
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Hai matahari, ada apa denganmu hari ini? Mengapa bersembunyi sedari pagi? Apakah kau yang sedang malas bersinar, ataukah mendung yang tak henti menggelayut padamu?
Sera menengadahkan wajahnya menatap langit, tengah menimbang-nimbang akankah dia memerlukan payung hari ini? Akankah dia mengendarai motor atau mobil? Hari itu mendung, bukan cuaca yang baik untuk melangkahkan kaki keluar rumah tanpa keperluan yang penting. Tapi entah mengapa Sera ingin sekali menghirup udara luar.
Sera menatap handphonenya, sudah dua minggu ini dia dan Tio berada di kota yang berbeda lagi. Sera menghitung banyaknya chat antara dia dan Tio. Sungguh miris sekali, dalam dua minggu mereka hanya saling
bercakap dalam chat tak lebih dari sepuluh kalimat, dan mereka saling bertelepon hanya sekali. Satu kali saja, itu pun tengah malam saat Tio sedang bersiap untuk tidur.
Sera menghela nafas, ia tak menyangka bisa merasakan kesepian seperti ini ketika jauh dari Tio. Mungkin karena Tio tak pernah berhenti memberikan kejutan setiap hari ketika ia berada di Surabaya, entah itu berupa dua bungkus makanan, atau hanya sejumput senyuman di depan pintu rumah Sera. Yang pasti, Sera seperti telah kehilangan sesuatu setiap kali Tio berada jauh disana.
Tiba-tiba Sera bangkit berdiri, ada sesuatu yang penting namun telah ia lupakan. Sera lupa karena pertengkaran mereka kala itu. Sera menghampiri sudut kamarnya dan mengangkat sebuah kotak kado berwarna merah jambu dengan pita merah. Sera menatap lekat pada kado itu, ia merindukan seseorang yang telah memberikannya.
Sera membuka kado miliknya perlahan, di dalamnya terdapat sepasang sepatu kasual berwarna biru tua dengan kombinasi warna merah, motif batik terukir di samping sepatu tersebut. Dan juga ada sebuah boneka beruang kecil. Boneka beruang yang mengenakan baju pengantin. Sera tersenyum melihat kado dari Tio.
Sera membuka amplop kecil yang ada di dalamnya, dan membaca perlahan surat dari Tio.
“Selamat ulang tahun Nona Seraphina, aku sungguh senang bisa menemanimu hari ini. Semoga kamu menyukai hadiah kecil dariku.
Nona cantik, aku tahu ada banyak pertanyaan di dalam hatimu. Kamu tahu? Aku bukan orang yang bisa banyak berbicara soal hati. Aku bodoh soal itu. Tapi dalam hatiku aku berharap kamu selalu percaya padaku, dan bersedia menunggu waktu yang tepat untuk kita.
Nikmatilah waktu sendirimu sebelum aku menyita semuanya.”
Tanpa Sera menyadarinya, sebuah tetesan air mata bergulir jatuh di pipi Sera. Siang itu ia sungguh menyesali pertengkarannya dengan Tio kemarin. Ia juga menyesali mengapa baru hari ini ia membuka kado miliknya. Kau bodoh Sera, kau sungguh bodoh. Sera membiarkan air matanya tumpah dalam diam. Sera tak terisak, dia hanya menumpahkan perasaan menyesalnya, sekaligus merayakan sedikit bahagia yang ia hirup dari sepucuk surat yang
terselip di kadonya.
---
Sera bernyanyi kecil sembari membawa satu bungkus makanan dan minuman yang telah ia beli dari salah satu kedai food truck. Sore itu ia memutuskan untuk menikmati waktu sendirinya di sebuah fair ground di Surabaya. Sebuah komunitas food truck menyulap lapangan yang luas menjadi tempat bersantai yang sangat cantik. Lampu-lampu kecil berwarna kuning berjejer dari ujung ke ujung, mobil food truck berjajar membentuk lingkaran dan di
tengahnya tertata rapi kursi dan meja kayu bergaya vintage, untuk pengunjung menikmati makanan mereka.
