
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
Selamat membaca!
---
Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam ketika mereka sampai di rumah Octa. Orang tua Octa masih terjaga menunggu kedatangan mereka, menyambut di ruang keluarga.
“Om dan Tante gimana kabarnya? Saya lama ga main kesini ya..” tanya Sera.
“Iya kamu lama banget ga kesini, kami sampai kangen. Baru aja kemarin lusa saya suruh Octa ajak kamu kesini. Kami alhamdulilah sehat dan baik, orang tua kamu gimana?” tanya ibu Octa.
“Alhamdulilah baik Te”, jawab Sera.
Mereka tak banyak mengobrol dengan ibu Octa karena hari sudah semakin larut. Ibu Octa menyiapkan makanan penghangat badan, angsle, untuk dimakan bersama-sama sebelum beristirahat. Mereka menuju lantai atas tempat Octa dan teman-temannya biasa berkumpul dan bersantai.
“Nih jaket buat kamu. Sudah jangan marah soal jaket lagi ya”, Tio menyerahkan sebuah kantong plastik berukuran cukup besar kepada Sera.
Sera memandang kantong yang ada di hadapannya, itu adalah kantong yang sama dengan yang Tio bawa tadi siang, lebih tepatnya yang Tio beli tadi siang.
Sera segera membuka kantong plastik itu dan benar saja dugaan Sera sejak tadi, jaket yang dimaksud Octa adalah jaket yang sengaja dibeli oleh Tio di toko yang mereka kunjungi tadi siang. Jaket berwarna biru muda kombinasi merah muda yang sempat ditanyakan oleh Tio kepada Sera. Ukuran M, sesuai untuk Sera.
Awalnya Sera ingin menolak jaket pemberian Tio, Sera tahu berapa harga jaket itu. Bukan harga yang pantas diberikan untuk seseorang yang hanya sekedar teman, batin Sera.
“Oh oke, kalau begitu kamu nanti ga pakai jaket? Di Gunung Bromo kamu ga pakai jaket?” tanya Tio setelah mendengar penolakan dari Sera.
“Octa aku pinjam jaketmu yang hitam aja ya!” ucap Sera merajuk kepada Octa.
“Eh itu bukan jaket hangat, itu jaket kota jaket biasa. Kamu pasti kedinginan kalau pakai jaket hitam itu. Udah terima aja jaket yang dikasih sama Tio, namanya orang lagi seneng kaya dia tuh saldo dompet habis buat beli barangmu juga dia sumringah aja” Octa menyerocos panjang lebar, lelah juga menengahi dua orang yang berdebat terus karena jaket.
“Sekarang tuh yang penting kita tidur, hemat tenaga dulu yuuk” timpal Chandra sambil melemparkan diri di sofa sudut ruangan.
Merasa tidak mendapatkan dukugan dari manapun, Sera terpaksa mengalah kali ini. Sera menegaskan kepada Tio bahwa dia akan membeli jaket ini dari Tio, Sera masih menolak menerima sesuatu secara gratis. Sera masih mengomel kepada Tio selama 5 menit setelah dia mengalah akan menggunakan jaket itu.
Tio yang merasa menang sekali lagi hanya tersenyum kepada Sera, membalas senyuman sinis yang ditunjukkan oleh Sera di perjalanan tadi.
“Kamu tuh keras kepala sekali sih! Terserah kalau kamu mau bayar balik jaketnya, tapi aku ga menerima uang cash atau transfer” jawab Tio.
Sera terperanjat mendengar jawaban Tio dan melengos meninggalkannya. Lebih baik sekarang aku tidur, pikir Sera. Jika Sera masih berusaha menjawab Tio nanti akan jadi perdebatan yang panjang.
---
Alarm berbunyi pukul setengah 11 malam, Sera dan yang lainnya segera bangun dan bersiap-siap. Mereka akan pergi ke Gunung Bromo kali ini melalui Kota Pasuruan yang nantinya sampai di Desa Wonokitri, jalur ini yang paling mudah dilalui mobil dibanding jalur lainnya.
Tepat jam 11 malam mereka berpamitan kepada orang tua Octa. Chandra memegang kemudi dari rumah Octa sampai Kota Pasuruan, di Kota Pasuruan nanti Chandra akan digantikan oleh Tio sampai ke tujuan mereka.
Tio dan Sera berada di baris kedua dalam mobil. Sera merapatkan tubuhnya ke sisi mobil di sebelahnya, mencoba tidur sekali lagi karena perjalanan masih panjang. Tio berada di sebelahnya, tentu saja dengan tumpukan tas diantara mereka berdua, Sera yang menumpuknya agar menjaga jarak dari Tio. Tampaknya Sera masih belum merasa puas tentang perdebatannya dengan Tio tadi. Octa dan Chandra yang terkekeh melihat situasi ini, mereka
berkali-kali menjadikan Tio bahan candaan karena ulah Sera. Buyar sudah harapan Tio untuk pelan-pelan bergeser dekat kepada Sera di dalam perjalanan.
