
KEPERAWANAN EMILY DIRENGGUT
Sepeninggal, Alanis yg telah merusak mobilnya membuat Felipe benar-benar marah. Ingin sekali ia memberi pelajaran kepada gadis yg sudah meremehkan dan menjatuhkannya. Padahal, seseungguhnya ia sangat tertarik dengan Alanis. Tapi, ternyata gadis itu malah mencari masalah dengannya. Menendang kakinya, dan merusak mobilnya. Sungguh tak pernah ia diperlakukan sedemikian rupa oleh seorang gadis. Biasanya para gadis akan berteriak histeris ketika berjumpa dengannya. Tapi, tidak dengan gadis yg satu ini, benar-benar membuatnya naik darah. Sehingga ia tak dapat menahan emosinya lagi.
"Dasar, gadis kurang ajar!!! Lihat, bagaimana nanti aku akan mengurusmu!!! Hmph....!!!" ucap bathinnya.
Geram, marah bercampur emosi yg tumbuh menjadi satu di hati Felipe benar-benar terasa bagai lautan kematian di hatinya. Berkali-kali ia menumpahkan kekesalannya pada kaca mobil yg sebenarnya sudah pecah akibat ulah Alanis. Gadis cantik itu sukses menaburkan benih dendam di hati Felipe. Dan, setelah ini Alanis tidak tahu apa yg akan terjadi padanya.
Sedang Felipe berkabut dendam, Alanis sudah sampai di rumahnya. Suara deru mesin sepeda motornya terdengar oleh ibu angkatnya, Maheswari.
"Ah, akhirnya anakku sudah pulang sekolah." pikirnya.
Buru-buru segera ia lari ke arah garasi. Karena, biasanya Alanis kalau masuk rumah pasti melalui pintu garasi. Benar saja, ketika ia sampai di garasi ia tidak mendengar lagi suara sepeda motor milik putri angkatnya. Melainkan, ia langsung melihat putrinya sudah kembali dengan keringat menetes di sudut-sudut pelipisnya.
"Anakku, kau baru pulang?" tanya ibunya.
"Iya, bu?" jawab Alanis sambil mencium punggung tangan ibunya.
"Bagaimana, hari pertamamu di sekolah. Menyenangkankah?"
"Biasa aja, bu?"
"Ehh...., biasa saja?" ucap ibunya dengan kerut di dahinya.
"Emm...."
Alanis tersenyum, lalu langsung naik ke atas. Maheswari mengikutinya dari belakang.
"Oh, ya bu?"
Alanis berhenti sejenak di atas anak tangga.
"Ya? Ada apa? Serius sekali tampaknya." ucap ibunya.
"Apa, ibu masih ingat?"
"Ingat, apa?"
"Temanku yg bernama, Bianca Lovey?"
"Ah, temanmu itu ya? Sing medok iku nak, ngomong?"
"Iya, bu?"
"Ibu ingat, ada apa sih dengannya?"
"Hari ini aku bertemu dengannya. Dan, aku satu bangku dengannya."
"Apa?"
"Tapi, aku tak mengerti dengannya."
"Maksudnya?"
"Entahlah, dia tampak berantakan. Tak seperti dulu. Dia juga berubah jadi orang yg penakut dan juga ia tidak mengenaliku. Pakaiannya juga lusuh sekali. Aku jadi ingin tahu. Apa yg terjadi padanya sewaktu, aku kembali ke Kerajaan Artha Khan." ucap Alanis memberitahu tentang keadaan temannya.
Maheswari berpikir tentang hal yg dikatakan oleh Alanis. Ia terus berpikir hingga akhirnya ia menemukan suatu kejanggalan.
"Apa suamiku menggunakan cara itu ya?" pikirnya.
"Ibu?"
Alanis memanggil ibunya.
Menyadarkannya dari lamunannya.
"Kalau ibu tidak tahu, tidak apa-apa kok. Nanti, Alanis akan cari tahu sendiri." ucap Alanis kemudian menaiki anak tangga kembali.
Maheswari tertegun begitu mendengar kata-kata anaknya. Ia tidak tahu harus bilang apa jika nanti Alanis mengetahuinya. Jika, Maheswara menggunakan sesuatu kepada Bianca tapi tidak sempurna alias gagal. Yang mengakibatkan keadaan Bianca seperti yg dikatakan tadi oleh anaknya. Pusing dengan semua itu akhirnya ia pun kembali ke ruang makan untuk menyiapkan makan siang Alanis.
"Lady"
Dalam sekejap Ladypun hadir.
"Hamba, My Princess!"
Ia membungkuk memberi hormat kemudian menunggu perintah dari Tuannya.
"Pergilah, untuk menyelidiki sesuatu untukku."
"Tentang apa itu, My Princess?" ucapnya dengan sopan.
"Tentang Bianca Lovey, temanku! Selidiki tentang kehidupannya selama rentang beberapa tahun ini. Atau, lebih tepatnya sejak aku kembali ke Kerajaan Artha Khan. Aku ingin tahu, apa yg sebenarnya yg terjadi padanya." perintahnya tegas.
"Baiklah, hamba akan menyelidikinya, My Princess. Hamba pergi." ucapnya sambil undur diri kemudian menghilang. Lady pergi memulai tugasnya untuk menyelidiki Bianca, teman Tuannya semasa dulu waktu masih sama-sama sekolah di sekolah yg sama. Sedang, Alanis tampak sedang berganti pakaian lalu mandi dan akhirnya ia turun ke bawah menemui ibunya di meja makan.
