PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab17



KALYANA ALIAS BIANCA



Bel tanda pulang sekolah berbunyi 3 kali. Seluruh murid-murid kembali merapikan buku mereka bersiap untuk pulang. Terkecuali Alanis! Ia menunggu seluruh murid-murid pulang ke rumahnya masing-masing. Satu per satu keluar dari ruang kelas itu. Ia memperhatikan murid-murid yg pulang itu. Ternyata, sudah 3 orang yg tidak hadir pada hari ini. Yaitu Mico, Emily dan Bianca. Setelah seluruhnya pulang ia lalu segera melakukan komunikasi jarak jauh dengan ayahnya.


"Ayah!" panggilnya.


Tak lama, terdengar suara ayahnya menjawab panggilannya.


"Ya, anakku. Ada apa?"


"Alanis, hari ini ada urusan. Tidak usah di jemput.


"Baiklah, nak. Hati-hati."


"Baiklah, ayah." ucapnya mengakhiri percakapan itu. Setelah, ia bertelepati dengan ayahnya. Tubuhnya pun menghilang lalu muncul dalam sekejap di atap sekolah tersebut. Ia menatap sekeliling, sudah tidak ada satu pun manusia disana. Ia menatap di kejauhan. Tatapan matanya yg tajam memandang tiap sudut gedung sekolah itu.


"Ada apa ini? Sepi. Tidak, ada aktifitas apa pun di sini. Aku merasa ada yg aneh disini." ucapnya sambil matanya tetap menerawang tajam di setiap tempat itu. Perlahan, ia mengembalikan secara normal penglihatannya yg sempat ia gunakan untuk melihat aktifitas lain dari makhluk lain. Kemudian, ia memanggil Lady.


Lady pun hadir.


"Hamba, my princess!" ucap Lady sambil membungkuk memberi hormat.


"Bagaimana, penyelidikanmu tentang Bianca."


"Tentang, Bianca Anda bisa melihatnya langsung disini!" ucap Lady sambil menyerahkan sesuatu.


"Apa ini, Lady?" tanyanya dengan dahi berkerut.


"Rol film tentang kejadian yg menyangkut teman Anda, my princess?" jawab Lady.


"Baiklah! Aku akan melihatnya nanti! Sekarang, ikut aku pergi untuk melihat Bianca."


"Baiklah, my princess." ucap Lady tanpa banyak bertanya. Sejurus kemudian mereka berdua pun menghilang menuju tempat yg selama ini sempat dilupakan oleh Alanis.


Sementara, di tempat lain.


Seseorang tengah berlari di tengah hutan, lalu sesekali ia melompat naik ke atas pohon. Dan, kemudian turun kembali. Gerakannya sangat lincah dan terlatih meski terkadang ia hampir jatuh dari atas pohon. Ia berlomba dengan waktu, menuju sebuah tempat yg tersembunyi dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat kota. Ia jauh memasuki hutan, dan akhirnya sampai di sebuah perkampungan. Dimana, penduduknya lebih sedikit jika dibandingkan dengan penduduk kota. Ia memasuki sebuah rumah besar yg terlihat lebih berbeda jika di bandingkan dengan rumah-rumah lainnya. Ia menyapa seorang penjaga perempuan yg menjaga rumah itu. Ia ingin meminta izin untuk bertemu dengan seseorang yg tinggal di rumah itu.


"Penjaga, katakan kepada Tuan Nagma. Aku ingin bertemu dengannya."


"Baiklah, tunggu sebentar." ucap penjaga itu.


Rupanya orang dicari oleh seseorang itu adalah Nagma. Pemimpin dari kaum pemburu.


Penjaga yg tadi disuruh untuk menyampaikan pesannya pun kembali.


"Tuan Nagma, memerintahkan Anda masuk Kalyana." ucap penjaga itu lagi.


Ternyata seseorang yg sibuk wara-wiri di sepanjang perjalanan tadi bernama Kalyana. Ia merupakan seorang leader dari Nagma. Posisinya pun sangat penting bagi Nagma. Bukan, hanya sebagai tangan kanannya tapi juga sebagai seorang mata-mata dari kaum pemburu. Ia melangkah masuk sesaat setelah penjaga tadi mempersilahkan dirinya untuk masuk.


