PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab 9



MURID BARU



Malam itu di kediaman pasutri Maheswara dan Maheswari. Tampak sekali, keluarga itu sedang berkumpul. Mereka sedang berbincang-bincang mengenai sesuatu.


"Selamat, nak? Kau diterima di sekolah itu." ucap Maheswari memberi selamat.


"Terima kasih, ibu." ucap Putri Dyandra.


"Besok, kau sudah bisa masuk sekolah. Bagaimana, perasaanmu?"


"Aku cukup senang, ibu. Ternyata, menyusup ke dalam sekolah itu sangat mudah."


"Iya, tapi kamu harus tetap hati-hati ya nak? Jangan, sampai ketahuan!"


"Baiklah, ibu jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja." ucapnya menenangkan perasaan ibunya.


"Baiklah, nak sudah larut malam. Apa kau tidak ingin istirahat?" ucap Maheswara tiba-tiba.


"Aku tidak akan tidur. Jika, ayah dan ibu ingin istirahat pergilah beristirahat. Sedang aku ingin bersemedi di kamarku." ucap Putri Dyandra.


"Baiklah, kalau begitu. Ingat, besok adalah hari pertamamu masuk sekolah. Jangan, lupa siapkan segala keperluan sekolahmu." ucap Maheswari mengingatkan.


"Baiklah, ibu, ayah." ucapnya tersenyum kemudian menghilang meninggalkan bau harum bunga mawar. Melihat, putrinya sudah pergi. Mereka pun juga menghilang. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Dalam sekejap Putri Dyandra sudah ada di dalam kamarnya. Ia pun lalu duduk di sisi tempat tidur. Tatapannya jauh menerawang. Kemudian ia pun memanggil pengawal setianya, Lady.


"Lady"


Dalam sekejap orang yg di panggil hadir.


"Hamba, My Princess." ucap Lady sambil membungkuk memberi hormat.


"Bagaimana, dengan hasil penyelidikanmu!" tanyanya tegas.


"Sejauh ini tidak ada pergerakan apa pun, My Princess." ucap Lady tenang.


"Baiklah, tetap awasi!" perintahnya.


"Laksanakan!" ucap Lady kemudian menghilang dari pandangan, pergi entah kemana. Yang jelas ia tetap waspada akan setiap hal yg akan terjadi. Karena, memang itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Melindungi, menjaga dan menjalankan setiap perintah yg di berikan. Sesuai, dengan janjinya ketika pertama kalinya mereka bertemu. Bahwa, ia akan patuh dan setia juga rela mengabdi kepada Putri Dyandra selama-lamanya. Setelah, sebelumnya Putri Dyandra menolongnya ketika ia terluka karena pukulan di dada karena ulah Mediline. Sebenarnya bukan kali pertama bagi Lady tapi kali kedua. Kali pertama saat dia mendapat perintah dari Mediline untuk membunuh Putri Dyandra yg pada saat itu masih gadis ingusan, dan tak tahu apa-apa. Beruntung, bagi Putri Dyandra yg pada saat itu Pangeran Shan tiba di saat yg tepat menyelamatkannya. Sehingga, tidak menyebabkan rasa penyesalan di hati Lady. Dan, kali kedua saat ia terluka dan Putri Dyandralah yg menolongnya. Sedangkan, bagi Putri Dyandra merupakan kali pertama karena memang ia belum pernah bertemu dengan Lady sekalipun. Ia bertemu dengan Lady secara tak sengaja ketika ia pergi bersama Chio hendak ke dunia manusia.Tapi, kemudian malah nyasar dan bertemu dengan Lady yg sedang terluka di tengah hutan dalam keadaan sekarat. Melihat ada seseorang yg terluka, Putri Dyandra tidak tega melihatnya. Ia pun langsung menolong Lady tanpa pikir panjang lagi. Sejak saat itulah, Lady mengucapkan sumpah setianya kepada Putri Dyandra yg di saksikan oleh Chio sendiri.



Suara kicau burung terdengar bersahut-sahutan. Pagi datang menyapa bersama matahari yg bersinar cerah. Putri Dyandra menatap garasi milik ayah angkatnya, Maheswara. Ia tengah memperhatikan inci demi inci garasi tersebut. Lalu, ia melangkahkan kakinya menuju garasi tersebut. Membuka pintu garasi dan kemudian menyingkap kain putih yg menutupi sesuatu benda yg ada di hadapannya.Terlihatlah, sebuah sepeda motor berukuran besar ada di hadapannya. Ia memandang penuh takjub benda tersebut benar-benar masih seperti dahulu saat ia meninggalkannya.


