PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab 10



INI KELASMU



Selang beberapa menit kemudian Felipe dan teman-temannya pun sampai disana. Felipe memakirkan mobilnya di parkiran khusus yg disediakan untuk kendaraan mereka. Raut wajahnya sangat tidak enak dilihat. Karena ia tak berhasil mengejar pengendara yg berani menganggap remeh dirinya. Melihat raut wajah Felipe seperti itu membuat teman-temannya menghiburnya. Mereka sangat takut melihat wajah Felipe seperti makhluk yg hendak memakan orang.


"Ck....sudahlah, Felipe! Jangan, begitu terus mukanya. Enggak enak dilihat, tau?" ucap Sammy mencoba menghiburnya.


"Iya, toh kita kan gak tau siapa pengendara tadi. Seenaknya aja dia menganggap kita remeh." ucap Ryu menimpali.


"Kalian semua bisa diam gak, sih? BERISIK, tahu!!!" ucap Felipe kemudian pergi meninggalkan teman-temannya disana. Felipe benar-benar kesal hingga ia berjalan menyepak batu-batu kerikil kecil di sepanjang jalan menuju kantin.


"Edan, itu bocah! Masih, pagi marah melulu!" ucap Seth pada 2 temannya.


"Ck....akh....sudahlah, untuk apa kita sibuk mengurus dia. Dia memang selalu begitu." ucap Ryu lagi sambil membuka tas ransel lalu mengambil minuman yg berwarna merah lalu menyeruputnya. Terdengar suara sedotan dari minuman yg berbau anyir dan amis tersebut. Hingga, 2 teman Ryu yg lain langsung memukul kepala Ryu.


"Heh! Ngomong....ya....ngomong! Tapi, gak gitu juga kali. Minum sendiri!!! Bagi, sini!!!" ucap Sammy dan Seth bersamaan. Tapi, Ryu tak menyerahkan minuman berbau itu. Ia malah menghabiskan minuman itu sendirian. Alhasil, kedua temannya itu jadi memukul kepalanya sebanyak 2 kali.


"Aww" jeritnya.


"Sakit tahu!!!" ucap Ryu lagi sambil menyeka bibirnya.


"Biarin! Kau memang pantas mendapatkannya!" ucap Sammy dan Seth.


"Hei....jangan lupa, bersihkan mulutmu dengan air dan sabun. Jangan, sampai teman sebangkumu mencium baunya!!!" ucap Sammy pada Ryu yg mengikuti langkah Felipe yg sudah berjalan duluan ke arah kantin sekolah.


"Iya....iya....cerewet amat!!!" teriak Ryu pada kedua temannya sambil melangkah menuju toilet yg ada di kantin itu.


Sementara, itu Putri Dyandra alias Alanis memasuki kantin yg masih terlihat sepi itu. Hanya ada satu atau dua orang saja disana, selain penjaga kantin. Ia memilih duduk di pojok sambil memanggil seorang penjaga kantin.


"Mbak....kesini!" panggilnya.


Penjaga kantin itu pun datang menghampitinya sambil membawa daftar menu makanan dan minuman yg tersedia di kantin tersebut.


"Iya, neng? Mau, pesen apa atuh?" ucap penjaga kantin itu sambil menyodorkan daftar menu itu kepada Putri Dyandra.


"Saya, gak pesen apa-apa, mbak? Saya, cuma mau tanya. Dimana, ya ruang kepseknya?" ucapnya sambil menatap wajah penjaga itu. Sedang penjaga itu begitu melihat dan memperhatikan wajah Putri Dyandra sangat takjub sekali. Sampai ia tak bisa mengucapkan kata-kata. Ia hanya melongo saja melihat gadis cantik di hadapannya itu.


"Mbak???" panggilnya lagi kepada penjaga kantin itu.


"Ehh....iya....neng. Itu, neng disana ruang kepseknya neng! ucap penjaga kantin itu akhirnya sadar menunjuk arah ruang kepsek berada.


"Oh" ucapnya singkat.


