
Sera bergegas mengenakan dress tanpa lengan dengan panjang selutut berwarna putih yang anggun pagi itu. Rambutnya ia biarkan tergerai di samping pundak, mungkin nanti siang akan ia ikat jika cuaca mulai panas. Semangatnya membara sama seperti matahari di Pulau Bali pagi itu. Saatnya berlibur, saatnya melepaskan diri dari kepenatan rutinitas hariannya.
Sera melangkahkan kakinya menuju restauran hotel untuk menikmati sarapan paginya. Sera tak bisa memilih tempat yang sepi karena seluruh pengunjung hotel tentu juga berada disana, ia memilih salah satu meja untuk empat orang yang menghadap ke arah laut lepas.
Sera menghampiri meja dimana makanan berjajar rapi dan menggiurkan dan memilih makanan-makanan yang ada disana. Setelahnya ia mengambil dua buah cangkir kopi dan meletakkannya di meja.
Sera menyeruput pelan kopi miliknya sambil menatap laut lepas yang bergemuruh karena ombaknya berkejaran. Sebuah tangan menepuk pundak Sera, membuatnya tersenyum. Sepertinya ia sudah menerka siapa yang datang pagi itu. Sera segera menoleh untuk melihat siapa yang datang. “Sam!” Teriak Sera kegirangan.
Namun seketika senyum Sera lenyap bak diterpa angin ketika ia melihat siapa yang datang. Sosok yang selama tiga tahun ini telah berhasil ia pendam bersama kenangan, Tio.
“Akhirnya aku menemukanmu juga.” Senyum Tio merekah melihat wajah gadis itu. Wajahnya masih sama dengan tiga tahun yang lalu, hanya rambutnya kini lebih pendek, sepanjang pundak. Tetapi senyum Tio segera pudar setelah ia mengingat sebuah nama yang dipanggil oleh Sera tadi. “Sam? Siapa Sam? Apa kamu sedang menunggu seseorang?” Tanya Tio.
Sera mengangguk sambil tersenyum menjawab pertanyaan Tio. Ia memang sedang menunggu seseorang disana. Tak lama, seseorang yang ditunggu Sera datang. “Sam!” Teriak Sera sambil melambaikan tangan. Sera berdiri dan menengadahkan kedua tangannya, hendak memeluk. Bagai disambar petir ketika Tio menatap Sera menggendong seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Dan orang yang menyerahkan bayi itu kepada Sera, tak lain adalah Mario.
“Tio, ini Samuel.. Putraku.” Ucap Sera seraya mengangkat tangan Samuel, melambai ke arah Tio. “Sam, ini uncle Tio..” Sera berucap kepada Samuel. Bayi kecil itu menepuk-nepukkan tangannya sambil tersenyum.
Sera dan Mario saling bertatapan sesaat, Mario mengangguk memahami maksud Sera. Dengan sigap Mario membawa Samuel pergi bersamanya. Meninggalkan Sera dan Tio untuk saling berbicara empat mata, menyelesaikan urusan mereka yang lama telah tertunda.
Kini Sera dan Tio duduk bersama di meja, tetapi keduanya belum mulai berbicara. Air muka Tio terlihat keruh, hatinya carut marut merenungi setiap peristiwa yang baru saja terjadi.
“Bagaimana kabarmu Tio?” Sera membuka percakapannya dengan Tio. Berbeda dengan Tio, Sera nampak lebih tenang.
“Sera, sejak kapan?” Tanya Tio dengan wajah putus asa.
Sera memandang Mario dan Sam yang kini berada jauh di seberang, tengah bermain di rerumputan taman. “Hampir dua tahun..” Sera mencoba menjelaskan waktu pernikahannya dengan Mario.
Tio memijat keningnya, mencoba mempadu padankan setiap teka-teki yang ia hadapi selama ia tidak bertemu dengan Sera. Selepas pertemuan terakhir mereka kala itu, saat Sera memutuskan akhir hubungan mereka berdua, Tio benar-benar tak bisa menghubungi Sera sama sekali. Entah itu melalui sosial media, pesan ponsel, bahkan Octa juga tiba-tiba saja membungkam mulutnya rapat-rapat jika Tio bertanya tentangnya Sera. Seolah Sera telah menghilang ditelan bumi.
