
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
Selamat membaca!
---
Sera sudah sembuh, sudah dua hari ini dia mengejar lagi sang dosen pembimbing. Tiga minggu terlewati tanpa menyentuh tugas akhir kuliahnya, Sera merasa sangat merugi. Tio sudah kembali ke kota rantau setelah setiap hari duduk di depan rumah Sera, dan hubungan mereka masih seperti itu saja, Tio tidak menyatakan perasaannya. Sera tidak mau ambil pusing, sejak awal memang dia yang meminta semuanya mengalir seperti air. Toh baru dekat 3 bulan ini, batin Sera.
Sore itu Sera berjalan santai keluar dari kampusnya, menuju tempat motor terparkir. Mau kemana dia hari ini? Sera masih belum memiliki rencana. Sepertinya Sera ingin menghabiskan sore di cafe biasanya, sudah lama tidak menikmati croissant isi coklat yang masih panas. Toh di rumah tidak ada siapa-siapa selain Bibi.
Sera mengendarai motornya menuju cafe yang jaraknya hanyalah 15 menit dari kampusnya. Masih jam setengah 4 sore, waktu yang pas untuk sebuah cemilan. Sera berjalan masuk ke dalam cafe dan duduk di kursi biasanya. Mengikat rambutnya menjadi sebuah cepol di kepala belakang, dan membiarkan rambut yang tidak menurut jatuh di samping telinganya. Sera memesan menu seperti biasa yang pelayan cafe juga sudah hafal.
“Headset.. Headset..” Sera mengaduk-aduk isi tasnya sambil mencari. Sera ingin menikmati camilan sore sambil mendengarkan banyak lagu. Sepuluh menit berlalu dan pesanan Sera datang.
Pintu cafe terbuka, seseorang melangkah masuk sambil tersenyum. Hari ini dia datang, batin orang itu. Kali ini dia tidak hanya memandangnya dari jauh, kali ini dia bertekad memberanikan diri untuk menyapa gadis yang sedang duduk sendirian itu.
Sebuah cangkir berisi kopi Americano diletakkan di atas meja Sera. “Boleh gabung?” tanya seseorang, membuat Sera tersentak kaget.
“Hm?! Kak Mario? Sejak kapan ada disini?” ucap Sera masih kaget.
“Baru datang, aku lihat kamu sendirian, boleh gabung?” Mario mengulang pertanyaannya. Sera tersenyum mengangguk dan melepaskan headset dari telinganya.
Sera dan Mario berbincang di cafe, Sera merekomendasikan banyak makanan yang patut dicoba disana, yang dijawab antusias oleh Mario. Sera tidak tahu, Mario sudah mencicipi semua kue dan makanan yang ada di cafe itu. Sebenarnya Mario sudah lebih dulu sering mendatangi cafe ini, hanya saja Sera tidak menyadarinya. Sera seperti masuk ke dalam dunianya sendiri jika dia sudah duduk di sudut ruangan dan melihat keluar jendela.
“Memang enak ya croissant disini, pantas saja kamu rekomendasikan yang ini”, ucap Mario yang telah memesan croissant yang sama dengan Sera.
“Iya benar kan? Enak banget, di dalamnya ada coklat meleleh. Brownies atau cookiesnya juga enak kok! Coba Kak Mario pesan kalau mau.”
“Hmm boleh, tapi lain kali kalau kesini lagi deh aku cobanya. Kamu sering disini ya?”
“Iya sering banget kesini, sampai pelayan cafenya hafal apa yang aku pesen. Kadang aku datang kesini bareng teman.”
“Apa kamu lagi janjian dengan temanmu?” tanya Mario.
“Hmm enggak enggak.. Aku lagi ingin santai sore mendadak, jadi aku ga ajak temen.”
“Loh lagi pengen sendirian toh? Berarti aku ganggu kamu donk?”
“Aduuh enggak kok Kak.. Aku malah seneng ketemu di tempat begini, jadi bisa sharing rekomendasi kue kan haha!
Oh iya Kak, aku masih punya hutang ke Kak Mario. Apa ga ada barang yang Kak Mario butuh sekarang?” Sera teringat pada kerusakan mobil Mario yang belum dia ganti.
“Sudah lunas, titik.” Jawab Mario singkat.
“Aduh jangan begitu Kak.. Aku ga suka merasa ada hutang budi. Yasudah aku carikan buku buat Kakak ya, kitab suci buat dokter anak. Mau? Kata ibuku Kakak spesialis dokter anak..” ucap Sera.
