PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN

PRINCESS DYANDRA 2 ARCHANA PRADHITA KINGDOM IN BLOOD CLAN
Perpustakaan



Siang itu, selepas pulang sekolah. Alanis tidak langsung pulang ke rumah. Ia mampir dulu ke perpustakaan sekolah. Untuk meminjam buku di sekolah itu. Ia pun masuk ke dalam perpustakaan, dan mencari buku yg di sukainya tersebut.


Ia menemukan buku yg di sukainya tersebut. Jari jemarinya mencoba meraih buku tersebut. San, ia pun menyentuh buku tersebut. Namun, tidak disangka bukan buku tersebut yg ia sentuh. Tapi, jari seseorang. Ia kaget! Dan, ia langsung menarik jarinya lalu melihat jari siapa yg sedang memegang buku itu.


Di sampingnya telah berdiri sosok anak baru yg wajahnya mirip kekasihnya yg telah tiada, Pangeran Shan. Sesaat, pandangan mata keduanya bertemu. Mereka saling pandang, hingga akhirnya anak baru itu mengatakan sesuatu....


Zein : "Tampaknya, kau menyukai buku ini."


Alanis : "Iya, aku sangat menyukai buku ini.


Zein : "Kalau, begitu bukunya untukmu saja!" ucapnya sambil berlalu meninggalkan Alanis disana terpaku menatapnya.


Sejenak, kemudian Alanis sadar dan ia menyusul Zein, si anak baru itu. Setelah, ia mengurus adminisrasi buku tersebut ia pun segera keluar dari perpustakaan itu. Ia celingak celinguk kekanan dan kekiri, mencari Zein. Ia pun menemukannya, Zein sedang berjalan keluar dari sekolah lalu ia pun segera berlari menyusulnya.


Alanis : "Tunggu!" ucapnya kala berhasil menyusul Zein dengan nafasnya yg terdengar ngos-ngosan dan memegang tangan Zein erat.


Zein : ???


Alanis : "Terima ka......"


Belum lagi, Alanis menyelesaikan ucapannya.


Tiba-tiba, saja Felipe datang dan mengacaukan semuanya. Ia memegang tangan Alanis dan berkata......


Felipe : "Alanis, jadilah pacarku!"


Alanis terkejut mendengarnya disaat ia sedang ingin bicara berdua dengan Zein. Zein pun juga terkejut ketika ia melihat dan mendengar secara langsung. Hatinya pun, mendadak jadi panas dan ia pun dengan sigap segera melepaskan pegangan tangan Felipe pada tangan Alanis.


Zein : "Lepaskan, tangannya!" ucapnya.


Felipe : ???


"Siapa, cowo ini? Baru, kali ini aku melihatnya!" ucap hati Felipe.


Felipe : "Heh! Ngapain, kau tepis tanganku!!! Minggir, kau! Aku ada urusan dengan Alanis!"


Zein : "Urusan? Dengannya?"


Felipe : "Iya"


Zein : "Sama! Aku juga ada urusan dengannya!"


Felipe : "Apa, urusanmu dengannya!"


Zein : "Kau mau tahu??? Lihatlah.....!!!" ucapnya sambil menarik tangan Alanis yg sedari tadi memegang tangannya. Lalu, mencium bibirnya lembut. Alanis terkejut!


Terlebih lagi, Felipe. Ia sampai membulatkan matanya kala ia melihat pemandangan itu. Hatinya serasa sesak dan panas. Sedang, Alanis terlihat sangat menikmati ciuman itu. Seperti, ia pernah merasakannya. Alanis ingin merasakannya lebih lama lagi sensasi itu. Namun, Felipe yg terlihat sangat marah langsung saja memisahkan keduanya.


Alhasil, ciuman bibir keduanya pun terlepas. Felipe memandang Zein marah. Namun, Zein maupun Alanis terlihat santai saja.


Felipe : "Apa-apaan, kau! Mengapa, kau menciumnya?"


Zein : "Mengapa, aku menciumnya? Kau mau tahu? Tentu saja, karena aku menyukainya!" ucapnya santai.


Alanis terkejut lagi mendengar ucapan Zein. Sedang, Felipe ia menjadi semakin marah pada Zein.


Felipe : "Keparat!!!"


Felipe langsung melayangkan pukulannya.


"Buk"


Tapi, puķùlannya ditangkis oleh Zein dengan mudah. Zein tertawa mengejeknya.


Zein : "Hahaha, pukulan macam apa itu? Sama sekali, tidak bertenaga!"


Felipe : "Kurang ajar! Dasar, kau sialan! Terima ini! Ciaaattttt.....!!!"


Felipe menyerang Zein secara membabi buta. Pukulannya dipenuhi aura penuh amarah. Ia terus menyerang Zein tiada henti. Zein pun menghadapinya dengan tenang dan sabar. Hingga, akhirnya ia melihat celah dan ia pun melayangkan pukulannya disana!"


"Buagh!"


"Ciaaaattt"


Benar saja, dugaannya. Felipe, menyerangnya lagi. Tapi, sebelum Felipe menyerangnya lagi. Tiba-tiba, saja teman-teman Felipe datang melerai.


Sammy : "Felipe! Apa, yg kau lakukan!"


Felipe : "Hmph! Lepas!"


Ryu : "Felipe! Sudahlah! Ada, hal yg lebih penting lagi yg harus kita lakukan!" ucap Ryu berbisik.


Felipe : "Baiklah! Ayo, kita pergi! Hei, dengar! Kali, ini kau aku lepaskan! Tapi, lain kali jangan harap aku akan mengampunimu!"


Demikian, ucapnya kepada Zein.


"Ya, terserahmu saja!" ucap hatinya.


Lalu, Zein pun mengalihkan pandangan matanya pada Alanis.


Zein : "Maaf, aku menciummu tadi tanpa permisi!"


Alanis bingung harus berkata apa. Lalu, dia pun berkata.....


Alanis : "Ah, tidak apa-apa!"


Zein menaikkan satu alisnya.


Zein : "Hem? Tidak apa-apa?"


Alanis : "Iya"


Zein : "Benarkah? Apakah, kau tidak marah padaku?"


Alanis : "Ti....tidak!" jawab Alanis dengan muka merah.


Zein : "Oh, ya? Lalu, lelaki gila tadi?"


Alanis : "Hem?"


Zein : "Dia kelihatannya sangat marah padaku tadi!"


Alanis : "Anggap saja, dia orang gila! Tidak usah di tanggapi!"


Zein : "Oh, begitukah???"


Alanis : "Iya"


Zein tersenyum manis sekali.


Alanis yg melihat senyum manis itu jadi berdebar dan salah tingkah.


Zein : "Lantas! Apakah, kau mau pulang?"


Alanis : "Iya"


Zein : "Apakah, kau mau pulang bersamaku?"


Alanis menjawab malu-malu.


Alanis : "I.....iya. Ma....mau!"


Zein : "Baiklah, kalau begitu! Ayo!" ajaknya.


Akhirnya, mereka pun pulang bersama-sama. Meninggalkan sekolah Amora yg sudah mulai sepi senyap tanpa para anak murid lagi disana.


☆☆☆☆☆PRINCESS DYANDRA 2☆☆☆☆☆


☆☆☆ARCHANA PRADHITA KINGDOM☆☆☆


☆☆☆☆☆☆in BLOOD CLAN☆☆☆☆☆☆☆☆