
MISI
Ruangan itu tampak gelap yanpa penerangan cahaya. Hanya sinar rembulan saja yg menyinari meski hanya sedikit memasuki ruangan itu. Bayangan tubuh seorang wanita tengah berdiri di depan jendela kamar menatap kejauhan. Merenungi setiap kata per kata yg di ucapkan oleh orang yg sangat di hormatinya. Masih terngiang- ngiang di telinganya meski hanya sedikit namun sangat berarti.
"Orang yg kamu cintai meski sudah tiada, ia akan selalu hidup dalam hatimu. Dia tak akan pergi kemanapun. Dia, akan selalu bersamamu."
Kata-kata itu begitu melekat di hatinya yg pada akhirnya membuatnya mengambil keputusan.
"Ayahanda, benar. Sudah terlalu lama aku begini. Hanya memikirkan diri sendiri yg kacau. Tanpa peduli pada sekitarku. Aku masih punya tugas dan tanggung jawab yg harus dilaksanakan. Baiklah, Dyandra saatnya bangkit kembali menjadi diri yg baru." ucapnya pada diri sendiri.
Kemudian, sejurus memudian menghilang dalam kegelapan ruangan tanpa penerangan cahaya itu.
Dan, ia hadir di ruangan yg terang dimana bibinya berada sedang mengurus beberapa tugas kerajaan yg tak pernah usai. Bibinya tampak tidak terkejut sama sekali dengan kehadirannya yg tiba-tiba itu karena ia sudah tahu keponakannya akan datang.
"Bagaimana, apa kamu sudah pikirkan?"
Dyandra diam tak menjawab malah ia memberi salam hormat kepada bibinya itu.
"Salam hormat, Ananda kepada bibi Ratu."
"Salammu kuterima, bangunlah!"
"Mengenai hal yg bibi katakan sebelumnya, Ananda sudah memikirkannya."
"Jadi, bagaimana?"
"Ananda terima misi ini, bibi?"
"Misi ini berbahaya. Apa kau yakin?"
"Ananda, yakin. Katakan detailnya."
"Ada rumor yg mengatakan mereka mendirikan koloni di dunia manusia. Ini berkasnya."
"Sekolah AMORA?
"Ya"
"Bukankah, sekolah ini sudah berdiri sejak lama?"
"Oh ya? Sejak kapan?"
"Tidak tahu pastinya. Tapi, dari berita yg Ananda dengar ini sudah lama sekali. Dan, sekolah Amora adalah sekolah elit. Banyak sekali anak orang kaya, termasuk anak pejabat, bangsawan keraton dan juga anak artis yg bersekolah disana. Dulu, Ayah Maheswara hendak memasukkanku sekolah disana tapi selalu ku tolak." jelas Putri Dyandra.
"Kenapa, kau menolaknya."
"Ananda, merasa tidak cocok bersekolah disana bibi Ratu?"
"Kamu ini seorang Putri Mahkota dan Calon Ratu. Apa, yg membuatmu merasa tidak cocok bersekolah disana?"
"Ananda memang tidak berminat bersekolah di tempat yg dipenuhi aktifitas orang-orang kaya."
"Oh, begitu toh! Akh, sudahlah. Dari informasimu itu kelihatannya mereka memang sudah merencanakannya sejak lama."
"Lalu, apa yg harus Ananda lakukan. Membunuh mereka? Atau hanya mengintai?"
"Selidiki, dahulu gerak gerik mereka. Jika, memang ada yg mencurigakan! Hancurkan!!!"
"Bagaimana, dengan para pemburu. Ananda, dengar ada pemburu vampir di dunia manusia."
"Usahakan, untuk tidak terlibat dengan mereka."
"Bagaimana, jika aku terlibat dengan mereka."
"Kalau begitu, jangan terlalu dekat dengan mereka."
"Baiklah, Ananda mengerti bibi Ratu? Ananda, pamit dulu." ucap Putri Dyandra lalu menghilang dalam sekejap.
"Tak terasa dia sudah dewasa sekarang." ucap Nyi Roro Sentanu menggumam.
Putri Dyandra berdiri di atas balkon Istana. Ia memandang jauh ke depan. Tatapannya, jauh menerawang memikirkan dengan misi yg harus dijalankannya.
Dia berucap dengan bibir penuh senyuman misteri. Kemudian ia memanggil seseorang, yg kemudian muncul di belakang tubuhnya.
"LADY....!!!"
"Hamba, My Princess."
"Apa kau suka petualangan?"
"Hamba, sangat suka My Princess?"
"Kalau begitu, ikutlah bertualang bersamaku ke Dunia Manusia!"
