Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Kerugian



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Sera sedang duduk di depan televisi, ketika handphone Sera yang sedang di-charge menyala tanpa suara, telepon dari Octa masuk. Sera telah lupa menghubungi teman-teman terdekatnya, Sera bahkan tidak ingat dengan handphone sama sekali.


“Sera! Kamu kenapa?? HP kamu rusak? Paket internet lagi habis?” bukannya mengucapkan salam, Octa langsung memborbardir Sera dengan banyak pertanyaan.


“Oh iya..” jawab Sera sambil menepuk keningnya. Sudah hampir 15 jam sejak kecelakaan kemarin Sera sama sekali tidak membuka handphonenya, sepertinya baterai handphone Sera habis kemudian ibunya mengisi baterainya kembali pagi ini. Tapi tetap saja Sera memang tidak mendengar suara apapun. Entah mengapa sejak kemarin sore Sera sangat mengantuk, dia hanya makan dan tidur lama. Apakah itu efek dari obat yang Sera minum? Sera tidak tahu..


“Apa yang oh iya?” tanya Octa sekali lagi.


“Kamu tuh kelupaan handphone kamu silent ya? Kamu tahu aku ditelepon Tio berapa kali sejak kemarin? 27 kali! Iya astaga 27 kali! Wah bisa gila aku gara-gara Tio!” lanjutnya.


“Tio panik banget gara-gara kamu ga ada kabar Sera! Dia berkali-kali tanya ke aku, lah aku kan ga tahu” ucap Octa lagi.


“Oke-oke Octa, aku minta maaf banget ya.. Tetapi kemarin aku habis kecelakaan. Aku banyak istirahat dan ga cek HP sama sekali, sehabis ini aku bakal telepon Tio, okay?” Sera memberikan penjelasan.


“Hah! Astaga! Kamu kecelakaan? Kamu harusnya kasih aku kabar juga donk astaga kamu gapapa? Apa sekarang di rumah sakit? Rumah sakit mana?” Octa semakin panik mendengar penjelasan Sera.


“Octa please be calm.. Aku gapapa, aku di rumah. Cuma luka di lutut sama tangan, lainnya ga kenapa-kenapa. Aku ga sengaja menabrak samping mobil orang Octa. Tapi semuanya sudah beres kok” lanjut Sera.


“Hmm seneng banget denger kamu ga kenapa-kenapa Sera. Okelah kalau begitu kamu cepet kontak Tio deh biar dia ga kebingungan. Aku tutup teleponnya sekarang kamu cepet telepon Tio  ya” ucap Octa.


“Oke Octa, sekali lagi maaf banget ya..”


“Hmm yaa yaa gapapa yang penting kamu gapapa, bye yah! Aku ada kuliah hari ini” kemudian Octa menutup teleponnya.


Sera melihat handphonenya, membuka notifikasi dan.. Astaga ada sekitar 50 telepon masuk. 44 kali dari Tio, 3 kali dari Octa, dan 3 lagi dari nomor tidak dikenal. Sera tidak tahu itu nomor siapa. Sera membuka aplikasi whatsapp dan melihat ada banyak pesan yang masuk, tentu saja dari Tio dan Octa yang terbanyak.


“Tio, maaf ya aku baru bisa buka handphone” balas Sera.


Dalam hitungan detik chat Sera telah dibaca Tio, dan seketika Tio menelepon Sera.


“Sera! Kata Octa kamu kecelakaan?!” tanya Tio agak berteriak. Oh cepat sekali Octa memberi kabar kepada Tio.


“Gimana kondisimu? Kamu di rumah atau di rumah sakit? Bagian mana yang terluka?” tanya Tio. Sera menghela nafas sebelum menjelaskan sekali lagi.


”Tio, aku kemarin ga sengaja menabrak mobil di jalan, aku yang menyerempet dari samping, aku yang salah. Terus kemarin aku langsung dibawa ke rumah sakit dan sudah ditangani semua lukaku, yang luka cuma bagian lutut dan tangan kanan. Ga ada yang serius dan aku langsung pulang.. Soal kendaraannya juga sudah beres semua kok, aku tinggal menunggu total kerugian” Sera memberikan banyak penjelasan kepada Tio.


“Hmm..” Tio hanya menjawab seperti itu, membuat Sera bertanya-tanya. Beberapa detik Tio hanya terdiam sambil menghela nafas keras-keras.


