Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Mencari Kejelasan



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


---


Sera menghela nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Tio, dengan siapa ia pergi ke konser malam itu. Mau tak mau Sera menjawab jujur. “Tio, aku pergi ke konser kemarin bersama Mario..” Sera menggigit ujung bibirnya, ia merasa harap-harap cemas dengan apa yang akan diucapkan Tio selanjutnya. Sementara Tio hanya terdiam beberapa detik, apakah Tio marah?


“Aku tahu..” Hanya itu yang terucap dari mulut Tio. Lama sekali sebelum Tio akhirnya melanjutkan ucapannya, “Sekarang aku tahu rasanya menjadi dirimu, aku merasa memilikimu, aku mempunyai rasa yang besar untukmu, tetapi tak punya kuasa untuk mencegahmu pergi dengan siapapun.” Sekali lagi hening, Sera belum memahami betul apa yang dimaksud oleh Tio. “Pasti berat buat kamu, aku terus memintamu menungguku tetapi di sisi lain aku tak memberimu kepastian.” Tio melanjutkan ucapannya.


Sera meneteskan air mata tanpa ia sadari, “Iya, ternyata kamu tahu..” hanya itu yang Sera ucapkan. Sera berusaha keras menahan diri untuk tak menyuarakan tangisnya. Baginya, Tio mengetahui isi hatinya saja Sera sudah cukup lega.


“Sera, aku pun merasa sangat tak nyaman dengan jarak ini. Tetapi aku juga tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Yang bisa aku lakukan hanya meminta maaf dan memintamu menungguku. Aku juga berjanji tidak akan marah jika kamu pergi dengan orang lain, aku sadar aku tidak punya hak akan itu.” Tio menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. “Aku tak memiliki banyak nyali untuk meyakinkanmu. Untuk sementara, aku hanya bisa mendekatkanmu pada ibuku. Kemarin ibuku memintamu datang ke rumah, sepertinya ibuku ingin pergi jalan-jalan bersamamu. Apa kamu bisa?”


“Bisa Tio, berikan saja nomor handphone ibumu, biar aku nanti yang menghubunginya langsung.” Entah mengapa Sera merasa senang setiap kali mengingat ibunda Tio, Sera merasa diterima, dan juga ada perasaan lega karena mungkin saja  Tio tak mempermainkan dirinya. Tio selalu berusaha mendekatkan dirinya kepada ibu Tio, wanita yang paling dicintai oleh Tio.


“Tio, darimana kamu tahu kalau aku pergi melihat konser bersama Mario kemarin?” Sera teringat akan pertanyaan Tio  di awal pembicaraan tadi.


“Yah.. Kemarin Chandra juga melihat konser itu bersama teman-teman kampusnya. Dia sempat melihatmu dan mengirimkan fotomu kepadaku.” Sera mencoba mengingat-ingat konser kemarin, tetapi Sera tak merasa bertemu dengan Chandra disana. “Tak apa, tak perlu dibahas lagi. Aku hanya ingin kita baik-baik saja sekarang.” Tio melanjutkan ucapannya.


---


Sera menatap sebuah dress selutut yang ia rebahkan di atas tempat tidurnya, salah satu pemberian dari ibu Tio. Sore tadi mereka pergi bersama ke sebuah mall, berkeliling sambil berbelanja dan makan malam. Ibu Tio memilihkan sebuah dress berwarna navy yang sederhana tetapi elegan untuk Sera.


“Tio meminta Ibu membelikan ini untukmu, ia ingin Ibu memilihkan sendiri sebuah baju untukmu. Dan Ibu lihat kamu suka memakai dress.” ucap ibu Tio kala itu. Waktu itu Sera tercengang mendengar ucapan ibu Tio. Terkadang perbuatan ibu Tio untuk Sera terlihat sangat tidak mungkin untuk menjadi kenyataan, tetapi memang itu yang terjadi. Ibu Tio adalah sosok ibu mertua yang diidam-idamkan setiap menantu yang ada di muka bumi ini. Tetapi Sera dan Tio belum menjalin hubungan apapun, Sera kembali menapakkan kakinya di tanah setiap kali ia mengingat hal tersebut.


Sera mengambil ponsel miliknya dan mengambil beberapa gambar dress yang ada di tempat tidurnya. Dua gambar terbaik ia kirimkan kepada Tio. “Terima kasih..” Tulis Sera dalam pesannya. Tanda dalam pesan itu langsung berubah warna menjadi biru, Tio sudah membaca pesan yang ia kirimkan. Sayangnya, pesan tersebut tak langsung berbalas. Sera melihat jam yang ada pada ponsel, baru pukul 8  malam, mungkinkah Tio masih bekerja? Atau sedang dalam perjalanan pulang?


