Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Keputusan Akhir




Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


---


Sera tertawa melihat orang yang berdiri di depannya, “Lama-kelamaan kamu seperti hantu, muncul dimana saja.”


Mario tersenyum, tentu saja dia ada dimana saja. Jika jadwal praktik Mario telah selesai, tentu saja yang ada di pikirannya adalah Sera, dan entah bagaimana Mario memiliki insting kuat tentang keberadaan Sera. Atau lebih tepatnya Mario mencari ke setiap tempat yang sering dikunjungi oleh Sera.


“Apakah aku boleh bergabung? Aku berjanji aku tidak akan berisik. Aku akan membaca juga disini. Oke?” Mario menyipitkan matanya sambil mengangkat dua jari tangannya, tanda sedang berjanji.


“Memangnya kalau aku tidak mengijinkanmu bergabung, kamu mau pergi?” Sera mengangkat sebelah alisnya sambil bertanya.


“Tidak. Aku akan tetap disini.” Jawab Mario singkat sambil menyandarkan tubuhnya di kursi dan membuka sebuah novel yang sudah ia ambil sebelum sampai di tempat duduk mereka.


Sera tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah Mario. “Hei! Bukumu terbalik! Kamu benar-benar membaca atau tidak?” Teriak Sera ketika menyadari bahwa novel yang dibaca Mario tidak pada posisi yang benar.


Mario tertawa lebar, sepertinya ia sengaja melakukannya untuk melihat apakah Sera memperhatikannya atau tidak. Hatinya sangat senang mengetahui Sera menaruh perhatian kepadanya, walaupun mungkin saja perhatiannya itu belum berupa rasa suka.


---


“Terima kasih telah menemaniku sore ini.” Ucap Sera kepada Mario. Hari sudah menjelang malam, mereka berdua memutuskan pulang ke rumah masing-masing.


Mario mengangguk, “Apakah lain kali aku boleh menemanimu lagi? Aku tidak menyangka tempat baru ini terasa sangat nyaman untuk menghabiskan waktu.” Jawab Mario.


“Boleh. Lain kali kamu yang traktir ya?” Ucap Sera bercanda yang segera dijawab dengan anggukan antusias Mario.


“Apakah kalian sudah selesai?” Tiba-tiba saja sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


Sera menatap seseorang yang baru saja berbicara kepada mereka, yang tak lain adalah Tio. “Sera aku perlu berbicara denganmu.” Ucap Tio tegas.


Mata Mario dengan cepat menatap Sera, menanti jawaban yang akan ia dengar darinya. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Ucap Sera dengan tegas. Wajah Sera seketika berubah menjadi kesal setelah melihat kedatangan Tio.


“Apakah kamu sudah membaca pesan yang aku kirim ke emailmu? Sekarang waktunya kamu mendengarkan semuanya langsung dariku!” Tio menarik tangan Sera dengan kasar. “Ikut denganku sekarang dan selesaikan masalah kita, oke?”


Belum sampai Sera menjawab ucapan Tio, kini berganti tangan Mario yang menggenggam tangan Sera. “Hei! Kau tak bisa memperlakukan seorang wanita seperti itu! Setidaknya kau harus mendengarkan jawaban dari Sera!” Wajah Mario juga nampak sangat kesal melihat tangan Sera ditarik dengan kasar oleh Tio.


“Kamu.. Lebih baik kamu pergi sekarang, ini masalah di antara kami berdua!” Nada mengancam terdengar jelas di suara Tio.


---


Sera duduk berhadapan dengan Tio. Laki-laki yang memporak porandakan hatinya satu bulan yang lalu itu kini ada di depannya. Tentu saja rasa marah kini bergemuruh di dalam hatinya. Tapi entah apa yang menahan dirinya,


ia hanya diam saja, tak mau memandang Tio sama sekali, juga tak mengucapkan apapun untuk Tio.


Setelah lima belas menit kesunyian menyelimuti mereka berdua, Tio memberanikan diri untuk berbicara. “Sera, aku datang untuk meminta maaf kepadamu langsung.”


