PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
bab14



DIA MILIKKU! JANGAN BAWA DIA!!!



Emily menangis terisak. Air matanya terus mengalir deras. Ia tampak berantakan, pakaiannya berserakan di lantai. Seluruh tubuhnya penuh jejak bibir Felipe. Bekas merah yg menggambarkan betapa brutalnya Felipe dan hawa nafsunya. Emily memukuli tubuhnya sendiri. Merasa jijik dengn semua jejak-jejak yg Felipe tinggalkan ditubuhnya. Ia mengerang penuh kesedihan. Mengapa tuannya bisa begitu tak bermoral terhadap dirinya. Mengapa tuannya sangat kejam kepada dirinya. Ingin sekali ia membenturkan kepalanya ke dinding agar ia tak merasakan kepedihan lagi. Suara tangisannya yg keras terdengar oleh Mico yg baru saja kembali. Begitu mendengar suara tangisan Emily, Mico langsung saja masuk. Ia meihat Felipe sedang duduk di ruang tamu sambil menelepon seseorang. Melihat Mico yg masuk begitu saja, Felipe tidak peduli. Ia masih saja berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Begitu juga dengan Mico ia pun tidak peduli pada Felipe. Ia langsung saja menuju asal suara Emily yg sedang menangis. Dan, suara tangisan yg keras itu berasal dari kamar Felipe. Alangkah terkejutnya ia kala menemukan Emily dengan kondisi yg membuatnya begitu teriris.


"EMILY.....!!!" teriaknya.


Mico langsung menghampiri Emily dan memeluknya.


"Apa yg terjadi padamu, Emily?"


Mendapati Mico ada disana dan memeluknya tangis Emily semakin pecah dan semakin keras.


"Maafkan, aku telah meninggalkanmu sendirian. Seharusnya aku tetap disini bersamamu." ucapnya dengan rasa bersalah. Sedang Emily mencoba untuk lepas dari pelukan Mico.


"Lepas Mico!!! Aku kotor!!! Jangan, menyentuhku!!!" ucap Emily lirih dan terisak.


"Tidak, Emily. Bagiku, kau tetap suci. Tiada noda." ucap Mico sambil mempererat pelukannya.


"Hik....huhuhu....Mico." ucap Emily sambil menangis lagi.


Mico pun semakin tidak dapat menahan rasa bersalah di hatinya ketika Emily menangis dalam pelukannya. Ia semakin erat memeluknya. Hingga, airmata gadis itu berhenti mengalir.


"Sekarang katakan padaku! Siapa yg melakukan ini padamu!" tanya Mico.


Emily diam tak menjawab.


"Katakan, Emily? Jangan diam saja? Apakah Felipe yg melakukannya?" tebak Mico. sambil mengusap-usap dan menyeka sisa air mata di wajah Emily. Emily tetap diam dan menundukkan kepalanya.


"Kau diam berarti iya." ucap Mico memutuskan.


"Kurang ajar!!! Aku akan memberinya pelajaran!!! Kau tunggu disini!!! ucap Mico sambil mengepalkan tangannya.


Tapi, sebelum Mico pergi untuk menemui Felipe tiba-tiba saja Emily mencegahnya.


"Jangan Mico!!! Jangan berkelahi dengannya karena aku!!! Aku tidak mau kau terluka lagi!!! ucap Emily mencegah Mico. Mendengar apa yg diucapkan oleh Emily membuat Mico mengalah.


"Baiklah." ucap Mico dengan terpaksa.


"Tapi, aku akan membawamu pergi dari sini! Dan, kali ini kau tak boleh mencegahku!!!" sambungnya lagi.


"Baiklah." ucap Emily lemah.


