
PANGGILAN RATU AMORA
Malam itu bulan purnama bersinar terang. Meski sinarnya tidak seterang sinar matahari tapi cahayanya cukup mènerangi sèluruh alam màlam ini. Dan, sinar yg temaram itu tengah menemani perjalanan sesosok tubuh tak kasat mata. Sesekali, ia berhenti di atas pohon untuk mengamati keadaan sekitar tempat yg di datanginya. Entah apa yg sedang ia amati. Tapi sejurus kemudian ia turun dari atas pohon tersebut. Kemudian ia melangkah menyusuri bukit yg gelap. Diantara pepohonan rindang dan lebat terdapat sebuah gua yg letaknya sangat terpencil sekali dan letaknya sangat jauh dari pemukiman para penduduk. Perlahan ia memasuki gua tersebut. Setelah masuk ke dalam ia terus saja melangkah masuk lebih jauh ke dalam gua. Hingga akhirnya ia sampai di ujung lorong dari gua itu. Ternyata ujung lorong itu buntu. Tapi, ia tidak peduli ia berjalan terus dan....."Whuss" tubuhnya lenyap menembus dinding gua itu. Dan, sampailah ia pada bagian lain dari sisi dinding gua itu. Sebuah tempat yg agak gelap karena cahaya penerangan sangat minim di tempat. Dahulu tempat itu sanga indah dengan berbagai macam pemandangan alamnya yg indah. Namun, kini tempat itu jadi berubah menyeramkan. Struktur bangunan itu pun berubah tak seperti dulu yg bagaikan negeri dalam dongeng. Sekarang tempat tersebut lebih mirip kastil yg suram dengan banyak perubahan disana sini. Ya, dahulu tempat yg sangat indah itu adalah Istana Archana Pradhita yg dahulu di pimpin oleh Raja Suryo Negoro dan istrinya Ratu Harshima Prameshwari. Tapi, kemudian terjadi kudeta di dalam Kerajaan tersebut. Yg mengakibatkan sang Ratu tiada di bunuh oleh Selir suaminya sendiri. Sementara, sang Raja di penjarakan di penjara bawah tanah. Sedangkan, sang selir merebut tahta dan mengangkat dirinya sebagai Ratu baru di Kerajaan itu. Bergerak dari dalam, dan mencegah informasi keluar dari Kerajaan itu. Kini, tubuh yg menembus dinding gua itu sudah berada di dalam Istana. Ia di sambut oleh senyum yg terpancar di wajah Ibunya yg cantik. Ia memberi salam kepada ibunya. Lalu, setelahnya mereka pun berbincang-bincang.
"Felipe, kau sudah datang?"
Ternyata tubuh yg tadi menembus dinding adalah Felipe.
"Ya, ibu. Aku sudah berada di sini. Ada apa ibu memanggilku."
"Seperti biasa, laporan pekerjaanmu membangun koloni di dunia Manusia. Bagaimana, apakah sudah berkembang pesat? Sebab, aku tidak mau ada kegagalan dalam rencana kita ini." ucapnya gusar.
"Emm, mengenai hal itu. Sejauh ini pasukan kita di dunia manusia sudah berjumlah ratusan. Selain, itu penerimaan siswa di sekolah yg kita dirikan tahun ini juga naik drastis di bandingkan tahun lalu, ibu."
"Bagus! Lanjutkan!"
"Tapi, ada satu masalah."
"Masalah?"
"Ya"
"Apa, masalahnya."
"Keberadaan kita sudah tercium oleh kelompok Pemburu."
"Apa!!!"
Begitu Ratu Amora Dyagna mendengar nama Pemburu disebut. Seketika, membuatnya naik darah ia pun langsung menampar putranya, Felipe.
"Plak!!!"
"Bodoh!!! Dasar, Vampir bodoh!!! Bagaimana, kaum Pemburu bisa mengetahui keberadaan kita? Hah?!"
"Maafkan, aku Ibu. Aku bersalah. Aku yg tidak sabaran mengendalikan nafsuku untuk segera mengumpulkan para pasukan kita di dunia manusia."
"Hmph, kau memang anak bodoh, Felipe!!! Jika, sudah begini cepat atau lambat keberadaan kita sudah pasti diketahui juga oleh mereka, sebelum kita berhasil membangun kekuatan. Kita pasti sudah hancur!!!"
"Sekali lagi, aku minta maaf ibu!!!"
"Minta maaf itu gampang, Felipe!!! Jika, masalahnya sudah begini. Tentu akan menjadi repot!"
Felipe hanya diam ketika, ibunya terus memarahinya.
"Aku mengerti, Ibu? Aku pergi dulu." ucap Felipe sambil berlalu dari tempat itu. Dan, ia pun kembali ke tempat semula ia berada. Perintah ibunya terdengar jelas di telinganya bahwa ia harus menghentikan kegiatan mereka untuk sementara waktu saja. Mereka baru akan mulai lagi nanti pada saat yg tepat saat perhatian kaum Pemburu teralihkan dari mereka. Untuk itu ia mengumpulkan seluruh bangsa Darah di dunia manusia dan menyampaikan perintah dari Ibunya itu. Setelah, selesai maka semua makhluk Darah itu pun menyebar kembali ke tempat mereka masing-masing dan tidak ada yg melakukan kegiatan apa pun lagi. Semuanya diam tak melakukan pergerakan apa pun hingga membuat kaum Pemburu jadi kebingungan. Mereka pun tak tahu harus berbuat apa karena seluruh pergerakan bangsa Vampir tidak terdeteksi lagi. Kini, mereka hanya diam dan menunggu kapan bangsa Vampir bergerak lagi. Sambil menunggu saat itu tiba mereka pun kembali ke tempat mereka berkumpul. Mereka pun menghadap Ketua mereka yg menerima mereka dengan perasaan khawatir.
"Salam hormat, Ketua!" ucap sang anak buah tersebut.
"Ya, bagaimana keadaannya." tanya sang Ketua itu.
"Untuk saat ini, tidak ada pergerakan apa pun dari mereka, Ketua?"
"Hmm, sepertinya mereka sudah tahu tentang kita. Baiklah, sepertinya mereka pun tak ingin mengambil resiko."
"Anda benar sekali, Ketua. Apa yg harus kita lakukan, Ketua?"
"Jika, itu menjadi keinginan mereka. Kita ikuti saja permainan mereka. Tapi, jangan berhenti. Terus awasi mereka kendati pergerakan mereka sudah tidak terdeteksi lagi."
"Baiklah, Ketua!!!" ucap anak buah itu lagi kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Sementara, sang Ketua terlihat pusing memikirkan masalah itu. Ia menjadi sangat khawatir dengan kehadiran makhluk-makhluk yg sebelumnya sempat menghilang beberapa ratus tahun dan tak pernah terdengar lagi, kini tiba-tiba saja muncul kembali.
"Bagaimana, ini bisa terjadi?" pikirnya.
☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆
☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆
☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