
BERTEMU KEMBALI
Sekolah Amora kembali kedatangan murid baru. Yakni Zein, Satria dan Putra. Rencananya mereka akan satu kelas dengan Alanis, Bianca, Mico dan Emily. Bu Eva selaku guru yg mengajar di kelas tersebut. Selalu, dengan senang hati menyambut para murid baru di kelas yg di ajarnya itu. Maka, dari itu ia pun mempersilahkan ketiga murid baru yg ketiganya cowok semua untuk masuk ke dalam ruang kelas tersebut. Alanis, tampak tidak peduli pada hal tersebut. Karena, yg terpenting baginya adalah misi yg sedang diembannya. Dia seakan tak punya waktu untuk mengurusi hal-hal yg tidak jelas. Namun, ia mendengar hiruk pikuk kebisingan riuh di dalam ruang kelas. Dia yg tadinya tak peduli dan tidak mau tahu akhirnya ia pun melihat ke depan juga. Ia terkejut saat ia melihat ketiga cowok tampan tersebut yg salah satunya wajahnya mirip sekali dengan kekasihnya yg telah tiada yakni, Pangeran Shan. Ia merasa Shock! Mulutnya membuka lebar terutama pada saat mereka bertiga mengenalkan diri dan nama mereka kepada seluruh siswa/siswi di ruang kelas tersebut. Ia mengira laki-laki tersebut akan mengucapkan kata Shan bukan Zein**.** Seketika, perasaannya sedikit kecewa tapi ia sadar tak mungkin kekasihnya hidup kembali. Dan, lelaki yg ada di hadapannya hanya mirip saja dengan kekasihnya itu. Setelah, perkenalan tersebut bu Eva pun mempersilahkan kepada ketiga siswa tersebut untuk duduk di bangku yg kosong. Sekilas pandangan mata Zein melihat ke arah Alanis. Alanis terkesiap. Buru-buru ia menenangkan jantungnya yg berdebar kencang kala ia beradu pandang dengan Zein. Demikian, juga dengan Zein ingin sekali ia merengkuh wanita yg di cintainya tersebut dalam pelukannya dan tak akan melepasnya lagi. Tapi, ia sadar ia masih punya tugas dan tanggung jawab. Akhirnya, ia hanya menarik nafas berat. Terasa, sangat menyakitkan melihat orang yg dicintai begitu dekat tapi tak bisa di sentuh olehnya. Seakan, ada dinding penghalang muncul di antara mereka berdua. Hal, itu pulalah yg menghalangi dua insan saling mencintai ini untuk saling menyentuh dan bersama. Sedangkan, Mico yg menangkap sesuatu yg mencurigakan antara Alanis dan anak baru yg bernama Zein itu. Secara, diam-diam ia merasa cemburu, padahal ia dan Alanis tidak ada hubungan apa pun. Namun, sejak pertama kali melihat Alanis ia sudah jatuh cinta. Dan, ia ingin memilikinya. Tapi, saingannya sangat banyak. Selain, Felipe ia juga harus berhadapan dengan cowok yg memiliki aura yg sangat kuat ini. Tapi, ia tak bisa menembus pagar gaib yg melindungi tubuh tak kasat mata Pangeran Zein sebagai makhluk Jin Level Tinggi.
Bel tanda istirahat berbunyi 3 kali.
Seluruh, siswa dan siswi berhamburan keluar kelas. Kecuali, Alanis, Gaby dan ketiga anak baru tersebut.
Gaby, yg semenjak pertama kali melihat Zein ia sudah suka dan berencana mendekatinya. Begitu, melihat Zein tak keluar kelas ia pun jadi senang. Buruan, ia berjalan mendekati Zein. Saat ia sudah berada di depan Zein. Ia pun mengulurkan tangan sebagai tanda perkenalan. Tapi, tak di acuhkan oleh Zein. Malah, Zein pergi meninggalkannya. Dan, langkahnya diikuti oleh teman-temannya. Melihat itu Gaby jadi kesal.
"Huh! Tampan-tampan sombong!!!" ucap Gaby kesal.
Sedangkan, Alanis yg menyaksikan hal tersebut hanya tersenyum saja. Gaby yg sudah merasa jengkel jadi semakin jengkel saja.
"Heh! Kenapa, kau senyum-senyum? Kau, mengejekku ya?" hardiknya.
"Siapa yg mengejekmu? Aku hanya tersenyum saja. Apakah, tidak boleh aku tersenyum?" ucap Alanis berani.
"Kamu ini, benar-benar ya? Kemarin kau mempermalukanku. Dan, sekarang kau mengejekku. Kau, cari mati ya?" ucap Gaby.
"Oh, jadi kau merasa ya?" ucap Alanis kemudian bangkit berdiri dari duduknya. Dan, berjalan mendekati Gaby.
"Apa, kau ingin balas dendam padaku?" ucap Alanis di hadapan wajah Gaby.
"Tentu saja!!!" ucap Gaby sambil melayangkan pukulan ke wajah Alanis. Tapi, dengan sigap Alanis mengelak.
"Hmph! Sombong! Hari, ini akan kubuat wajah cantikmu rusak! Ciiiiaaattt!!!" ucap Gaby sambil kemudian menghajar Alanis dengan pukulan tangan dan tendangnnya. Namun, sial! lagi-lagi ia gagal.
Alanis terlalu kuat untuknya. Hingga, Alanis melihat celah kelemahan Gaby. Kemudian ia memukulnya di bagian perutnya.
"Duakh"
"Ugh!"
Gaby mundur ke belakang dan tubuhnya menabrak meja kelas.
"Duk"
Ia meringis menahan sakit akibat pukulan di perut.
"Sialan!!!" teriaknya.
Dan, kini ia pun kembali menyerang Alanis dengan kekuatannya yg baru. Alanis pun merasakan keanehan dengan Gaby. Seakan, Gaby sekrang sangat jauh berbeda dengan Gaby yg biasanya. Tapi, ia tak mau berlarut memikirkan masalah itu. Yang terpenting baginya adalah menghindari setiap serangan yg Gaby tujukan pada dirinya. Gaby, tak henti-hentinya terus menyerang Alanis. Seakan, tiada lelah dan putusnya. Pertarungan, itu terhenti kala jam istirahat selesai. Mendengar suara bel berdentang 3 kali. Gaby pin menghentikan serangannya terhadap Alanis.
"Bel sudah berbunyi! Lain kali, kita lanjutkan lagi!"
"Baiklah, terserahmu!" ucap Alanis kemudian kembali duduk tenang di bangkunya demikian juga Gaby. Ia pun kembali duduk di bangkunya. Tak, lama kemudian kelas pun kembali penuh meski mereka heran dengan kelas mereka yg tadinya rapi. Kini, tampak berantakan seperti baru saja terjadi sesuatu. Mereka tidak tahu bahwa baru saja terjadi pertarungan antara Alanis dengan Gaby.