Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Dokter



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Satu bulan sudah Sera dan Tio selalu berbincang melalui handphonenya, pagi, siang, atau malam, sebisa mereka. Tio masih saja memanggil Sera dengan sebutan sayangnya, yang belum berbalas balik dari Sera. Berkali-kali Tio menanyakan kapan Sera akan memanggil dirinya dengan panggilan yang sama, Sera selalu tak menjawab dengan pasti, dia hanya berkata. “Tergantung kamu”. Tapi sepertinya Tio tak paham apa maksud Sera.


Selama satu bulan itu pun Sera hanya berfokus pada kuliahnya, dan Tio pada pekerjaannya, tentu saja.


“Hun, aku baru saja mengajukan cuti libur. Semoga saja di-iyakan oleh atasanku”, siang itu Tio memulai chat.


“Oh ya? Baguslah.. Kapan rencananya?”


“2 minggu lagi, kamu tidak ada rencana pergi kemana-mana kan? Maksudku keluar Surabaya atau semacamnya?”


“Ga ada Yo, aku masih focus kerjakan skripsi. Sepertinya hampir selesai, doakan ya..” jawab Sera.


“Pasti hun..” balas Tio.


“Kamu lagi di rumah atau pergi?”


“Aku baru aja konultasi ke dosen pembimbing Yo. Ini sudah mau pulang”


“Jangan ditemuin tiap hari dosen pembimbingmu tuh, nanti orangnya bosen lihat kamu lagi, kamu lagi”, jawab Tio dengan diikuti emoticon tertawa. Sera tersenyum membacanya.


“Hati-hati di jalan ya hun.."


“Love you”


Sera tidak menjawab pesan dari Tio, sebenarnya Tio sudah berulang kali begini. Tetapi Sera tetap ragu-ragu, bagaimanapun mereka berdua belum resmi berpacaran. Tio belum menyatakan perasaannya langsung, dan Sera belum mengiyakan apapun. Walaupun tentu saja, jika Tio menyatakan perasaannya padanya saat itu juga, pasti Sera menjawab iya, tetapi jarak di antara mereka sungguh menjadi suatu kendala. Mungkinkah Tio menyatakan


perasaannya kepada Sera saat dia pulang nanti? Dari segala hal yang ada diantara mereka yang dinantikan Sera hanyalah kepastian.


Sera tidak memiliki rencana apapun setelah bimbingannya, jadi dia segera mengendarai motornya untuk pulang. Jarak rumah dan kampusnya hanya 30 menit jika tidak ada kemacetan. Jika menggunakan mobil akan lebih lama, bisa 1 jam bahkan, karena itu Sera enggan menggunakan mobil milik orang tuanya kecuali saat hujan.


Jalanan Surabaya tentu saja selalu padat walaupun tidak sepadat Jakarta. Sera sudah hafal betul dengan kondisi jalanan Surabaya, untuk urusan menyetir motor pun dia sudah bisa dibilang mahir, karena itulah orang tuanya mengijinkan Sera menyetir motor sendiri. Tetapi sepertinya hari ini Sera sedang dijauhi oleh dewi keberuntungan, atau entah pikirannya sedang ada dimana, dia tidak fokus pada jalanan di depannya.


Brakk!! Sera tiba-tiba menyerempet pintu mobil yang sedang berjalan lambat di samping kirinya, dan terjatuh ke  kanan. Kaki kanan Sera tertindih motor. Sera sempat tidak sadarkan diri karena kepala bagian kanannya terbentur aspal. Samar-samar Sera mendengar suara riuh di sekelilingnya, seperti teriakan panik atau semacamnya, tetapi Sera tidak dapat membuka mata, kemudian dia tidak mendengar apa-apa, hening.


Ketika sadar, Sera sudah berada di ruangan serba putih yang dibatasi oleh korden hijau, dia sendirian. Sera merasakan nyeri di kepala, siku dan lututnya. Dia melihat pergelangan tangan dan lututnya diperban, tempat dia terluka. Sera mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi tadi siang, kemudian dia mencoba memanggil perawat. Seorang perawat mendatangi Sera dengan tersenyum.


“Nona Seraphina, apakah ada bagian tubuh yang terasa sangat sakit? Selain siku dan lutut”, tanyanya.


“Ga ada suster, cuma sakit kepala”, jawab Sera pelan.


“Apa keluarga saya sudah dihubungi suster?”


“Sudah Mbak, ibunya sedang dalam perjalanan. Ibunya Mbak Seraphina ini Dokter Dwi yang spesialis kandungan itu?” tanya sang perawat.


“Iya benar..”


"Dokter Dwi juga terkadang kesini untuk menggantikan dokter praktek yang berhalangan datang. Kami ga menyangka kalau Mbak Seraphina ini putri beliau", suster baik hati itu berceloteh.


