
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Octa memilih menyerah dengan masalah antara Sera dan Tio, walaupun ia yang mengenalkan mereka berdua atas permintaan Tio, tetap saja keputusan akhir ada di tangan mereka berdua.
"Hmm Sera, kapan hari Tio hanya bilang kepadaku bahwa mungkin saja dia membuatmu sangat kesal saat ini. Tetapi waktu aku marah kepadanya dan memintanya jangan membuatmu sedih, dia hanya bilang kalau dia sungguh-sungguh ingin bersamamu. Semua hanya soal waktu, hanya itu yang dia sampaikan kepadaku." Ucap Octa perlahan dan hati-hati.
Sera memanyunkan bibirnya, itu bukanlah jawaban yang ia harapkan. Tetapi sepertinya Octa juga benar-benar tidak tahu apa-apa.
"Memangnya bagaimana hubungan kalian sekarang?" Octa memberanikan diri bertanya kepada Sera.
“Octa.. Tio sekarang memblokir nomor whatsapp dan teleponku.” Sera mengucapkannya terbata-bata. “Aku yakin SMS dariku juga tak masuk di ponselnya karena diblokir.” Nada bicara Sera tak bisa menyembunyikan rasa frustasinya.
Octa membelalak mendengar jawaban Sera, “Hah! Sampai seperti itu?!” Teriakan Octa membuat beberapa pengunjung kafe menatap sejenak kepada mereka berdua. Sera meletakkan telunjuk tangannya di bibirnya agar Octa mengurangi volume suaranya, bagaimanapun juga saat ini mereka berada di tempat umum.
Tangan Octa mengepal memukul pahanya sendiri, Octa merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan Tio kepada Sera. Pada awal mulanya Tio memohon-mohon kepadanya untuk mengenalkan dirinya Sera. Dan kini setelah apa yang dilakukan oleh Tio kepada Sera membuatnya menyesal menuruti keinginan Tio waktu itu.
“Sudahlah Sera, daripada kamu terkatung-katung seperti ini tanpa kabar dari si ***** itu, bagaimana kalau kamu lupakan saja dia?” Pertanyaan dari Octa ini membuat Sera kaget. Apakah perkara melupakan seseorang yang sudah menancapkan rasa sayang sedalam ini bisa dilakukan semudah itu?
Sera tak menjawab pertanyaan dari Octa, ia memilih untuk meneguk latte miliknya yang kini sudah dingin.
“Kamu sudah sesayang itu kepada Tio? Itu masalahnya kan?” Octa bertanya sekali lagi. Sera mengangguk perlahan dengan tatapan memelas kepada Octa. Membuat rasa bersalah di dada Octa semakin terasa berat.
“Maafkan aku Sera, aku yang salah.. Tapi aku juga ga akan tahan melihatmu seperti ini. Apa ada yang ingin kamu sampaikan kepada Tio melalui aku?” Octa mencoba melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.
“Tolong sampaikan, aku rindu..” ucap Sera.
---
Sera menatap layar laptopnya, memeriksa setiap bagian presentasi yang akan ia sajikan besok pagi di hadapan dosen pembimbing dan penguji. Setiap bagian ia pastikan sempurna, tanpa kesalahan. Setelahnya Sera memeriksa ponsel dan mengatur jam alarmnya agar berbunyi lebih pagi.
Jam di ponsel sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tiba-tiba saja Sera memikirkan Tio. Sera menghela nafas dan mengirimkan sebuah pesan kepada Tio, yang mungkin saja tak akan pernah dibaca oleh Tio.
“Tio, akhirnya besok aku akan menjalani sidang tugas akhir. Doakan aku ya!”
Sera menatap sejenak ponselnya lalu menghela nafas. Tak akan ada balasan dari Tio, lebih baik Sera tak menunggunya dan segera menarik selimutnya. Esok dia akan berada di sebuah pertempuran besar.
---
Sera menyalami kedua orang tuanya sebelum berangkat untuk memohon restu dan meminta dukungan semangat. Hari itu bahkan ibunya mengosongkan jadwal praktek di semua rumah sakit dan memutuskan untuk menunggu Sera kembali dari kampus. Sera melajukan mobil yang ia kendarai menuju kampusnya, pagi itu ia merasa bisa menaklukan semua ujian yang akan ia hadapi nanti.
