
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Bibi mengetuk pintu, mengantar semangkuk angsle hangat ke kamar Sera tanpa diminta. Bibi adalah satu-satunya orang yang menyaksikan semuanya, mulai dari masa-masa awal kedekatannya dengan Tio sampai pertengkaran
mereka kemarin. Bibi memilih tak menceritakannya kepada siapapun termasuk kepada ayah dan ibu Sera, biarlah Sera menceritakannya sendiri kepada orang tuanya, Bibi punya caranya sendiri menenangkan carut marut di pikiran Sera. Membiarkannya. Hanya itu. Kelak Sera akan memiliki waktu untuk berdiri lagi setelah kegalauan dalam hatinya reda dan dia bisa mengambil keputusan yang tepat untuknya.
Sera berterima kasih kepada Bibi untuk angsle favoritnya.
“Bi, kalau ada yang mencariku, tolong katakan aku tidak berada di rumah ya?” Sera meminta kepada Bibi. “Aku sedang tidak ingin bertemu siapapun, termasuk Octa.” Sesaat Bibi kaget mendengar permintaan Sera, namun segera mengiyakan setelahnya. Octa adalah salah satu sahabat terdekat Sera yang biasanya tak akan Sera bersembunyi darinya dalam masalah apapun. Ini pertama kali Sera bersikap seperti ini.
Sebenarnya Sera tidak ingin menghindari Octa, tetapi Sera tahu, besok Tio pasti akan meminta tolong kepada Octa untuk melunakkan hati Sera. Octa juga pasti akan kesulitan karena Sera dan Tio sama-sama sahabatnya.
Sera memakan angsle panas miliknya perlahan, kini tak hanya perutnya yang terasa hangat, tetapi hatinya juga. Sekilas Sera mengingat masa kecilnya saat dia banyak merepotkan Bibi. Dalam ingatan Sera, Bibi sudah bersamanya selama 15 tahun. Bibi sudah terasa seperti ibu kedua bagi Sera, banyak isi hati Sera yang dia tumpahkan kepada Bibi, kadang bercerita kepada Bibi akan terasa lebih nyaman dibanding bercerita kepada ibunya karena Bibi adalah orang yang ceplas-ceplos saat berbicara. Semua curhat sedih akan berakhir tawa lepas jika Sera menceritakannya kepada Bibi.
---
Sera belum memiliki rencana tentang kegiatannya hari itu, yang pasti bertemu Tio tidak ada dalam daftar rencananya. Pagi sekali, Tio datang ke rumah Sera. Tetapi dia harus menelan kekecewaan karena Bibi berkata bahwa Sera tidak sedang berada di rumah, Sera hanya mengintip di balik jendela kamarnya, menatap punggung Tio yang berjalan menjauh untuk kembali pulang.
Sore harinya, Tio dan Octa yang datang ke rumah Sera. Bibi sempat bertanya kepada Sera sekali lagi sebelum membuka pintu, barangkali Sera berubah pikiran dan mau menemui mereka. Tetapi Sera tak bergeming, dia belum mau bertemu dengan Tio. Dengan wajah cemas Bibi meninggalkan Sera di dalam kamarnya. Sepertinya kali ini Bibi harus menceritakannya kepada ibu Sera.
---
Tok tok..
Pintu kamar Sera diketuk oleh ibunya, “Sera, sayang, apa kamu sudah tidur?” ucap ibunya.
“Belum Bu, masuk aja Sera ga mengunci pintunya kok.” Jawab Sera.
Ibu Sera membuka pintu dan berjalan masuk menuju tempat tidur Sera, membawa sepiring kentang goreng lengkap dengan saus tomat dan saus sambal, serta satu gelas cokelat hangat.
“Iya Bu, drama baru. Sera mau habiskan lihatnya sebelum lanjut fokus ke tugas akhir lagi.” Jawab Sera sambil tersenyum lebar, mencoba menutupi kesedihannya.
“Apa masih jauh tugas akhirnya?”
“Sebenarnya sudah hampir selesai Bu, ini masih mengumpulkan mood sebelum revisi terakhir. Setelah revisi nanti Sera tinggal daftar untuk sidang dan tinggal menunggu jadwal sidang.”