“Oh ayolah Kak. Harus aku bayar balik hutang budiku..” Sera mulai merengek, membuat Mario menjadi meleleh.
“Oke, boleh. Temenin nonton bioskop, atau enggak sama sekali! Ada film yang aku pengen tonton” Mario akhirnya menjawab tegas.
Sera melirik tajam Mario, wajahnya tidak senang. Untuk sesaat Mario merasa agak takut, takut membuat Sera kecewa.
“Oke!” Sera menjawab Mario. Hanya nonton berdua, setelah itu selesai, pikir Sera.
---
Sera berlari kecil keluar dari rumahnya setelah mengambil handphonenya yang tertinggal, Mario sudah menunggu di depan gerbang. Sera memakai dress kasual dan sepatu converse warna merah. Dua hari yang lalu di cafe, mereka membuat janji akan pergi bersama hari ini.
Sera berputar mengelilingi mobil, memperhatikan bagian mobil Mario yang telah diserempet oleh Sera, sudah kembali seperti semula. Setelahnya Sera bergegas masuk ke dalam mobil. Mario tersenyum melihat tingkah laku Sera.
Mobil melaju menembus macetnya Kota Surabaya, Mario menyetir dengan hati-hati. Agak sulit bagi Sera membuka percakapan dengan Mario, mungkin karena usia mereka agak terpaut jauh. Sera melirik ke arah Mario, baru kali ini Sera melihat Mario memakai baju santai, biasanya Mario mengenakan kemeja kerja, celana jeans dan sepatu fantovel. Kali ini Mario memakai kaos polos berwarna hitam dan jeans selutut. Rambutnya tidak lagi tertata rapi klimis, sekarang tertata tetapi acak-acakan, dan memakai kacamata yang bingkainya tebal. Penampilannya terlihat sangat muda dibanding dengan usianya. Pantesan perawat di rumah sakit waktu itu senyum-senyum salah tingkah melihat Kak Mario, pikir Sera.
“Kenapa diem aja?” tanya Mario.
“Enggak apa-apa, takut ganggu Kak Mario fokus nyetir.. Btw Kak Mario pakai parfum yang white musk ya?”
“Ga masalah Sera, malah kalo sepi aku nanti mengantuk. Iya betul, kamu kok bisa hafal? Suka yang ini juga? Btw, kamu sudah pamit ke pacar?”Mario iseng bertanya, sambil memastikan.
“Kak Mario lagi bercanda? Aku sudah jawab waktu itu, aku ga punya pacar.. Iya aku suka white musk.” jawab Sera sambil melirik tajam ke arah Mario.
“Sori ya sori, aku cuma tanya lagi biar ga ada yang marah nanti”, jawab Mario sambil tertawa melihat ekspresi Sera.
Setiap ada pertanyaan seperti itu, Sera teringat kepada Tio. Tetapi mereka memang belum memiliki komitmen walaupun Tio pernah mencium Sera, karena alasan itu juga Sera mengiyakan ajakan Mario, tidak ada ikatan apapun antara Sera dan Tio.
---
“Jadi Mbak Sera pilih yang mana?” Bibi berbisik dari samping Sera ketika Sera melihat Mario pergi dari pintu gerbang. Sera terlonjak kaget.
“Hah? Apa Bi? Apanya pilih yang mana?” Sera menjawab sewot.
“Mas Tio ganteng, Mas Mario ganteng banget, dua-duanya mapan, dua-duanya oke.. Astaga Bibi ikut pusing nih Mbak Sera” ucap Bibi sambil memegang kepalanya.
“Yaah si Bibi, ada obat pusing di kotak obat Bi!” Sera membalas ucapan Bibi sambil mencubit lengan Bibi yang gemuk.
“Mbak Sera mah cantik, tinggal pilih yang mana aja semua oke! Cuma kalau sama Mas Tio ya harus hati-hati, jaga hati jaga pikiran soalnya jaraknya jauh, ya kan?”
Sera tidak membalas ucapan Bibi, apa yang Bibi bilang benar. Pasti berat kalau menjalin hubungan serius dengan Tio, berat menahan rindu, berat di ongkos, dan juga berat di beban pikiran. Sera menggelengkan kepala tidak mau
ambil pusing, sekali lagi mencubit lengan Bibi, lalu segera masuk ke dalam rumah.
(Bersambung)