
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Orang bilang pembalasan yang paling menyakitkan untuk orang lain yang menyakiti kita adalah membiarkan mereka melihat kita bahagia. Mungkin hal itu juga yang kini sedang dilakukan oleh Sera. Alih-alih ia menghujani Tio dengan ungkapan sakit hati dan amarah, atau memblokirnya dari semua kontak miliknya, Sera membiarkan Tio menatapi setiap postingan yang diunggah oleh Sera di sosial media miliknya. Tio menyukai setiap postingan Sera sampai detik itu, dan kini Sera memanfaatkannya untuk menunjukkan bahwa Sera ‘baik-baik saja’.
Kini Sera lebih sering mengunggah foto dirinya saat sedang berjalan-jalan, mengunjungi tempat yang asyik seperti kafe baru, dan juga foto selfienya menggunakan make up. Sera lebih sering berdandan daripada biasanya untuk menyenangkan dirinya. Tak satu pun unggahannya terlewatkan oleh Tio, pertanda bahwa Tio masih memantau setiap gerak-gerik Sera melalui sosial medianya.
Lalu bagaimana dengan Adina? Gadis galau itu masih saja menghubungi Sera dengan rutin, bahkan kadang Adina mengajak Sera mengobrol layaknya teman yang tak memiliki masalah sebelumnya. Sesekali Sera membalas pesan singkat Adina, hanya untuk pertanyaan penting saja. Karena belakangan Adina sering menanyakan desain rumah dan Sera memang berada di jurusan arsitek, sepertinya ia sengaja mencari topik pembicaraan dengan Sera. Adina juga sangat rajin mengganti foto profilnya bersama Tio kemudian mengirim pesan kepada Sera, entah apa maksudnya. Tak sekalipun Sera membuka foto-foto itu.
Dua minggu berlalu setelah kejadian itu, Sera tengah mengisi waktu sendirinya dengan bersantai di sebuah kafe perpustakaan. Kafe baru yang menyuguhkan nuansa perpustakaan ala Livraria Lello, salah satu perpustakaan di Portugal, yang menjadi salah satu inspirasi perpustakaan di film sihir terkenal sepanjang masa, IHarry Potter.
Pemilik kafe membuatnya sangat mirip dengan yang asli, pintu masuk ala eropa dihias dengan huruf romawi, di dalamnya berjajar rak buku terbuat dari kayu menjulang di kanan dan kiri dinding, penuh dengan buku-buku berbagai genre. Di ujung ruangan kafe terdapat sebuah jendela yang sangat besar. Perbedaannya dengan kafe Livraria Lello yang asli hanya pada ukuran kafe yang lebih kecil dan ada meja kursi kayu berderet di tengah kafe untuk pengunjung yang ingin menikmati makanannya sambil membaca buku.
Sera memilih sebuah meja dan kursi yang hanya bisa digunakan satu orang saja, di pojok ruangan dekat dengan rak buku fiksi dan jendela besar itu. Ia tidak ingin diganggu oleh tatapan orang-orang yang menganggap aneh dirinya karena pergi sendirian ke tempat itu.
Tepat saat Sera menikmati sebuah buku bertema detektif dan sepiring kentang goreng di mejanya, sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya. Dari Adina.
Dengan malas Sera mengangkat telepon dari Adina, “Halo?”
Suara Adina terdengar di ujung telepon, sedang menangis. “Halo.. Sera..” Adina berusaha menata nafasnya sebelum melanjutkan. “Sera, saat ini aku sedang berada di bandara.. Aku ingin pergi ke Jakarta..”
Sera terheran-heran dengan apa yang diucapkan oleh Adina. Apa kaitannya semua ini dengannya? Namun sebelum Sera menanyakannya kepada Adina, ia mendapatkan jawaban terlebih dulu. “Aku capek dengan Tio, aku
merasa sakit hati waktu aku tahu dia masih menyimpan foto kalian berdua.. Dan aku baru saja melihat sebuah pesan panjang yang Tio kirim kepadamu.” Adina terisak sekali lagi. “Pokoknya aku mau ke Jakarta sendirian sekarang..” Adina menangis lagi.
Sera melongo mendengarkan curhatan Adina kepada dirinya, ‘orang ketiga’ di antara hubungan Adina dengan Tio. “Tapi aku tak pernah lagi berhubungan dengan Tio. Ini tidak ada kaitannya denganku.” Ucap Sera dingin. “Dan aku juga tak menerima pesan apapun dari Tio.”
