
Hai! Terima kasih banyak karena telah mendukung author dengan terus membaca novel ini. Author berharap para pembaca sekalian juga berkenan memberikan like, komentar, kritik saran, dan vote untuk novel ini. Semua dukungan dari kamu sungguh berarti bagi author ^^
---
Dalam perjalanan menuju ke rumah Sera, Tio dibuat pusing oleh pertanyaan Sera. Pertanyaan sederhana, Sera hanya menanyakan mengapa Tio tidak lagi banyak menghubungi Sera. Chat jarang dibalas dengan cepat, jikapun membalas pasti sangat malam. Telepon? Dulu Tio sangat sering menelepon Sera, hampir setiap malam. Tapi satu bulan terakhir Tio hampir tidak pernah menelepon Sera.
Tio seperti memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menjawab.
“Sebenarnya ga ada apa-apa hun, cuma memang akhir-akhir ini tugasku agak berlebihan.” Hanya begitu? Alasannya hanya itu? Bukankah jika hanya itu harusnya Tio bisa memberitahu langsung tanpa berpikir lama. Sera agak tidak percaya dengan apa yang diucapkan Tio, tetapi dia bisa apa selain percaya. Sera tidak berkata apa-apa, penjelasan dari Tio kurang masuk akal. Memangnya ada pekerjaan yang memakan waktu sampai 17 jam?
Tio tahu Sera tidak percaya kepadanya, jadi dia menjelaskan lebih lanjut. “Ini ada kaitannya dengan keinginanku untuk pindah ke Kota Surabaya hun. Jika ingin cepat pindah, aku harus menyelesaikan lebih banyak tugas dan juga lebih dekat dengan atasanku disana, agar beliau mau merekomendasikan aku saat ada penggiliran karyawan. Semua karyawan yang ada disana mengincar posisi di Pulau Jawa karena rata-rata mereka memang berasal dari daerah-daerah di Pulau Jawa. Sedangkan kuota karyawan di Pulau Jawa juga terbatas.”
Penjelasan Tio barusan masuk akal bagi Sera, ada banyak teman-teman Sera yang juga memiliki pengalaman yang sama seperti Tio.
“Oooh begitu..” ucap Sera lirih. “Tapi beneran sampai hampir setiap hari kamu pulang selarut itu? Pasti melelahkan sekali.”
“Iya, kalau sudah urusan pekerjaan ya mau bagaimanapun kita harus konsisten dan bertanggung jawab kan? Toh disana aku ga ada saudara, teman juga hanya teman kantor. Mau jalan-jalan juga sama siapa hun, teman-teman kantor pulang kerja pun sudah sama-sama lelah. Mungkin hanya sesekali kami makan bersama waktu pulang kerja. Tapi akhir-akhir ini yah aku lebih jarang ikut jalan dengan teman-teman. Waktu libur hanya satu hari dalam satu minggu, aku memanfaatkan untuk istirahat. Kalau soal jalan-jalan kan aku bisa jalan-jalan sama kamu waktu di Surabaya.” Ucap Tio sambil tersenyum menggoda Sera.
Tak lama berselang Tio melihat handphonenya bordering, ada telepon dari ibunya. Tio mengangkat telepon dari ibunya, dan menjelaskan bahwa dia sedang berada dalam perjalanan mengantar Sera pulang ke rumah. Tak lupa Sera berpamitan melalui telepon karena tak sempat berpamitan langsung. Sebelum menutup teleponnya, ibu Tio meminta Sera datang lagi besok, tetapi ditolak oleh Tio, Sera tidak tahu mengapa Tio menolak, dia bahkan tidak
bertanya kepada Sera.
---
Sera sampai rumah tepat pukul 6 tadi sore, dan sekarang sudah jam 9 malam, Sera sudah memakai piyama pendeknya dan bersegera menarik selimut ketika tiba-tiba bel pintu berbunyi. Terdengar suara langkah Bibi mendatangi pintu.
“Oh Mbak Octa sama Mas Tio, mari masuk.. Saya panggilkan Mbak Sera dulu.”
Bibi mengetuk pintu kamar Sera, “Siapa Bi?” tanya Sera sambil membuka pintu.
“Lah bagaimana sih Mbak Sera ini, apa ga janjian sama Mas Tio sama Mbak Octa? Tuh mereka datang!” ucap Bibi.
“Hah?!” teriak Sera sambil berlari ke ruang tamu. “Apa lagi ini? Surprise lagi? Hei ini sudah malam kalian kenapa keluyuran astaga!” pekik Sera setelah dia melihat sendiri Octa dan Tio tengah tersenyum lebar di ruang tamu. Tak lama ayah dan ibu Sera ikut ke ruang tamu menemui mereka.