Setelah, mengetahui dimana ruang kepsek. Putri Dyandra alias Alanis pun segera bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruang kepsek. Meninggalkan penjaga kantin itu yg menatapnya tiada henti. Bau wangi tubuhnya, menyebar di seluruh ruangan kantin. Terbawa angin, hingga menusuk hidung Felipe yg sedang berjalan menuju kantin. Raut wajahnya yg semula terlihat jengkel dan kesal. Seketika berubah.


"Harum sekali, memabukkan!" ucapnya sambil menghirup udara yg berbau wangi tubuh Putri Dyandra tersebut.


"Siapa, yg memiliki keharuman seperti ini?" pikirnya lagi. Ia mengikuti asal bau wangi tersebut dan langkah berakhir di sebuah tempat duduk di pojok kantin.


"Harumnya berhenti disini!!!" Serunya.


Tapi, ia tak menemukan seseorang disana. Hanya bangku kosong saja. Yang masih bersisa bau wangi harum tersebut. Ia jadi penasaran. Ingin mengetahui pemilik wangi harum tersebut. Saat, kedua temannya datang mereka keheranan melihat tingkah Felipe yg tampak seperti orang kebingungan. Langsung saja mereka berdua menghampirinya dan bertanya.


"Ada apa, Felipe? Kau tampak seperti orang bingung. Apa yg sedang kau cari?" tanya Seth.


"Apakah, kalian tidak mencium bau wangi bunga mawar?"


"Tidak?"


"Benarkah? Kalian tidak menciumnya?"


Kedua temannya menggelengkan kepala kuat-kuat.


"Aneh, padahal aku baru saja mencium baunya dan mengikutinya hingga sampai disini. Di pojokan sini." ucapnya kepada kedua temannya itu.


"Alah, mungkin mbak kunti kali numpang lewat." celetuk Sammy.


Mendengar apa yg dikatakan oleh Sammy membuat Seth menjitak kepalanya.


"Tak"


"Aww....!" teriak Sammy.


"Felipe, bel udah bunyi tuh! Yuk, kita masuk!" ucap Seth kepada Felipe yg mendengar suara bel masuk berbunyi 3 kali.


"Iya" ucapnya singkat.


Kemudian, Felipe pun bergegas mengikuti langkah kedua temannya menuju kelas mereka. Felipe dan ketiga temannya satu kelas. Mereka duduk di kelas dua SMA sementara Mico dan Emily baru mulai masuk sekolah sebagai murid kelas satu. Yang mana nanti, Mico dan Emily satu kelas dengan Putri Dyandra alias Alanis.



Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi. Putri Dyandra alias Alanis sedang berada di ruang kepsek. Kepsek tersebut tak henti-hentinya memandang wajah cantik Putri Dyandra. Menurutnya, Putri Dyandra memiliki kecantikan yg khas. Tak bosan-bosan ia menatap wajah cantik itu sambil sesekali melihat file yg berisi tentang biodata Putri Dyandra. Sambil sesekali ia membetulkan letak kacamatanya. Sementara, Putri Dyandra yg dipandang begitu hanya diam bagai patung tak bereaksi apa pun. Juga, tak menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. Sampai akhirnya kepsek itu membuka suara dan berbicara dengannya.


"Baiklah, semuanya sudah lengkap disini. Mari, saya antar ke kelasmu." ucap kepsek itu sambil menggeser kursi dan bangkit dari duduknya lalu melangkah keluar dari ruangannya menuju ruang kelas satu yg jumlahnya ada beberapa ruang. Langkahnya diikuti oleh Putri Dyandra menuju ruang kelas yg berada di ujung lorong. Ketika, sampai disana ternyata pelajaran sudah dimulai. Kepsek tersebut mengetuk pintu dan menghentikan pelajaran untuk sementara waktu. Membuat, semua siswa/siswi yg sedang belajar untuk sesaat mengalihkan pandangan ke arah pintu. Tampak, oleh mereka kepsek mereka sedang berbicara sesuatu dengan gurunya. Pembicaraan mereka terlihat serius. Lalu, tak lama kepsek itu pun segera pergi dari ruang kelas 1A tersebut. Ia meninggalkan tugas kepada guru tersebut untuk mengenalkan siswi baru kepada anak didiknya. Sejenak, guru tersebut berdehem sebentar lalu kemudian ia mulai mengatakan sesuatu yg membuat murid-muridnya senang.


