
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
“Kak Mario, bisakah kamu menolongku?”
Tetes demi tetes air berjatuhan dari rambut dan baju Sera membentuk genangan di lantai yang bersih. Beberapa perawat yang ada di balik meja menatap Sera dengan tatapan aneh, setiap orang yang melihat Sera akan mengira dia adalah orang gila. Dari dalam ruangannya Mario berlari dan menyelimutkan jaket miliknya untuk menghalau udara dingin dari tubuh Sera. Dengan perlahan Mario membawa Sera masuk ke dalam ruangannya.
Setelah menutup pintu ruang praktek miliknya, Mario mengambil sebuah kursi dan duduk di depan Sera. Keduanya saling bertatapan.
“Bisakah kamu menolongku?” Sera bertanya kepada Mario.
“Apa yang kamu butuhkan?” Mario bertanya balik kepada Sera.
“Aku tidak bisa pulang dengan kondisi seperti ini..” ucap Sera perlahan.
Mario mengerti apa yang dibutuhkan Sera. Sebuah baju kering dan makanan hangat. Maka tanpa Sera meminta, Mario segera membawanya pergi dari tempat prakteknya menuju kediaman miliknya.
---
“Apakah kamu tinggal sendirian?” Tanya Sera sambil melihat sekeliling. Kini Sera berada di tempat tinggal Mario, sebuah apartemen yang ada di pusat kota. Sebuah apartemen dengan tema minimalis scandinavian yang tertata sangat apik dan rapi. Terlalu rapi untuk ukuran tempat tinggal laki-laki.
“Iya.. Orang tuaku ada di Kota Jakarta. Sejak kuliah aku sudah disini sendirian.” Jawab Mario singkat, ia lalu menyuguhkan segelas teh panas untuk Sera. “Minumlah, jaga suhu tubuhmu tetap hangat sampai bajunya datang.”
Tak lama berselang, seseorang menghubungi Mario. “Tunggulah disini, aku harus ke bawah mengambil barang.” Sera mengangguk pelan sebelum Mario meninggalkannya sendirian di ruangan itu.
Tujuh menit berlalu, Mario telah kembali sambil membawa dua buah bungkusan. Satu berisi makanan dan satu lagi berisi baju kering untuk Sera. “Mandilah dan pakai baju ini..” Ucap Mario sambil menunjukkan arah kamar mandi. Sera menatap baju yang kini ia pegang dengan ragu-ragu. “Aku tak akan mengintipmu.” Ledek Mario sambil tertawa. Sera melirik kesal ke arah Mario dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.
Selesai mandi Sera kembali duduk di kursi sofa depan televisi, sedangkan Mario sedang mengambil alat makan di dapur mini miliknya. Mario meletakkan mangkuk di meja yang ada di depan Sera dan menyajikan makanan yang tadi dipesan olehnya. “Yuk makan!” Ucap Mario sambil menyodorkan semangkuk sup ayam dengan nasi panas. Sera hanya memandangi mangkuk yang ada di hadapannya dalam diam. “Apa kamu sedang tak berselera makan? Kamu akan jatuh sakit jika seperti ini terus” Tanya Mario.
“Apa kamu tidak merasa kesepian tinggal sendirian seperti ini?” Sera akhirnya berbicara. Mario berhenti mengaduk mangkuknya setelah mendengar pertanyaan dari Sera.
“Apakah kamu bersedia menemani jika aku menjawab aku kesepian?” Sudut bibir Mario terangkat. Sera juga tak bisa menyembunyikan senyumnya mendengar candaan Mario. Setelah mendapatkan kembali mood baiknya, Sera mulai memakan makanannya.
“Dari mana kamu mendapatkan pakaian baru untukku?” Sera bertanya sekali lagi.
“Eeng, seorang teman membantuku.” Jawab Mario enteng.
“Tolong sampaikan terima kasihku kepadanya..” Mario hanya mengangguk mendengar permintaan ini.
“Apakah kamu tadi menangis karena dia?” Mario bertanya dengan hati-hati. Sera menghentikan sendoknya di depan mulut dan menatap Mario.
“Aku tidak akan memaksamu untuk menceritakannya kepadaku. Tetapi jika kamu mau, aku akan selalu menyediakan pundakku untukmu.” Mario menepuk-nepuk pundaknya sambil mengedipkan mata dengan genit.
