Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Overdosis




Tio


Melihat Octa nampak antusias dengan apa yang akan diceritakannya, membuat Sera semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Kening Sera berkerut menanti penjelasan Octa.


“Kamu tahu, setelah berkali-kali Tio menghindari wanita itu, tingkah wanita itu semakin aneh-aneh saja. Setiap marah atau kesal, dia selalu mengancam Tio dengan berkata bahwa dia akan bunuh diri.”


Octa meminum jus buah miliknya sebelum melanjutkan lagi. “Dan pernah satu kali Tio mengabaikannya, tiba-tiba saja ayah Adina yang juga kepala kantor tempat Tio bekerja, menelepon Tio dan memohon kepada Tio untuk menolong Adina. Kamu tahu apa yang Adina lakukan? Saat itu Adina sudah hampir menelan obat nyamuk cair!” Ucap Octa sambil membelalakkan matanya.


“Hah?! Memangnya ada yang seperti itu?” Sera seakan tak percaya dengan apa yang Octa ceritakan.


“Yap! Aku pun heran, cintanya kepada Tio kini lebih mirip dengan obsesi untuk memiliki Tio. Sepertinya dia menderita gangguan jiwa, eeng apa itu namanya? Ah! Narsistik!” Octa mengacungkan telunjuknya ketika menemukan apa yang ia maksud. “Dan ga hanya itu sis..”


Sera menelan ludah, ternyata kisah Adina tak berhenti sampai disitu.


“Adina sering minggat. Pergi dari rumah tanpa pamit, dan sekali dia pergi bukan hanya di sekitar Kota Samarinda, tetapi ke luar kota! Dan pernah juga ke luar negeri” Octa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. “Sekarang kamu tahu kan sis, mengapa Tio bersikap seperti ini.. Menurutku Tio hanya sedang menyelamatkan nyawa Adina saja sambil menunggu waktu ia pindah kemari.”


Sera mengangguk-anggukkan kepalanya, memahami kepingan puzzle yang satu per satu telah terpecahkan. Rupanya tingkah Adina saat menelepon Sera kemarin memang menjadi salah satu kebiasaannya ketika dia sedang kecewa dengan sesuatu.


“Sis, aku ga memaksa kamu menerima Tio. Aku sudah kapok dengan apa yang kita alami kali ini. Jadi keputusan selanjutnya jika suatu saat Tio datang kepadamu, aku akan mendukung apapun keputusanmu untuk Tio.” Octa menepuk-nepuk pundak Sera memberikan semangat.


Sera tersenyum kecut dan menggigit bibirnya, “Aku tak lagi memikirkan Tio dan kami juga tak pernah saling menghubungi satu sama lain. Aku tak lagi memandangnya seperti dulu..” Sera mencoba menjelaskan perasaannya kepada Octa. “Seandainya nanti ia memintamu mengajakku pergi bersama lagi, tolong jangan lakukan.” Pinta Sera kepada Octa.


---


Dari sekian peristiwa yang menimpa Sera akhir-akhir itu, ada satu hal yang mengusik pikiran Sera. Ucapan Adina di telepon waktu itu, bahwa Tio mengirim sebuah pesan untuk Sera. Pesan yang membuat Adina sangat marah kepada Tio sampai ia minggat ke Jakarta. Dari yang Adina ucapkan, pesan yang dikirim Tio itu seharusnya sudah sampai kepada Sera, sudah terkirim, tetapi Sera tak merasa menerima satu pesan pun dari Tio.


Lantas kemanakah pesan itu dikirim? Sera mengecek satu per satu pesan di sosial media miliknya, barangkali Tio mengirimnya kesana karena ia aktif disana. Nihil. Sera mencoba memutar otak, dan mengingat sesuatu.


Jari Sera meluncur menelusuri email miliknya. Satu per satu ia melihat  email terkirim yang belum ia buka. Nihil juga. Tak ada pesan dari Tio. Sera tak menyerah, kini ia membuka kotak spam. Sera terperanjat ketika melihat di dalam kotak spam emailnya tertulis sebuah subjek “Maaf”.


