
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
Selamat membaca!
---
“Biayanya 0.” Jawab Mario masih dengan tersenyum, menunjukkan lesung pipit yang kemarin membuat perawat rumah sakit jatuh hati.
“Eh?” Sera menatap Mario dengan wajah tidak percaya.
“Iya biayanya 0, aku sudah menyampaikannya pada Ibumu di rumah sakit, aku tidak meminta biaya apapun. Aku juga heran kenapa kamu masih membahas soal biaya kerugian” ucap Mario sambil tertawa.
Sera merasa bingung, Ibu Sera memang kemarin hanya berkata semua sudah beres, sudah selesai. Tetapi Sera tidak mengira bahwa selesai yang ibunya maksud adalah selesai sekaligus tentang ganti ruginya.
“Oh gitu, hehe aku ga tahu soal ini. Ibu ga kasih tahu..”
“Hmm terus kalau gitu, Kak Mario ada yang lain yang mau disampaikan ke aku?” tanya Sera.
“Iya Sera, pertama aku pengen lihat kondisimu langsung, kalo lihat kakimu sepertinya kamu bisa jalan tanpa alat bantu sekitar 1 minggu lagi. Kalau kamu ga banyak gerak bisa lebih cepat.”
“Kedua, aku memang ga meminta ganti rugi biaya perbaikan mobil, tetapi aku ingin meminta ganti rugi yang lain. Tentu dengan seijin kamu..” jawab Mario.
“Ganti rugi apa kalau boleh tahu Kak?” tanya Sera dengan wajah penuh tanya.
“Aku minta waktumu, boleh?”
“Maaf Kak aku ga paham” jawab Sera sambil tersenyum, masih penuh tanya dalam benaknya.
“Begini Sera, aku minta waktumu beberapa kali aja, untuk nemenin aku.. Mungkin jalan-jalan atau nemenin aku belanja atau lainnya. Aku minta waktumu. Tentu saja kalau kamu berkenan, dan kamu ga ada pacar. Apa kamu punya pacar saat ini?”
Sera merasa malu setelah mendengar permintaan Mario, dia kebingungan akan menjawab apa.
“Aku ga bisa jawab sekarang permintaan Kak Mario ini. Tolong kasih aku waktu buat berpikir ya Kak.. Toh aku juga ga bisa kemana-mana saat ini,” jawab Sera.
“Apa kamu sudah punya pacar?” tanya Mario sekali lagi untuk menegaskan.
“A.. Aku.. Ga punya”, jawab Sera, ada perasaan getir ketika dia menjawab, sosok Tio terlintas di benaknya. Kali ini jawaban Sera membuat Mario tersenyum, mungkin karena merasa memiliki kesempatan.
“Aku nunggu jawaban kamu lewat chat whatsapp.”
Ibu Sera telah sampai di rumah dan ikut mengobrol bersama Sera dan Mario. Dari sini Sera baru tahu bahwa Mario dan Ibunya adalah rekan kerja di salah satu rumah sakit tempat Ibu Sera praktek. Mereka sudah saling kenal sebelumnya. Pantas saja, pikir Sera, mereka tampak akrab untuk ukuran orang asing.
---
Dua hari sudah terlewati sejak Mario datang ke rumah, dua hari juga Sera menimbang-nimbang alasan apa yang akan dia gunakan untuk menolak permintaan Mario, dan hari ini Sera sudah menetapkan jawabannya. Kali ini dia menghubungi Mario lebih dulu.
“Selamat sore, Kak Mario”, Sera mengirimkan pesannya sambil berpikir bagaimana respon Mario nanti.
“Halo Sera, gimana kondisi kaki dan tangannya?” sambut Mario.
“Baik Kak, sudah ga terasa ngilu..”
“Kak, aku mau ngomongin soal permintaanmu.”
“Oh oke.. Jadi gimana?” tanya Mario dengan emoticon senyum.
“Sebelumnya aku minta maaf ya Kak, tapi aku ga bisa. Apa bisa kalau aku ganti biaya perbaikan aja?” ucap Sera, agak berdebar menunggu jawaban dari Mario.
“Hmm jadi begitu.. Yah sedih sekali aku.”
“Maaf ya Kak, maaf sekali lagi.. Tolong aku gantinya biaya perbaikan aja ya.” kali ini Sera memohon.
“Gapapa Sera, ga usah ganti biaya ya.. Sebenernya ga banyak kok biaya gantinya. Dan sudah selesai semua perbaikan, mobil itu sudah aku pakai lagi. Kamu ga perlu ganti..”
Sera semakin merasa tak enak kali ini, tapi dia tak punya pilihan lainnya. Dia tidak ingin jalan-jalan atau meluangkan waktu untuk orang lain. Tapi jika dia tak mengganti dengan apapun, dia semakin merasa bersalah. Sepertinya Sera harus memikirkan suatu cara untuk menghapus rasa bersalahnya.
---
“Apa ini surprise yang lain?” tanya Sera, melihat Tio ada di depannya. Sore itu Tio tiba-tiba muncul di rumah Sera tanpa memberi kabar apapun.
“Enggak Hun, kamu yang kasih aku surprise kali ini.” jawab Tio sambil memperhatikan lutut dan tangan Sera yang terbalut perban. Sera sudah tidak menggunakan alat bantu untuk berjalan, dia sudah bisa berjalan tanpa itu.
“Iya, nanti aku bisa kaya raya dengan bakat ini” balas Sera sambil tertawa.
“Yuk masuk.”
Tio datang satu minggu lebih cepat dari cuti yang dia ajukan. Tio bercerita bahwa semua pekerjaan yang mungkin akan menundanya pulang telah dia selesaikan, dengan cepat. Tio mengambil lembur sebanyak yang dia bisa dan sekarang dia bisa cuti lebih lama, 2 minggu. Sebenarnya Tio memakai suatu alasan bohong untuk mengambil libur, yang tidak dia ceritakan kepada Sera.
