
TITIK TERANG BIANCA
Rumah Alanis.
wajah itu tampak lesu dan kusut.
Senyum di bibirnya pun tampak kecut terasa. Sejak pulang ke rumah dari tadi Alanis tidak turun ke bawah. Ia memegang rol film yg di berikan oleh Lady kepadanya. Ia menimang-nimang benda itu. Ia merasa ragu untuk membuka isi dari benda itu. Ia takut akan suatu hal yg tak bisa ia kontrol. Emosi dan juga perasaannya. Ibunya, yg tampak khawatir akhirnya datang menemuinya di kamarnya. Ia membawa sepiring bunga mawar kesukaan Alanis.
"Nak?" sapanya.
Alanis menoleh, ia mendapati wajah ramah senyum itu sudah berada di kamarnya.
"Ibu?" ucapnya.
Ibunya tersenyum.
"Makanlah, dulu nak? Ini, ibu bawakan kesukaanmu. Bunga mawar merah jambu."
Melihat bunga mawar yg tersaji di piring itu perlahan membuatnya jadi bernafsu untuk memakannya dan membuat hilangvsejenak kekhawatirannya.
"Bunga mawar? Terima kasih, ibu?" ucapnya sembari memeluk ibunya lalu ia mengambil piring yg berisi bunga mawar tersebut dan memakanya perlahan-lahan. Maheswari memperhatikan raut wajah Alanis dan ia merasa kalau Alanis sedang ada masalah. Ia lalu mencoba untuk bertanya kepada anaknya tersebut perihal apa yg terjadi. Ia juga melihat sesuatu benda yg hanya dipegang saja oleh Alanis sejak pulang dan masuk kerumah.
"Ada, apa? sejak kau pulang ke rumah dari tadi kau hanya melihat benda itu?"
"Ah...., tidak apa-apa bu?"
"Ceritakan kepada ibu, kegelisahanmu nak? Jangan, kau simpan sendiri. Nanti, kau yg repot?" ucap ibunya sambil mengelus kepalanya. Alanis menghembuskan nafasnya kala mendengar ucapan ibunya. Sementara, ibunya masih menunggu kata-kata anaknya.
"Ibu, hari ini Bianca tidak masuk sekolah, katanya dia sakit. Tadi, aku datang ke rumahnya tapi ternyata bangunan itu sudah bukan bangunan yg dulu berikut pemiliknya."
"Maksudmu, dia tak ada disana?" tanya ibunya.
"Iya, bu. Ternyata, rumah miliknya dulu sudah hangus terbakar. Dan, kedua orang tuanya sudah tiada dalam peristiwa itu." jawabnya.
"Lalu, dia?"
"Dia, selamat namun, ia sudah tidak tinggal disana lagi. Katanya kejadian itu sudah lama." ucapnya dengan nada sedih.
"Sabar, nak? Sekarang, dia pasti baik-baik saja. Nanti, kamu akan tahu dimana ia tinggal. Kan, kamu satu sekolah dengannya." ucap ibunya memberi semangat. Mendengar ucapan ibunya membuat rasa sedih di hati Alanis sedikit terobati.
"Terima kasih, bu? Meskipun, ibu bukan orang tua kandungku tapi, ibu selalu ada untukku." ucapnya haru.
"Iya, sama-sama nak? Oh, ya benda itu?" tanya ibunya sambil menunjuk benda yg di pegang oleh Alanis.
"Ah....ini adalah rol film berisi informasi tentang Bianca."
"Oh, darimana kamu mendapatkannya?"
"Dari, pengawal setiaku, Lady?"
"Lady?"
"Kenapa, bu?"
"Ah, tidak.....Ibu dengar dia adalah bangsa Jin level menengah. Tapi, reputasinya sebagai Jin bertangan dingin dan kejam membuatnya banyak di takuti oleh kalangan bangsa Jin level rendah. Namun, ia terkenal sangat setia sekali terhadap tuannya. Nak? Tidak apa-apakah, kamu memilikinya di sisimu?" ucap ibunya khawatir.
"Memangnya, kenapa bu? Bukankah, ibu bilang ia adalah makhluk yg setia? Ibu, jangan khawatir. Lady, bukanlah sembarang makhluk yg suka mengingkari sumpahnya sendiri."
