
PERTEMUAN DUA SAHABAT
"Alanis???"
Kalyana alias Bianca sangat terkejut melihat kehadiran teman sekolahnya. Lebih, terkejut lagi ternyata Alanis bukanlah orang sembarangan. Terbukti ia sanggup mengalahkan dua bangsa Darah tersebut bahkan membuat mereka lari tunggang langgang karena tak mau mati konyol. Alanis mendekati Bianca yg sedang terluka parah. Ia lalu memeriksa keadaan Bianca.
"Lukamu, cukup parah Bianca?"
"Oh, namaku Kalyana!"
"Kau Kalyana atau pun Bianca sama saja bagiku." ucap Alanis sambil tersenyum.
"Melihatmu, tanpa kacamata begini. Membuatku benar-benar sedikit pangling. Kau pintar juga menyembunyikan jati dirimu." ucap Alanis sambil membalurkan bubuk obat pada tubuh Bianca yg terluka.
"Kau juga sama! Kau juga pintar menyembunyikannya. Tak ada yg menyangka ternyata kau adalah seorang Putri." ucap Bianca ketika mendengar percakapan Alanis dan Lady tadi.
"Hm, simpan ya? Ini adalah rahasia kita. Manusia mana pun tidak boleh mengetahuinya." ucapnya.
"Apakah, termasuk kaumku?" tanyanya gamang.
"Sebenarnya, tidak termasuk sih? Tapi, terhadap manusia biasa. Selain, kaummu." ucap Alanis menambahkan.
"Oh"
"Di sekolah, kau rela di buli oleh Gaby dan teman-temannya." ucap Alanis dengan nada sedikit tak suka.
"Yah, mau bagaimana lagi. Demi, kepanjangan hidup umat manusia mau tak mau aku harus melakukannya."
"Bianca! Kau hebat! Aku salut padamu!" ucap Alanis dengan mata berkaca-kaca.
"Kau juga! Bahkan, kau lebih hebat dariku." ucap Bianca.
"Peluk???" ucap Alanis sambil mengulurkan tangannya. Bianca bingung bagaimana harus memeluk Alanis. Sedangkan, ia sedang terluka parah.
"Oh, maafkan aku! Aku tidak sadar, kau sedang terluka!" ucap Alanis.
"Itu, sudah biasa." ucap Bianca lagi.
"Bisakah, berdiri? Aku dan Lady akan mengantarmu kembali ke tempat kaummu." ucap Alanis.
"Bisa kalau kau mau memapahku." ucap Bianca.
"Baiklah, Lady? Ayo, bantu aku!" ucapnya kemudian pada Lady yg sejak tadi diam memperhatikan tingkah laku kedua sahabat yg sudah lama terpisahkan tersebut. Lady pun mengerti dengan tanggap dan sigap ia membantu junjungannya itu memapah Bianca berdiri.
"Ah, terima kasih Alanis, Lady!" ucap Bianca sambil menahan sakit di seluruh tubuhnya.
"Tunjukkan, dimana arah rumahmu tinggal." ucap Alanis pada Bianca.
"Disana, di sebelah biasanya matahari terbit." ucap Bianca memberitahu.
"Oh, baiklah. Pejamkan matamu, Bianca. Ayo, Lady." ucapnya pada Lady lalu tangan mereka menyentuh punggung Bianca dan dalam sekejap tubuh mereka pun menghilang. Tak, butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di sebuah tempat perkampungan suatu kaum. Bangunannya sangat khas sekali dengan daun rumbia dan juga tepas. Dinding bangunan tersebut terbuat dari tepas. Dan, atapnya terbuat dari daun rumbia. Sangat khas juga, dengan pakaian mereka yg berbeda dengan manusia kebanyakan. Mereka hanya memakai kemben atau pun kebaya untuk menutupi tubuh mereka. Saat, Alanis dan Lady tiba disana dengan memapah tubuh Bianca. Mereka semua terkejut, tak terkecuali Nagma pemimpin kaum Pemburu. Ia sangat terkejut melihat Kalyana yg pulang dengan dipapah oleh dua orang wanita. Ia melihat keadaan Kalyana anak didiknya dalam keadaan luka parah.
"Kalyana!" pekiknya.
"Tuan Nagma?" ucapnya.
"Apa yg terjadi padamu? Dan, siapa kedua orang ini?" ucapnya pada Kalyana.
"Ehem! Sebaiknya, bawa dulu dia ke dalam. Nanti, akan kami ceritakan apa yg sebenarnya terjadi pada dirinya." ucap Alanis.
"Itu benar!" ucap seseorang tiba-tiba membenarkan ucapan Alanis. Mereka semua menoleh, tampak seorang nenek renta telah hadir di hadapan mereka. Dialah, nenek Satrina yg telah meramalkan kelahiran seorang pembasmi bangsa Darah.
"Selamat datang, di perkampungan kami yg sederhana ini, Gusti Putri?" ucapnya tersenyum ramah. Begitu mendengar nenek Satrina memanggil Gusti Putri kepada salah satu dari kedua orang yg membawa Kalyana pulang seketika membuat yg ada disana terkejut.
"Ah, terima kasih atas keramahan Anda tetua?" ucap Alanis tersenyum ramah.
"Tunggu apalagi, Kalyana sudah kesakitan. Ayo, cepat baringkan dia di dalam. Dan, obati lukanya!" perintah nenek Satrina.
"Ah, mohon maaf tetua jika saya menyela." ucap Alanis sambil mengeluarkan botol obat dari saku celananya.
