Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Jelajah



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


 


Octa melihat Sera dan Tio dari jauh bersama Chandra sambil menyeruput kopi panasnya, mereka berdua tersenyum.


“Taruhan deh kapan mereka jadian?” tanya Octa.


“Paling besok” jawab Chandra.


“Tio mau balik Samarinda kapan sih?”


“Besok kalau jadi” ucap Chandra.


“Tebakanku Tio nembaknya paling nanti libur selanjutnya” kata Octa.


“Wah kalo kelamaan aku tikung aja! Gemes amat lihat wajah Sera imut-imut ga kaya kamu amit-amit” sahut Chandra, Octa spontan memukul kepala Chandra dengan bungkus minuman botol di sampingnya. Mereka tertawa terbahak-bahak bersama. Bagi mereka berdua yang penting kali ini mereka mendapatkan liburan gratis.


Matahari sudah nampak sangat jelas sekarang, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Sera tidak memperhatikan sekitarnya, dia tidak mengetahui ada dimana Octa dan Chandra. Sera menoleh mencari Octa yang ternyata saat ini ada di samping penjual kopi, mendekati tungku berisi bara api panas untuk menghangatkan badan bersama Chandra.


Sera menghampiri Octa dan Chandra, mengajak mereka berfoto bersama. Mereka semua berfoto di salah satu tempat yang cukup sepi, yang menghadap langsung ke arah Gunung Bromo. Momen matahari terbit menjadi salah satu momen yang harus diabadikan jika mengunjungi tempat wisata ini.


Selesai berfoto mereka berpamit kepada bapak penjual minuman yang menyediakan api penghangat tadi dan berjalan menuju jeep mereka parkir. Sesampainya di tempat parkir mereka melihat supir jeep tengah merokok bersama dengan teman-temannya, yang segera menyadari kedatangan empat orang tamunya dan mematikan rokok di tangannya. Sera dan teman-temannya bergegas menaiki mobil jeep.


“Kita lanjut kemana ini Mas?” tanya Chandra.


“Sekarang kita turun ke lautan pasir menuju ke Pura Luhur Poten dan Kawah Bromo, mungkin 20-30 menit sudah sampai Mas” jawab supir jeep.


Jeep melaju menuruni gunung, melewati pepohonan rimbun hijau yang sangat indah. Sera menunduk memandang hamparan lautan pasir dari jendela jeep. Oh astaga! Pemandangan indah lain ada disana. Betapa sangat luas lautan pasir di bawah sana, mengelilingi Kawah Gunung Bromo sang primadona utama. Pasir beterbangan dihempas roda beberapa jeep dan motor yang melintas, ternyata tempat ini tidak se-sepi yang dibayangkan Sera, ternyata ada cukup banyak pengunjung, tetapi dimana mereka tadi?


Sekarang jeep yang mereka tumpangi sudah berada di lautan pasir, mobil jeep bergoyang-goyang karena pasir yang tidak rata dan licin, Sera terheran-heran bagaimana supir jeep bisa sangat santai menyetir sementara jeep mereka terkadang tiba-tiba berbelok ke kanan dan kiri sesukanya, oh pasti karena ini sudah dia lakukan hampir setiap hari selama bertahun-tahun kan? Sera melihat dari sampingnya ada beberapa sepeda motor yang menyalip,


nampak kesusahan menyetir motornya, mereka menurunkan kedua kaki untuk berjaga-jaga agar motornya tidak jatuh, walaupun ternyata salah satu dari mereka tetap jatuh juga pada akhirnya dan mereka bergegas membangunkan motornya sambil tertawa terbahak-bahak. Jatuh pun ternyata bisa menyenangkan seperti itu, batin Sera.


Octa mengajak Sera dan yang lainnya untuk berfoto di sekitar bangunan pura sebagai kenang-kenangan , sebelum mereka berlanjut menuju kawah. Sera melihat ujung kawah yang tinggi di atasnya, ada banyak pengunjung yang sudah mendahului mereka. Jam di tangan Sera menunjukkan pukul 8 pagi, sepertinya akan memakan waktu 20 menit atau lebih untuk sampai kesana.


Sera berjalan bersama dengan Octa di depan sementara Tio dan Chandra mengikuti dari belakang. Tio menawarkan kuda untuk Sera tetapi Sera menolaknya. “Aku cukup kuat untuk naik kesana”, jawab Sera.