“Dasar gila!” Sera melemparkan bantal kecil yang ada di pelukannya.
“Yeah, aku hanya mencoba berusaha..” Mario terkekeh sambil menghindar dari lemparan Sera.
---
Tepat pukul setengah sembilan Sera memasuki rumahnya, tentu saja diantar oleh Mario. Setelah berbasa-basi sebentar dengan kedua orang tuanya dan Mario kembali pulang, Sera segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
Saat seseorang sedang patah hati, waktu-waktu sendiri terasa sangat panjang dan menyedihkan. Seringkali kenangan-kenangan yang lalu tiba-tiba muncul tanpa permisi, membuat perasaan campur aduk dan air mata
terjatuh lagi. Dan Sera pun begitu, ketika tanpa sengaja ia menatap foto mereka berdua di Gunung Bromo, ada perasaan sedih yang menyeruak dari dalam hatinya. Sera menenggelamkan wajahnya dalam bantal agar tak ada yang mendengar isak tangisnya malam itu.
---
Pagi harinya, Sera terbangun dengan mata sembab dan bengkak. Sera melihat sekeliling rumah, hanya ada Bibi di dapur, orang tuanya sudah berangkat bekerja sedari pagi.
Sera menghampiri meja makan dan melihat sepiring nasi goreng ayam yang telah disiapkan oleh ibunya. Sebuah catatan kecil ada di sampingnya, “Semua akan baik-baik saja.” Begitu tulisan di catatan itu berbunyi. Dimana-mana seorang ibu pasti seperti itu, mengetahui anaknya sedang tak baik-baik saja hanya dengan melihat raut wajah mereka.
Sera menyantap makanannya sambil menatap layar ponsel miliknya. Puluhan pesan masuk namun tak satu pesan pun berasal dari Tio. Bukan Sera mengharapkan Tio untuk menjelaskan apapun kepadanya, tetapi sebagai manusia normal yang diberkahi otak bukankah Tio seharusnya, setidaknya meminta maaf?
Dari sekian banyak pesan yang masuk, ada satu buah pesan yang berasal dari nomor yang tidak Sera kenal. Sera membuka pesan itu.
“Halo Sera aku Adina, ini nomor whatsapp milikku, simpan ya!” Sera membaca pesan itu dengan wajah tak percaya. Sera berpikir mungkin wanita itu sedang gila sampai-sampai mengirim pesan seperti itu. Tanpa membalasnya, Sera melihat-lihat pesan yang lainnya, kali ini pesan dari Octa yang menyita perhatian Sera, ada 23 pesan dari Octa.
Sera membuka pesan dari Octa, semua pesannya berisi kepanikan tentang bagaimana kondisi Sera dan makian untuk Tio, jelas sekali Octa sudah mengetahui kejadian kemarin. “Octa, aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” Hanya itu balasan dari Sera.
---
Satu minggu berlalu, walaupun hati Sera belum sembuh seperti sedia kala tetapi setidaknya kini ia bisa beraktivitas seperti biasa. Sera sudah kembali tersenyum walaupun saat ia sendirian wajah murungnya akan kembali lagi. Benar, Sera masih saja sering murung, salah satu alasannya adalah pesan-pesan yang hampir setiap hari dikirimkan oleh Adina.
SKSD, sok kenal sok dekat, begitu istilah yang biasa digunakan oleh orang-orang. Adina berkali-kali mengirimkan pesan yang isinya sekadar menanyakan kabar Sera, apa yang sedang Sera lakukan, atau memuji kecantikan Sera (yang ia lihat dari foto profile Sera).
Entah apa tujuan Adina, mungkin ia ingin menunjukkan kepada Sera bahwa ia adalah wanita yang sekarang memenangkan hati Tio, dan ia adalah orang yang bisa berdamai dengan selingkuhan kekasihnya. Seperti itu?
Sungguh Sera jengah dengan segala pesan yang dikirim oleh Adina, Tentu saja Sera memiliki pilihan untuk memblokir nomor Adina, tapi entah mengapa Sera merasa dirinya akan nampak lemah jika ia memblokir nomor Adina. Jadi untuk sementara, Sera membiarkan saja pesan-pesan Adina itu terabaikan olehnya.
(Bersambung)