Beberapa kali Tio datang ke rumah Sera setiap waktu liburnya tiba, namun nihil. Sera dan keluarganya sudah berpindah rumah dan tak ada satu petunjuk pun tentang rumah baru mereka. Tak ada angin dan hujan, setelah tiga tahun lebih berselang, kini mereka bertemu di Pulau Bali. Tio kini sendiri, dan Sera telah berkeluarga. Tio merasa dipermainkan oleh takdir dan waktu secara bersamaan.
“Sera, kamu tak menungguku. Aku baru saja berhasil pindah dari kota itu, aku ingin segera memberitahumu, aku mencarimu kemanapun aku bisa, dan sekarang saat kita akhirnya bertemu, kamu telah berkeluarga..” Ucap Tio putus asa.
“Apa gunanya berbicara seperti itu sekarang?” Sera menjawab dengan lembut, tak ingin ia mengungkit masa lalu yang sudah lama terlewati. “ Tio, aku pernah mendengar sebuah nasehat, akan lebih baik jika seorang wanita bersama pria yang memperjuangkan dirinya sungguh-sungguh." Sera mengaduk pelan kopi miliknya dan
Tio terkejut mendengar ucapan Sera, itu berarti ia tidak mencintai Mario ketika mereka menikah dulu. “Apa kamu ingin berkata bahwa kamu menikahinya tanpa ada rasa cinta?"
Pertanyaan Tio yang gamblang membuat Sera menghentikan tangannya, “Bisa dikatakan seperti itu, tapi sekarang siapa tahu? Mungkin keadaannya sudah berbeda.” Sera menatap Tio. “Setelah percakapan kita hari itu, Mario tak pernah absen mengunjungiku dan menemaniku. Berkali-kali aku menolaknya, tetapi dia tetap disana.. Dia bahkan tak tersinggung ketika teman-temannya berkata bahwa ia hanya pelampiasanku saja.” Sera menatap wajah Tio yang kini nampak pasrah. "Setidaknya ini adalah caraku berterima kasih atas semua usahanya."
“Tio, carilah seseorang yang benar-benar kamu cintai. Lalu perjuangkan dengan benar. Aku sudah menerima sejak lama, kenyataan bahwa kita tak berjodoh, kita tak perlu memperjuangkan apa-apa lagi.” Sera mengakhiri kalimatnya dengan sebuah senyum simpul, yang entah bagaimana membuat hati Tio tersayat.
Sera melambaikan tangan kepada Mario dan Sam, pertanda bahwa percakapannya dengan Tio telah usai. Bukan hanya percakapan mereka yang telah usai, tetapi juga cerita mereka.
“Semoga kalian selalu bahagia..” Ucap Tio sebelum ia berpamitan pagi itu.
---
Tio menatap layar ponselnya, lama sekali sejak pesan itu dikirim oleh Sera. Namun ia baru menemukannya hari ini. Setelah ia mengetahui semuanya di pertemuan terakhir mereka. Sebuah pesan yang tak terlalu panjang itu, dikirim oleh Sera sebelum ia memutuskan untuk merelakan Tio, dan belajar menerima Mario.
Tio, bagaimana kabarmu? Semoga kau baik-baik saja.
Maaf, aku tak pernah lagi menghubungimu semenjak kejadian itu. Tetapi melalui pesan email ini, aku ingin menumpahkan semua yang ada di pikiranku selama ini.
Aku ingin mengucapkan terima kasih, untuk setiap waktu yang telah kau luangkan. Juga untuk setiap perhatian yang kau curahkan.
Aku mengucapkan terima kasih, untuk makanan-makanan yang kau bawa. Semua terasa sangat enak saat aku memakannya sambil menatapmu.
Aku mengucapkan terima kasih, atas benih cinta yang kau semai di tanah tandus hatiku. Mungkin aku seringkali membuatmu kesulitan dengan sikap dinginku, tetapi aku senang pada akhirnya kau berhasil membuatku jatuh cinta, walau pada akhirnya kita tidak berjalan bersama. Itu membuatku menyadari bahwa kita tidak sedang berada di negeri dongeng dimana semua cerita cinta akan berakhir bahagia.
Tio, aku ingin menyampaikan bahwa aku tak lagi menunggumu, aku sungguh meminta maaf . Dan aku juga ingin kau menemukan seseorang yang tepat untukmu. Semoga jika nanti kita bertemu sekali lagi, kita masih bisa tersenyum bersama sebagai teman baik.
Seraphina
(Tamat)