
Tampak di sebuah ruangan Malvin tertunduk lesu. Rambutnya berantakan. Di hadapannya duduk seorang pria.
“Menjelekkan nama keluarga saja,” ucap pria itu dengan nada keras.
“Aku tidak sebodoh itu sampai mau melakukannya. Ini semua fitnah,” jawab Malvin.
“Apa perkataanmu bisa dipercaya?”
“Papa sudah tidak percaya perkataanku lagi!”
Mereka saling menatap. Tatapannya penuh kasih sayang orang tua terhadap anaknya, walaupun nada bicaranya keras.
“Baiklah! Pengacara yang akan mengurus semuanya.”
“Aku punya satu permintaan,” ucap Malvin penuh harap.
💐💐💐
Mobil Ray menepi dekat apartemen Indira. Tidak berapa lama Indira turun.
Indira membungkukkan badan di depan kaca mobil yang perlahan turun. Ray maju, mendekat dengan Indira.
“Terima kasih untuk tumpangannya dan.. pengertiannya.”
“Rasa lega akhirnya kita bisa berbincang seperti dulu. Ini lebih baik daripada kamu terus menghindariku,” Ray mengangkat bahunya.
“Aku pasti akan rindu dengan panggilan ‘Honey’ dengan suara manjamu itu,” ledek Indira.
“Aku tetap bisa memanggilmu itu, jika tidak keberatan.”
“Tentu saja! Asal pacarmu nanti tidak ngambek dan melabrakku saja.”
“Atau pacarmu nanti yang keberatan, oh ya.. aku tidak akan merestuimu jika kamu berpacaran dengan berondong itu.”
“Siapa? Malvin? Bocah ingusan itu!” ucap Indira ngegas.
“Ku lihat kalian sangat dekat.”
“Dia hanya tetangga yang membuat tensi darahku naik setiap berjumpa dengannya.”
“Baguslah kalau begitu, ternyata kita sama.”
“Ya.. pulanglah! Aku sudah mengantuk.”
“Cepat masuk dan beristirahat.”
Indira mengangguk dan mundur selangkah. Melambaikan tangannya pada Ray yang melaju pergi.
Indira berjalan santai. Memainkan batu. Menunjangnya pelan hingga bergelinding beberapa kali. Berulang kali. Di depannya seseorang berdiri di bawah lampu jalan bersender pada mobilnya. Sorot lampu menyilaukan pandangan. Tidak begitu jelas siapa yang sedang berdiri di sana malam-malam begini. Indira takut mendekat. Bisa saja dia mau merampok atau menculiknya. Atau berbuat jahat padanya. Jantungnya berdebar kencang. Segera Indira memasukkan tas selempangnya ke dalam blezer yang dikenakan dan memeluknya erat. Dia mengambil aba-aba untuk berlari kencang.
Satu..
Dua..
Tiga..
Dengan cepat Indira mengambil langkah seribu. Tapi orang itu dengan cepat mencegat Indira.
“Tunggu!” ucap orang itu.
Langkah Indira mendadak terhenti. Samar-samar karena silau cahaya lampu. Ternyata Danu. Dia menjulurkan kedua tangannya menghalangi jalan Indira.
“Kamu! Sedang apa di sini?” tanya Indira kesal. Telah membuatnya mati ketakutan. Jantungnya hampir saja copot.
“Menunggumu... sejak sore tadi.”
“Mau apa kamu menungguku?” ucap Indira ketus, dia masih marah dengan Danu soal kejadian kemaren karena telah mencuri ciuman pertamanya.
Danu menatap Indira. Diam merangkai kata yang akan diucapkan.
“Bila tidak ada hal yang penting aku akan masuk,” sahut Indira.
“Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya. Saat itu aku panik,” ucap Danu gugup.
“Aku tidak dapat memaafkanmu. Sesuatu berharga bagiku telah kamu curi. Aku tidak terima!”
“Itu juga yang pertama bagiku. Kalau bisaku kembalikan akan ku kembalikan.”
Indira merapatkan bibirnya dan menutupnya dengan tangan. “Kamu mau menciumku lagi.”
“Bukan.. bukan begitu,” Danu memukul kepala pelan. Ucapannya membuat Indira salah paham.
“Bila ada cara untuk menebus kesalahanku, pasti akan kulakukan.”
“Sayangnya tak ada. Lupakan! Anggap saja tidak terjadi. Jangan menemuiku lagi,” ucap Indira. “Ya sudah! aku masuk, mau istirahat.”
“Tunggu sebentar,” Danu mengambil sesuatu dari dalam mobil dan memberikannya pada Indira.
“Ini apa? sogokan? Kamu kira aku wanita gampangan. Yang merima pemberianmu maka selesai perkara,” Indira ragu menerimanya.
“Bukan! Ini hadiah untuk pasienku. Aku tulus memberikannya padamu, bukan sogokan. Aku mohon terimalah!”
Akhirnya dengan terpaksa Indira menerimanya. “Baiklah aku terima.... sebagai hadiah dari dokter untuk pasiennya. Dokter....”
“Danu! Panggil saja aku Danu.”
“Aku Ind..”
“Indira.”
“Kamu tahu namaku.”
“Kamu pasienku, tentu saja aku tahu.”
Pemberian Danu di genggam Indira.
“Ada satu lagi,” Danu kembali mengambil sesuatu dari dalam tas kerja. “Ini milikmu?” Danu menyodorkan syal pemberian bunda Indira.
Indira mengenali syal miliknya. Cepat dia merampasnya dari tangan Danu. Memastikan itu memang miliknya.
“Iya ini milikku, aku kira tidak akan jumpa ternyata ada padamu,” Indira kegirangan.
“Kamu menjatuhkannya saat pertama kali berobat.”
“Aku tidak sadar telah menjatuhkan. Sekali lagi terima kasih!”
Indira dan Danu saling tersenyum malu.
💐💐💐
Di apartemennya Indira membuka pemberian Danu. Sepasang sepatu kets merek Chanel berwarna pink. Ukurannya juga pas dengan ukuran kaki Indira. Sangat cantik. Mata Indira berbinar melihatnya. Senyum terkembang di wajahnya. Ada sebuah memo di dalamnya.
Pakailah untuk hidup yang lebih sehat.
Semoga suka...
Salam Danu Mahendra.
“Bukannya ini mahal mengapa dia memberikannya padaku, masa hanya karna aku pasiennya!” ucap Indira bingung menerka-nerka.
💐💐💐
Pagi hari di Indira menyerut kopi yang masih hangat. Menikmati aromanya. Menenangkan jiwa. Juki menghampirinya.
“Ada yang nyariin bu,” ucap Juki.
“Siapa?”
“Gak tahu bu, om-om!”
“Om-om? Yang benar kamu.”
“Ibu lihat saja sendiri saja di lobby.”
Om? Siapa? Indira berpikir keras siapa yang mencarinya. Penasaran.
Sambil menuruni anak tangga Indira memperhatikan pria paruh baya berdiri menghadap keluar. Berpakaian kemeja rapi. Indira tidak mengenalnya, segera Indira menghampirinya.
“Permisi!” ucap Indira sopan.
Pria paruh baya itu menoleh dan tersenyum ramah.
“Perkenalkan, saya Haris Mahendra,” ucapnya sambil berjabat tangan Indira.
“Saya Indira.”
“Ada waktu? Ada yang ingin saya bicarakan.”
Indira mengangguk. Rasa penasaran masih berkecamuk dalam darinya. Siapa pria ini? Mengapa mencarinya? Apa dia salah satu orang tua pria yang pernah dekat dengannya.
💐💐💐