
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
Selamat membaca!
---
Sera menatap terus menerus handphonenya, sekarang sudah malam dan seharian ini Tio tidak menghubunginya sama sekali. Padahal biasanya dia selalu memberitahu Sera apa yang sedang dia lakukan atau sedang berada dimana. Sera sedang mempertimbangkan apakah kali ini lebih baik Sera menghubungi Tio lebih dulu, rasanya ada yang hilang jika Tio tidak menghubunginya sama sekali seperti ini. Apakah sesuatu sedang terjadi?
Sera menghela nafas dan akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Tio. “Tio, kamu lagi ngapain? Tumben hari ini kamu sama sekali ga muncul?”
Satu menit, dua menit, 10 menit, 30 menit, 2 jam.. Tidak ada balasan apapun dari Tio. Sera yang sedari tadi menonton film sambil menunggu balasan dari Tio, akhirnya menyerah. Mungkin hari ini dia sedang sangat sibuk, pikirnya. Sera menarik selimutnya dan tertidur lelap, berharap besok pagi sudah ada chat balasan dari Tio untuknya.
“Hun, aku sibuk tadi. Kamu sudah tidur kan? Selamat tidur” Jam 1 dini hari sebuah balasan dari Tio masuk ke dalam handphone Sera.
Esoknya pagi sekali, Sera sangat bersemangat membalas chat dari Tio. Tetapi sama seperti kemarin, Tio tidak membalas chat Sera sampai larut malam. Sesibuk itukah?
---
Sudah seminggu ini Tio terasa berbeda kepada Sera. Tio masih menghubungi Sera, tetapi tidak sesering dulu. Mungkin dalam satu hari hanyalah satu sampai dua kali. Jika hari itu adalah weekend, Tio terkadang tidak mebalas chat Sera sama sekali. Jika Sera menanyakan hal ini, Tio hanya akan menjawab bahwa dia sangat sibuk, tugas di kantornya bertambah karena ada salah satu kawan yang mengajukan resign. Tio mengerjakan tugas dua orang
sekaligus. Tentu saja Sera tidak protes ataupun marah, bagaimanapun mereka tidak mengetahui kondisinya satu sama lain.
“Tio, belum ada rencana pulang ke Surabaya kah?” Sera bertanya pada Tio suatu sore. Dan seperti biasa, butuh waktu agak lama bagi Tio membalas chat Sera.
“Aku belum tahu Sera, tapi aku sudah mengajukan. Doakan segera diterima pengajuanku yah Hun, nanti kamu jemput aku ya”, akhirnya Tio membalas dua jam kemudian.
“Iya Tio. Apakah kamu sudah sampai di rumah? Pasti capek.”
“Sudah Hun, mau istirahat nih”, Tio membalas.
Hanya begitu, percakapan mereka kini sesingkat itu, dan itu terjadi setiap hari. Tio masih saja memanggil Sera dengan panggilan sayangnya, tetapi waktu Tio untuk Sera terasa sangat jauh berkurang. Sebelumnya, Tio dan Sera bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk chatting atau telepon, tapi sekarang hanya sesingkat itu. Sera tentu saja ingin menanyakan kenapa, tetapi Sera menahan diri karena.. Mereka belum terikat hubungan apapun.
Sera dan Tio sudah sangat dekat dalam waktu 4 bulan ini. Semua ungkapan sayang dan perlakuan istimewa
Tio, semua hadiah dan surprise dari Tio, terekam jelas dan detail dalam ingatan Sera. Semua yang dilakukan Tio sebelumnya membuat Sera harus mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta kepada Tio. Bagaimana Sera harus bersikap jika tiba-tiba Tio terasa jauh?
“Pada awalnya aku sendirian, ada masanya aku bersama seseorang. Jika nanti pada akhirnya aku harus sendirian lagi, bukankah seharusnya aku sudah terbiasa? Seharusnya aku tidak merasa kesepian, seharusnya aku kembali seperti sedia kala. Karena pada awalnya memang, aku sendirian.”
Sera telah selesai menulis pada buku hariannya, ini adalah satu-satunya cara untuk dia menghilangkan rasa sedih. Dia tidak memiliki siapapun untuk bertanya atau sekedar bercerita.
Octa..
Nama Octa terlintas sesaat, ketika Sera memikirkan kepada siapa dia bisa bertanya atau bercerita. Pasti Octa bisa mendengarkan cerita dari Sera, atau mungkin Octa tahu jawabannya. Sera segera mengambil handphonenya dan menghubungi Octa.
“Octa, ngopi yuk!”
