Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Matahariku Mataharimu



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Sera dan yang lainnya segera turun dari mobil dengan membawa tas masing-masing dan  mengenakan semua pakaian hangat yang mereka bawa. Sera cukup kaget dengan suhu dingin yang dia rasakan, suhu saat ini sekitar 10 derajat celcius, sangat dingin apalagi jika dibandingkan dengan suhu udara di Kota Surabaya. Sera berdiri tegak sambil mendekap lengannya sendiri di sebelah Octa. Sementara Tio dan Chandra nampak sedang bernegosiasi dengan salah satu pemilik jeep yang tadi menghampiri mereka.


Sera cukup terkejut dengan pemandangan yang dia lihat di pagi buta ini, ternyata cukup banyak pengunjung yang datang, kurang lebih ada 15-20 mobil yang telah terparkir disana. Ada banyak penduduk lokal yang membuka warung makan dan kopi, pedagang lain pun banyak yang menghampiri Sera, ada banyak barang yang mereka jajakan, seperti topi hangat, syal hangat, minuman panas, mie instan, dan bahkan ada yang menyewakan jaket hangat. Jika Sera mengetahui bahwa disini ada yang menyewakan jaket hangat, sepertinya dia akan menolak menerima jaket pemberian Tio. Orang-orang yang menjajakan dagangan di pagi buta itu kebanyakan adalah orang Suku Tengger, suku asli daerah Gunung Bromo, mereka mempunyai ciri khas menggunakan sarung yang diselempangkan di badan untuk menghangatkan badan. Ya, mereka menghangatkan badan cukup dengan jaket biasa, bukan jaket tebal khusus gunung, dan sebuah sarung. Tentu saja dengan topi hangat di kepala mereka. Padahal Sera yang sudah menggunakan jaket gunung masih merasa kedinginan dan ingin menambahkan jaket lagi, kalau ada.


Tio dan Chandra menghampiri Octa dan Sera, mengajak mereka untuk segera mendatangi jeep yang telah mereka sewa. Sebuah jeep berwarna merah mengkilap, di dalamnya sudah siap sang juru kemudi memanaskan mesin jeep. Mereka berempat masuk ke dalam jeep, kali ini Tio tidak mau berjajar dengan tumpukan tas seperti yang sudah terjadi tadi. Tio duduk di samping Sera, merapatkan dirinya di samping Sera.


Sera nampak gelisah karena Tio ada di sampingnya, terlalu dekat. Sera hendak berdiri berpindah ke samping Octa ketika tiba-tiba tangan Tio menggenggam pergelangan tangan Sera untuk menahannya. Tio menarik tangan Sera hingga Sera terduduk lagi di sebelah Tio.


“Kamu duduk disini, ga boleh pindah” ucap Tio tanpa ekspresi. Tio melemparkan tas punggung milik Chandra ke samping Octa sehingga tidak ada tempat duduk lagi disamping Octa. Sera terperanjat dengan sikap Tio kali ini, Sera merasa sangat diatur, tetapi di sisi lain Tio terlihat sangat tegas dan berkarisma sampai membuat Sera menurut kepadanya.


“Ayahmu menitipkanmu kepadaku, tadi kamu mendengar sendiri ucapan ayahmu kan?” ucap Tio kepada Sera.


“Selama bersamaku, kamu tanggung jawabku, kamu harus di sebelahku, oke?” lanjutnya.


“Kamu ga perlu terlalu berlebihan” jawab Sera sambil menahan ekspresi di wajahnya. Kalau saja saat itu siang hari, pasti wajah Sera akan terlihat memerah karena malu bercampur senang.


Pukul setengah 4 pagi mobil jeep yang mereka kendarai berangkat menuju sunrise point di Bukit Kingkong, tempat yang Tio pilih untuk melihat matahari terbit. Ada beberapa sunrise point di Gunung Bromo, Seruni point, dan Penanjakan 1. Sebenarnya tempat yang paling populer untuk dikunjungi adalah Penanjakan 1, tetapi jika tempat itu populer maka kemungkinan besar akan banyak orang disana, sedangkan Tio ingin tempat yang lebih sepi dan tenang saat menikmati matahari terbit.


Kurang lebih 40 menit mereka sampai di suatu tempat, jeep merapat ke kiri jalan dan berhenti. Sebenarnya jalan yang ada di depan jeep masih belum nampak ujungnya, Sera kira dia masih akan naik ke atas sana. Mereka semua turun termasuk sang supir jeep.


“Tinggal jalan kaki ke arah sana loh Mas” ucap supir jeep menunjuk di kanan jalan. Sebuah jalan setapak yang hanya cukup dilewati sebuah sepeda motor di kanan jalan. “Dari sini jalan kaki aja, cuma 15-20 menit sudah sampai kok”, lanjutnya.


