Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Bersama



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Mereka telah memesan makanan di kasir yang terletak di depan, dekat dengan pintu masuk. Tempat makan yang mereka datangi kali ini adalah sebuah tempat makan dengan tema alam, dan di tempat ini sekaligus menjadi tempat peternakan lebah dan menjual hasil lebah, madu murni. Seluruh tempat terbuat dari kayu dan bambu, sangat asri, teduh dan sejuk.


Sera dan Tio melangkah mencari meja untuk makan yang terdapat pada gazebo-gazebo yang tertata rapi diantara bunga-bunga.  Satu gazebo untuk satu meja makan, dkelilingi oleh tumbuhan berbunga yang tinggi, dan lebah dimana-mana. Sera tidak berkedip melihat ke sekelilingnya, panas matahari yang terik sama sekali tidak terasa.


Sera duduk di gazebo menghadap luar, membiarkan angin sepoi yang pelan-pelan mengelus-elus pipi dan  memainkan rambutnya. Tio mencuri pandang pada Sera dari samping, dan tersenyum. “Kamu selalu cantik” ucap Tio dalam batin.


“Kamu tahu tempat ini dari mana?” Sera bertanya kepada Tio.


“Enggak sengaja lewat trus penasaran, dulu datang kesini bersama ibuku.”


“Jadi tujuan utamanya ke klinik atau kesini?” ucap Sera, dia masih menatap ke bunga-bunga yang mengayun pelan.


“Dua-duanya.. Tapi lebih ke tempat ini sih. Kan lagi ngajak kamu. Kalau Cuma butuh klinik aja aku bisa cek di Surabaya.” Jawaban Tio membuat Sera tersenyum. “Kamu suka ga?” ucap Tio.


“Suka sekali.. Tempat ini seperti dalam mimpi.. Lain kali aku mau kesini lagi ah!” ucap Sera sambil bersemangat.


“Boleh kesini tapi jangan sama cowok lain. Awas kalau sama cowok lain” Tio mengancam.


“Hei siapa bakal tahu? Kan aku bisa aja ga bilang sama siapa-siapa!” Sera tertawa meledek Tio.


“Aku pasti bakal tahu kalau kamu kemana-mana dengan cowok lain. Aku sudah pasang radar disini!” Tio menyentil kening Sera. Keduanya tertawa bahagia. “Hun, ada lebah di rambut kamu! Jangan dipukul ya bentar aku suruh pergi.”


Sera berteriak panik, dia takut akan disengat oleh lebah. Tio mengibaskan tangannya diatas rambut Sera tetapi Sera masih panik dan menarik baju Tio, sampai Tio terjatuh diatas Sera. Pandangan mereka berdua bertemu tanpa disengaja, membuat keduanya terdiam sejenak.


Sera mengalihkan pandangannya dan mendorong Tio menjauh, merasa malu. Yang langsung dibalas oleh Tio dengan menarik Sera ke dekatnya, sesaat Tio mengecup bibir Sera. Terasa sangat cepat, bibir Tio terasa


sangat lembut. Dada Sera berdegup kencang, wajahnya terasa sangat panas, wajahnya merah padam, Sera menutup wajahnya.


“Jangan ditutup..” Tio menarik tangan Sera.


“…”


“Kamu manis banget kalau malu,” ucap Tio sambil tersenyum.


“Yo, kamu sengaja ngerjain aku lagi, kamu ngeledekin aku lagi!” Sera masih menunduk malu.


“Enggak. Apa aku belum pernah bilang ke kamu kalau kamu cantik?”


Tio sering berkata begitu, sangat sering, dalam chat sehari-hari mereka mungkin ada 3-4 kali Tio berkata bahwa Sera sangat cantik, yang tidak pernah dibalas oleh Sera karena Sera lebih memilih mengalihkan topik chat mereka. Dan kali ini pun sama, Sera tidak menjawab melainkan hanya tersenyum.


