PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab 18



CIUMAN PANAS FELIPE



Malam semakin larut. Ribuan bintang-bintang bertebaran di langit. Langit malam gelap dan kelabu menemani malam seorang lelaki tampan yg sedang memegang kantong berwarna ungu. Pemberian seorang gadis cantik yg 2 hari ini mencuri perhatiannya. Ia duduk di dekat daun jendela. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyuman. Ya, laki-laki ini bila dilihat secara keseluruhan tidak jauh berbeda dengan laki-laki lainnya bila sedang kasmaran. Tapi, bila sudah marah ia berubah menjadi seseorang yg sangat menakutkan. Dan, yg menjadi pelampiasan amarah dan kekesalannya adalah Emily, pelayannya.


Ia sedang tersenyum senang menimang-nimang kantong tersebut. Dan, sudah berkali-kali ia mencium wangi mawar dari kantong tersebut. Seakan-akan ia sedang mencumbu, gadis itu.


"Alanis Maheswara. Kau membuatku, gila!" ucapnya dalam keheningan.


"Setelah, aku mendapatkanmu. Aku tidak akan melepasmu!!!" ucapnya sembari meremas-remas kantong tersebut.


Mico, yg melihatnya sejak tadi dari pintu kamar Felipe hanya tersenyum saja melihat tingkah Felipe yg seperti orang gila.


"Heh! Orang gila." ucapnya yg kemudian tak diindahkan oleh Felipe.


Felipe diam tak menggubris kata-kata Mico barusan.


"Lama-lama, kau bisa masuk rumah sakit jiwa Felipe. Berhentilah bertingkah seperti itu!" ucap Mico mengingatkan.


Mendengar apa yg dikatakan oleh Mico membuat Felipe jadi jengkel juga.


"Hei....Mico! Diam kau!!!" hardik Felipe.


"Felipe, bodoh! Itu hanya kantong biasa, tapi kau menciuminya terus seperti kau mencium seorang gadis." ucap Mico mengejek.


"Kantong biasa, katamu! Kalau, ini kantong biasa aku tak akan menciumnya seperti ini." ucap Felipe memberitahu.


"Oh, ya? Jadi, katakan padaku gadis gila mana yg memberikan kantong itu padamu!" ucap Mico ingin tahu.


"Gadis gila? Jadi, kamu mau tahu gadis gila mana yg memberikan kantong ini padaku?"


"Iya"


"Sungguh kau ingin tahu, Mico?"


Mico tersenyum miring seolah mengejek.


"Pemilik, kantong ini adalah Alanis Maheswara." ucap Felipe memberitahu.


"APA!!! Alanis? Gadis cantik populer itu?"


Seketika senyum itu pun menghilang dari bibir Mico.


"Ya"


"Felipe, sini! Berikan, kantong itu padaku!" ucap Mico sambi melangkah perlahan kearah Felipe yg sedang duduk di jendela. Sejenak, ia melirik tempat tidur baru di ruangan kamar Felipe.


"Eyyy....tempat tidur baru???" ucap hati Mico.


"Vampir satu ini, benar-benar sudah gila. Sejak kapan, ia tidur di tempat tidur?" ucap hati Mico lagi. Pada saat ia sedang bicara dengan hatinya sendiri tiba-tiba saja ia mendengar Felipe menghardiknya.


"Enak saja, kau!!! Dia sendiri yg memberikannya padaku!!! Kenapa, kau heboh?" ucap Felipe menolak.


"Felipe!!!"


"Ck.....BERISIK!!! Apa, kau mau berebut lagi denganku??? MIMPI!!!" ucap Felipe marah sambil mencengkeram kerah baju Mico.


"Kalau, Alanis wanitanya.Tentu saja, aku mau berebut lagi denganmu!" ucap Mico sambil mencoba melepas cengkeraman tangan Felipe di kerah bajunya.


"Mico, kau benar-benar KURANG AJAR. Kau selalu mencari masalah denganku!!!" ucap Felipe mempererat cengkeramannya di kerah baju Mico hingga membuat baju itu robek. Melihat baju Mico robek Felipe pun melepas cengkeramannya.


"Sekarang, PERGI!!!" ucapnya dengan nada marah.


"Baiklah, kali ini aku mengalah. Tapi, tidak untuk lain kali." ucapnya dengan mengepalkan tangannya dan segera pergi dari sana.


Setelah, Mico pergi Felipe menumpahkan kemarahannya pada dinding tembok di kamarnya.


"Bruk"


Dinding itu retak dan membentuk lubang.


Darah segar mengalir di kepalan tangannya itu.


Emily yg melihat kejadian itu setelah Mico meninggalkan kamar itu. Menjadi terkejut!


Buru-buru ia menghampiri Felipe, tuannya.


"Tuan!" panggilnya panik.