“Sera, melalui pesan ini aku meminta maaf padamu atas apa yang terjadi di telepon hari itu. Aku sungguh-sungguh minta maaf.. Aku tahu aku melakukan kesalahan besar, aku tahu kamu pasti menangis tersedu sendirian, terluka sendirian. Aku tak mengira semuanya akan berakhir seperti ini, aku mengira aku bisa mengatasinya sendirian tanpa membuatmu sedih.


Tapi Sera, semuanya tak seperti yang kamu pikirkan. Aku benar-benar serius denganmu, dan tak ada satu keping perasaan pun untuk Adina dariku. Aku hanya memenuhi permintaan atasanku, beliau menjanjikan padaku ini hanya untuk sementara. Beliau juga berjanji padaku untuk menyetujui kepindahanku ke Surabaya. Karena alasan itu aku menyanggupi permintaannya, menemani Adina selama aku berada disini. Ini adalah sebagian usahaku untuk bersama denganmu, aku harap kamu mengerti.”


Sera merasa berat hati setelah membaca pesan itu. Setelah berminggu-minggu Sera mencoba bangkit, air mata Sera kini luluh lagi. Bahkan mungkin lebih deras. Hatinya nyeri mengetahui bahwa ia sebenarnya tak bertepuk sebelah tangan, tapi sebuah tembok tinggi yang entah berasal dari mana menjadi penghalang, berada di antara mereka.


---


Adina berada di rumah sakit, keluarganya sangat panik karena ini adalah percobaan bunuh dirinya yang kedua. Kali ini Adina menenggak sepuluh butir obat tidur secara bersamaan. Saat ditemukan di kamarnya, Adina sudah dalam keadaan tidak sadar. Beruntungnya ia dibawa ke rumah sakit tepat waktu, nyawanya bisa diselamatkan.


Tio tergopoh-gopoh berlari ke rumah sakit setelah mendapatkan pemberitahuan dari ayah Adina. Tanda tanya bergelayut di pikirannya selama perjalanan, kali ini apa lagi yang diketahui Adina hingga ia berbuat nekat seperti ini. Debaran jantung Tio tak kalah cepat dengan langkah kakinya, bagaimanapun juga tidak boleh ada hal buruk yang terjadi pada Adina, ia adalah satu-satunya tiket Tio untuk segera pindah ke Surabaya.


Setelah sempat tak sadarkan diri selama satu hari, Adina mulai membuka matanya dan melihat Tio berada di sebelahnya. Adina merasa sangat senang melihat Tio menjaga dirinya di rumah sakit.


“Hey, kamu sudah sadar.. Apa ada yang ingin kamu lakukan? Perlukah aku memanggil perawat atau dokter?” Tanya Tio kepada Adina, yang hanya dijawab dengan gelengan pelan Adina.


“Tio, aku tahu kamu menerimaku karena ayahku menjanjikan kepindahanmu ke Surabaya.. Aku melihat surat pengajuanmu untuk pindah tugas.” Suara Adina bergetar. “Pada akhirnya, kamu masih lebih memilih Sera?” Sebuah air mata bergulir dari sudut mata Adina.


“Hey, jangan membicarakan hal ini. Yang penting sekarang kamu sehat lagi.” Jawab Tio.


“Kenapa aku harus sehat lagi kalau nantinya aku hanya melihatmu pergi menemui dia?” Ucap Adina dengan nada memelas.


Tio membuang pandangannya keluar jendela, ia tahu ujung percakapan ini hanyalah tentang permintaan Adina agar Tio berjanji untuk ia berada di sisinya selamanya, yang tak akan pernah bisa dipenuhi oleh Tio. “Memangnya


kamu bisa mengekangku kalau kamu sendiri dalam kondisi lemah seperti ini?” Ucap Tio dingin kepada Adina. “Ada Sera atau tidak, aku tetaplah harus pulang. Ibuku ada disana.” Lanjut Tio.


“Kalau begitu kamu bisa membawaku pergi menemui ibumu!” Adina tiba-tiba saja terdengar memaksa. “Atau aku tak akan bisa menjamin apa yang akan kulakukan selanjutnya.” Nada ancaman tersirat jelas Ancaman, lagi-lagi ancaman. dalam ucapannya. Tangan Tio mengepal kesal mendengar sekali lagi ancaman macam ini dari mulut Adina. Beruntung percakapan mereka tak perlu berlanjut karena keluarga Adina telah tiba saat itu. Untuk sementara ,Tio terselamatkan.


(Bersambung)