Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Rahasia



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Pagi hari selanjutnya, Sera bersiap-siap ke kampus untuk konsultasi sekali lagi, hari ini dia ada janji dengan dosen pembimbing pukul 9. Ting tong! Sera berlari menuju pintu rumah. Sera membuka pintu, dan melihat siapa yang datang.


“Ada paket untuk Ibu Sera”, ucap bapak kurir yang ada di depan pintu.


Sera menerima paketnya, dia lupa dia telah membeli sebuah paket dari toko online. Ada sedikit perasaan sedih menyelinap di hati. Hei Sera, kau sedang mengharapkan siapa? Tentu saja yang datang bukan Tio. Sera berterima kasih dan menutup pintu rumahnya. Berlalu ke kamar, melanjutkan persiapannya.


Sesungguhnya kemarin setelah Tio sampai di tujuannya, Tio langsung mengabari Sera, bahkan mereka saling berbalas pesan sampai cukup larut malam. Tio hanya hadir di hidupnya selama 3 hari, tetapi sepertinya dia berhasil membuat Sera selalu mengingatnya.


---


Selepas dari dosen pembimbing, Sera mengajak Octa bertemu di tempat biasanya.  Mereka janjian pukul 4 sore, kali ini Octa tidak mengajak siapapun bersamanya.


“Skripsi lancar sis?” tanya Octa.


“He em, alhamdulilah sis. Kamu gimana? Kapan ngajukan?” tanya Sera balik.


“Belum ketemu judul yang jodoh” jawab Octa sambil tertawa lebar.


“Btw, Tio gimana?”


“Gimana apa?”


“Oke ga? Cocok ga?” Octa tertawa semakin lebar, kali ini dia berkedip-kedip kepada Sera.


Sera hanya berdehem sambil tersenyum kepada Octa, membiarkan Octa menebak-nebak sendiri. “Octa, kamu yakin Tio itu ga punya pacar? Tapi pasti dia pernah pacaran kan?” tanya Sera.


“Yah itulaah, Tio tuh sebenarnya yah kurang lebih sama kaya kamu” jawab Octa.


“Sama gimana?”


“Yah, jadi Tio itu pernah lah pacaran satu kali, sebelum dia kerja di Samarinda lebih tepatnya. Bucin gila dia sama pacarnya waktu itu, semua dia kasih ke pacarnya”. Sera diam menunggu kelanjutannya.


“Bedanya kalian tuh, kalau kamu ditinggal selingkuh sama cewek lain kan? Kalau Tio ditinggal nikah sama cowok lain. Jadi ceweknya tuh hamil duluan sama cowok lain” ucap Octa serius.


Kali ini Sera hanya diam, dari dulu Sera merasa dia yang paling tersakiti di dunia ini, sekarang dia tahu sendiri kalau ada orang lain yang ceritanya lebih menyakitkan darinya. Ditinggal menikah, karena ceweknya hamil dengan orang lain. Membayangkan Sera ada di posisi Tio saja Sera tidak mampu.


“Waktu itu Tio hampir depresi, dia ga mau ketemu dengan siapa-siapa. Bahkan dia sempat mau menghajar cowok yang hamilin pacarnya. Tapi ya akhirnya dia mengalah juga setelah memikirkan  bayi yang ada di perut pacarnya, mau bagaimanapun semua sudah terlanjur kan? Si bayi pun berhak atas ayah kandungnya” lanjut Octa.


Sera mengangguk, Tio sudah memilih jalan yang benar. Ada rasa iba kepada Tio setelah Sera mendengar semua ceritanya dari Octa. Sera agak menyesal selama bertemu dengan Tio dia banyak acuh dan ketus.


“Tio ga dekat dengan siapapun setelah kejadian itu, hmm kira-kira 3 tahun lah. Baru sehari sebelum kita ke cafe ini kapan hari tuh, pas dia main ke rumah dia lihat handphoneku ada foto kita waktu nonton bioskop kan? Dari situ dia tahu dan tanya-tanya tentang kamu. Begitu ceritanya.. Capek juga jelasin beginian” celoteh Octa sambil meminum es latte yang ada di meja.


“Kamu juga cerita soal aku ke Tio? Soal mantanku itu?” tanya Sera menyelidik.