“Mengumpulkan mood? Memangnya mood yang kemarin kemana? Kamu lagi sedih ya? Kok seharian di kamar terus? Kenapa sayang? Ayo cerita..” Ibu Sera membelai rambut halus anaknya.
Sera tahu sebenarnya ibunya datang karena ingin menanyakan tentang sikap Sera yang belakangan hanya berada di kamar saja. Tentu aneh bukan, biasanya ketika Tio ada di Surabaya, Sera akan sumringah sepanjang hari. Mereka pasti akan bertemu setidaknya sekali dalam satu hari, minimal Tio akan menemani Sera sepanjang sore di kursi santai di depan rumah. Apalagi baru kemarin Sera mendapatkan kejutan ulang tahun dari Tio.
“Gapapa Bu\, *mood-*nya lagi jalan-jalan sebentar. Nanti juga pulang lagi hehehe..” ucap Sera masih berusaha menghindari pembicaraan tentang Tio.
“Hmm begitu.." Sesaat ibu Sera menatap anaknya lekat-lekat.. Sudah lama mereka tak saling bercerita panjang lebar tentang kegiatan sehari-hari. Ibu Sera sedikit merasa bersalah karena waktunya tak banyak untuk putrinya. "Anak Ibu ini kalo Ibu lihat semakin besar kok semakin cantik.” Ibu Sera tersenyum sambil mencubit pipi Sera,
membuat Sera tersenyum malu-malu. “Saking cantiknya sampai Ibu bingung ingin menantu yang mana..” ujar ibunya menggoda.
Dada Sera mulai berdegup lebih cepat, Bibi sepertinya sudah menceritakan kejadian kemarin kepada ibunya. Sera melirik pelan-pelan ibunya, yang dibalas oleh tawa lepas sang ibu. “Kamu ga berpikir kalau Ibu tahu? Walaupun Ibu sibuk setiap hari tetapi Ibu kan punya mata-mata di rumah. Sera, Ibu mengerti kamu sedang tidak senang, Ibu tidak tahu masalah pastinya. Tetapi kamu harus selalu ingat ya, Ibu selalu mendukung keputusanmu. Dan kalau ini memang adalah tentang laki-laki, Ibu hanya berharap terbaik untuk kamu.”
Sera mengangguk pelan, “Aku cuma berantem kecil kok Bu..”, Sera memeluk lengan ibunya. “Bu, apa Ibu pernah berpacaran jarak jauh? Apa susah menjalaninya?” Sera memberanikan diri bertanya.
“Hm, pernah. Hanya 3 bulan saja waktu Ibu terpaksa harus dinas di luar kota. Memang kalau berpacaran jarak jauh itu harus lebih sabar dan saling mengerti. Ditambah ga boleh terlalu mudah cemburu dan mudah curiga.” Ucap Ibu Sera sambil menepuk-nepuk tangan Sera. “Kita ini wanita, bagian terpenting dari menjalin hubungan adalah kita tidak bertepuk sebelah tangan, kita tidak mengejar cinta sendirian. Menderita sekali jika kita bersama seseorang yang sangat kita cintai, tetapi cinta dia kepada kita tak sebesar cinta kita padanya." Ibu Sera diam sesaat, seperti menimbang-nimbang kalimat yang akan diucapkan selanjutnya. "Kalau kamu dihadapkan pada dua pilihan, pilihlah yang paling sabar dan gigih mengejarmu. Ketika kamu bersamanya, dia akan menjagamu dengan baik karena dia tahu rasanya berjuang mendapatkanmu. Apa kamu mengerti maksud Ibu?” Sera hanya mengangguk sekali lagi. Kini entah mengapa tiba-tiba muncul dua wajah dalam benaknya, antara Tio dan Mario.
“Aku belum berpikir sejauh itu Bu, tapi aku akan mengingat nasihat Ibu baik-baik.” Ucap Sera.
“Yang penting sekarang kamu jangan mengurung diri di kamar ya, besok kamu temani Ibu jalan-jalan sore, oke?” Sera tersenyum menyetujui, sudah lama dia tidak pergi bersama ibunya. “Kalau begitu, Ibu mau ke kamar dulu ya. Habiskan camilanmu..” Sera meyambut pelukan hangat dari ibunya sebelum membiarkan ibunya pergi dari kamarnya. Segalanya terasa lebih ringan setelah percakapan ini.
(Bersambung)