"Ini, adalah pil penyembuh. Tadi, sebelumnya saya sudah membalurkan bubuk obat di lukanya Bianca. Dan, pil ini tolong nanti minumkan padanya satu hari satu butir." ucap Alanis sambil menyerahkan botol obat kepada ketua dari kaum tersebut lalu kemudian diserahkan kepada tabib kesehatan kaum itu.
"Terima kasih, sekali Gusti Putri?" ucap nenek Satrina.
"Sama-sama, tetua?"
"Ayo, mari ikut saya Gusti Putri. Nagma, ayo ikut dengan kami. Serahkan, urusan Kalyana pada tabib saja!" seru nenek Satrina.
"Baiklah, nenek?" ucap Nagma kemudian mengikuti langkah mereka menuju ruangan dimana biasanya nenek Satrina tinggal dan menerima tamu.
"Duduklah, Gusti Putri?" ucap nenek Satrina.
Alanis pun duduk bersama Nagma sedang Lady dia hanya berdiri saja.
"Ehhh, nak kamu tidak duduk? Duduklah!" ucap nenek Satrina pada Lady.
"Lady! Duduklah! Tidak baik, jika menolak perintah orang tua!" ucap Alanis tegas.
"Baiklah, my princess!" ucap Lady kemudian duduk di sebelah Nagma.
"APA!!! Benarkah, yg nenek katakan?"
"Iya, benar?"
"Nenek? Berarti kita masih punya harapan untuk mempertahankan bangsa manusia dari kehancuran." ucap Nagma dengan mata berbinar-binar.
Sedangkan, Alanis dan Lady yg hanya mendengarkan ucapan nenek Satrina dan Nagma jadi saling pandang.
"Ah, Gusti Putri pasti bertanya-tanya mengapa saya berkata demikian kepada Nagma."
"Saya memang bertanya-tanya, tetua? Silahkan, tetua menjelaskan." ucap Alanis tenang dan penuh wibawa.
"Saya adalah seorang tetua sekaligus saya juga adalah seorang peramal di kaum pemburu ini. Usia saya juga sudah uzur. Saya pernah meramalkan tentang kedatangan bangsa Vampir yg merekrut manusia sebagai pasukannya sebanyak-banyaknya. Dan, saya juga pernah meramalkan tentang kelahiran seorang pembasmi bangsa Vampir kepada Nagma. Dan, apakah Gusti Putri tahu siapa yg saya maksud?"
"Apakah, saya yg tetua maksudkan?"
"Tepat sekali, Gusti Putri."
Kali ini ucapan terakhir dari nenek Satrina membuat Alanis dan Lady terkejut.
"Hem, memang ini sudah terbaca sejak dulu. Tentang anda dan juga misi anda, berkaitan dengan bangsa Vampir. Apakah, saya benar Gusti Putri?"
"Ya, tetua benar. Kedatangan saya ke dunia manusia ini. Sesungguhnya, atas perintah dari Ratu Sentanu, bibiku! Ia ingin saya menyelidiki hal yg berkaitan dengan bangsa Darah di dunia manusia. Terutama, sekolah Amora." ucap Alanis serius.
"Sekolah Amora?" tanya Nagma terkejut.
"Ya. Apakah, ketua pemimpin tahu tentang sekolah Amora?"
"Ya, tentu saja saya tahu, Gusti?" ucap Nagma.
"Sekolah itu merupakan basis dari mereka, bangsa Vampir!"
"APA!!!"
"Dan, pemimpin dari basis di sekolah Amora itu adalah FELIPE!!!"
"APA!!!"ucap Alanis terkejut.
"Felipe? Darimana, kalian tahu kalau Felipe merupakan pemimpin dari basis tersebut?"
"Ya. Darimana, kami tahu? Tentu, saja dari sejarah para leluhur kami dulu berhadapan dengan mereka. Felipe merupakan Pangeran Vampir dari bangsa Vampir. Ia berasal dari keturunan murni. Tentu, saja kekuatannya jauh lebih hebat jika di bandingkan dengan bangsa Vampir lainnya."
"Oh, ternyata begitu ya? Dasar, keparat sialan." ucap Alanis penuh geram.
"Felipe, merupakan pemimpin utama dari basis bangsa Vampir di sekolah Amora. Dan, yg membuat suasana hening ini adalah dia. Yg membuat kami tidak bisa mendeteksi pergerakan mereka. Sial!!!" ucap Nagma mengepalkan tangannya.
"Jangan khawatir, serahkan hal ini padaku!!!" ucap Alanis tiba-tiba.
"Apa?"
"Bianca sedang terluka parah kemungkinan selama 2 minggu ini ia akan terbaring. Aku akan menggantikan tugasnya sementara waktu. Kebetulan saat ini pun saya sedang menyamar. Bagaimana?"
"Baiklah, saya setuju dengan anda, Gusti Putri?"
ucap Nagma tanpa ragu.
"Baiklah, karena anda sudah setuju. Untuk, sementara tidak usah bergerak dulu. Tunggu kabar dariku!!!" ucapnya bernada perintah kepada Nagma, ketua kaum pemburu tersebut.
"Baiklah, kalau begitu. Aku setuju!!!" ucap Nagma kemudian.
"Baiklah, kami permisi dulu, tetua, ketua?" ucap Alanis yg menghilang kemudian bersama Lady.
Nagma yg melihat kejadian barusan tampak terkejut. Sedangkan, nenek Satrina tampak biasa-biasa saja. Ya, bagaimana tidak! Nenek Satrina sudah terbiasa berhadapan dengan makhluk tak kasat mata. Sementara, Nagma baru saja melihatnya untuk pertama kalinya. Dan, ia terlihat shock. Namun, lama kelamaan ia pun mengerti dengan hal itu, setelah nenek Satrina menjelaskan semuanya.
☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆
☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆
☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