Menu pesanan mereka telah datang, dan siang itu berlalu begitu saja, masih ditemani lebah berterbangan, masih bersama angin sepoi-sepoi, masih dengan matahari terik yang panasnya tak terasa. Tio meminta untuk rebah di kaki Sera setelah makan, sambil memutar salah satu lagu kesukaan Sera, Tio sempat tertidur di pangkuan Sera.


I’m part of you indefinitely


Girl don’t you know you can’t escape me


Oh darling cause you’ll always be my baby


Always Be My Baby – David Cook


Terjemahan:


Kau akan selalu jadi bagian dari diriku


Aku bagian darimu selalu


Gadis, tahukah kau tak akan bisa lari dariku


Oh kasih karena kamu akan selalu jadi kekasihku


---


Sorenya, seorang pria memasuki sebuah cafe di tengah Kota Surabaya. Dia melihat sekeliling seperti mencari sesorang, kemudian menghela nafas dan muram karena tidak menemukan apa yang dia cari. Tetapi dia sudah berada disana, jadi dia memilih duduk di salah satu kursi yang disediakan hanya untuk dua orang, sambil berdoa semoga apa yang dia cari segera datang.


Salah satu pelayan cafe mendatanginya, ingin mencatat pesanan. “Biasanya ya Mas..” jawab pria tersebut.


Pria itu membuka handphonenya, menatapnya lama-lama, seperti ingin menghubungi seseorang tetapi dia urungkan. Dia letakkan kembali handphone di meja, kemudian melihat keluar jendela.


Dalam bayangannya, dia melihat wanita itu berjalan dengan pasti, sambil menguncir rambutnya diatas kepala. Beberapa helai rambutnya jatuh, tidak menuruti tuannya, tapi dia membiarkan helaian rambut yang tersisa terurai. Kemudian wanita itu membuka pintu, dan mengangguk kepada pelayan cafe yang berjaga di dekat pintu. Wanita itu pasti duduk di sudut ruangan, di kursi yang sama, selalu seperti biasa. Lalu dia akan menghabiskan


secangkir latte dengan whip cream, dan croissant. Sesekali dia melamun melihat keluar jendela, sama seperti yang pria ini lakukan. Sesekali dia melihat handphone atau sibuk dengan laptopnya. Terkadang dia berjanji bertemu dengan seorang kawan.


Pria itu sering datang ke cafe ini di sore hari sepulang kerja, melakukan hal yang sama. Menanti seseorang di jam yang sama. Sampai suatu hari ketika dia menunggu di cafe ini, wanita yang selalu dia pandang dalam diam itu, bertemu dengan kawannya yang biasa, dan satu orang lagi, laki-laki.


Dari jauh pria ini melihat wanita itu diperkenalkan oleh temannya kepada laki-laki asing itu. Tapi mereka tak banyak


saling bicara, hanya nampak si laki-laki berusaha sungguh-sungguh untuk bisa bercakap-cakap dengan sang wanita.


Entah mengapa pria yang tengah duduk sendirian itu tidak senang mengingat memori saat itu, karena sejak wanita yang dia tunggu bertemu dengan laki-laki itu, wanita yang dia nanti jarang datang ke cafe ini. Biasanya 5 kali dalam satu minggu, kini mungkin hanya 2 kali. Apakah mereka sudah sangat dekat sekarang? Atau mereka sudah menjadi sepasang kekasih?


Setelah 1 jam menunggu, pria yang duduk di kursi untuk dua orang itu menghabiskan minuman yang dia pesan. Dia berdiri menuju kasir dan membayar pesanannya.


“Sudah mau pergi Kak? Yang ditunggu ga datang ya?” tanya kasir yang berjaga, hafal betul dengan gelagat salah satu pelanggan cafenya.


“Iya, kayaknya hari ini ga datang lagi” jawabnya sambil tersenyum manis, menunjukkan lesung pipit yang dalam di kedua sisi pipinya.


Semoga besok dia datang kesini, batin si pria.


(Bersambung)