"Dengan, senang hati My Princess!" ucap Lady dengan sedikit senyum di bibirnya. Lalu, kemudian Lady segera membuka pintu portal. Tak lama pintu portal terbuka, dan mereka masuk ke dalam lubang cahaya itu lalu menghilang dalam sekejap. Menuju dunia manusia tempat Putri Dyandra dulu tinggal sebagai Alanis anak seorang pengusaha sukses. waktu, ia tidak tahu siapa dirinya hingga sampai suatu hari Pangeran Shan yg mengaku sebagai kakaknya datang dan membawanya pergi ke tempat yg sama sekali tak pernah ia lihat sebelumnya. Yg menorehkan banyak kenangan yg tak terlupakan. Meski sekarang semuanya telah berubah tak seperti dulu, namun tetap saja semua bayangan itu tetap hadir menyambangi hidupnya yg kini sepi dan berbalut luka.
Sementara itu di Dunia Manusia.
Sekelebat bayangan bergerak cepat menyusuri setiap bangunan kota yg tinggi dan menjulang. Ia melompati atap demi atap gedung. Sinar rembulan yg temaram tampak indah menggantung di atas langit. Tampak membantu setiap lompatan demi lompatan yg berpinda-pindah atap gedung. Hingga, akhirnya ia sampai pada tempat yg di tujunya. Matanya yg merah menyala dan gigi taringnya yg tajam. Siap menerkam apa saja yg ada di hadapannya. Matanya menatap penuh amarah melihat 3 orang yg sedang duduk bercengkerama di ruang tamu. Mata yg melihat pada tembok itu menjadi tembus pandang dan ia dapat mendengar setiap kata per kata yg diucapkan ketiga makhluk yg sedang ditatapnya itu. Dari jarak jauh ia bisa mendengar pokok bahasan yg ketiga orang itu bicarakan. Telinganya semakin panas manakala pokok bahasan ketiga makhluk itu mengarah kepada dirinya dan menyebut-nyebut namanya. Sontak amarahnya naik ke ubun-ubun. Dan, ia pun menghilang dan muncul di depan pintu ruang tamu. Dan......Bang!!!
Suara keras dari pintu yg di tendang itu sontak membuat ketiga orang itu menoleh terkejut. Apalagi, melihat pintu itu lepas dari engselnya dan menghantam tembok ruang tamu itu. "Brak"
"Felipe....!!!" ucap mereka serempak.
"Kenapa berhenti bicara? Terkejut melihatku?"
"Ah....Felipe, kau ini lama sekali?"
"Hmph, sementara aku sibuk mengurus mayat itu! Kalian di sini malah asyik ngobrol-ngobrol! Benar-benar, menyebalkan!" ucapnya dengan nada marah.
"Hei...bukan begitu, kami ini sedang sibuk membahas sesuatu. Iya kan, Emily?"
Wanita yg di panggil oleh salah seorang temannya itu jadi serba salah. Akhirnya, ia hanya tersenyum saja.
"Lihat, Emily saja tidak tahu apa-apa. Ryu kamu ini suka sekali ya bercanda!"
"Ehh...."
"Akh, sudahlah. Emily, ikut aku! Ada, sesuatu yg ingin kubicarakan denganmu!!!"
"Baiklah, Tuanku?" ucap Emily sambil mengikuti langkah Felipe.
Felipe terus berjalan sementara Emily mengikuti dari belakang. Langkah, Felipe menuju kamar pribadi yg terletak di dalam mansion mewah itu. Sesampainya, disana ia langsung mencengkeram kedua bahu Emily. Membuat Emily terkejut bukan main.
"Akh, Tuan. Sakit!!!"
"Oh, sakit ya? Bagaimana, dengan ini!" ucap Felipe tiba-tiba menggigit leher Emily. Membuat rasa terkejut Emily bertambah. Namun, segera tergantikan oleh rasa sakit yg menusuk tulang.
Sesungguhnya, Felipe sudah cukup kenyang makan hari ini. Tapi, begitu melihat pelayannya bercengkerama dengan teman-temannya membuatnya jadi marah tak terkendali. Jika, bukan karena rasa kenyang sudah memenuhi seluruh tubuhnya. Mungkin saja, Emily sudah raib menjadi debu. Felipe pun menghentikan aksinya.
"Jangan sampai, aku melihatmu lagi bercengkerama dengan teman-temanku!!! Mengerti!!!" ucapnya dengan nada mengancam.
"A...a...aku mengerti, Tuan???" ucap Emily gugup. Setelah berkata begitu, Felipe pergi meningglkan Emily begitu saja. Sementara, Emily terduduk lemas sambil memegang lehernya yg habis di gigit. Ia merabanya tapi ternyata luka itu sudah sembuh dengan sendirinya. Memang, Emily merupakan bangsa vampir. Tapi, ia tidak termasuk vampir dalam kelas tinggi. Ia adalah vampir biasa. Emily dulunya adalah manusia. Felipelah yg mengubah Emily menjadi vampir dan menjadikannya sebagai pelayan pribadinya.
☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆
☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆
☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