Untuk memuaskan rasa penasarannya, Sera mencoba menelepon Tio. Tetapi sepertinya Sera harus sekali lagi menelan rasa kecewanya. Tio menolak panggilan darinya. Mungkin saja Tio sedang berada dalam perjalanan, Sera berusaha menyemangati dirinya. Tak mengapa, Sera akan mengirimkan pesannya sekali lagi.


“Terima kasih untuk bajunya, aku suka sekali. I love you.” Debaran jantungnya menjadi semakin keras setelah ia membaca pesan miliknya sekali lagi. Untuk pertama kalinya Sera mengucapkan tiga kata “keramat” itu untuk Tio. Apakah itu terlalu berlebihan? Tio sudah sering mengatakannya kepadamu, jadi tidak apa-apa, satu kali ini saja, batin Sera mencoba menenangkannya.


---


Sudah beberapa hari ini hujan selalu menyertai hari-hari Sera, mendung juga menggelayut sedari siang sampai sore hari kala itu. Udara dingin perlahan menyelinap di sela-sela jaket Sera, membuat Sera merapatkan jaket yang ia pakai sampai menutupi lehernya yang jenjang dan mulus. Seorang pelayan kafe mendatangi Sera dan  menanyakan pesanan yang ia inginkan. Biasanya Sera akan memilih latte dengan es walaupun udara tengah membeku, tetapi kali ini Sera memilih latte hangat.


Waktu berjalan hanya sebentar saja sebelum akhirnya minuman panas pesanannya tersaji di atas meja kayu di depan Sera. Pelayan menganggukkan kepalanya tanda pesanan  telah lengkap sebelum meninggalkan Sera sendirian di kursinya.


Sera menggenggam cangkir latte miliknya, mencoba menyesapi sedikit kehangatan untuknya. Sebenarnya bukan tubuh Sera yang merasakan dingin, melainkan hatinya. Ada sesuatu yang membuatnya sedih berkepanjangan hingga Sera kehilangan nafsu makannya.


Seseorang berdiri di depan pintu kafe, seperti hendak masuk namun ada sesuatu yang menahan dirinya. Agak lama ia memandang gadis yang duduk di sudut kafe itu, sebelum akhirnya ia mendorong pintu kafe dan memutuskan untuk menemuinya.


“Hei Sis!” Sebuah suara mengangetkan Sera yang sedang melamun, Octa berdiri di depan Sera sambil tersenyum lebar dan berkacak pinggang. “Kamu pasti kangen berat sama aku kan?”


Sera tersenyum melihat tingkah Octa sore itu, sudah lama sekali tidak mendengar kelakarnya. “Iya aku kangen banget sama kamu!” Sera meninju lengan Octa yang kini duduk di sebelahnya.


“Gimana gimana Sis? Ada kabar apa nih buat aku? Maaf ya kemarin-kemarin kita agak susah bertemu, aku juga ingin cepat lulus seperti kamu.” Celoteh Octa tanpa jeda.


“Jadi bagaimana? Kamu sudah menemukan judul untuk tugas akhirmu?” Sera mencoba menebak.


“Iyap! Betul sekali! Aku sudah menyelesaikan beberapa bab, aku membuatnya bersama kelompokku.” Octa nampak sangat sumringah ada kemajuan pada tugas akhirnya. “Oh iya, eeng, bagaimana dengan kamu dan si ***** itu?” Tiba-tiba saja wajah Octa berubah menjadi sebal dalam waktu satu detik. Siapa lagi yang Octa maksud kalau bukan Tio?


“Ga kenapa-kenapa Octa..” ucap Sera lirih. Sera mengalihkan pandangannya, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Tentu saja Octa tahu betul mereka berdua tak baik-baik saja.


Perlahan Octa menepuk-nepuk pundak Sera, “Kamu bilang kalau kamu lagi kenapa-kenapa pun, it’s okay! Jangan ada yang disembunyikan dari aku..” ucap Octa.


“Octa, apa ada hal yang kamu ketahui tentang Tio, tetapi aku tidak tahu?” Sera bertanya dengan tatapan penuh harap kepada. Octa menggigit ujung bibirnya, bingung harus  mengucapkan apa. Jika sampai Octa salah berucap barang satu kata saja, bisa rusak persahabatannya dengan Sera dan Tio.


(Bersambung)