Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Konser



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


---


Sera berdiri di sana, di sebuah acara konser musik jazz tahunan. Musik yang merdu berdentum keras tetapi nikmat untuk didengarkan. Penonton konser bergerak seiring dengan irama lagunya. Konser musik di hari ketiga itu seperti telah dinanti banyak pecinta musik jazz, kerumunan orang mulai dari yang berusia muda sampai tua tumpah ruah disana, menanti penyanyi yang menjadi idola mereka untuk tampil.


Sera memilih berdiri dekat dengan area penjaja makanan, tak cukup berani untuk berdiri tepat di depan panggung. Sera takut ia akan terpisah dari kawannya yang menemani Sera menonton acara ini. Sera juga tak cukup nyali untuk berdesak-desakan, yang penting baginya adalah, ia bisa mendengarkan lagunya dan ikut menyanyi walau lirih saja. Soal wajah sang idola yang tak nampak jelas itu tidaklah mengapa. Ada sebuah layar besar di samping


panggung yang selalu menyorot penyanyi dan kru panggung.


Sera menyanyi lirih mengikuti lirik lagu, ia begitu terhanyut sampai suatu ketika seseorang menabrak Sera dengan tidak sengaja. Membuat minuman yang Sera genggam terjatuh dan membasahi jeans yang ia pakai.


“Aduh!” pekik Sera tertahan\, Sera menatap celana *jeans-*nya yang kini sedikit basah. Sera tak sempat menatap siapa orang yang menabraknya tadi\, namun orang yang telah menabrak Sera nampaknya merasa bersalah\, ia menyodorkan sebuah sapu tangan kepada Sera sambil meminta maaf.


“Oh! Maafkan aku, aku tidak sengaja!” ucap seseorang. Sera menengadah untuk melihat siapakah yang menyodorkan sapu tangan kepadanya. Seorang laki-laki mengenakan topi, kaos putih dan celana jeans, wajahnya nampak khawatir sambil menatap Sera. “Apakah kamu tidak apa-apa? Maafkan aku..” ucapnya sekali lagi.


Sera mengibas-ngibaskan air yang membasahi celananya, “Oh gapapa kok gapapa.. Santai.” Jawab Sera singkat. “Kamu ga perlu memberiku sapu tangan, aku membawa tissue kering di dalam tasku.” Lanjut Sera.


“Oh begitu..” Laki-laki itu menarik lagi sapu tangan miliknya. “Ehm.. Tapi aku tetap ingin memberimu sapu tangan ini. Ada nomor handphoneku disini.” Laki-laki itu menggaruk kepalanya, salah tingkah, dan tersipu malu menatap Sera. “Atau, bolehkah aku meminta nomor handphonemu?”


Sera nampak kebingungan dengan permintaan laki-laki tak dikenal yang sedang berdiri di hadapannya. Belum sampai Sera mengerti maksud laki-laki itu, sebuah tangan menggandeng lengan Sera dengan tiba-tiba.


“Nona, ada baiknya kamu menyembunyikan sedikit aura cantikmu kalau sedang sendirian. Aku hanya meninggalkanmu sepuluh menit dan aku sudah mendapatkan saingan baru.” Suara Mario terdengar dari belakang Sera. “Maaf ya, tapi dia sudah bersamaku.” Ucap Mario pelan dan tegas.


Telinga Sera memerah malu, Sera menunduk tak mengucapkan apapun, dan laki-laki yang hendak meminta nomor handphonenya tadi beringsut pergi setelah meminta maaf kepada Mario.


Mario melirik celana jeans Sera yang terkena air, tangan Sera menutupinya. Letak basahnya cukup strategis untuk membuat Sera nampak seperti orang yang telah mengompol. “Kamu diam dulu ya..” ucap Mario kepada Sera. Mario melepaskan jaket kain yang ia gunakan, dan membungkuk di depan Sera. Mario melingkarkan jaketnya di pinggang Sera dan mengikatnya rapat-rapat agar tak terjatuh.


“Sudah aku tutupi, kamu tak perlu menutupinya menggunakan tanganmu.” Ucap Mario. Sera berterima kasih kepada Mario. Telinganya masih merah karena rasa malu yang masih hinggap di hatinya. “Kamu demam? Wajahmu merah.” Mario meletakkan telapak tangannya di kening Sera, dengan segera Sera menepisnya.