“Aku tahu.. Aku hanya tak punya tempat untuk bercerita.. Maka dari itu aku meneleponmu..” Adina bercerita di antara isak tangisnya.
Sera mmenghela nafas, “Pulanglah.. Untuk apa juga kamu pergi seperti ini. Tak akan menyelesaikan masalahmu bersama Tio.” Sera berucap dengan santai, sedih di hatinya kini tak sebesar dua minggu yang lalu. “Aku tak ingin terlibat masalah dengan kalian berdua lagi. Pembicaraan kita cukup disini saja. Aku sedang sibuk, Adina.” Setelah mendengarkan ucapan Sera, Adina pamit dan menutup teleponnya.
---
Tiga minggu berlalu, ketika Sera sudah merasa lebih baik sekarang, Sera menyanggupi dirinya untuk bertemu dengan Octa. Sejak awal masalah dirinya dengan Tio bermula, Sera sama sekali tak mengijinkan Octa untuk datang ke rumahnya, dan juga tak mau bertemu dengannya diluar rumah.
“Oke Octa, di kafe seperti biasanya ya..” Pesan itu dikirimkan kepada Octa setelah Octa berkali-kali memintanya untuk bertemu.
Musim hujan belum juga pergi dari kota pahlawan Surabaya. Sera memakai sweater hangat warna merah bata dan celana jeans abu muda. Semua yang ingin ia sampaikan kepada Octa sudah tersusun rapi di dalam otaknya. Bagaimanapun juga, persahabatannya dengan Octa tak boleh rusak karena kesalahan Tio.
Sera memarkir mobilnya dan berlari kecil menuju kafe. Octa sudah berada disana terlebih dulu, di bangku biasanya. Wajahnya nampak sangat senang saat melihat Sera datang dan melambaikan tangan.
“Oh astaga aku sungguh kangen sis!” Teriak Octa sambil mengguncangkan pundak Sera. “Hmm, kamu terlihat lebih kurus..” ucap Octa melihat tubuh Sera.
“Aku sedang diet, persiapan mendaftar sebagai anggota girl band.” Jawab Sera bercanda sambil tersenyum leba yang disambut tawa oleh Octa.
“Hei sis, kenapa kamu menolak bertemu denganku berkali-kali. Aku benar-benar merasa bersalah kalau kamu bersikap seperti itu..” Rengak Octa kepada Sera.
“Hei jangan berkata seperti itu. Aku hanya butuh waktu sendirian sebentar saja. Yang penting sekarang kita sudah bertemu kan?” Jawab Sera. “Eenng, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Jawablah dengan jujur oke?" Octa mengangguk tanda setuju. "Apa kamu sebenarnya sudah tahu tentang Tio sebelum aku mengetahuinya?” Sera memberanikan diri bertanya kepada Octa.
“Hmm…” Octa nampak berhati-hati memilih kata. “Iya, aku sudah tahu. Tapi Tio memaksaku untuk tidak memberitahukannya kepadamu. Dia bilang dia ingin menyelesaikannya sendiri. Aku sebagai orang luar, aku ga bisa bicara apapun selain memaksanya cepat menyelesaikan masalah kalian berdua.” Jawab Octa. “Tapi Sera, Tio memiliki alasannya mengapa dia melakukan itu..”
Sera sudah menduga Octa akan mengetahuinya sebelum dirinya. Tapi untuk urusan alasan Tio melakukannya, Sera tidak tahu. “Alasan apa yang mengharuskan dia mencari orang ketiga di hubungannya?” Wajah Sera berubah dingin sejenak.
“Adina itu tergila-gila dengan Tio, sejak tahun lalu. Dia beberapa kali meminta Tio menjadi kekasihnya, tetapi tak kunjung diterima oleh Tio. Bukan hanya karena Tio tak menyukainya, tetapi tindakan Adina kadang sangat ekstrim sampai menyulitkan orang tuanya dan juga Tio.” Wajah Octa terihat sangat sebal di akhir kalimatnya.
“Apa maksudmu dengan ekstrim? Memangnya Adina melakukan apa?” Tiba-tiba saja rasa penasaran menguasai pikiran Sera.
“Persiapkan dirimu karena mungkin saja kamu akan merasa muak sepertiku setelah mendengarnya.” Octa menyeringai kepada Sera.
(Bersambung)