Sera memilih duduk di rerumputan yang ada di luar lingkaran food truck itu, ia hanya ingin menghindari keramaian dan menikmati kesendiriannya seperti yang diminta oleh Tio dalam sepucuk surat dalam kadonya. Sera memasang headset mungil berwarna putih miliknya dan mulai memasuki dunia dimana ia hanya sendirian, menikmati setiap alunan musik favoritnya. Sera tersenyum menatap kerlap-kerlip lampu apartemen di kejauhan. Ternyata sendiri seperti ini pun tak seseram yang dibayangkan oleh Sera.
“Put your hand in mine
You know that I want to be with you all the time
You know that I won’t stop until I make you mine
You know that I won’t stop until I make you mine
Make You Mine – Public
Sera tak hentinya tersenyum sendiri karena mengingat Tio sore itu, entah mengapa lagu itu selalu membuat ia mengingat kembali saat-saat Tio datang di depan pintunya, membawa tiga bungkus makanan untuk mereka berdua. Sepertinya ia merindukan Tio. Kalau saja Tio saat itu ada bersama Sera, ah Sera mulai berandai-andai sekali lagi. Mungkin di kesempatan selanjutnya, di pertemuan berikutnya, Sera akan mengajak Tio menikmati sore disana.
Sera tengah menikmati camilan miliknya ketika tiba-tiba sebuah tangan mengambil bungkusan camilan yang ada di sebelahnya. Seketika Sera menoleh, dan terkaget melihat siapa yang ada di sebelahnya.
Tentu saja laki-laki itu, laki-laki yang memiliki senyum ramah yang tak asing, lesung pipit yang dalam, wajah yang bisa membuat banyak wanita terpesona..
Mario duduk di samping Sera sambil memakan makanan yang telah ia ambil dari Sera. Dari pakaian yang dikenakan olehnya, sepertinya ia tidak pulang dari rumah sakit tempat ia bekerja, ia terlihat seperti anak muda seumuran Sera yang tengah menikmati udara sore bersama kawannya.
Sera menelan ludah, “Kak Mario.. Kenapa ada disini?” Ucap Sera terbata-bata. Perasaan Sera seketika campur aduk mengingat pertemuan terakhirnya kemarin, rasa malu dan canggung tak sanggup ia sembunyikan. Sera belum siap untuk meminta maaf kepada Mario atas peristiwa yang lalu.
Mario tersenyum dan menatap Sera, “Kamu sendiri? Bagaimana bisa kamu sendirian di tempat ramai begini? Apa kamu tidak khawatir akan diculik oleh seseorang?” tanya Mario kepada Sera.
Sera tertawa mendengar kelakar Mario, “Siapa juga yang mau culik aku di tempat ramai seperti ini? Yang ada juga mereka rugi, makanku banyak!”
Mario tersenyum, “Tentu saja aku!” Sera tertunduk malu mendengar jawaban Mario. “Hmm sekarang aku sedang memikirkan skenario, bagaimana caranya aku bisa menculik kamu dan membawa kamu pergi ke tempat yang
jauh.. Dengan begitu aku tak perlu susah-susah mendekatimu. Tetapi belum sampai aku menemukan caranya, dalam bayanganku dokter Dwi sudah mengancam dan mengacungkan jarum suntik yang paling besar untukku!”
“Hei!” Sera memukul pundak Mario sambil terkekeh. “Ibuku pasti akan menyuntikkan anastesi (obat bius) dosis paling tinggi padamu sebelum kamu menculikku!” Kali ini mereka berdua tertawa sangat keras, sepertinya sudah lama Sera tidak tertawa lepas seperti ini.
“Kak Mario datang ke tempat ini bersama siapa?” Sera mengulang pertanyannya.
“Aku hanya sedang bertemu dengan teman-teman satu angkatan saat kuliah. Mereka ada di tengah sana, aku tak sengaja melihatmu saat datang tadi. Kamu sendiri?” jawab Mario.
“Hmm.. Aku cuma sedang ingin jalan-jalan sendirian. Aku baru tahu ada tempat seperti ini disini. Kemana saja aku selama ini.” Ucap Sera sambil melihat sekelilingnya.
Mario diam sejenak sebelum menanyakan sesuatu kepada Sera. “Bagaimana hubunganmu? Dengan laki-laki itu?”
Mario menatap wajah Sera penuh penasaran, membuat Sera menundukkan pandangannya. Mengapa Mario tiba-tiba menanyakan hal ini, membuat suasana menjadi canggung sekali lagi. Apa yang harus ia katakan?
(Bersambung)