Sera tak bergeming, tak menatap Tio sama sekali. “Kalau kamu hanya membutuhkan permintaan maaf dariku, aku sudah memaafkanmu dari dulu. Kamu tak perlu repot mencariku sampai kesini.”


Tio menundukkan wajahnya, ia kebingungan memilih kata yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya, ia ingin Sera kembali seperti dulu. “Aku tak hanya ingin meminta maaf. Aku juga ingin berbaikan denganmu, seperti sebelumnya..”


Mata kecil Sera membelalak tak percaya dengan kalimat yang baru saja ia dengar. “Maksudmu? Kamu memintaku untuk tetap menjadi orang ketiga? Kamu gila ya?!” Suara Sera meninggi, sekarang  rasa kesal terasa hampir mencekik lehernya. Sera membenci orang ketiga, dan tak akan pernah mau menjadi orang ketiga.


“Sera! Aku tidak pernah menaruhmu sebagai orang ketiga! Sejak awal ketika aku meminta nomor handphonemu kepada Octa, kamu yang utama!” Kali ini Tio terlihat sangat marah, tangannya mengepal kesal dan meninju bangku tempat Sera bersandar.


Sera merasa sangat ketakutan dengan apa yang baru saja ia lihat, baru kali ini ia melihat Tio sangat marah, frustasi, sedih dan putus asa di waktu yang sama. Sekilas Sera melihat mata Tio berkaca-kaca di sudutnya.


“Aku hanya tak mengira.. Jalannya akan begini sulit.” Tio terbata melanjutkan kalimatnya. “Aku menyesal melibatkanmu dalam masalah ini. Percayalah, aku akan segera menyelesaikan masalah kita.”


“Masalah kita? Itu hanya masalahmu sendiri, aku tidak mau terlibat.” Sera menjawab ketus. “Memangnya  apa yang kamu harapkan dariku setelah ucapan-ucapanmu tadi?” Sera bertanya kepada Tio. “Kalau kamu berniat memintaku


untuk menunggumu lagi. Maaf aku tidak bisa..” Sera menunduk sejenak untuk menguatkan dirinya, kali ini tekadnya sudah bulat, ia ingin menyudahi hubungannya dengan Tio. “Kita tak perlu lagi bertemu, kita sudah selesai sampai


disini Tio. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa..” Sera berdiri dan berbalik, ia berlari pelan menuju kendaraannya.


Detak jantung Tio seakan berhenti mendengar keputusan Sera. Segala beban yang ia terima dan ia tahan selama berbulan-bulan, terasa sia-sia. Tio tidak bisa membiarkan Sera berlalu begitu saja, Tio tak akan bisa menerima jika suatu saat ia melihat Sera bersama dengan orang lain.


Tio berdiri dan mengejar gadis itu, tangannya sigap menggengggam pergelangan tangan Sera. “Kamu kira kamu bisa menghentikanku dengan ucapanmu tadi?!” Nafas Tio tersengal menahan emosi, matanya bundar sempurna, membuat Sera semakin ketakutan. “Kamu bisa mengucapkan apapun sekarang, kamu bisa mendorongku jauh kemanapun kamu mau! Tapi aku adalah satu-satunya orang yang akan membawamu pergi dari orang tuamu nanti!”


Sera menepiskan tangan Tio dari pergelangan tangannya dan menutup telinganya, ia tak mau mendengar apapun dari Tio. Tidak akan ada ruang sedikitpun untuk ucapan manis dari lelaki itu. Kaki kecilnya berlari menuju mobilnya yang terparkir. Secepat mungkin ia melajukan kendaraannya menjauh dari Tio.


Sera berhenti di sebuah tepi jalan yang tak terlalu ramai, di bawah pohon rindang yang tenang. Tangis yang sedari tadi tertahan kini tak lagi terbendung. Tanpa ia sadari semua memori bersama Tio, sejak awal pertemuan mereka di kafe bersama Octa, terulang satu per satu di ingatannya. Sangat jelas, dan terasa sangat nyata. Perasaan yang sudah tersimpan rapi, kini kembali memenuhi ruang hati. Sera seakan tak berdaya atas perasaannya sendiri, ia bisa saja menyingkirkan Tio dari hadapannya, tetapi tidak dari hatinya.


(Bersambung)