Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Bertemu Ibunda



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


---


Tio memarkir mobil yang dia kendarai di garasi sebuah rumah. Sera melirik rumah tersebut. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak sempit, berlantai dua, desain minimalis, dan ada taman di depan rumah sampai samping rumah. Taman yang ada di depan rumah berisi tanaman-tanaman hias, sedangkan taman samping rumah berisi kebun sayur mayur dan tanaman toga. Orang yang bisa merawat tanaman sampai seindah ini pasti orang yang sabar, pikir Sera.


Baru saja mereka turun dari mobil, seseorang sudah keluar dari dalam rumah. Ibu Tio berlari kecil ke arah Tio dengan tangan terbuka, hendak memeluk Tio. Sera tersenyum melihat Tio memeluk dan mencium tangan ibunya. Kemudian Tio mengenalkan Sera kepada ibunya.


“Ma, ini teman Tio. Namanya Sera. Dia tinggal di Surabaya sini.” Ucap Tio.


Sera menghampiri ibu Tio dan mencium tangannya, Sera terkaget ketika ibu Tio berlanjut menarik tangan Sera dan memeluk Sera juga.


“Iya iya, Tio sudah sering cerita soal kamu Sera. Tante senang sekali akhirnya bisa bertemu kamu hari ini. Yuk masuk ke dalam!” Sera tersipu malu mendengar apa yang baru saja dia dengar. Ibu Tio menggandeng tangan


Sera masuk ke dalam rumah diikuti oleh Tio yang membawa barang-barang bawaannya.


Sera duduk di kursi ruang tamu, Tio dan ibunya sedang mengatur barang yang dibawa Tio dan membuat minuman dingin di dapur. Samar-samar terdengar suara mereka tertawa bercanda, sangat akrab. Sera melihat foto-foto yang dipajang rapi di meja hias. Ada foto Tio yang sedang diwisuda bersama ibunya dan seorang wanita yang mungkin usianya 2-4 tahun di atas Tio. Wajah mereka cukup mirip, Sera menduga itu adalah kakak Tio. Di foto lainnya ada foto kakak Tio dan ibunya berdua saja. Dan satu lagi foto di ujung meja, foto mereka sekeluarga berempat, lengkap dengan ayah Tio. Walaupun orang tua Tio bercerai tetapi sepertinya ibu Tio tidak ingin menghapus ayah Tio dari kehidupannya sama sekali.


Sera melirik rak buku yang ada di bawah foto-foto tadi, ada sebuah album foto. Sera meraih album tersebut dan membukanya satu per satu, di album ini ibu Tio menata semua foto masa kecil kedua anaknya, diatur mulai dari bayi hingga dewasa. Manis sekali, pikir Sera.


“Jangan lihat foto disitu hun, ada banyak foto aku  ga pakai baju loh!” tiba-tiba Tio duduk dan mengambil album foto dari tangan Sera.


“Haha! Terus kenapa kalau ga pakai baju? Kamu masih kecil sekali di foto itu!” balas Sera sambil tertawa.


“Nanti kamu berpikir yang enggak-enggak kalau lihat aku ga pakai baju”, Tio berusaha meledek.


“Wow! Emangnya aku kelainan apa? Mana mungkin aku  berpikir hal aneh ke anak kecil yang ga pakai baju?” Sera meninju pundak Tio.


Tidak lama kemudian ibu Tio datang membawa satu gelas teh dingin yang diletakkan di atas meja. “Ini teh dingin ya Sera, di luar panas banget jadi tante bikin ini.”


“Terima kasih banyak Tante, maaf merepotkan..” jawab Sera.


Ibu Tio menghampiri Sera dan duduk di sampingnya, Sera merasa agak canggung ketika ibu Tio seperti menatap Sera lekat-lekat sambil tersenyum ramah. Kemudian Sera melihat tangannya digenggam erat, “Kamu manis sekali Sera..”


“Terima kasih Tante..” jawab Sera sambil tersipu malu.


“Ah Ibu jangan ngegombalin Sera deh, biasanya Sera bakal marah kalau digombalin begitu”, tiba-tiba Tio menyahut, membuat ibunya tertawa hingga Sera salah tingkah karena malu.


“Tio, habis ini Mama mau ke rumah Kak Melda. Tadi sudah janji mau pergi ke sana.” Melda adalah nama kakak Tio yang ada di foto yang Sera lihat. Kakak Tio sudah berumah tangga dan memiliki rumah sendiri di Surabaya barat. Pantas saja Tio ingin pindah ke Surabaya, rupanya ibu Tio tinggal di rumah hanya bersama dengan pembantunya saja.