"Ibu yg selalu menyimpannya dan merawatnya." ucap Maheswari kepadanya.


"Ah, ibu?"


"Ibu tahu, suatu saat nanti kau pasti akan kembali. Jadi, ibu selalu memperhatikan benda kesayanganmu."


"Sama-sama, nak? Apakah, kau berniat naik motor ke sekolah." tanya ibunya.


"Menurut ibu?" jawabnya.


"Nak, kau tidak akan membuat ibu datang ke kantor polisi lagi kan???"


Putri Dyandra diam tak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil memakai semua perlengkapan keamanan seperti saat dulu. Seperti memakai jaket kulit, celana panjang kulit yg berwarna hitam senada dengan warna jaketnya. Tak lupa sarung tangan dan terakhir helm. Sebelum, pergi ia mengatakan sesuatu kepada ibunya. Setelah, ia menghidupkan mesin sepeda motornya.


"Tidak bu? Kali ini aku akan berlomba dengan angin." ucapnya seraya melesat bersama sepeda motornya.


"Heiii...." teriak Maheswara kepada Putri Dyandra.


"Baby, kenapa kau biarkan putri kita naik sepeda motor?" ucapnya kepada istrinya.


"My Husband, wis rapopo toh! Lha, wong bocah iku wis gedhe juga. Wis arek tuo." jawabnya.


"Arek tuo pewe. Dia iku esek bocah. Kenopo, kowe ke'i izin karo bocah iku," ucapnya sengit.


"Lha, kalo ndak saiki yo kapan meneh dia belajar dewasa, ya toh?" ucap istrinya sambil mencubit hidung suaminya. Yg dicubit hanya bisa pasrah saja.


"Sebenarnya, aku mau mengantarnya ke sekolah." ucapnya akhirnya jujur.


"Aku tahu! Maka, dari itu beri dia sedikit tanggung jawab. Okey?"


"Baiklah, baby?" ucapnya sambil menarik istrinya dalam pelukannya.



Suara deru mesin terdengar bersahut-sahutan di jalan raya. Putri Dyandra semakin memacu sepeda motornya lebih kencang. Seperti yg ia katakan ia berlomba dengan angin. Ia sangat fokus dengan jalanan di depannya. Bahkan, saking kencangnya ia hampir saja menabrak mobil merah yg ada di depnnya. Namun, dengan gerak reflek ia melewati mobil di depannya dengan cara terbang di atas mobil merah itu. Setelah, ia melewati mobil merah tersebut ia pun berhenti. Ia membuka kaca helmnya lalu ia melihat kebelakang. Terlihat olehnya dari kaca depan mobil itu, àda 4 sekawan yg berada dalam 1 mobil tersebut. Mereka tak lain adalah Felipe dan teman-temannya. Mereka jadi terpelongo dengan aksi yg dilakukan oleh pengendara sepeda motor itu yg tak lain adalah Putri Dyandra alias Alanis. Melihat, 4 orang itu terbengong dengan aksinya tadi ia pun mengacungkan jari jempol ke arah 4 sekawan itu. Pertama jari jempol itu mengarah ke atas lalu kemudian memutar ke bawah. Yg artinya Putri Dyandra menganggap 4 sekawan itu sangat buruk. Lalu, ia pun tancap gas kembali menembus jalanan menuju sekolahnya. Melihat pengendara itu berbuat demikian. Seketika, membuat darah Felipe mendidih. Sontak saja ia pun juga tancap gas untuk mengejar pengendara tadi namun, ia tak berhasil mengejarnya karena mereka terjebak macet dan juga beberapa kali terhalang lampu merah. Ia mengumpat penuh kekesalan.


"Sial!" umpatnya.


Ia memaki dirinya sendiri karena tak bisa mengejar pengendara tadi yg meremehkannya. Sementara, Putri Dyandra sudah sampai di sekolah Amora. Ia langsung memakirkan sepeda motornya di area pelataran parkir yg disediakan disana. Perlahan, ia membuka helm yg dipakainya, jaket dan celana panjang yg dipakainya tadi. Untuk menutupi seragam sekolah yg dipakainya. Ia sembaranf saja membukanya karena tidak ada satu pun makhluk disana alias masih sepi. Ia lalu menyimpan semua perlengkapan tadi di dalam tasnya. Ia lalu memperhatikan seluruh keadaan di sekolah itu sebelum akhinya melangkah pergi sambil menyandang tas ransel tersebut.




☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