Sera duduk di sebuah bangku yang terbuat dari kayu jati, yang berada di depan ruang sidang. Satu jam lagi ia akan memulai sidang tugas akhirnya dan kini Sera sedang menunggu para dosen yang telah ia undang untuk datang. Sambil menunggu, Sera mengecek semua persiapan untuk presentasinya nanti; handout, konsumsi, proyektor, dan juga AC.
Sebuah suara tiba-tiba muncul dari saku Sera, ponsel miliknya berdering. Dalam hati Sera bersyukur ponselnya tak berdering saat ia melakukan sidang, ia akan mematikan ponselnya sebentar lagi. Tetapi nama yang ada di layar ponselnya kali ini sungguh membuat Sera sangat kaget sekaligus senang. Tio menelepon dirinya! Mungkinkah pesan yang semalam ia kirimkan diterima oleh Tio dan Tio akan menyemangatinya sekarang?
Sera sangat bersemangat ketika mengangkat telepon dari Tio, “Halo! Tio! Akhirnya kamu menghubungiku!” Tetapi agaknya kesenangan Sera kali itu tak berlangsung lama.
Pada awalnya Sera tak memahami apa yang sedang terjadi, Sera tak mendengar suara apapun kecuali suara tangisan yang samar. Tangisan seorang wanita. Sera terdiam.
“Diam kamu!” Terdengar sekali lagi suara wanita itu membentak seseorang sambil menangis tersedu-sedu. “Halo? Apakah.. Apakah ini Sera?” Seseorang disana mulai berbicara kepada Sera.
“Iya.. Benar.. Maaf dengan siapa saya bicara?” Tanya Sera.
Wanita itu tak langsung menjawab pertanyaan Sera, ia malah sedang membentak seseorang yang sedang bersamanya. Samar sekali seseorang yang bersama wanita itu memohon-mohon, entah apa yang ia mohon dari
wanita itu, Sera tak dapat mendengar dengan jelas. Tetapi ada satu hal yang tiba-tiba Sera yakini saat itu, suara seseorang yang bersama wanita itu adalah, suara Tio.
Banyak sekali pertanyaan yang tiba-tiba muncul di dalam kepala Sera. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa wanita itu? Apa yang ingin ia sampaikan? Tak ada satupun yang ia pahami. Sampai wanita itu melanjutkan ucapannya kepada Sera.
“Halo.. Sera.. Maaf mengganggu..” Wanita itu masih menangis terisak di telepon. “Sera, aku Adina.. Aku pacar Tio..”
Sera menundukkan kepalanya, di waktu yang tak pernah ia sangka tiba-tiba hatinya dirundung duka. Kini semua tanya terjawab sudah. Sera melirik jam tangannya, masih ada sisa waktu sebelum sidangnya dimulai. Apakah ia boleh merasa hancur di saat seperti ini.
“Halo? Sera.. Aku minta maaf.. Apa bisa, kamu berhenti menghubungi Tio?” Wanita yang memanggil dirinya Adina itu mengajukan sebuah permintaan.
Sera mengumpulkan setiap kekuatannya untuk menjawab pertanyaan wanita itu. “Kamu.. Adina?” Sejenak Sera menarik dalam-dalam nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. “Begini.. Aku sedang ada urusan.. saat ini.. Aku akan menghubungimu nanti.. Tolong, sore ini.. hubungi aku lagi, pastikan nanti kamu bersama.. Tio.” Ucap Sera terbata-bata. Wanita bernama Adina itu terdengar masih berselisih dengan Tio sebelum mengiyakan permintaan Sera.
Sera menutup sambungan teleponnya, kini ia membiarkan air mata yang tertahan sekian lama itu mengalir dalam hening. Selama ini Sera selalu mempercayai setiap rencana Tuhan untuknya, tetapi Sera tak pernah menyangka Tuhan menjadikannya orang ketiga tanpa seijin dirinya.
(Bersambung)