Octa hanya tersenyum sambil berkata, “Om, Tante, permisi hehe.. Yang tadi itu loh Om.” Dibalas oleh anggukan kepala dari ayah Sera.
“Apa yang tadi? Ada apa?” tanya Sera.
“Apa? Ke Batu sekarang? Mau ngapain malam begini kesana?” Sera tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sera bergantian melihat Octa dan ayahnya, tetapi mereka hanya menertawakan Sera.
---
Sera masih tidak percaya, bibirnya mengerucut karena sebal. Setengah jam yang lalu dia sedang berlindung di balik selimut hangatnya dan sekarang dia harus ikut Tio, Octa dan Chandra ke kota sebelah. Bukannya Sera tidak senang, tetapi Sera hanya jengkel karena dia selalu tidak dilibatkan dalam perencanaan. Apalagi saat mengingat Octa sudah mendatangi rumahnya dan berpamitan kepada ayah serta ibu Sera tanpa mengabari Sera.
“Eh kamu kan enak tinggal tahu jadi aja, tinggal berangkat, kenapa kamu yang ngambek begitu?” ledek Chandra.
“Tauk ah!” bentak Sera.
“Eh cantik-cantik galak amat! Wah Tio kamu yakin ini sama cewek galak begini? Pikirkan masa depanmu baik-baik Yo!” Octa dan Chandra tertawa terbahak dari bangku belakang. Tio hanya tersenyum melihat mereka.
“Yakin donk, yang galak begini yang nggemesin kan?” jawab Tio sambil mengelus kepala Sera, membuat pipi Sera memerah karena malu. “Kamu tidur aja hun, lumayan kan ada waktu untuk nyicil tidur, nanti kita bangunkan sampai sana.” Tidak ada jawaban dari Sera, dia hanya membuang muka melihat ke arah jendela, menyembunyikan rasa malu yang mungkin muncul di wajahnya.
Kendaraan yang mereka naiki telah meluncur selama dua jam lebih, udara sudah mulai terasa lebih dingin daripada sebelumnya, itu tandanya mereka sudah sampai di Kota Batu. Sera melihat dari jendela kelap-kelip lampu hias yang bergantungan di rumah makan atau kafe sepanjang jalan yang mereka lewati. Setiap weekend tiba, tidak ada istilah malam yang sepi bagi Kota Batu. Jalanan masih terlihat sangat ramai, banyak anak muda berlalu lalang
bersama pasangan atau teman-temannya.
Tio berhenti di sebuah kafe bertema rustic yang dikelilingi hutan pinus, ada banyak lampu kuning tergantung berjajar rapi sebagai penerang sekaligus hiasan. Kafe outdoor ini terletak di sebuah bukit, di sisi kanan pengunjung bisa menikmati pemandangan kota yang terletak di bawahnya, di sisi lain pengunjung terasa sangat dekat dengan pepohonan pinus yang berbaris rapi.
Octa bersorak melihat destinasi mereka, begitu turun dari mobil dia langsung menarik tangan Sera, ingin segera berfoto bersama. Setelah mereka saling foto mereka menuju sebuah meja panjang yang bertanda “telah dipesan”, rupanya mereka sudah memesan meja sebelumnya. Melihat ramainya kafe ini memang akan mustahil jika datang langsung tanpa memesan meja, semua bangku telah penuh dan sepertinya semua orang belum berniat pulang. Dengan kata lain tidak ada bangku kosong.
Musik akustik yang merdu mengalun membuat suasana menjadi lebih syahdu, ada live music disana setiap hari Sabtu dan Minggu malam. Dapur kafe terbuat dari kontainer besar yang disulap menjadi dapur sekaligus kasir bernuansa vintage. Pelayan kafe yang terdiri dari anak-anak muda terlihat mondar-mandir mengantar pesanan para tamu. Sungguh kafe yang sangat menarik.
Sera menyeruput pelan minuman kesukaannya, latte panas dengan whip cream di atas. Dia berlama-lama menggenggam cangkir kecil itu, berharap hangatnya bisa berpindah ke tangannya.
“Kamu suka hun?” Tio bertanya kepada Sera.
“He em, suka sekali! Aku pernah melihat tempat ini di sosial media, tetapi aku tidak tahu tempatnya dimana. Aku ga menyangka kamu ngajak aku kesini..” jawab Sera.
Ketika mereka masih menunggu camilan diantarkan, Octa pamit mengambil tas miliknya yang ternyata tertinggal di mobil. Octa meminta Chandra untuk mengantarkan. Mereka berdua berjalan diantara keramaian pengunjung. Tak lama kemudian samar-samar Sera mendengar ada suara orang asing yang sepertinya memanggil namanya. Sera melihat sekitar dan ternyata penyanyi akustik yang ada di panggung, meminta dia untuk datang ke panggung. Ada apa?
(Bersambung)