Que Sera, Seraphina

Que Sera, Seraphina
Masa Lalu Tio



Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran,  dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^


Selamat membaca!


---


Sera memandang foto itu cukup lama. Dia wanita yang cantik. Rambutnya lurus tergerai, wajahnya nampak sangat ceria. Tio juga terlihat sangat bahagia, dia memeluk wanita itu dari samping. Dalam foto itu mereka tengah berlibur bersama di Candi Borobudur. Foto Tio dan mantan kekasihnya.


Sera melihat tanggal foto itu terupload, sudah 4 tahun yang lalu. Tidak hanya foto itu saja, ada banyak foto mereka berdua disana, sepertinya mereka benar-benar banyak menghabiskan waktu bersama-sama, tentu saja karena pada saat itu Tio masih ada di Surabaya. Sedangkan Sera saat ini ingin mendengar suara Tio saja terasa sangat sulit.


Rasa ingin tahu Sera bertambah, dia melihat ada akun milik sang wanita yang mengomentari salah satu foto milik Tio. Sera memberanikan diri membuka profile akun itu. Dan akun mantan kekasih Tio terkunci\, hanya menunjukkan sebuah foto *profile-*nya saat duduk berdua di pelaminan\, bersama orang lain\, bukan Tio. Pasti perasaan Tio sangat hancur\, mungkin Tio enggan membuka sosial medianya karena dia tidak ingin melihat foto mantan kekasihnya.


Cukup Sera, ini sudah lebih dari cukup. Foto masa lalu Tio tidak perlu menjadi beban karena sudah jelas mereka tidak bersama lagi. Foto itu masih ada disana mungkin karena Tio tidak pernah membuka lagi akun yang dia miliki. Ya, pasti karena itu.


---


Handphone Sera berdering, Sera segera menghampiri dan mengangkatnya. Suara Tio dari kejauhan terdengar.


“Hun, kamu lagi sibuk kah?” tanya Tio.


“Hm? Enggak kok Yo. Ada apa?”


“Besok bisa jemput aku di bandara? Besok jam 12 siang aku landing di terminal satu. Kamu bisa kan?”


“Iya bisa Tio! Kamu udah bisa libur ya? Berapa hari?” ucap Sera sangat senang.


“Satu minggu aja hun, oke deh sampai besok ya, aku lanjut dulu kerjanya. Ga bisa lama-lama masih ada kerjaan. See you hun.”


Tut. Tio telah menutup teleponnya. Sera berguling-guling sambil tersenyum di tempat tidurnya, besok mereka akan


bertemu, mungkin akan lebih banyak waktu untuk mengobrol dan pergi bersama.


---


Pagi sebelum subuh Sera sudah tidak bisa memejamkan mata lagi. Hari ini dia akan bertemu dengan Tio, Sera yang akan menjemputnya. Kemarin Tio memintanya untuk membawa mobil saat menjemput Tio. Itu berarti Sera harus mengantarkan Tio sampai rumah, itu berarti Sera akan bertemu dengan orang tua Tio. Memikirkannya sungguh membuat berdebar-debar.


Jam 6 pagi Sera sudah selesai mandi, kini dia memilah-milah baju apa yang akan dia pakai. Sera membutuhkan waktu dua jam sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengenakan dress kasual berbahan washed jeans warna biru tua selutut. Untuk make up pun Sera ingin nampak lebih cantik dibanding biasanya, dia mengeluarkan kotak make up yang jarang dia gunakan. Sera memakai cushion yang biasanya hanya dia pakai untuk acara formal, menggunakan sedikit blush on berwarna pink agar terlihat lebih segar, memakai eyeliner, pensil alis dan tentu saja lipcream pink muda kesukaannya. Perfect! Sera menatap rambutnya di kaca, dan mulai menatanya. Kali ini Sera membuat hair bun di atas kepalanya, dengan poni samping dan  beberapa helai rambut dia biarkan menutupi sebagian telinga.