Mereka menyalakan lampu senter dan berjalan ke arah jalan setapak di kanan jalan, tidak nampak ada orang di depan mereka atau di belakang mereka. Sera bertanya di dalam hati apakah ini jalan yang benar, karena terlihat terlalu sepi untuk ukuran tempat wisata. Tetapi dia terus melanjutkan langkahnya. Teman-teman yang lain tidak banyak berbicara, terlalu dingin, malas untuk bercanda. Hanya sesekali saja mereka saling mengobrol.


Setelah 15 menit berjalan kaki, jalan setapak yang mereka lewati mulai melebar dan menjadi sebuah lapangan kecil yang dikelilingi rumput dan pagar. Ternyata disana sudah cukup ramai, sekitar 12 orang tamu sudah sampai lebih dahulu dibanding mereka, dan juga ada beberapa penjual minuman hangat di sisi lapangan. Penjual minuman menawarkan dagangan kepada tamu-tamu yang datang, mereka juga menyediakan arang yang dibakar untuk tamu


yang ingin sekedar menghangatkan diri. Suasana masih sangat gelap, Tio melihat jam tangan dan ternyata masih jam 4 lebih 10 menit, masih ada banyak waktu sebelum matahari mulai terbit.


Tio mengajak teman-temannya mencari rumput landai untuk duduk-duduk sebentar sambil menunggu matahari terbit, tentunya tempat yang menghadap langsung ke arah matahari nanti.


Dari tempat mereka duduk terasa angin berhembus agak kencang, dari bawah terdengar suara pepohonan saling menggesek tertiup angin. Tidak ada lampu pencahayaan selain dari lampu senter atau handphone pengunjung. Suara orang-orang bercakap-cakap terdengar samar-samar. Sera merasa sangat kedinginan, pipinya terasa membeku dan nafasnya berubah menjadi uap setiap dia bernafas. Sera meremas tangannya sendiri di dalam saku jaket berharap ada udara hangat tersisa di dalam. Tio mengajak Sera membeli minuman hangat entah kopi atau teh panas. Sambil berjalan Tio menarik tangan Sera dan menggenggamnya, memasukkan tangan Sera ke dalam saku


jaket Tio. Sera tidak menolak. Sera merasa ada yang hangat di dadanya, terasa nyaman, jadi dia membiarkannya menggenggam tangannya.


Mereka berempat telah mendapatkan minuman hangatnya masing-masing dan bersama-sama menanti matahari terbit. Garis langit sudah mulai berwarna merah pertanda sebentar lagi matahari akan segera terbit. Sera duduk di samping Tio, menggigil kedinginan sambil menggenggam gelas teh panas di tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 pagi, sebentar lagi batin Tio.


Sepuluh menit kemudian warna semburat merah terlihat lebih luas, beradu dengan warna ungu, merah muda dan jingga di ujung langit.  Sera berdebar-debar melihat perpaduan warna langit di depannya. Warna langit berubah menjadi terang dalam waktu yang sangat cepat, hanya 10 menit saja semuanya sudah tampak lebih jelas sekarang. Sera tidak lagi terduduk, dia maju beberapa langkah untuk menatap semua pemandangan yang ada di depannya. Langit sudah tidak lagi menyandang warna gelap, tetapi warna ungu dan merah muda yang mendominasi, semakin dekat ke matahari warnanya semakin jingga. Langit sangat bersih diatas, sedikit sekali awan.


Sera melihat ke bawah dan menutup mulut karena takjub, Sera tengah melihat sesuatu yang sangat luar biasa, lautan awan di bawah Bukit Kingkong tengah berarak berjalan pelan. Di atasnya hampir tidak ada awan sedikitpun, namun di bawahnya awan yang seperti tumpukan kapas tengah mengalir seperti air sungai, bersujud khidmat di bawah Kawah Gunung Bromo dan Gunung Batok, gunung yang berada tepat di samping Kawah Gunung Bromo. Kapas awan itu tertimpa warna matahari, merah muda semu. Sera meneteskan air mata melihat pemandangan di depannya, semuanya terlalu indah baginya, dia baru menyadari betapa dia telah melewatkan banyak momen matahari terbit dalam hidupnya. Pengunjung lain sama gembiranya dengan Sera, beberapa berteriak kegirangan, dan yang lainnya sibuk mengabadikan momen dengan kamera masing-masing.


Tio memegang pundak Sera dari samping, lalu menggenggam tangan Sera. Semuanya terasa sempurna untuk Tio, dia merasa telah berhasil menyenangkan hati Sera.


“Terima kasih Tio, terima kasih” ucap Sera lirih yang disambut dengan senyuman hangat dari Tio. Satu tangan Sera menyeka air mata di pipinya.


“Aku yang harusnya berterima kasih” jawab Tio sambil menatap Sera.


Tidak ada lagi adu mulut dari Sera untuk Tio, Sera hanya menatap matahari terbit selama beberapa menit selanjutnya, merekamnya dalam memori untuk selalu diingat.


Hari itu, matahari terbit di Gunung Bromo bukanlah matahari terbit yang sama seperti hari sebelumnya, ia tengah menyaksikan dua hati yang mulai saling berbicara satu sama lain dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Sebagai restunya, sang matahari banyak memberikan warna merah muda di awal pagi ini.