"Anak-anak, tenang! Ssstt! Jangan, ribut! Kita kedatangan anak baru di kelas kita yg istimewa ini." ucapnya tersenyum.


"Siapa bu? Cantik atau jelek. Gak, sejelek Bianca Lovey kan bu?" ucap mereka sambil tertawa terbahak-bahak. Sehingga, membuat seisi ruang kelas riuh. Sedangkan, orang yg disebut sebagai Bianca Lovey hanya diam menundukkan kepalanya. Termasuk, juga Emily dan Mico. Mereka juga diam, tak mau tertawa karena bagi mereka hal tersebut tidak pantas untuk ditertawakan.


"Sssttt....anak-anak, tidak boleh begitu. Dia juga teman kalian. Kalian tidak membuli sesama teman sekelas ya? Itu, tidak baik." ucap guru manis tersebut. Seketika, murid-murid tersebut diam mendengar kata-kata gurunya. Akhirnya, mereka diam dan tertib mendengarkan gurunya bicara.


"Ah, baiklah anak-anak untuk mempersingkat waktu. Ibu akan, memanggil anak tersebut untuk masuk kelas dan berkenalan dengan kaian semua. Okey?"


"Siap, bu!" ucap murid-murid itu serempak.


Guru tersebut tersenyum manis melihat tingkah murid-muridnya. Lalu, kemudian ia pun menyuruh Putri Dyandra alias Alanis masuk.


"Alanis? Masuklah." panggil guru tersebut.


Setelah, mendengar panggilan tersebut Alanis pun masuk ke dalam ruang kelas tersebut. Begitu, ia memasuki ruang kelas tersebut. Semua pandangan mata tiada henti menatapnya. Mereka seperti melihat bidadari turun ke bumi. Mulut mereka membuka lebar. Tak mampu berkata apa-apa. Mereka semua memandang Alanis takjub. Termasuk Mico yg sejak tadi hanya acuh duduk di bangkunya. Lelaki berdarah campuran itu tiada henti menatap Alanis mulai dari atas sampai bawah.


Rambut hitam panjang ikal, bola mata coklat, hidung mancung, kulit putih bersih, tubuh tinggi indah semampai, dan sexy. Membuat matanya tiada henti menatap setiap lekuk tubuh gadis cantik di hadapannya itu. Sementara, ketiga gadis centil yg ternyata juga berada di ruang kelas tersebut, melihatnya Alanis dengan perasaan iri. Setelah, beberapa lama mereka semua diam tak berkata apa-apa. Sang guru pun mengenalkan Alanis kepada semua murid-muridnya.


"Anak-anak, perkenalkan! Namanya Alanis. Teman baru kalian. Alanis terlambat masuk sekolah karena ada sesuatu urusan. Jadi,baik-baiklah kalian berteman dengannya." ucap guru manis tersebut.


"Baik, bu?" ucap mereka semua serempak.


"Nah, Alanis kamu boleh duduk di...."ucapan guru wanita tersebut menggantung. Alanis, memperhatikan setiap raut wajah murid-murid tersebut. Ada yg senang, ada yg cemberut dan ada yg menunduk saja. Ia lalu memilih duduk di sebelah anak perempuan yg sejak tadi hanya menundukkan wajah saja.


"Ibu guru, saya mau duduk disana saja. Di sebelah anak perempuan itu." ucapnya sambil menunjuk seorang anak perempuan yg sejak tadi hanya nenunduk saja.


"Bianca?" panggil guru tersebut.


Sementara, Alanis tampak terkejut ketika mendengar nama Bianca disebut.


"Ehhh....Bianca???" ucapnya dengan dahi berkerut.


"Bolehkah, teman barumu duduk di sampingmu?" ucapnya kepada Bianca.


"Bo.....boleh bu." ucapnya takut-takut.


"Baiklah, kalau begitu. Nah, Alanis kamu boleh duduk di sebelah Bianca. Baik-baiklah, kalian berteman ya?" Nasehat guru manis tersebut.


Setelah guru tersebut berkata begitu, maka Alanis pun segera melangkahkan kaki menuju tempat Bianca duduk. Lalu, kemudian guru tersebut memulai kembali pelajaran yg sempat tertunda tadi.




☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