PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab 11



CEWEK SEDINGIN ES



Bel tanda istirahat berbunyi tiga kali. Ibu guru manis yg bernama Eva itu menghentikan aktifitas mengajarnya.


"Baiklah, anak-anak sampai disini pelajaran kita. Kita sambung esok hari. Sekarang, silahkan kalian istirahat!"


"Baik, bu." ucap murid-murid teesebut serempak.


Setelah berkata demikian guru manis tersebut keluar dari kelas 1A dengan langkah santai. Sementara, para murid berhamburan keluar kelas. Ada yg ke kantin, ada yg masih di ruang kelas dan ada juga yģ meluangkan waktu ke perpustakaan. Dan, Alanis memilih tetap berada di dalam kelas bersama dengan teman sebangkunya, Bianca Lovey. Alanis tetap duduk diam di bangkunya. Sambil sesekali melirik Bianca yg masih saja duduk dengan kepala menunduk. Seakan takut bertatap muka dengan siapa pun. Bahkan, pergi keluar kelas pun kepalanya tetap tertunduk. Hingga ia tak sadar tiba-tiba kakinya menyandung kaki salah seorang murid disitu, lalu ia jatuh terjerembab.


"Bum"


"Aww" pekiknya.


Dan, tak lama terdengar suara tawa 3 gadis centil yg berhasil membuli Bianca. Mereka adalah Gaby, Zania dan Resti yg terkenal dengan kecentilan dan sikap soknya.


"Hahaha" tawa mereka.


"Makanya kalau jalan tuh, pake mata dong! Jangan, cuma liat bawah aja! Emang ada apaan di bawah! Ada duit jatuh ya?" ucap Gaby mengejek Bianca, sambil berlalu dari ruang kelas itu bersama teman-temannya menuju kantin. Sedangkan, Alanis yg melihat kejadian itu ingin sekali menolong. Tapi, sebelum ia bangkit dari duduknya sudah ada orang yg menolong Bianca. Dia adalah Emily, meski ia bangsa Vampir tapi ia masih memiliki hati manusia seperti saat sebelum berubah menjadi Vampir. Ia membantu Bianca berdiri.


"Kau tak apa-apakah?" tanya Emily.


Dengan wajah menunduk, dan masih membetulkan letak kacamatanya ia mengucapkan kata terima kasih kepada Emily.


"Terima kasih! Aku tidak apa-apa." ucapnya.


"Emily, dia tak apa-apa. Ayo, kita ke kantin!" ucap Mico dingin kepada Emily.


"Oh, iya" ucap Emily sambil berjalan mengikuti langkah kaki Mico menuju kantin. Alanis, akhirnya merasa lega masih ada orang yg berbaik hati terhadap Bianca. Jadi, ia pun bisa dengan tenang meninggalkan ruang kelas tersebut menuju kantin yg ada di sekolah tersebut. Saat, ia berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah semua pandangan mata para murid-murid di sekolah tersebut tertuju padanya. Mulut mereka membuka lebar. Terutama para murid lelaki, yg tiada bosan memandanginya. Bahkan, ada yg mengikutinya sampai kantin. Hingga, hampir membuat ruang kantin penuh sesak karena dirinya. Setelah, sampai di kantin pandangan matanya mengedar ke seluruh ruang kantin itu. Ia melihat beberapa bangku dan meja sudah di pesan semua. Tapi, masih ada satu tempat lagi yg belum di tempati yaitu bangku dan meja milik Felipe dan teman-temannya. Emily yg melihat hal itu ingin mencegahnya tapi kemudian tak jadi karena dilarang oleh Mico. Alanis melangkahkan kaki kesana lalu duduk disana. Ia duduk membelakangi orang-orang yg memperhatikannya. Sedangkan, yg empunya masih berjalan menuju kantin. Tak butuh waktu lama untuk menuju kantin. Sesampainya, di kantin mereka terkejut melihat ruang kantin itu penuh sesak dengan orang-orang yg entah tidak tahu apa yg mereka lihat. Tapi, Felipe tak peduli dengan kerumunan itu. Langsung saja ia menyeruak di antara para murid lelaki itu bersama teman-temannya.


"Hei...., minggir! Minggir! Apa yg kalian lihat, hah?" ucap Felipe kesal sambil mengusir para murid lelaki itu. Setelah, semuanya pergi maka ia pun langsung melihat biang masalah di kantin itu. Yaitu si anak baru, Alanis!


"Oh, jadi ini biang masalahnya?" ucap Felipe dengan raut wajah tak senang.


"Hei....Felipe! Tenang! Dia hanya seorang gadis. Sudahlah?" ucap Seth mencoba untuk menenangkan Felipe.


