
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Sera tak mempunyai banyak waktu untuk bersedih, beberapa saat lagi ia mempertaruhkan segala yang ia pelajari selama ia duduk di bangku kuliah.Sera menghapus sisa-sisa air mata dan mencoba tersenyum, tidak ada yang boleh tahu bahwa hatinya sedang berduka. Lutut Sera bergetar saat memasuki ruang sidang, semua dosen yang ia undang telah tiba dan siap di dalam ruangan. Dengan sisa tenaga dan ketegaran yang Sera punya, ia menjalani sidang tugas akhirnya.
---
Sera duduk lemas di dalam mobil yang ia parkir di tempat parkir jurusan. Hatinya bingung memutuskan akan kemana ia pergi sekarang. Pulang? Sera belum berani pulang dengan wajah seperti ini, ibunya akan segera mengetahui Sera sedang tidak baik-baik saja. Octa? Pergi ke rumah Octa mungkin bisa jadi pilihan bagus, tetapi Sera belum ingin bertemu siapapun yang berhubungan dengan Tio saat ini. Sera juga takut ia akan menyalahkan Octa atas sakit hati yang ia terima sekarang. Lantas kemana?
Sebuah beban berat yang ada di benaknya mengingatkan bahwa Sera harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Adina dan Tio hari itu juga. Setidaknya Adina harus tahu, Sera tak pernah mengetahui bahwa Tio telah memiliki kekasih. Sera ingin lepas dari gelar orang ketiga yang tiba-tiba tersemat kepadanya.
Dan kini Sera tengah duduk sendirian di sebuah bangku kursi panjang di pinggir danau kecil yang ada di depan kampusnya, lebih tepatnya di depan fakultas kedokteran. Sera tak banyak menemukan tempat yang sepi pada jam itu, jadi tempat ini mungkin menjadi tempat terbaik baginya untuk menyelesaikan masalahnya.
“Ibu, aku mendapatkan nilai A, aku berhasil. Oh iya Bu, mungkin aku akan pulang terlambat hari ini. Teman-teman kampusku mengajakku untuk merayakan kelulusan kami.” Sera mengirimkan sebuah pesan bohong agar ibunya tak khawatir.
“Oke sayang, hati-hati ya..” Ibu Sera menjawab dengan singkat.
Sera mengambil nafas berat dan menatap nomor ponsel Tio di layar, sudah tiba waktunya untuk mengajak mereka berbicara. Apapun yang terjadi nanti, Sera yakin ia akan baik-baik saja.
“Aku bisa berbicara sekarang, urusanku sudah selesai. Aku akan menunggu teleponmu bersama Adina, sekarang juga.” Sera mengirim sebuah pesan whatsapp kepada Tio, kini Tio tak lagi memblokir nomor miliknya. Sepuluh menit berselang, sebuah panggilan masuk diterima oleh Sera.
“Halo?” Sera mulai menyapa seseorang yang menelepon dirinya.
“Halo.. Sera?” Suara Adina terdengar, ponsel Tio masih dipegang oleh Adina.
“Apakah Tio bersamamu?” Sera bertanya untuk memastikan Tio mendengarkan percakapan mereka.
“Iya..” Suara Adina terdengar sangat serak dan sesekali ia masih terisak.
Sera menghela nafas dalam, mencoba untuk menyiapkan hati dan pikirannya. “Adina kan namamu? Sampaikan apa yang ingin kamu katakan kepadaku sekarang, aku akan mendengarkan. Jika kamu telah selesai, aku akan menyampaikan apa yang ingin aku katakan kepadamu, dan kepada Tio.”
“Sera, sebelumnya aku yang harus meminta maaf kepadamu.. Aku bingung harus mulai dari mana.” Adina berhenti sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Aku berpacaran dengan Tio, baru empat bulan yang lalu..” Kata-kata Adina yang baru saja diucapkan itu membuat Sera tersentak. Empat bulan yang lalu? Seingat Sera pada saat itu Tio sudah sangat dekat dengan dirinya, lalu bagaimana mungkin Tio malah berpacaran dengan Adina?
