Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Cemburu



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


---


Tio dan Sera hanya saling diam dalam mobil, sekitar 20 menit berlalu. Tio yang membawa mobil kali ini. Sudah lama mereka tidak saling bertemu dan kini hanya hening yang mampu mereka utarakan satu sama lain. Sera yang sudah tidak tahan dengan suasana ini mencoba memperjelas keadaan.


“Kamu kenapa diam terus Tio? Kamu bahkan ga bilang apapun sejak masuk ke dalam mobil?” Sera menatap Tio tajam, tetapi Tio tetap diam. Wajahnya terlihat sangat jengkel. “Tio kalau kamu ga ingin bertemu denganku kita bisa berhenti disini, aku lebih memilih pulang daripada kita sama-sama diam seperti patung.”


Tio memutar setir mobil, berhenti di bahu jalan. Dari wajahnya dia nampak sedang berusaha keras mengatur emosi dan kalimat yang akan diucapkannya. Dan akhirnya pertanyaan itu terlontarkan juga..


“Siapa dia?” tanya Tio.


“Siapa? Siapa yang siapa?” Sera bertanya balik. Sekarang Sera yang nampak gusar karena pertanyaan Tio.


“Laki-laki yang bersamamu di bandara tadi!”


“Oh astaga! Jadi alasan kau marah dari tadi karena ini? Dia orang yang aku tabrak waktu aku kecelakaan kemarin! Kami ga sengaja bertemu di bandara, aku jemput kamu dan dia jemput ibunya!” Sera agak berteriak menjawab pertanyaan Tio, Sera sebal karena alasan hening mereka sejak tadi adalah Mario.


“Benar kamu bertemu dia di bandara? Kenapa kamu hari ini dandan secantik ini?!” Tio tidak bisa menahan rasa cemburunya. Sera menepuk dahinya, sungguh tidak ada hubungan antara Sera yang hari ini dandan lebih cantik daripada biasanya dan pertemuannya dengan Mario di bandara. Sera kehabisan kata-kata karena pemikiran Tio. “Kenapa kamu ga jawab?!” Tio bertanya lagi.


“Aku ga paham maksud kamu Tio! Aku dandan hari ini karena hari ini aku akan bertemu dengan orang tua kamu, dan yang paling utama karena aku akan bertemu dengan kamu! Aku sama sekali ga ada niat bertemu Mario hari ini, kami benar-benar tidak sengaja bertemu di bandara!” Sera menjelaskan panjang.


Tio terdiam mendengarkan penjelasan Sera, jika apa yang diucapkan Sera adalah hal yang benar, berarti Tio adalah orang yang bersalah karena sudah menuduh Sera. Pelan-pelan amarah di wajah Tio memudar. Sekarang dia sendiri bingung harus bagaimana untuk meminta maaf, sementara Sera sepertinya sudah naik pitam.


“Jadi gimana? Kamu boleh pesan taksi online kalau kamu mau Tio, aku akan balik ke rumah sekarang!” Sera sekali lagi meminta ketegasan dari Tio. Membuat Tio semakin kebingungan.


Tio yang tidak bisa mengatakan apapun karena merasa bingung dan malu, hanya menyalakan mobil sekali lagi dan kembali menyetir.


“Aku menganggap ini artinya kamu sudah paham kalau aku dandan bukan untuk bertemu orang lain..” Sera juga menurunkan intonasi suaranya, amarah di hatinya agak reda.


“Iya hun..” hanya itu yang keluar dari mulut Tio, sekarang dia berpikir keras untuk mencari cara berbaikan dengan Sera.


Tio mengarahkan mobil yang mereka naiki ke suatu tempat, bukan ke rumah Tio. “Kita kemana ini?” tanya Sera.


“Kita makan dulu hun, kamu pasti belum makan siang kan?”


Sera hanya menganggukkan kepalanya, akan lebih baik bagi mereka untuk memperbaiki suasana sebelum sampai di rumah Tio.


---


Tio membawa Sera ke sebuah rumah makan legendaris di Surabaya yang sudah menjadi langganan orang tua Tio sejak muda. Mereka memilih sebuah tempat duduk di dekat jendela sebelum pelayan rumah makan datang membawa menu, dan mereka memesan makan siang untuk mereka berdua.


Sera masih diam saja, wajahnya masih terlihat sebal. Sera hanya melihat ke arah jendela atau sesekali melihat handphonenya. Tio yang kebingungan harus memulai dari mana hanya mengusap-usap wajahnya dengan kedua telapak tangan, bingung akan berkata apa. Pelan-pelan Tio mencoba meraih tangan Sera dan menggenggamnya.