Jalan menuju kawah diawali dengan gundukan pasir, agak susah berjalan di atas pasir karena licin dan mereka juga harus menghindari kotoran kuda yang tercecer dimana-mana. Belum lagi mereka juga harus minggir ketika ada kuda-kuda yang lewat. Tepat di bawah kawah ada sebuah tangga curam ke atas yang harus mereka naiki, cukup melelahkan untuk sampai ke kawah.


Sera melirik jam tangannya sesampainya di atas, ternyata mereka membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai, karena tadi sempat beberapa kali berhenti untuk menarik nafas. Sera dan Octa terengah-engah mengatur nafas. Melihat kawah yang sangat besar, Sera melongok ke dalam kawah, ada asap megepul yang naik perlahan, dan jurang yang dalam sekali, Sera segera menjauh dari tepi kawah, bergidik melihat kedalamannya. Mereka tak menghabiskan banyak waktu di atas kawah, setelah mendapatkan beberapa foto mereka memutuskan untuk turun.


Sampai di bawah mereka bergegas naik jeep dan supir jeep membawa mereka ke tempat tujuan selanjutnya, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies. Dalam perjalanan sekali lagi  Sera menikmati pemandangan tebing-tebing gunung menjulang yang bersambung mengelilingi  lautan pasir, serta hamparan ilalang  yang mulai berbunga. Semuanya terasa sangat indah, ditambah dengan tangan Tio yang tidak berhenti menggenggam tangannya sejak tadi. Jika Sera memintanya melepas genggamannya Tio akan mulai berceloteh tentang ucapan ayah Sera kemarin, jadi Sera biarkan saja.


Pasir Berbisik dan Bukit Teletubies cukup dekat. Bukit Teletubies sungguh persis seperti namanya, gundukan bukit-bukit berwarna hijau muda tanpa pohon, hanya ada savana yang mengelilingi. Jika Pasir Berbisik hanya terdiri dari hamparan pasir abu-abu, di bukit ini sepanjang mata memandang adalah warna hijau dengan selingan bunga-bunga verbena warna ungu. Senang sekali bisa berlama-lama di bukit ini, batin Sera. Bukit ini menjadi tempat kedua yang paling disukai oleh Sera setelah Bukit Kingkong.


Tio menarik tangan Sera, mengajaknya berfoto berdua.


“Naik ke kuda itu yuk!” kata Tio.


Sera menatap ke seberang dan ada sebuah kuda berwarna putih dengan surai berwarna merah muda, “Kamu menyewa kuda itu?”


“Iya, buat foto aja kok. Kamu berani naik kan?” tanya Tio.


“Hm entahlah..” Sera ragu karena belum pernah naik kuda sebelumnya.


Sera dibantu naik ke atas kuda oleh pemilik kuda, dan berusaha untuk tetap tenang agar kuda yang dia naiki juga merasa nyaman dengannya. Kuda betina yang dinaikinya pun nampak tenang setelah diusap-usap oleh bapak


pemilik. Sebuah tali menjuntai terikat ke kayu di tanah agar kuda tidak menjauh dari tempat dia berdiri.


Tio berdiri di samping kuda sambil menggenggam tangan Sera dan Chandra mengambil foto mereka berdua. Chandra tidak berhenti menggoda Tio dan Sera setelahnya, Tio hanya tersenyum, tidak ada yang perlu disangkal dari candaan Chandra. Sera? Sera acuh, sebenarnya dia sudah kesulitan menahan rasa kantuknya.


Jam menunjukkan pukul 11 siang ketika mereka kembali menuju Desa Wonokitri, sudah waktunya untuk pulang. Tio dan Chandra sama seperti kemarin, bergantian menyetir mobil. Tio menyetir sampai Kota Pasuruan dan Chandra menyetir setelahnya sampai Surabaya. Octa dan Sera terlelap dalam perjalanan, rasa kantuk kali ini benar-benar tidak dapat ditahan. Perjalanan mereka hanya ditemani lagu dari radio.


Pukul 3 sore mereka semua sampai di rumah Octa, sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.


---


Sera masuk ke dalam rumah dengan gontai, dia segera menjatuhkan diri ke kamarnya dan memeluk bantalnya. Sera sangat senang, Sera sangat terharu, semua perjalanan yang baru saja dia lalui terasa bagai mimpi. Sera melihat-lihat foto yang mereka dapatkan tadi, sambil tersenyum, lima menit kemudian Sera terlelap dalam mimpi.