Setelah mendapat persetujuan dari Emily, Mico pun dengan sigap langsung saja menggendongnya. Dengan tubuh terbungkus kain putih Mico membawa tubuh Emily keluar dari sana.Tapi, begitu sampai di ruang tamu. Ternyata Felipe masih disana dengan telepon genggamnya. Dan, ia masih menelepon teman-temannya dan menanyakan kondisi mobilnya. Namun, begitu ia melihat Mico sedang menggendong Emily keluar. Langsung saja ia melupakan tentang mobilnya yg rusak parah dan mematikan teleponnya. Ia membanting telepon genggamnya.


"Prak"


Telepon genggam itu hancur berkeping-keping.


Ia menatap marah pada Mico.


"Mau kau bawa kemana, punyaku?" tanyanya pada Mico.


"Punyamu? Sejak kapan, Emily jadi punyamu?" jawab Mico.


"Mico, dia milikku!!! Sudah aku jelaskan padamu berulang-ulang. Apa, kau tuli???Jangan, bawa dia!!!" ucapnya semakin marah.


"Heh!!!" Mico tersenyum sinis sambil meletakkan Emily di kursi tamu.


"Kau sama sekali tidak pantas memilikinya!!! Kau lelaki biadab dan bajingan, Felipe!!!" ucap Mico dengan mata mulai berubah warna dan gigi taring yg mulai meruncing. Perubahan itu juga terjadi pada Felipe. Matanya berubah warna menjadi merah dan giginya pun bertaring meruncing. Felipe menatap marah kepada Mico. Giginya bergemeletuk kala mendengar ucapan Mico barusan.


"Keparat kau, Mico!!! Kau cari mati, ya? Jelas-jelas dia milikku dan kau berani mengataiku? Hmph, tidak akan kubiarkan!!!" ucap Felipe tegas sambil mulai menyerang Mico. Melihat Tuannya dan Mico mulai bertarung, Emily nampak panik. Ia pun mencoba untuk mencegahnya.


"Tuan!!! Mico!!! Jangan berkelahi!!!" teriaknya lantang ketika melihat mereka keluar dari rumah dan mulai bertarung Mico memukul Felipe ke kiri dan Felipe menghindar. Mico memukul ke kanan dan lagi-lagi Felipe menghindarinya. Begitu seterusnya hingga membuat Mico bosan terus menyerang lawan yg hanya menghindar saja sejak tadi.


"Ayolah, Felipe!!! Jangan menghindar terus!!! Lawanlah aku!!!" ucap Mico sombong.


"Heh, aku tidak perlu memukulmu!!! Hanya buang tenaga saja!!!" ucap Felipe tenang sambil menghindari tendangan kaki Mico yg hampir mengenainya.


"Braak"


Ternyata tendangan Mico mengenai pot bunga yg terbuat dari tanah liat.


"Sial!!!" ucap Mico ketika tendangan tidak mengenai Felipe sama sekali.


"Felipe!!! Dasar, kau kurang ajar. Lihatlah, kau tampak seperti banci yg memakai rok!!!" ucap Mico marah dan kesal karena Felipe terus menghindari serangannya.


"APA!!!" ucap Felipe mulai tersulut emosinya.


"Mico!!! Kau yg meminta ini!!!" ucap Felipe kemudian balas menyerang Mico bertubi-tubi.


Pukulan, tinjuan dan tendangan mendarat secara bertubi-tubi di tubuh Mico dan Mico tak sempat menghindar dari serangan Felipe. Dan, serangan yg terakhir. Ia mendaratkan tinjunya ke arah dagu Mico. Alhasil, membuat Mico terpental ke atas langit.


"Whusss"


Lalu, menghilang di antara awan dan kemudian muncul kembali secara tiba-tiba mengeluarkan sinar biru dari telapak tangannya. Melihat itu Felipe menghindar.


"Zuub"


Sinar itu nyaris mengenai tubuh Felipe karena pada saat itu tubuh Felipe membelakangi pohon kelapa itu. Sinar itu malah mengenai pohon kelapa yg berdiri megah di depan pintu pagar.


"Bum!"