Felipe diam.


"Tuan, berdarah?" ucapnya.


Felipe tetap diam, sambil mencoba menenangkan amarah tadi yg menguasai dirinya. Samar, ia mencium bau wangi menguar dari tubuh Emily. Sejenak, ia menghirup bau wangi itu. Sambil membayangkan yg ada di hadapannya itu adalah Alanis bukan Emily.


"Baumu, enak!" ucapnya tiba-tiba pada Emily.


"Tu....tuan???" ucap Emily takut


"Emily, cium aku!!!" perintahnya.


"Tidak, tuan?" Emily menolak.


"Apa!!! Kau berani menolakku?" ucapnya kepada Emily setengah berteriak.


"Tuan, jangan! Saya, tidak berani menolak Anda. Tapi, saya cuma seorang pelayan." ucapnya lirih.


"Heh, apa kau pikir aku mau kau cium? Hmm...., jika bukan karena baumu wangi. Masa bodoh, aku tidak akan pernah mau dicium olehmu!!! Sekarang, lakukan perintahku!!! Atau kau, MATI!!!" ucapnya sambil mengancam Emily.


"Hik...hu...hu...., tuan? Jangan, tuan???" Emily menangis.


"Kalau kau tidak mau mati, cepat cium aku!!!" ucap Felipe membentak Emily.


"Iya, tuan?" ucap Emily kemudian mulai mencium Felipe tapi bukan di bibir melainkan di pipi.


"Bukan, disitu bodoh!!!" bentaknya lagi.


"Disini!!! Dibibirku!!! Ayo, cepat! Lama sekali!!!" ucapnya lagi sambil menarik Emily dalam pelukannya. Emily terkejut bukan main. Namun, ia tak bisa menolak.


"Tu...tuan?" ucapnya.


"Diam!!! Kau tak boleh menolak!!!" Sekarang, lakukan!!!" ucapnya lagi.


Emily melakukan ciuman itu. Namun, ia cuma mengecup bibir Felipe membuat Felipe kecewa.


"Bodoh!!! Apa, kau tidak pernah ciuman sebelumnya???" ucapnya marah sementara ia tetap memeluk Emily.


"Sebelumnya tidak pernah tuan, tapi pertama kali saya ciuman waktu tuan memaksa saya waktu itu." jelasnya.


"Oh, ya? Jadi, itukah ciuman pertamamu?" tanyanya dengan raut wajah senang.


"Iya, tuan!" ucap Emily dengan kepala tertunduk malu.


"Hei....., kenapa menunduk begitu. Sini, pandang aku!" ucap Felipe sambil mengangkat dagu Emily.


"Akan, aku ajarkan caranya ciuman!!!" ucap Felipe yg membuat Emily membelalakkan matanya.


"Apa!!!" ucapnya terkejut.


Namun, sebelum ia berbicara sepatah kata lagi Felipe sudah mencium bibirnya dengan lembut. Ciuman Felipe kali ini berbeda jika dibandingkan dengan ciumannya waktu ia memaksa Emily. Ciumannya kali ini panas membara dan penuh nafsu juga gairah cinta. Ia memagut bibir Emily membuat Emily mendesah karenanya.


"Ahhh...emmm....uhhh...hhhh....."


Setelah, dirasa cukup puas Felipe pun melepaskan bibirnya dari bibir Emily.


"Wow...reaksimu itu benar-benar nakal ya?" ucap Felipe membuat wajah Emily merah.


"Sekarang, bagaimana kalau di atas ranjang." ucapnya lagi sambil mengecup kening Emily dan menggendong tubuh Emily ke tempat tidur.


"Kemarin, ma'af aku membuat tubuhmu sakit. Tapi, sekarang tidak akan sakit lagi." ucapnya lagi sambil memagut kembali bibir Emily. Kembali Emily mendesah penuh gairah.


"sshhh...ahhh...tu....an...."


Katanya diantara desahan nafasnya yg terdengar tersengal-sengal. Sementara, Felipe semakin aktif. Ciumannya turun ke leher jenjang milik Emily. Ia meninggalkan bekas merah di leher Emily. Bukan hanya satu tapi lebih membuat Emily semakin tidak dapat mengontrol suaranya lagi. Sedangkan, Felipe ia sudah tidak peduli lagi dengan teriakan dan erangan kenikmatan yg keluar dari bibir pelayannya.


"Tuan....aakhh....sakit tuan...." ucapnya dengan nafas memburu. Mereka semakin tenggelam dalam gelora asmara yg membara. Felipe tampak sangat aktif dan ahli menyentuh titik sensitif Emily. Membuat Emily semakin bergelora, dan teriakannya semakin keras hingga terdengar sampai keluar kamar membuat siapa saja yg mendengarnya jadi malu dan greget sendiri.




☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