Separuh perjalanan sudah mereka tempuh, di Kota Pasuruan Sera dibangunkan oleh Octa untuk bertukar tempat. Sekarang Tio yang ada di belakang kemudi dan Sera ada di bangku samping kemudi. Dari sini sampai
lokasi penjualan tiket masuk nanti, Sera dan Tio yang akan terjaga. Dalam kata lain Sera harus rajin mengajak Tio mengobrol agar Tio tidak mengantuk saat berkendara.
Sera membuka satu bungkus snack kentang dan kopi yang dia beli di salah satu toko di pinggir jalan saat bertukar kursi, dan menawarkannya kepada Tio.
“Kamu mau? Kentang atau kopi?”
“Mau kentang” jawab Tio pendek. Sera menyodorkan kantong snack kentang ke arah Tio.
“Mana bisa aku makan pakai tanganku sendiri, kan aku nyetir!”, Tio merajuk kepada Sera, memberi isyarat agar disuapi oleh Sera.
“Duh biasanya juga bisa!”, jawab Sera sambil menjejalkan kentang ke dalam mulut Tio. Chandra dan Octa terbahak-bahak di bangku belakang melihat kelakuan dua orang di depan mereka.
“Sera jangan jahat-jahat donk sama aku.. Aku sudah minta maaf perkara jaket tadi kan” rengek Tio kepada Sera.
“Iya asalkan nanti aku ganti jaketnya. Aku ga biasa menerima hadiah dari orang lain apalagi yang harganya segini”, jawab Sera sambil mencoba mengingat-ingat harga jaketnya. Seingat Sera sekitar 1,5 juta.
“Iyaa nanti kamu boleh ganti uang jaketnya kalau kamu sudah kerja, oke? Sekarang kamu kan masih kuliah”
“Aku punya tabungan kok! Aku bisa transfer kamu sekarang. Mana nomor rekeningmu coba sebutin” jawab Sera ketus.
Kali ini Tio yang terdiam, mencari jawaban yang tepat agar jaket pemberiannya diterima oleh Sera.
“Begini deh, aku ga mau menerima uang untuk pembayaran jaketnya. Aku minta waktu kamu nanti setiap aku pulang cuti kerja. Gimana?” ucap Tio sambil melihat Sera sekilas.
Tentu saja Sera tidak langsung mengiyakan pertanyaan Tio. Itu sungguh permintaan yang tidak masuk akal!, Tetapi terasa menyenangkan bagi Sera. Jika Sera mengiyakan permintaan Tio berarti dia akan punya banyak waktu
bersama Tio kedepannya. Octa dan Chandra yang berada di bangku kedua sepertinya tidak bisa tidur sejak mereka melihat adegan drama yang seru di depan mata, mereka berteriak di dalam mobil menyemangati Tio yang sedang meluncurkan jurus terjitunya untuk mendekati Sera, sambil sesekali memukul pundak Tio dari belakang jika Sera sekali lagi menjawab Tio dengan ketus.
Pukul 2 pagi, Sera memperhatikan jalan sekelilingnya sambil bergidik ngeri. Rumah semakin jarang, jalan naik berbelok tajam, kanan dan kiri hanya tebing, hutan, atau jurang dalam, tidak ada lampu penerangan jalan, dan tidak ada kendaraan lain yang berbarengan atau berpapasan dengan mereka. Mungkin hari Rabu memang bukan hari favorit orang-orang untuk berwisata ke gunung. Sera membatin mungkin sudah dekat dengan Desa Wonokitri, karena udara pun sudah terasa lebih dingin daripada di Kota Pasuruan tadi.
Sera menggosokkan telapak tangannya, kedinginan. Melihat Sera nampak kedinginan Tio mematikan AC mobil. Octa dan Chandra terjaga tetapi lebih banyak diam, mereka juga tampak siaga melihat sekitaran yang sangat gelap. Musik di dalam mobil tetap berputar mengiringi perjalanan mereka, kali ini lagu dari David Cook – Always Be My Baby, Sera bersenandung kecil mengikuti lagu yang dia dengarkan agar suasana tidak terlalu sepi.
“Kamu suka lagu ini?” tanya Tio kepada Sera.
“Ya.. Lumayan..” jawab Sera.
Sepuluh menit berselang setelah lagu itu selesai, dan hutan yang tadi mereka lewati telah habis. Berganti rumah-rumah khas pedesaan dengan lampu redup menyala. Pukul 3 pagi mereka telah sampai di Desa Wonokitri, tempat para pemilik jeep menunggu tamu mereka.
(bersambung)