“Tas dan barangnya ada di meja ini ya.”


“Baik suster terima kasih”, jawab Sera.


“Suster, tadi siapa yang membawa saya kesini?”


“Yang membawa kesini Dokter Mario. Mobil yang Mbak Seraphina serempet di jalan tadi mobilnya Dokter Mario, jadi beliau juga yang membawa Mbak Seraphina kesini. Sebentar lagi akan saya kabari ke Dokter Mario ya, beliau sedang menunggu di luar ruangan”, jawab sang perawat.


Sera menyiapkan diri sendiri untuk meminta maaf dan berterima kasih atas kebaikan seseorang yang telah mengantarkannya ke rumah sakit, juga mencoba mengira-ngira berapa kerugian yang telah dia sebabkan. Sera berdoa dalam hati semoga kerusakan mobilnya tidak seberapa.


“Selamat siang, Nona Seraphina, saya Mario”, ucap seseorang yang datang.


“Selamat siang, Mari.. Maaf maksud saya Dokter Mario”, jawab Sera.


Dokter Mario, memakai kemeja kotak-kotak berwarna putih dan biru tua, yang lengannya dilipat sampai siku tangan, dengan celana jeans dan sepatu converse berwarna biru tua senada dengan bajunya. Sepertinya berusia 27-29 tahun, tinggi kurang lebih 175 cm, berambut lurus yang disisir rapi.


“Dokter, saya minta maaf hari ini saya menabrak mobil dokter.. Saya bersedia mengganti kerugiannya, sebentar lagi Ibu saya akan datang.” Ucap Sera segan.


Mario tersenyum, menunjukkan lesung pipit yang sangat dalam di kedua pipinya. Diikuti senyuman terpesona sekaligus salah tingkah dari suster yang berada di belakangnya, sepertinya dia menyukai Dokter Mario. Sera mengamati wajah perawat di belakang Dokter Mario dan merasa geli, seperti sedang melihat adegan drama di televisi.


“Panggil saya Mario saja ya, saya bukan dokter yang menangani kamu. Saya memang mau membicarakan soal itu tadinya..” jawab Mario.


“Boleh saya meminta nomor handphone kamu  saja? Karena saya harus pergi ke tempat lain sebentar lagi”


“Boleh Kak Mario”, jawab Sera sambil menyerakan nomor handphonenya.


“Saya tunggu kabarnya, sekali lagi saya minta maaf atas kesalahan saya”.


“Yup! Pastiin kamu nanti membayar kerusakan mobil saya sebesar yang saya minta ya..”, sekali lagi Mario tersenyum, sekali lagi pula suster di belakangnya  terpesona.


Sera mengingat-ingat kecelakaannya tadi siang, apakah parah sekali sampai Mario mewanti-wanti Sera harus membayarnya, apakah habis biaya sangat mahal? Mau diingat seperti apapun, kejadiannya hanyalah motor Sera menyerempet samping badan mobilnya, mungkin ada bekas baret dan penyok saja.


Daripada pusing memikirkan itu, Sera lebih memilih melihat handphonenya, dia mencari kontak ibunya dan menanyakan sudah sampai dimana. Baru saja pesan untuk ibunya terkirim, suster mengabari bahwa ibu Sera sudah sampai. Ibu Sera tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan tempat Sera dirawat, menanyakan kondisi Sera, berbicara kepada dokter dan perawat yang merawat Sera, dan akhirnya mengurus segala administrasi. Ayah Sera berbicara dengan ibunya melalui telepon, belum bisa datang saat itu juga.


Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya Sera bisa pulang ke rumah bersama ibunya. Sera harus menggunakan alat bantu sampai dia bisa berjalan sendiri. Sera dibantu oleh ibunya berjalan masuk ke dalam rumah, dan melihat motornya sudah terparkir di garasi di samping rumah.


“Buk, siapa yang mengurus motornya? Kok sudah sampai di rumah?” tanya Sera.


“Hm? Oh itu, iya yang kamu tabrak tadi yang anter sampai rumah, makanya tadi Ibu agak lama sampai rumah sakit kan? Soalnya ditanyain alamat sama yang kamu tabrak tadi tuh.”


“Ha? Dokter Mario?  Anter pakai apa?”, Sera menebak motornya pasti tidak bisa digunakan karena kemudi motornya terlihat miring.


“Pakai mobil pick up, ga tahu juga dapat dari mana. Tahu-tahu sudah mau antar.”


Wah, hutang biaya perbaikan mobil belum juga ditotal, sudah kena biaya sewa pick up, batin Sera. Sera bertanya dalam hati apakah yang dimaksud Mario dengan harus pergi ke tempat lain itu adalah mengantar motornya ke rumah? Yasudahlah, yang penting motor dan dirinya sekarang sudah sampai di rumah, Sera tak mau ambil pusing.


---