“Iya donk! Aku cerita juga soal itu. Ya maaf ya bukannya mau bermulut ember, soalnya biar Tio tuh ga main-main sama kamu gitu. Biar dia tahu kalau kamu juga pernah sedih. Mau gimana juga kalian berdua tuh sahabatku. Kalau ada apa-apanya aku juga yang ribet” jawab Octa.


“Trus kamu sendiri gimana sama Tio?” balas Octa bertanya sekali lagi.


“Aku ga tahu juga Octa, aku inginnya biar mengalir apa adanya aja. Ga ingin buru-buru, yang penting kenal dulu. Sebenarnya aku merasa senang waktu bersama Tio, tetapi belum sampai jatuh cinta atau semacamnya”, ungkap Sera.


Octa diam sejenak, berusaha memahami temannya. Tetapi memang terlalu cepat jika sudah saling cinta mengingat mereka baru saja bertemu. Mungkin memang butuh waktu lebih banyak untuk dua orang ini.


“Aku juga ga memaksa kamu harus sama Tio, aku cuma mengenalkan saja, barangkali ada kecocokan diantara kalian berdua. Tapi seandainya kenyataannya tidak begitu pun kalian berdua tetap sahabatku”, Octa menepuk pundak Sera.


“Hmm yaa itu yang paling penting”, balas Sera.


“Oiya tolong jangan kasih tahu Tio kalau aku cerita ke kamu soal mantan pacarnya ya? Dia hampir sama kaya kamu, ada trauma sedikit, cuma  kalau dia begitu ingat masa lalunya yang itu biasanya bakal diam lama banget, padahal dia kan orangnya cerewet. Yah kamu sudah lihat sendiri dia seperti apa”, Octa melanjutkan.


“Aku kasih tahu ini biar kalian sama-sama tahu saja, dan bisa saling jaga ucapan biar ga ada yang keceplosan, oke?”


“Yaah kamu juga yang paling tahu aku kan Octa? Aku paling malas bahas soal masa lalu, termasuk masa lalu orang lain”.


“Tetapi aku agak penasaran siapa mantannya, kamu ada akun sosial medianya ga?”, tanya Sera.


“Ada, cuma kayaknya sudah lama ga update. Kalau sekedar fotonya sih ada”, Octa membuka aku social medianya dan mencari foto mantan pacar Tio. Sera melihat sebuah foto, sepertinya foto lama. Benar kata Octa, pemilik akun sudah tidak pernah mengupdate sosial medianya. Sera hanya ingin tahu saja, setelahnya Sera tidak pernah membahasnya lagi.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7, sepertinya mereka agak terlalu lama mengobrol kali ini, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


---


Sera membuka laptop di meja kamarnya ketika sebuah pesan chat masuk.


“Sera..”, dari Tio. Sejak kembali ke Samarinda, Tio selalu menghubungi Sera terutama selepas bekerja.


“Yup”, jawab Sera.


Tio selalu menanyakan kegiatan Sera seharian, sedang apa, apakah sudah makan, dan pertanyaan sejenisnya, yang juga selalu dijawab standar oleh Sera.


“Mulai sekarang aku ga mau panggil kamu Sera”, tiba-tiba Tio membahas hal lain.


“Trus?”


“Hun, aku mau panggil kamu hun” balas Tio.


“Astaga alay! Aku ga mau", Sera tersenyum membaca chat mereka kali ini. Tio berlanjut mengirim sebuah foto hasil


screenshot, menunjukkan bahwa nama Sera di daftar kontak Tio sudah berganti, menjadi “Hun”. Kali ini Sera tertawa sambil berguling di tempat tidurnya, perasaan senang menguasai hatinya. Tetapi dia tetap membalas chat Tio dengan nada menolak, bagaimanapun juga sebenarnya mereka belum berpacaran kan? Sera tidak akan membalas dengan panggilan yang sama sampai Tio menyatakan perasaannya, tapi kapan Tio akan datang ke Surabaya lagi?


“Kamu berencana libur panjang kapan Yo?” tanya Sera.


Lama Sera menunggu jawaban dari Tio, hampir 2 jam, dan chat itu belum juga dibaca oleh Tio.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, Sera masih menunggu chat balasan dari Tio, tetapisepertinya Tio tertidur. Merasa mengantuk, Sera meletakkan handphonenya dan beringsut ke dalam selimutnya. Selamat malam Tio, ucapnya dalam hati sambil tersenyum.


---