poni, ia takut wajahnya akan terlihat memerah karena wajah Mario yang sangat dekat dengan
wajahnya.
Sera! Sera! Luruskan hatimu hai anak muda! Ingat janjimu kepada Tio! Jerit hati kecil Sera terdengar di dalam pikirannya.
Ha? Janji kepada Tio? Kita bahkan ga tahu apakah Tio saat ini sedang menepati janjinya kepada Sera?! Mengapa kita tidak memberikan kesempatan kepada yang ada di depan mata? Toh Tio sangat jarang menghubungi Sera. Sisi lain logika Sera ikut menimpali, membuat suasana hati semakin rumit.
Sera menghela nafas mengakhiri perdebatan yang bersahutan di dalam otaknya. Ia kembali kepada prinsip awalnya, membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Apalagi jika mengingat pembicaraan dengan ibunya kemarin, berarti Sera juga harus mempertimbangkan usaha Mario.
“Kak Mario bisa aja. Memangnya apa yang mesti harus disiapkan?” jawab Sera sambil tertawa. “Let it flow (biarkan ini mengalir) aja ya Kak..” ucap Sera kepada Mario.
---
“Halo? Tio?” Octa memanggil kawannya yang ada di pulau seberang. “Apa bisa kita bicara sekarang Yo?” tanya Octa.
“Hm ya? Ada apa Octa?” tanya Tio perlahan di telepon.
“Kamu masih bertanya kenapa? Bagaimana ini dengan urusanmu? Kapan kamu bisa selesaikan? Aku ga mau ikut terlibat kalau sampai terjadi apa-apa!” Octa mulai kesal kepada Tio.
Tio menarik nafas panjang, berusaha mengatur pikirannya yang terasa rumit. “Octa aku juga sedang berusaha menyelesaikan semuanya.. Tetapi kamu tahu kan kondisinya? Ga segampang itu menyelesaikan urusan disini!”
“Oh! Kalau memang begitu sebaiknya kamu juga jangan tarik ulur yang ada di Surabaya Tio! Gila ya kamu!” Nada bicara Octa semakin tinggi.
“Hei hei! Aku kan sudah menjelaskan semuanya kepada kamu Octa! Aku juga sedang berusaha disini!” Tio tak mau kalah dengan Octa. Sebuah suara memanggil Tio di kejauhan, membuat Tio tak bisa berlama-lama berada di telepon bersama Octa. Tio berusaha menurunkan nada bicaranya dan berbicara sekali lagi, “Octa, lain kali kita bicarakan lagi, oke? Aku harus pergi se..”
Klik! Tut.. tut.. tut..
Octa telah mematikan teleponnya sebelum Tio menyelesaikan bicaranya di telepon dan membanting handphonenya ke tempat tidur sambil berteriak marah, ia menjambak sendiri rambutnya. “Sialan Tio!”
---
Hari masih siang saat itu, dan urusan mereka di kampus telah selesai. Satu per satu teman kuliah Sera berpamitan untuk pulang terlebih dulu, sementara Sera sepertinya masih enggan untuk pulang. Sera menatap layar handphonenya dan menghubungi seseorang.
“Octa! Kangen nih! Ke tempat biasanya yuk!” Sera mengirimkan sebuah pesan whatsapp kepada Octa. Agak lama Octa tak menjawab pesan dari Sera, membuat Sera penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya. Biasanya Octa akan langsung menjawab walaupun ia sedang berada di kelas. Sera pada akhirnya memutuskan untuk mencoba menelepon Octa.
“Halo? Sera?” Suara Octa di telepon terdengar agak panik.
“Halo Octa, aku kirim pesan ke whatsapp kamu, tapi kamu belum baca. Apa kamu sedang sibuk?” tanya Sera.
“Oh ya? Sori ya handphoneku tadi ada di kamar, aku lagi di toilet! Gimana gimana? Ada apa sissy?”
“Oh gitu, oke oke santai. Aku cuma ingin mengajak kamu ke kafe biasanya.. Kayaknya lama kita ga minum kopi bersama sambil ngobrol.”
“Hmm..” Octa tak langsung menjawab ajakan Sera, tidak seperti biasanya.
“Kamu lagi sibuk ya? Kalau memang lagi sibuk kita ga usah bertemu hari ini, lain kali pun gapapa kok..”
“Eits gapapa kok Sera aku ga sibuk. Aku cuma melihat jam berapa sekarang ini. Kalau kamu sudah selesai dengan urusanmu sekarang, mungkin kita bisa ketemu di kafe biasa jam 3 sore ini. Bagaimana?”
“Oke! Aku tunggu kamu disana!” Sera bergegas mengemas barang-barangnya yang tercecer di meja. Sera melirik jam tangannya, masih jam setengah 2 siang. Tak apa-apa Sera sampai disana terlebih dulu, ia bisa menikmati segelas es latte kesukaannya sambil menunggu Octa datang.
---
Octa berdiri di depan pintu kafe sambil meremas-remas jarinya, agak ragu-ragu ia hendak masuk. Dalam hati ia berharap semoga hari ini Sera tidak bertanya apa-apa tentang Tio, atau semoga permintaan Sera bertemu dengannya hari ini bukan karena ia telah mengetahui sesuatu yang telah ia simpan dengan rapi bersama Tio. Octa mengatur nafas dan mimik wajahnya sebelum akhirnya mendorong pintu kafe.
Dari jauh terlihat Sera sedang duduk di kursi biasanya sambil melamun memandang kea rah luar jendela. Di mejanya terdapat segelas minuman dingin kesukaannya yang tersisa hanya separuh. Octa bergegas menghampiri Sera.
“Hei!” Octa berteriak sambil menghempaskan badannya di kursi yang berada tepat di depan Sera. “Aku minta minum kamu ya!” ucap Octa sambil mengambil gelas minum Sera tanpa menunggu jawaban dari Sera.
Sera tersenyum melihat kelakuan temannya. “Kamu ga pesan minuman?” tanya Sera.
“Sudah!” jawab Octa singkat sambil mengipas-ngipaskan tangannya. “Aku menyesal tidak mandi sebelum datang kemari.”
Sera mengernyitkan alisnya mendengar ucapan Octa, “Oh pantas bau.” Sera dan Octa tertawa terbahak bersama.
Sera melihat sekeliling, kafe tempat mereka bertemu saat itu terlihat lebih ramai dari biasanya, seingat Sera hari itu
bukanlah akhir minggu. Rasa penasaran Sera terjawab setelah melihat sebuah reklame besar di pinggir jalan raya yang menunjukkan bahwa hari itu sedang diadakan konser musik jazz tahunan yang akan diselenggarakan selama tiga malam berturut-turut di sebuah gedung di belakang kafe.
Konser musik.. Lama sekali Sera tak pernah menonton konser musik. Bagaimana jika ia mencoba mengajak Octa menonton, sepertinya akan seru, pikir Sera dalam hati.
(Bersambung)