---
Sera tengah memperbaiki posisi jam tangannya ketika Octa datang dan menarik kursi di depan Sera. Octa meletakkan sebuah bungkusan di meja.
Sera membuka bungkusan yang Octa bawa dan segera memakannya, “Gimana kuliahmu? Sudah ketemu judul tugas akhirnya?”, Sera memulai percakapan.
“Sudah donk! Mau ambil data besok di laboratorium. Doain ya!”
“Iya pasti aku doain, cepet selesaiin biar bisa wisuda bareng. Gimana kabar temen kamu?” Sera mulai menanyakan kabar Tio.
“Apa aku ga salah dengar Sera? Bukannya aku yang harusnya tanya ke kamu? Kalian gimana? Ada kemajuan ga? Tio ga bilang kapan balik?” Octa ganti bertanya kepada Sera.
“Iya masih seperti sebelumnya. Belum tahu juga kapan mau balik ke Surabaya." Sera menjawab ala kadarnya.
“Hm? Ada apa nih? Wajah kamu ga enak dilihat, Tio habis ngapain? Apa kalian berantem?”
“Enggak kok.” Sera bingung harus bertanya atau menjelaskan dari mana. Octa sepertinya tidak tahu mengapa Tio seperti berubah sikap kepada Sera. Pasti Tio juga tidak menceritakan apa-apa kepada Octa.
Octa mengernyitkan keningnya, mengetahui ada yang tidak beres diantara mereka berdua. Octa mengambil handphone dan menelepon Tio tanpa memberitahu Sera, saat itu hari Jumat dan sudah jam 7 malam, mungkin
waktu bekerja Tio sudah selesai atau setidaknya sudah agak longgar. Sera tidak mengetahui siapa yang ditelepon oleh Octa, Sera diam saja sambil menikmati kue yang dibawakan oleh Octa.
“Halo? Kamu sudah pulang atau belum?” Octa mulai berbicara pada seseorang di telepon. “Kamu lagi dimana sih?”
Lama Octa mendengarkan penjelasan dari orang yang dia telepon, ekspresi Octa mengeras, Octa memberikan tanda kepada Sera untuk menelepon di tempat yang lebih privat. Sera mengangguk dan Octa beranjak keluar
dari kafe. Dari jauh Sera melihat Octa seperti sedang marah dengan seseorang, sebenarnya dengan siapa dia berbicara?
Setelah 10 menit berlalu, Octa kembali dan menghempaskan dirinya di kursi kafe, wajahnya
terlihat sebal.
“Kamu gapapa? Kamu barusan telepon siapa?” Sera memberanikan diri bertanya.
Octa diam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku nelpon teman satu kelompok di tugas akhir, besok kan kita bakal ambil data di laboratorium. Dia belum siap sama bahan yang harus kita bawa. Kalau sampai besok dia ga menyiapkan bahan, bisa-bisa ambil datanya tertunda. Padahal kan mendapatkan ijin untuk memakai laboratorium itu susah.”
“Ooh.. Semoga cepet ketemu solusinya ya." Melihat Octa seperti ini, Sera mengurungkan niatnya untuk menceritakan masalahnya kepada Octa. Dia sendiri sepertinya sedang pusing, pikir Sera.
Octa bernafas lega melihat Sera percaya atas apa yang dia ucapkan. Tidak terbayangkan dia harus mencari alasan untuk berbohong dalam waktu secepat ini. Yang lebih memusingkan lagi adalah seseorang yang baru saja dia telepon, Tio, ternyata dia sendiri terjebak dalam masalah di tempat lain. Masalah yang tidak bisa Octa jelaskan kepada siapapun, terutama Sera.
---
Selepas bertemu Octa, Sera hanya menatap handphonenya menikmati dunia maya. Sesungguhnya dia tidak sering melihat akun-akun sosial media yang dia miliki, sudah lama sekali tak tersentuh. Sera
hanya memiliki akun itu agar dia tetap terhubung dengan teman sekolahnya.
Tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk menengok akun milik Tio, Sera mencari nama Tio di pencarian, dan menemukan akun milik Tio. Agak berdebar-debar Sera mengintip akun milik Tio. Sekilas tidak nampak apapun, foto profile yang Tio gunakan sepertinya foto lama, dan sama seperti Sera, Tio lama tidak menulis apapun di akunnya. Sepertinya Tio juga jarang membuka akun sosial medianya.
Sera memberanikan diri untuk membuka foto-foto yang ada disana. Foto keluarga, foto liburan, foto bersama teman-teman, dan.. Tiba-tiba Sera menyesal melakukannya. Sera memandang muram sebuah foto di akun sosial
media Tio.
(Besambung)