Sera mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan diri dan Adina melanjutkan ucapannya. “Aku tahu waktu itu Tio sudah dekat dengan seseorang di Surabaya, tetapi saat itu kalian belum berpacaran bukan? Aku tak bisa menahan rasa sukaku kepada Tio.. Aku yang meminta Tio untuk menjadi kekasihku, dengan sedikit bantuan ayahku.”
Bantuan ayahnya? Sera menduga mungkin itu berkaitan dengan pekerjaan Tio. Tetapi entahlah Sera tak ingin memikirkannya, ia menunggu Adina selesai berbicara. “Tio menerimaku, itu artinya kami resmi berpacaran. Aku menunggu rasa suka Tio tumbuh untukku dengan sabar. Walaupun aku tahu itu butuh proses, tetap saja rasanya sakit sekali saat aku mengetahui Tio diam-diam menghubungimu. Aku juga pernah tak sengaja melihat pesan darimu saat kami sedang menonton bioskop bersama.. Rasanya sakit sekali..” Adina terisak sekali lagi. “Tolong berhentilah berharap kepada Tio..” Adina mengakhiri kalimatnya.
Sera tak mengucapkan sepatah katapun, ia sibuk menata hatinya sendiri setelah mendengar kata demi kata yang diucapkan Adina. Sera bahkan tak tahu apakah dia sedang bersedih karena patah hati ataukah merasa bersalah karena pernah dengan tidak sengaja menabur garam di luka Adina.
Sera dan Adina saling diam sesaat, hanya suara isakan Adina yang sesekali terdengar. Sera merasa sepertinya Adina sudah menumpahkan semua yang ingin ia katakan, tibalah waktunya Sera yang akan mengutarakan isi hatinya.
“Adina, ada satu hal yang harus kamu pahami tentang aku dan Tio. Kamu berpacaran dengan Tio empat bulan yang lalu, dan aku dekat dengan Tio sejak delapan bulan yang lalu.” Sera membiarkan Adina mencerna sejenak kalimat yang baru saja ia ucapkan. “Bukan keinginanku untuk merebut Tio darimu, sepengetahuanku kami sama-sama tak memiliki kekasih.. Dan setelah kejadian ini aku tak akan menghubungi Tio, aku cukup tahu dimana posisiku. Cuma itu saja yang ingin aku sampaikan kepadamu, sekarang tolong berikan ponselnya kepada Tio, ada yang ingin aku sampaikan kepadanya.”
Tanpa menunggu lama Tio memanggil Sera dengan suara yang berat, “Halo? Sera?”
“Tio.. terima kasih banyak. Semoga kamu berbahagia. Aku permisi.” Ucap Sera sangat dingin. Sera segera menutup percakapan mereka di telepon. Dan membiarkan air mata yang sudah tertahan sejak tadi tertumpah ruah. Kali ini dugaan Sera salah, ia tak baik-baik saja setelah menyampaikan salam terakhirnya kepada Tio.
Sera menangis tersedu sambil memeluk kedua lututnya, ditemani gerimis yang kini mulai berjatuhan dari langit. Dalam tangis yang tak bersuara ia menumpahkan segala rasa kecewa dan sakitnya pengkhianatan, bercampur rasa rindu dan cinta yang tak akan pernah tersampaikan dengan layak.
---
Tak akan ada yang tahu engkau sedang menangis jika kau menangis di bawah rintik hujan. Mungkin itu salah satu tujuan Tuhan menciptakannya.
Sera berjalan gontai di sebuah trotoar di pinggir jalan dengan baju dan rambut yang basah kuyup. Pandangan matanya kosong dan bibirnya membiru karena udara dingin. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, pertanda malam akan segera menjelang.
Sera berdiri di depan pintu sebuah ruangan serba putih di sudut rumah sakit. Seseorang nampak sedang sibuk dengan komputer yang ada di depannya. Namun tak lama seseorang itu segera menyadari keberadaan Sera dan menghampiri dengan panik.
“Hei! Ada apa denganmu?!”
(Bersambung)