"Kalyana! Kau sudah datang?"


"Ya, tuanku. Saya, datang hari ini untuk memberikan laporan.


"Oh! Jadi, bagaimana dengan hasilnya. Apakah, dari masa tenang tanpa hura-hura ini adakah yg terjadi?"


Kalyana, membuang nafas lelah.


"Tidak ada perubahan sama sekali."


"Sekolah Amora, itu? Bagaimana?"


"Saya sudah menyelidikinya. Tapi, tidak ada petunjuk sama sekali, tuan?"


"Hmm....ini benar-benar membuatku buntu." ucap Nagma sambil memainkan jari-jarinya di dagu.


"Kalyana, awasi terus sekolah itu. Bila, sudah mendapatkan petunjuk, jangan bergerak sendiri. Segera laporkan kepadaku." perintah Nagma tegas.


"Baiklah, tuanku? Saya, permisi dulu." ucapnya kemudian undur diri dan melangkah pergi dari sana. Namun, baru saja satu langkah saja ia berjalan tiba-tiba Nagma menahannya....


"Tunggu!"


"Kalyana, bagaimana dengan sekolahmu! Apakah, baik-baik saja."


"Sejujurnya, tidak. Tapi, aku akan tetap menjalankan tugas yg Anda perintahkan tuan?"


"Oh! Tampaknya, kau sangat bersemangat sekali. Bagus, lanjutkan!"


"Baiklah, tuan!!!" ucapnya lagi kemudian segera pergi keluar dari tempat itu. Nagma memandangi punggung gadis muda itu. Gadis yg dahulu pernah ia selamatkan dari peristiwa kebakaran waktu itu. Sekarang, sudah semakin matang dan pandai dalam menjalankan tugas yg ia berikan. Bila, mengingat tentang pelatihan keras yg ia berikan kepada gadis berkacamata itu. Ia sedikit tersenyum senang melihat kemajuan yg di capai Kalyana. Tak sia-sia selama ini, ia melatihnya sendiri dan bahkan memberinya posisi berdiri di sisinya sebagai orang yg sangat penting bagi dirinya dan juga kaumnya. Kini, ia sangat yakin bahwa masalah makhluk Darah tersebut akan terselesaikan. Semoga! pikirnya.


Sore menjelang senja. Sinar matahari senja, bersinar dengan sinarnya yg hangat. Alanis melangkah pulang menuju rumahnya dengan perasaan kecewa. Setelah, ia mencoba menemui Bianca di rumahnya, namun ternyata ia tak menemukannya disana. Rumah yg dulu di huni oleh Bianca sudah sejak lama luluh lantak dimakan api. Dan, berganti dengan bangunan baru dan penghuni baru yg sama sekali tidak ia kenal. Melihat, raut wajah kecewa terukir jelas di wajah tuannya itu membuat Lady diam. Ia tak bisa berkata apa pun mengenai hal yg bersangkutan dengan Bianca, sahabat tuannya itu. Ia sedari tadi hanya mengikuti langkah tuannya itu dengan setia. Hingga, akhirnya Alanis menyuruhnya untuk pergi. Baru kemudian ia pun pergi.


"Lady! Pergilah, tinggalkan aku sendiri!!!" perintahnya.


"Baiklah, my princess." ucapnya kemudian segera menghilang.


Setelah, Lady pergi tinggallah Alanis seorang diri. Menyusuri jalan yg sepi seorang diri. Semakin, tenggelam dalam pemikirannya yg kian kusut. Sama, seperti sang matahari yg sebentar lagi akan tenggelam. Menggantikan siang dan malam akan segera datang menjelang. Ia menghela nafas panjang.


"Bianca, dimana kau tinggal sekarang?" gumamnya lirih. Terasa kepedihan disana. Namun, tak ada seorang pun yg tahu mengenai kepedihan yg datang menyayat jiwa.