"Ck....! Diam kau!!!" ucap Felipe marah. Mendengar Felipe berkata begitu membuat Seth jadi diam. Lalu, Felipe pun berjalan menuju tempat gadis itu duduk dengan gaya sok coolnya. Setelah sampai di belakang tubuh Alanis ia berhenti.


"Hei....cewek! Siapa yg kasih kamu duduk di sini!" ucap Felipe membentak. Mendapat teguran begitu membuat Alanis tetap diam dan tidak peduli.


"Heh! Jangan diam aja dong! Bilang! Bisu ya!" bentaknya lagi. Lagi-lagi Alanis diam tak menjawab.


"Felipe! Sudahlah! Jangan ribut lagi!" ucap Sammy.


"Diam kau, Sammy!!!" ucapnya dengan mata melotot. Mendengar Felipe terus-terusan berkata-kata kasar membuat Alanis langsung berdiri, lalu ia menoleh ke belakang. Ia melihat seorang lelaki tampan berdiri di hadapannya. Sedangkan Felipe, begitu melihat wajah Alanis seketika terkejut sekaligus takjub dan mulutnya membuka lebar. Begitu juga dengan ketiga teman-teman Felipe mereka pun sama terkejut dan sekaligus terpana dengan kecantikan yg dimiliki Alanis. Ternyata gadis yg di bentaknya adalah anak baru di sekolah tersebut. Yg filenya waktu itu ia lihat di ruang Kepsek. Buru-buru ia meminta maaf kepada Alanis.


"Ah...., kau??? Bukankah, kau anak baru itu ya?" ucap Felipe dengan raut wajah tersenyum. Alanis diam, dia menatap Felipe dengan sorot mata tajam.


"Aku minta maaf. Barusan aku bersikap kasar padamu." ucapnya lagi. Alanis tetap diam, dan ia langsung beranjak pergi dari kantin itu. Sekilas, Felipe mencium wangi mawar menguar dari tubuhnya ketika ia melewati dirinya. Seketika Felipe pun teringat akan wangi itu. Ia pun mengejar Alanis.


Tapi, Alanis tidak peduli ia tetap melangkah menjauh dari kantin itu.


"Hei....cantik! Tunggu!" ucap Felipe mencoba mengejarnya. Karena, Alanis tak mendengarkannya Felipe pun bertindak. Ia pun langsung saja menangkap tangan Alanis.


"Tap"


Alanis membalikkan tubuhnya dan mendapati lelaki yg membentaknya tadi memegang tangannya.


"LEPAS!!!" ucapnya dingin.


"Oh, ternyata kau bisa bicara ya? Kukira kau bisu." ucapnya tersenyum.


"Aku bilang lepas!!!"


Felipe tidak mau melepaskan tangan Alanis. Ia malah tersenyum melihat raut marah di wajah gadis cantik itu. Menurutnya gadis itu kalau marah malah terlihat sangat mempesona. Karena Felipe tidak mau melepaskan tangannya. Akhirnya ia menendang kakinya Felipe.


"Dhuak"


"Aww" jerit Felipe.


Dan, akhirnya mau tak mau ia melepaskan tangan Alanis. Melihat Felipe mengaduh kesakitan Alanis tidak peduli, setelah tangannya terlepas ia pun melangkah pergi dari sana.


"Dasar, perempuan sialan!" maki Felipe sambil menahan rasa sakit. Sedangkan teman-teman Felipe yg melihat adegan itu jadi tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha" tawa mereka keras.


"DIAM kalian!!!" ucapnya sambil berlalu dari tempat itu. Ia jadi kesal sendiri karena temannya tidak memiliki niat untuk membantunya. Jadilah, ia merasakan sakit pada kakinya karena temannya hanya menonton saja tidak mau berbuat apa-apa. Padahal Alanis hanya manusia biasa pikirnya. Tapi, tendangannya tadi bisa menyebabkan rasa sakit luar biasa di kakinya. Namun, sesungguhnya rasa sakit itu pun lama kelamaan menghilang juga. Karena dirinya berasal dari ras murni tentu saja rasa sakit yg seperti itu hanya masalah biasa saja bagi dirinya. Sementara Mico yg berada di sana yg melihat semua kejadian itu tersenyum senang.


"Gadis yg menarik." ucapnya menggumam.


"Aku harus mendapatkannya." ucapnya lagi. Tak, lama bel kembali masuk kelas pun berbunyi. Bergegas mereka kembali ke kelas masing-masing. Mengikuti pelajaran sekolah hingga jam pelajaran selesai. Dan, mereka semua kembali pulang ke rumah mereka masing-masing.




☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