“Hun, beneran aku tadi kaget waktu lihat kamu di bandara.. Maksudku, kamu benar-benar ga seperti biasanya. Kamu cantik sekali. Tapi melihat kamu duduk sama cowok lain disana itu, aku ga ngerti bagaimana tiba-tiba aku marah kaya tadi..” Tio mencoba menjelaskan kepada Sera.


“Maafin aku hun.. Aku cemburu” ucap Tio memohon setelah penjelasan panjangnya. Sera masih diam, belum tahu akan mengucapkan apa.


“Hun..”


“Hm?”


“Kalau begini kamu kaya cewek-cewek Korea yang ada di foto instagram”, ucap Tio sambil tersenyum lebar.


“Idih ngerayu! Tio jangan mulai lagi!” Sera menghardik. Berlanjut dengan tawa lebarnya yang manis. “Aku tahu aku cantik..” ucap Sera sambil tertawa terbahak-bahak.


“Iya kamu cantik, cantik sekali.”


Tio dan Sera sudah berbaikan, mereka kembali lagi seperti semula. Sebelum mengajak Sera ke rumah, Tio teringat akan sesuatu, tentang kondisi keluarga Tio.


“Sera, sebelum sampai rumahku, aku ingin cerita sesuatu sama kamu. Biar kamu ga salah paham nanti..” wajah Tio berubah menjadi serius ketika berbicara dengan Sera.


“Ada apa Tio? Kelihatannya penting..”


“Iya.. Aku perlu kamu tahu kalau, orang tuaku sudah bercerai. Yang ada di rumah nanti hanya ibuku.” Sera terperanjat mendengar ucapan Tio. Dulu Sera pernah merasa iba kepada Tio karena Tio ditinggal menikah oleh mantan pacarnya yang sangat dia cintai, sekarang Sera merasakannya lagi. Tapi kali ini alasannya lebih sedih dibandingkan sebelumnya.


“Ngg boleh tahu sejak kapan?” Sera bertanya dengan hati-hati.


Tio menghela nafas sebelum menjawabnya, seperti memori yang berat untuk diingat. “Sudah tiga tahun yang lalu.. Mereka merasa tidak cocok satu sama lain. Selalu bertengkar. Jadi mereka memutuskan untuk berpisah.”


“Tio, kalau kamu ga ingin cerita tentang ini lebih lanjut, kamu ga perlu terusin ceritanya, yang penting aku sudah paham.”


“Gapapa kok. Aku dan kakakku sudah merelakan keputusan mereka. Yang penting mereka sama-sama bahagia dengan keputusan mereka masing-masing. Ayahku tinggal di kota lain setelah bercerai dengan ibuku, sesekali kami masih saling menelepon dan bertemu. Semuanya masih tetap sama, hanya bedanya kami tidak lagi satu rumah.”


Sera mencoba memahami dan tidak bertanya lebih banyak tentang orang tua Tio. Sera hanya mengingat, tiga tahun yang lalu bukankah Tio juga sedang ada dalam masalah karena mantan kekasihnya saat itu? Jika benar dua kejadian itu terjadi dalam janga waktu yang hampir bersamaan, pasti masa-masa itu sangat berat bagi Tio.


Sera meraih tangan Tio, mencoba mengembalikan Tio ke hadapannya dari memori buruknya. Sera tersenyum, “Wow kamu kuat sekali ya Tio.”


“Cowok harus kuat hun..” balas Tio sambil menggenggam balik tangan Sera. “Aku ada keinginan untuk mutasi ke Kota Surabaya, biar bisa dekat sama ibuku. Atau setidaknya ke Jawa Timur hun. Tapi prosesnya butuh waktu lama,


aku harus menunggu antrian. Mungkin baru bisa satu atau dua tahun lagi.”


Sera tidak menyangka dengan apa yang dia dengar barusan. Sera sangat senang walaupun dia bukan alasan yang membuat Tio ingin berpindah ke Surabaya.


“Oh ya? Wow bagus donk!” Sera tersenyum mendengar ucapan Tio.


“Kamu senang kah?” Tio tertawa meledek melihat reaksi Sera.


“Ehm yaa.. iya donk senang hehe”, Sera menggaruk kepalanya dan tersipu  malu. “Eng kita kayaknya udah kelamaan disini, nanti ibu kamu menunggu. Ayo kita balik sekarang ya..” Sera mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Iya juga, ya udah yuk!”


(Bersambung)