“Iya Ma, nanti Tio nyusul ke sana naik taksi online setelah antar Sera pulang, Mama hati-hati nyetir sendiri ya. Tio mau shalat dan bersih-bersih badan dulu.” Jawab Tio.


Selepas ibu Tio berangkat, Tio mengajak Sera naik ke lantai dua untuk ikut shalat bersama. Selesai shalat Tio pamit untuk mandi.


“Kamu seperti ga pernah kehabisan bahan untuk ngerjain aku ya?” Tio tertawa lebar mendengarnya.


Sera memperhatikan ruangan lantai dua yang tertata rapi. Ada dua kamar yang sepertinya masing-mamsing adalah kamar milik Tio dan kakaknya. Di depan kamar tersebut ada sebuah ruangan untuk bersantai dan menonton televisi, tempat Sera duduk saat ini. Sebuah rak buku yang besar ada di dinding kanan, terisi penuh oleh buku komik, novel, dan buku-buku teori Fisika. Melihat buku Fisika begitu banyak membuat Sera teringat bahwa Tio


pernah bercerita bahwa ibunya bekerja sebagai guru Fisika di sebuah sekolah negeri di Surabaya. Di sudut ruangan ada satu buah rak warna-warni berisi banyak mainan dan boneka, mungkinkah itu milik keponakan Tio? Sera belum pernah mendengarkan tentang itu. Sera mendekat ke rak buku dan mengambil sebuah novel yang tampak masih baru dan membacanya, hitung-hitung menghabiskan waktu menunggu Tio selesai.


Tiba-tiba Sera dikejutkan oleh suara barang yang jatuh dari arah belakangnya. Siapa?


Sera menoleh dengan cepat dan melihat seekor kucing Persia datang mendekatinya, kucing gemuk yang pernah menjadi foto profile di whatsapp Tio. Sera tidak dapat menutupi rasa gemasnya melihat kucing gemuk yang mengelus-eluskan kepalanya di kaki Sera. Kucing itu melompat dan duduk di pangkuan Sera dengan sendirinya.


“Dia tuh ga bisa lihat cewek cantik sedikit.” Tio keluar dari dalam kamarnya dalam kondisi rapi dan segar.


“Oh jadi dia jantan? Wajar donk seperti itu, mirip dengan pemiliknya!” Sera tertawa senang mendapakan ide untuk membalas ledekan Tio.


“Hei itu normal kan buat laki-laki. Kamu membaca buku apa itu?”


“Aku baca novel ini, aku ambil dari rak buku.” Ucap Sera sambil menunjukkan sampul dari buku novel yang dia pegang. “Siapa nama kucingmu? Aku pernah lihat dia ada di foto profile whatsapp kamu.”


“Namanya Peppo, dia gemuk sekali kan? Aku pelihara dia sejak dia masih bayi, dikasih teman. Gemas sekali tiap aku lihat dia.” Tio meraih kucing itu dari pengkuan Sera dan mengelus-elus kucingnya dengan gemas. “Kamu mau aku antar sekarang?”


“Hmm boleh, sudah jam berapa ini?” Sera melihat sekeliling dinding untuk mencari jam dinding.


“Sudah jam 5 sore, aku antar kamu sekarang sebelum magrib datang.”


Tio dan Sera bergegas pergi setelah berpamitan dengan pembantu Tio. Dalam perjalanan Sera teringat akan sesuatu, tetapi ragu untuk menanyakannya kepada Tio. Sera diam saja selama beberapa saat sampai Tio menyadarinya.


“Kamu kenapa hun? Kamu diam aja apa kepikiran sesuatu?” tanya Tio.


“Hmm antara iya dan enggak..” jawab Sera masih ragu-ragu.


“Apa itu soal aku? Kalau iya kamu langsung tanya aja, jangan diam seperti itu.”


“Ehm, itu, aku ingin tanya kenapa akhir-akhir ini sebelum kamu kembali ke Surabaya, kamu sangat jarang kontak aku? Chat juga lama sekali kamu balas. Apa kamu kerja double sampai jadi sesibuk itu? Atau kamu hanya menghindari aku?” Akhirnya Sera memberanikan diri bertanya.


Tio tidak langsung menjawab pertanyaan Sera, kali ini Tio yang tiba-tiba diam seperti sedang memikirkan jawaban apa yang akan diberikan kepada Sera.


“Apa terjadi sesuatu Tio?” tanya Sera sekali lagi. Entah kenapa Sera merasa ada yang aneh dengan ekspresi Tio yang nampak ragu, seperti dalam masalah yang berat. Sera berharap tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Ada apa dengan Tio?


(Bersambung)