"Baiklah, kalau begitu nak? Ibu percaya padamu, ibu turun dulu ya?" ucap ibunya kemudian pergi meninggalkannya sendiri.
Alanis menarik nafas lelah, setelah ibunya pergi meninggalkannya sendiri di kamarnya. Kemudian, matanya kembali tertuju kepada benda yg sejak tadi ia pegang.
"Rahasia apa yg tersembunyi darimu?" ucapnya kepada benda itu.
"Tunjukkanlah, kepadaku!!!" ucapnya lantang sambil melemparkan benda itu ke udara lalu benda tersebut mengeluarkan cahaya lalu lama kelamaan cahaya itu berubah menjadi gambar kejadian setelah ia pergi ke Kerajaan Artha Khan. Ia memperhatikan dengan seksama setiap gambar yg ada di hadapannya. Setiap peristiwa yg terjadi, hingga ia melihat peristiwa kebakaran tersebut. Dan, ia melihat kedua orang tua dari Bianca tewas terpanggang. Matanya mencari dimana sosok Bianca dalam kejadian itu. Dan, akhirnya ia melihat sesosok tubuh yg dikenalnya sedang pingsan dalam gendongan seorang wanita yg memakai pakaian seperti seorang pemimpin suatu kaum. Ia memperhatikan dengan seksama wanita yg menyelamatkan tubuh Bianca dari kebakaran tersebut. Wanita itu memiliki raut wajah yg tampak bersahaja dan berwibawa. Lengannya yg kuat menopang tubuh Bianca yg sedang pingsan karena kebanyakan menghirup asap. Kemudian, tubuh itu membawa pergi tubuh Bianca dan menghilang di balik kegelapan malam. Alanis segera mengcopy wajah perempuan yg menyelamatkan Bianca dengan matanya. Agar, mudah untuk di ingat. Setelah ia mengcopynya tiba-tiba saja gambar kejadian peristiwa itu pun menghilang. Kemudian, ia pun memanggil Lady pengawalnya.
"Lady!"
"Hamba, my princess." ucapnya tiba-tiba muncul.
"Kemarilah, mendekatlah kepadaku." perintah Alanis kepadanya. Mendengar perintah junjungannya itu Lady pun langsung mendekat ke arah Alanis.
"Lihat, mataku!" perintah Alanis lagi.
Dan, lagi-lagi Lady pun memenuhinya. Ia melihat ke dalam mata junjungannya, terlihat jelas seorang wanita usia 30 an sedang menggendong tubuh Bianca. Gambar tersebut tidak bertahan lama. Setelah Lady melihat gambar itu selama 30 detik gambar itu pun langsung menghilang.
"Kau, sudah melihatnya dan sudah menghafal wajahnya?"
"Sudah, my princess."
"Pergilah, segera temukan wanita itu!!!" perintahnya.
"Perintah, Anda kehormatan bagiku. Hamba pergi, my princess." ucapnya seraya menghilang begitu saja dari pandangan. Tinggallah, Alanis sendiri disana.
Menatap ke luar jendela, melihat langit bertabur bintang. Dan, perasaan sama pun dialami oleh Bianca di suatu tempat di pinggir hutan tak jauh dari perkampungan penduduk. Ia tengah duduk di atas pohon tengah mengamati tempat sekitar itu sambil sesekali matanya menatap langit. Ada, kepedihan terasa disana juga kerinduan yg teramat sangat terasa.
"Kenapa, aku merasa hatiku terasa sakit? Juga, terasa rasa rindu yg menggebu terhadap seseorang. Tapi, siapa?" ucapnya lirih.
Rupanya Bianca juga merasakan apa yg dirasakan oleh Alanis. Perasaan rindu Alanis terhadap sahabatnya yg telah lama tak bertemu. Dan, juga perasaan yg selalu ingin bersama selamanya berbagi suka dan duka seperti dulu saat sebelum ia kembali ke Kerajaannya. Ternyata dirasakan juga oleh Bianca, tapi karena hipnotis yg dilakukan oleh Maheswara padanya membuat ia tak bisa mengingat seorang sahabat yg dulu pernah dekat dengannya. Yang selalu berbagi suka dan duka bersama dengannya. Hingga, membuatnya tampak seperti orang linglung. Seperti, ada memori yg terlupakan olehnya.
☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆
☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆
☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