Sementara itu di tempat lain.
Felipe pulang ke rumah dalam keadaan raut wajah marah. Ia pulang sendiri sedang teman-temannya mengurus mobilnya yg rusak. Di rumah, Emily ternyata sudah ada di rumah. Dan Mico tidak ada di rumah. Ia sedang pergi mengurus sesuatu.Tinggallah, Emily dan Felipe di rumah berdua saja. Emily tahu Felipe sudah pulang ke rumah tapi, tanpa mobil dan teman-temannya. Emily melihat raut wajah Felipe tampak kesal dan marah. Ia pun bertanya pada Felipè ada masalah apa yg terjadi pada Felipe.
"Tuan, kau sudah pulang?" tanyanya.
Felipe diam tak menjawab.
"Tuan? Ada apa? Kelihatannya, Tuan sangat kesal?" tanyanya lagi.
"BERISIK!!! Bisa diam gak sih? Tanya melulu!!! Pergi sana!!!" ucap Felipe dengan nada marah. Emily terkejut tapi ia tak kehabisan akal untuk mendapatkan jawaban dari Tuannya itu.
"Emm...., Tuan?" ucap Emily lagi sambil memberanikan diri mendekati Felipe dan mencoba menyentuh Felipe. Tangannya gemetar ketika ingin menyentuh wajah Felipe.
Tapi, sebelum tangannya berhasil menyentuh Felipe. Tiba-tiba saja tangannya di pegang oleh Felipe. Lalu, Felipe memalingkan wajahnya menatap Emily. Ia melihat Emily dengan sorot mata tajam dan gigi yg bergemeletuk.
"Pelayan? Bukankah, sudah aku bilang padamu untuk pergi? Kenapa, kau masih disini? Apa, kau ingin menggodaku???" ucap Felipe sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Emily. Tubuh Emily bergetar kala Felipe memegang tangannya dengan cara mencengkeramnya.
"Aduh, sakit Tuan?" lirihnya.
"Oh, sakit ya?" ucap Felipe tersenyum sinis.
"Mau, yg lebih sakit lagi? Hah?" ucapnya sambil menjilat telinga Emily. Di perlakukan begitu membuat Emily bergidik ngeri.
"Tidak Tu....tuan?" ucapnya takut.
"Kau tidak mau? Tapi, aku mau! Ikut aku!!!" ucapnya menarik paksa Emily masuk ke dalam menuju kamar tidur yg biasa di pakai oleh Felipe untuk beristirahat. Tapi, tidak ada tempat tidur disana melainkan hanya sebuah peti mati yg terdapat disana.
"Sial!!!" ucap Felipe sambil menendang peti mati tersebut karena ia tak menemukan tempat tidur disana. Namun, tiba-tiba pandangan matanya terhenti pada lipatan kain putih yg tergeletak disana. Langsung saja ia mengambil kain putih tersebut lalu membentangkannya sambil terus menyeret paksa Emily.
Emily ketakutan setengah mati. Ia tahu apa yg ingin Tuannya lakukan pada dirinya. Ia menjerit. Ia memberontak menolak Felipe. Melihat penolakan Emily membuat Felipe benar-benar sangat marah. Ia pun membentak dan berkata kasar kepada Emily.
"DIAM dan buka bajumu!!! Aku adalah Tuanmu, turuti perintahku atau kuhisap darahmu sampai habis!!!" ucap Felipe mengancam.
Dengan berurai air mata, perlahan Emily membuka bajunya satu persatu hingga akhirnya tubuhnya polos tanpa selembar pun pakaian menutupi tubuhnya. Melihat hal itu membuat Felipe tersenyum senang.
"Bagus! Ternyata kau penurut juga. Sekarang puaskan aku!!!" ucapnya sambil mendorong jatuh tubuh Emily. Emily terisak. Melihat pemandangan itu Felipe semakin senang. Ia pun melakukan hal yg sama. Kini keduanya sudah polos bagai bayi baru lahir. Kemudian, iap pun menindih tubuh polos Emily. Siang itu, Felipe menumpahkan kekesalannya pada Alanis dengan meniduri Emily. Ia merenggut secara paksa mahkota Emily. Bukan, hanya sekali tapi berkali-kali ia melakukannya pada Emily hingga membuat gadis itu benar-benar terluka secara mental. Puas, menyalurkan hawa nafsunya dan kekesalannya ia pun pergi meninggalkan Emily dengan kondisi tubuh penuh dengan keringat dan bercak darah perawan di kain putih tersebut. Tapi, sebelum pergi ia mengatakan sesuatu kepada Emily.
"Jika, kau hamil! Segera gugurkan kandunganmu! Aku tidak mau punya anak dari seorang Pelayan!!!" ucapnya serius lalu melangkah pergi meninggalkan Emily disana seorang diri yg semakin terisak dan semakin tak berdaya. Seluruh tubuhnya mati rasa karena menerima penyerangan dari Felipe berkali-kali. Ia menjadi lemas dan tak bertenaga. Hingga, akhirnya ia bersandar di dekat dinding. Menunggu kekuatannya pulih kembali. Namun, dengan air mata yg semakin mengalir deras.