“Hei sudah cukup! Aku malu, begitu saja kamu tak tahu!” jawab Sera, Mario tersenyum mendengarnya.


“Nanti kalau aku mau beli makanan lagi, kamu harus ikut denganku. Bahaya sekali meninggalkanmu sendiri di tempat ramai begini, satu orang sainganku saja sudah cukup membuat repot. Aku tak mau punya banyak saingan.” Ucap Mario sambil berbisik di telinga Sera agar Sera mendengarnya dengan jelas. Sera memilih untuk mengacuhkannya sambil memakan snack yang Mario bawakan untuknya tadi.


Semakin malam penonton konser semakin memadati area di sekitar panggung. Tidak banyak tempat kosong, dan banyak pengunjung berdesak-desakan. Tak heran, sebentar lagi bintang utama hari itu akan segera tampil. Sera kini mundur perlahan, menghindari orang-orang yang memaksa maju ke depan panggung. Walaupun Sera adalah salah satu penggemar penyanyi utama yang akan tampil, ia tak suka berdesakan seperti itu. Tanpa Sera sadari Mario beringsut mundur di belakang Sera dan melingkarkan kedua lengannya di samping lengan Sera. Kini Sera terjaga dari desakan orang-orang dan tak perlu berpindah mundur untuk menghindari orang-orang.


Jantung Sera hampir tak bisa menyembunyikan suara degupan yang semakin kencang, Sera harus menekan erat-erat dadanya menggunakan kedua telapak tangan miliknya agar Mario tak mendengarnya. Fokus Sera kepada panggung telah lenyap sekalipun sang bintang panggung mengalunkan lagu kesukaan Sera.


Mario terasa sangat dekat, terlalu dekat. Bahkan aroma tubuhnya tercium kuat walaupun Sera tak berhadapan dengan Mario. Kini Mario bahkan berani meletakkan dagunya di atas kepala Sera sambil melantunkan lagu perlahan, sepertinya ia larut dalam suasana konser malam itu.


---


“Halo hun..” ucap Tio pelan di seberang.


“Halo? Tio? Tumben sekali kamu menelepon aku jam segini?” jawab Sera yang masih kebingungan.


“Hmm..” hanya itu yang Tio ucapkan.


“Kamu masih di tempat kerja? Masih lembur?” Sera bertanya antusias. “Tio kapan kamu akan kembali ke Surabaya lagi?”


“Entahlah..”


Sera merasa ada sesuatu yang salah dengan Tio. Mengapa Tio tiba-tiba tak banyak bicara? Tak seperti biasanya. Sera hanya diam saja, menunggu  Tio mengatakan sesuatu. Bagaimanapun Tio yang menghubungi Sera terlebih dahulu, pasti ada yang ingin ia sampaikan kepada Sera.


Agak lama mereka saling diam sebelum akhirnya Tio berbicara, “Kemarin kemana kamu pergi?”


Deg! Sera mendapatkan serangan jantung mendadak setelah mendengar pertanyaan Tio.


“Kemarin? Kemarin pagi sampai siang aku ga kemana-mana Tio..” ucap Sera.


“Sore sampai malam?” Tio melanjutkan pertanyaannya.


“Sore sampai malam.. aku pergi melihat konser musik jazz tahunan..” Sera baru saja ingat kalau ia sama sekali tak berpamitan kepada Tio tentang kepergiannya melihat konser kemarin. Tentu saja karena Sera tak ingin Tio menanyakan dengan siapa ia menonton konser itu.


Tio diam sangat lama, membuat Sera semakin merasa bersalah. “Tio? Kamu masih disana?”


“Hmm..” hanya itu yang diucapkan Tio.


“Apakah kamu marah karena aku tidak berpamitan kepadamu kemarin?” Sera meremas jarinya sambil menunggu jawaban dari Tio.


“Enggak, aku ga punya hak marah seperti yang pernah kamu bilang. Kamu punya hidupmu sendiri.” Akhirnya Tio mengucapkan kalimat panjang dalam percakapan mereka kali ini.


“Eeng maaf karena aku ga bilang sebelumnya..” ucap Sera pelan.


“Hun, kamu ga perlu meminta maaf.” Hening sekali lagi, hening yang membuat Sera frustasi. “Kamu pergi kesana bersama dengan siapa?” Lanjut Tio.


Nafas Sera tertahan seketika mendengar pertanyaan Tio. Haruskah ia berbohong atau berkata jujur saja?