Dua hari berikutnya Tio selalu datang ke rumah Sera setiap sore, tanpa diminta. Pemandangan Tio dan Sera yang tengah mengobrol di kursi santai depan rumah kini menjadi hal yang biasa bagi Bibi. Tentu saja ini menjadi bahan ledekan dari Bibi untuk Sera setiap hari.
“Hun, besok ayo ikut aku” ucap Tio suatu sore.
“Mau kemana?” tanya Sera.
“Ada tempat yang ingin aku kunjungi, sekalian aku mau cek kondisi kesehatan. Aku rutin cek kesehatan minimal setahun sekali.”
“Oke, besok jam berapa?”
“Jam 10 aku kesini jemput kamu ya..”
---
Keesokan paginya, Tio datang di rumah Sera jam setengah 8 pagi dengan membawa tiga bungkus makanan, nasi krawu kesukaan Tio. Dua bungkus untuk Tio, satu bungkus untuk Sera.
“Tio aku sudah makan, aku ga bisa makan lagi” ucap Sera menolak.
“Kok gitu? Harus mau donk.. Kamu bisa sarapan setiap hari tapi ga setiap hari sarapannya sama aku. Ini tuh bagus buat kesehatan kan kamu lagi masa penyembuhan” balas Tio.
Sera menyerah mendengar ucapan Tio, dia setuju menemani Tio makan sekali lagi. Tio menepuk perutnya yang kekenyangan, membuat Sera tertawa melihatnya.
Selepas sarapan bersama, Sera bersiap-siap untuk pergi bersama Tio.
“Kita mau kemana sih?” tanya Sera saat mereka sudah berada di dalam mobil.
“Ke klinik kesehatan Hun, mau check up” jawab Tio santai.
“Iya aku tahu kamu sudah bilang kemarin, tapi ini kemana?” Sera penasaran karena mobil yang mereka naiki masuk ke dalam tol. Sepertinya menuju keluar kota.
“Ada deh.. Nanti juga kamu tahu.”
“Masukin playlist kamu donk di HP-ku. Lagu-lagu kesukaanmu” Tio menyerahkan handphonenya kepada Sera.
Sera mencoba mengingat-ingat beberapa lagu yang paling dia sukai dan yang akhir-akhir ini sering dia dengarkan. Sebelum mengembalikan handphone kepada Tio, Sera sempat melirik wallpaper di handphone Tio, sebuah foto candid siluet dirinya dan Tio saat berada di Gunung Bromo. Foto dari belakang, Sera tidak tahu ada foto ini, mungkin Octa yang memotret tanpa sepengetahuannya.
“Tio, aku mau donk foto ini” ucap Sera sambil mengembalikan handphone Tio.
“Ada syaratnya..” jawab Tio singkat. Sekarang salah satu musik kesukaan Sera mengalun di mobil.
“Apa syaratnya?” Sera bertanya balik.
“Panggil aku, Hun”
“Silahkan bermimpi..” balas Sera sambil membuang muka. Tio sangat tidak peka, mana mungkin Sera tidak mau memanggil dia dengan panggilan itu. Sera hanya merasa mereka belum resmi berpacaran, Tio belum menyatakan perasaannya kepada Sera. Mungkin karena mereka belum lama bertemu.
Sera bersenandung kecil sepanjang perjalanan, sesekali bercanda dengan Tio. Mereka menempuh perjalanan selama satu jam setengah sampai akhirnya mobil Tio berhenti di sebuah tempat. Sera menengok keluar jendela, ada sebuah klinik kesehatan dan minimarket bersebelahan. Sera terheran-heran mengapa harus ke klinik kesehatan yang tempatnya jauh begini, bukankah di Surabaya ada banyak klinik kesehatan yang lebih besar.
Tio mengajak Sera masuk ke dalam klinik kesehatan tersebut, dia mendaftar, menyelesaikan administrasi, dan mengantri. Dalam waktu sebentar saja Tio sudah dipanggil ke dalam untuk melakukan tes.
"Tunggu disini sebentar ya Hun.." ucap Tio. Sera hanya menganggukkan kepala sambil duduk di kursi yang telah tersedia. Dalam 20 menit, Tio sudah keluar lagi.
"Yuk makan siang, disini ada tempat makan bagus", Tio menarik tangan Sera.
"Hasil tesnya gimana?"
"Masih menunggu 1-2 jam lagi, sambil nunggu yuk kita makan", Sera mengikuti Tio dari belakang.
Mereka berdua keluar dari klinik dan langsung berbelok ke kiri, di samping klinik tersebut ada sebuah jalan menurun, dari jauh tampak seperti kebun bunga. Pelan-pelan Sera mengamati tempat rimbun tersebut yang ternyata adalah sebuah tempat makan, jalan setapak di depan pintu masuk terbuat dari kayu, kanan dan kirinya adalah tanaman rimbun setinggi pundak Sera yang tengah berbunga banyak, warna kuning dan jingga. Yang menarik lagi dari tempat ini adalah, ada banyak lebah di antara tanaman itu. Sera awalnya tampak ketakutan dengan lebah-lebah yang ada disana, kemudian Tio menggenggam tangan Sera.
"Jangan sampai memukul dan menginjak lebah ya.." Tio berkata sambil tersenyum.
Sera hanya membalas dengan senyuman, Sera tengah terpesona dengan kebun di sekitarnya, dan juga oleh pria di depannya. Kini dia menyiapkan hati, surprise apalagi yang akan diberikan Tio nanti.
(Bersambung)