Pohon kelapa itu hangus terbakar. Setelah, melepaskan sinar pertama, tubuh Mico pun kembali lenyap hingga membuat Felipe kesal.


"Mico!!! Dasar, kau pecundang busuk!!! Keluar, kau!!! Jangan, gunakan cara pengecut untuk melawanku!!!" ucap Felipe berang.


Setelah mengucapkan kata-kata kasar itu pun, Mico pun tak kunjung muncul. Malahan, tiba-tiba muncul sinar biru menyerang Felipe dari segala arah. Menghantamnya secara bertubi-tubi.


"Zuub. Zuub."


"Bum. Bum. Blaaaarrrr."


Suara dentuman keras terdengar memekakkan telinga. Untung saja rumah mereka sangat terpencil di antara rumah-rumah yg lain. Jadi, suara tadi tak begitu mengganggu warga yg lain karena sebelum pertarungan terjadi Felipe sempat membuat tempat itu menjadi tak terlihat. Agar apa yg terjadi disana manusia tidak dapat melihatnya.Tubuh Mico segera muncul dari atas atap rumah. Ia turun kebawah melihat hasil perbuatannya.Tapi, apa yg dilihatnya ternyata membuatnya benar-benar terkejut. Ia tak melihat tubuh Felipe disana. Malah, yg ia lihat hanyalah tembok pagar yg hancur berantakan karena ulahnya tadi.


"Sial!!!" umpatnya.


Mico mengepalkan tangannya kala tak melihat tubuh Felipe disana. Ia benar-benar sangat kesal karena tadi perkiraan pukulannya tepat. Lalu, mengapa bisa terjadi hal demikian? Dimana Felipe? pikirnya.


Saat, ia kebingungan kehilangan jejak Felipe.


Tiba-tiba, saja seberkas sinar merah menghantam tubuhnya.


"Zuub"


Mico tak sempat menghindar.


"Akh..." teriaknya mengaduh kesakitan.


Ia merasakan sakit di punggungnya karena sinar merah tadi langsung menghantam tubuh bagian belakangnya. Mico, jatuh tersungkur dan pingsan.Tak lama kemudian, Felipe pun muncul dari arah belakang tubuh Mico yg sudah jatuh tersungkur. Melihat Mico yg sudah pingsan ia tertawa bahagia. Suara tawanya menggema di tempat itu.


"Hmph, mau berebut wanita denganku? Mimpi!!!" ucapnya kemudian meninggalkan tubuh Mico disana dengan keadaan pingsan dan terluka. Ia lalu masuk ke dalam, dan menemui Emily yg masih dalam keadaan shock dan ketakutan ketika melihatnya.


"Tuan?" ucapnya takut.


"Tidak perlu takut begitu?" ucap Felipe sambil mengulurkan tangan dan menggendong tubuh Emily kembali masuk ke dalam.


"Mico?" tanyanya dengan suara lemah.


"Dia tak apa-apa. Dia cuma pingsan. Lukanya juga tidak parah. Mungkin tidak bisa masuk sekolah beberapa hari." ucap Felipe santai.


Setelah sampai di dalam kamarnya, Felipe bingung dimana harus meletakkan tubuh Emily. Akhirnya, ia meletakkan tubuh Emily di lantai saja.


"Tampaknya, aku harus beli tempat tidur." ucapnya sambil tersenyum nakal kepada Emily.


Ucapannya membuat Emily jadi berkeringat dingin.


"Tenang saja. Bukan untuk itu. Tapi, untuk meletakkan tubuhmu disana. Biar nyaman sedikit." ucapnya lagi.


"Sekarang, mandilah.Tubuhmu bau pejuh. Dan, untuk beberapa hari tidak usah sekolah dulu." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Emily disana dalam keadaan bingung dengan sikap Felipe barusan. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Felipe. Dalam keadaan marah ia tampak seperti binatang buas.Tapi, bila dalam keadaan baik maka ia akan tampak bagai seorang lelaki yg penuh perhatian.




☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