Sera berlari kecil menuju gerbang kedatangan di bandara, takut akan terlambat. Sesampainya disana Sera meneliti jam kedatangan pesawat Tio yang ternyata tertunda selama 30 menit. Sera melihat handphone dan baru membaca bahwa Tio sudah memberitahunya sebelum berangkat tentang pesawatnya yang tertunda. Sera bernafas lega, setidaknya dia tidak terlambat, dia memutuskan untuk menunggu di bangku pengunjung sambil menikmati camilan yang dia bawa.


Sebuah tangan menepuk pundak Sera, membuat Sera terkaget. Belum 10 menit berlalu, pesawat Tio belum mendarat. Siapa? Sera menoleh dan mendapati Mario berdiri di sampingnya. Mario tersenyum lebar, sungguh menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Sera segera berdiri untuk memberikan salam.


“Halo Kak Mario. Apa kabar? Kak Mario lagi jemput seseorang?” tanya Sera.


“Iya, aku jemput mamaku. Kamu jemput siapa? Aku boleh duduk disini?” Mario menunjuk kursi di sebelah Sera duduk.


“Iya iya Kak boleh. Ayo duduk! Oh aku jemput teman, nanti pesawatnya mendarat jam setengah 1. Pesawat yang dinaiki mama Kak Mario mendarat jam berapa?”


“Oh gitu.. Pesawat mama mendarat jam 1 nanti, dari Jakarta.” Ucap Mario sambil menunjuk papan jadwal pesawat. “Kamu hari ini istimewa sekali, tadi aku sampai hampir ga mengenalimu. Aku baru yakin kalau itu kamu setelah mendekat. Kamu sangat mirip dengan.. hmm.. siapa ya itu namanya?” Agak lama Mario mengingat siapa yang dia maksud.


“Ha? Mirip siapa Kak?”


“Ah! Lisa Blackpink!” ucap Mario.


“Wow! Kakak penggemar Blackpink?! Kakak tahu personil Blackpink? Ga nyangka dokter yang sibuk pun bisa tahu tentang Blackpink hahahaha!” Sera tertawa terpingkal mengetahui sisi lain Mario.


“Bukan donk! Aku ini cuma korban adikku.. Aku punya adik seumuran kamu, eehm mungkin usianya di bawah kamu satu tahun. Dia penggemar segala hal yang berbau Korea Selatan, termasuk drama Korea dan penyanyinya. Kalau sudah punya keinginan terkait artis Korea, dia pasti memohon-mohon padaku. Entah tiket konser, album, atau merchandise. Mau bagaimanapun aku jadi tahu sedikit. Tapi kamu kali ini beneran deh, kamu mirip banget sama Lisa Blackpink!” Mario menjelaskan panjang lebar.


Sera meringis mendengar ucapan Mario, “Aku seneng dibilang mirip sama Lisa Blackpink, nah Mbak Lisanya yang eneg dibilang mirip sama aku.” Mario tertawa mendengar kelakar Sera.


Sera tidak menyangka bisa banyak bercanda dengan Mario, sebelumnya Sera merasa sangat sungkan dan tidak bisa tertawa lepas. Apa mungkin karena sebelumnya Sera merasa memiliki hutang kepada Mario?


Tidak terasa sudah 40 menit mereka banyak mengobrol, Sera tidak menyadarinya sampai seseorang menarik tangannya dengan kasar. Tanpa Sera ketahui Tio sudah ada di depannya, wajahnya terlihat tidak senang.


“Kamu ga lihat handphone kamu?!” ucap Tio.


“Astaga maaf Yo, aku ga sengaja silent HP-ku tadi! Tapi aku sudah bilang ke kamu kalau aku sudah sampai dan menunggu di bangku pengunjung.” Sera merasa panik karena Tio bertemu dengan Mario.


“Oke! Ayo pergi..” ucap Tio singkat. Wajahnya masih dingin, sepertinya Tio benar-benar marah. Sera meminta maaf kepada Mario karena harus pergi terlebih dahulu dan berpamitan. Mario tersenyum kepada Sera, dan melihat dua orang itu berlalu pergi bergandengan tangan. Atau lebih tepatnya Tio menarik tangan Sera menjauh dari Mario.


(Bersambung)