“Oke.. Yang penting kamu gapapa” akhirnya Tio berbicara.


“Sekarang tolong terima video callku ya?”


Mereka berlanjut menggunakan video call. Tidak lama mereka berbicara dalam telepon kali ini, karena Tio sedang di kantor. Tio hanya memastikan luka-luka Sera tidak serius, seperti yang diceritakan Sera.


Sera melanjutkan melihat handphonenya, membalas satu per satu chat yang sempat terabaikan, kemudian tiba-tiba dia teringat nomor handphone yang tidak dikenalnya tadi, yang telah 3 kali menelepon. Sera sama sekali tidak ingat nomor yang belum tersimpan itu milik siapa, kemudian dia mencoba menebak-nebak. Apakah salah satu teman kampus? Atau dari kurir paket? Sepertinya bukan, selama ini Sera berbelanja di toko online hanya menggunakan satu jasa kurir, yang sudah hafal dengan baik dimana rumah Sera. Kemudian Sera teringat satu nama, Mario? Apakah ini nomor handphone Mario?


Sera segera menelepon nomor tersebut, berharap sang pemilik segera mengangkat teleponnya. Setelah 4 kali berdering..


“Halo selamat siang” sebuah suara menjawab telepon Sera, terdengar berat dan ramah.


“Halo.. Selamat siang. Saya Sera, mohon maaf mengganggu, sebelumnya nomor handphone ini menelepon saya sebanyak 3 kali pagi ini. Saya tidak tahu ini nomor siapa” ucap Sera.


“Oh  ya. Ini Sera ya? Ini aku Mario. Aku telepon ke nomor kamu tapi ga ada jawaban. Apa kamu baik-baik aja?” tanya Mario.


Sera sudah menduganya, tetapi tetap saja dia kaget. Seketika sosok seorang Mario muncul di kepala Sera. Pastilah Mario ingin segera menagih Sera terkait mobilnya yang dia tabrak kemarin.


“Iya Kak Mario.. Aku baik-baik saja. Mohon maaf dari kemarin aku tidak membuka HP, banyak istirahat” jawab Sera.


“Gapapa Sera.. Aku mau nanya kira-kira kapan aku bisa ketemu kamu? Aku aja yang ke rumah kamu ya, kan kakimu lagi sakit. Aku sudah tahu rumahmu setelah mengantar motormu kemarin” ucap Mario.


“Baik Kak, aku bisa kapan aja kok, tapi gimana kalau besok sehabis magrib? Biar lebih enak ngomongnya ada ayah dan ibuku.”


“Oke, besok kita saling berkabar lagi ya.”


Tut. Telepon ditutup oleh Sera. Dalam hati dia berdoa agar biaya yang dibutuhkan tidak banyak, Sera malu jika harus meminta banyak uang dari orang tuanya.


---


Sera menunggu tamunya hari ini yang akan datang selepas magrib, sambil melihat drama favoritnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam ketika muncul sebuah chat di handphonenya.


“Sera, aku sudah di depan rumah kamu, apa aku langsung bisa menuju pintu?”, itu adalah chat dari Kak Mario.


“Bisa kak, aku ke depan sekarang” balas Sera.


Sera memanggil Bibi untuk meminta tolong membukakan pintu, Bibi segera membuka pintu dan menemui Mario, sementara Sera tengah berjalan dengan pelan menggunakan alat bantunya menuju ruang tamu.


Mario telah berdiri di depan pintu, Sera mempersilahkannya untuk duduk. Sera tidak banyak berbasa-basi karena mereka sangat penasaran dengan biaya yang harus dia ganti.


“Kak, apa mobilnya sudah dibawa ke bengkel?” tanya Sera mengawali.


“Sudah, masih dalam proses perbaikan, ga banyak kerusakan kok” jawab Mario.


“Ehhmm.. Anu Kak.. Kalau boleh tahu berapa biayanya ya?”


“Ibuku masih pergi, tetapi sebentar lagi sudah pulang. Kak Mario tunggu disini sebentar ya..”


Mario tersenyum mendengar pertanyaan Sera, membuat Sera semakin penasaran tetapi tidak berani mengulang pertanyaannya. Apakah biayanya sangat besar?


 


(Bersambung)